เข้าสู่ระบบSuara bel masuk jam pertama yang bergema ke seluruh penjuru gedung SMA Nusa Bangsa sama sekali tak membuat Renata menghentikan langkahnya. Bukannya berbelok menuju kelas 11 IPA 1, gadis berjaket kulit itu justru melangkah mantap menaiki anak tangga demi anak tangga menuju lantai paling atas. Langkah kakinya berat, berdentang kasar di atas semen dingin.Renata mendorong pintu besi tebal yang menghubungkan lorong dengan area rooftop sekolah. Angin pagi yang berembus kencang langsung menyapa wajahnya, menerbangkan rambut pendeknya yang berantakan. Suasana di atas sini sangat sepi dan terisolasi dari bisingnya aktivitas belajar-mengajar di bawah sana.Renata berjalan menuju tepi pembatas semen, menyandarkan tubuhnya di sana, lalu mengeluarkan sebutir permen karet dari saku jaketnya. Ia melempar permen itu ke dalam mulut, mengunyahnya secara brutal untuk melampiaskan emosi liar yang sejak tadi membakar dadanya.Pikiran Renata benar-benar kacau. Pemandangan sederhana di gerbang sekolah tadi
Langkah kaki Yuna menyusuri koridor lantai dua gedung SMA Nusa Bangsa terasa begitu tenang dan teratur. Seperti biasa, pandangan matanya lurus ke depan, tak memedulikan lirikan atau bisik-bisik dari murid-murid lain yang bersimpangan jalan dengannya. Namun, ketenangan pagi itu tak bertahan lama ketika sebuah bayangan tinggi mendadak memotong jalannya dari samping.Ken berdiri di depan Yuna dengan kantong kertas cokelat terangkat rapi di depan dada. Senyum lebar khasnya langsung merekah manis, memamerkan binar mata yang penuh semangat."Pagi, Yuna!" sapa Ken renyah, sama sekali tak terpengaruh oleh aura dingin yang memancar dari gadis di depannya.Yuna menghentikan langkahnya sejenak. Iris mata cokelat gelapnya melirik kantong kertas itu sekilas, lalu beralih menatap wajah Ken dengan raut datar tanpa ekspresi. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Yuna langsung menggeser langkahnya ke kanan, berniat melewati Ken begitu saja.Namun, Ken bukanlah tipe orang yang mudah menyerah. Pemuda itu
Matahari pagi makin meninggi, memancarkan sinarnya yang hangat di atas gerbang besi kokoh SMA Nusa Bangsa. Deretan mobil mewah keluaran terbaru tampak mengantre di jalur drop-off, mengantarkan para murid dari keluarga kalangan atas. Di tengah kepungan kendaraan berharga fantastis itu, sebuah sepeda motor matik tua berwarna hitam menyelinap perlahan menuju pinggir trotoar, beberapa meter dari gerbang utama.Motor itu berhenti dengan halus. Wandi menurunkan kakinya ke aspal, mematikan mesin kendaraan tuanya. Di belakangnya, Ken melangkah turun dengan gerakan gesit. Pemuda itu memegangi kantong kertas berisi toples kue kacang di dadanya dengan sangat hati-hati, memastikan wadah kaca di dalamnya tidak terguncang atau retak.Ken melepas helm standarnya, lalu menyerahkannya pada sang ayah. Wandi menerima helm itu dengan senyum hangat yang selalu menenangkan. Pria setengah baya dengan kemeja kerja bersahaja itu mengulurkan tangannya, merapikan kerah seragam putih yang dikenakan Ken, lalu men
Sinar matahari pagi yang hangat menerobos masuk melalui celah jendela kaca ruang makan keluarga Wandi. Aroma gurih mentega yang dipanggang beradu dengan wangi adonan kacang tanah yang manis, memenuhi seluruh sudut rumah berlantai satu itu.Di dapur, Arumi tampak sibuk. Dengan celemek bermotif bunga yang terikat rapi di pinggangnya, wanita paruh baya itu dengan sangat hati-hati mengeluarkan loyang aluminium dari dalam oven kecil di sudut meja dapur. Asap tipis membumbung, membawa aroma kue kacang hangat yang baru saja matang sempurna."Nah, akhirnya matang juga batch terakhirnya," gumam Arumi penuh kepuasan. Senyum tulus terukir di wajahnya yang mulai dihiasi garis-garis halus usia.Ken melangkah masuk ke dapur dengan seragam putih abu-abu yang sudah terpasang rapi di tubuhnya. Tas sekolahnya disampirkan santai di satu bahu. Pemuda itu mengendus udara pagi dalam-dalam, lalu mendekati meja dapur dengan mata berbinar."Wah, wangi banget, Ma! Ini khusus buat Yuna kan?" tanya Ken sambil me
Jalanan komplek perumahan mewah itu begitu lengang ketika Yuna melangkah keluar dari gerbang rumahnya. Malam makin larut, namun rasa enek dan mual di perutnya bekas pengambilan darah kemarin masih menyisakan keinginan aneh. Ia ingin makan kue kacang. Hanya ada satu toko kue di ujung jalan komplek yang menjual kue kacang dengan rasa gurih manis yang pas di lidahnya—kue kacang buatan pemasok lokal yang selalu ia beli hampir setiap hari.Yuna berjalan dengan kedua tangan terbenam di saku jaketnya. Langkah kakinya yang tenang membawanya menuju toko kue mungil berlampu hangat di sudut perempatan jalan.Kring!Lonceng di atas pintu berbunyi saat Yuna mendorong pintu kaca toko. Suasana di dalam cukup sepi. Di depan etalase kaca, tampak seorang wanita paruh baya berpenampilan bersahaja sedang merapikan beberapa nampan kosong bersama seorang pemuda tinggi yang sangat familiar.Arumi dan Ken.Arumi yang sedang memasukkan sisa kemasan kue ke dalam tas kardus menoleh saat mendengar suara lonceng.
Mobil sedan hitam yang dikendarai Pak Joko berhenti tepat di depan pelataran rumah bergaya modern klasik itu. Yuna turun dari mobil tanpa bersuara, menyampirkan tas sekolahnya di satu bahu, lalu melangkah menyusuri lorong menuju pintu utama.Suasana dalam rumah megah itu selalu terasa sepi dan dingin, terlepas dari deretan lampu kristal mahal yang menerangi ruang tamu. Begitu menapakkan kaki di area ruang tengah, langkah Yuna mendadak terhenti.Di atas sofa kulit berwarna krem, duduk seorang pemuda dengan pakaian santai yang tampak kebesaran di tubuh kurusnya. Wajahnya pucat pasi, bibirnya kering, dan lingkaran hitam terlihat sangat jelas di bawah kedua matanya.Yuda. Kakaknya itu rupanya sudah diperbolehkan pulang dari rumah sakit sore ini.Yuda memutar kepalanya perlahan begitu mendengar langkah kaki. Begitu pandangannya bertabrakan dengan Yuna, pemuda itu membetulkan posisi duduknya dengan sedikit bersusah payah."Yun..." panggil Yuda, suaranya pelan dan serak. "Kakak boleh ngomong







