Beranda / Young Adult / HANYA ANAK PENGGANTI / BAB 2: KEBOHONGAN YANG TERTATA RAPI

Share

BAB 2: KEBOHONGAN YANG TERTATA RAPI

Penulis: thole
last update Tanggal publikasi: 2026-08-02 22:55:54

Mobil sedan hitam itu membelah jalanan Jakarta yang mulai padat. Di kursi belakang, Yuna menyandarkan kepalanya ke kaca jendela. Matanya menatap kosong ke deretan bangunan tinggi yang melintas.

Pak Joko, sopir pribadi keluarga Yudistira yang sudah bekerja belasan tahun di rumah itu, melirik Yuna lewat spion tengah. Ia memegang kemudi dengan erat, kelihatan serbasalah melihat wajah pucat gadis remaja di belakangnya.

"Non Yuna... tadi sudah sempat makan siang di sekolah?" tanya Pak Joko pelan, suaranya kelewat berhati-hati.

Yuna tidak menoleh. Ia hanya menggelengkan kepala pelan.

"Mau Pak Joko mampir sebentar belikan roti atau minum? Di depan ada minimarket," tawar Pak Joko lagi.

Yuna kembali menggeleng. Tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya.

Pak Joko mendesah pelan, memilih untuk kembali fokus menatap jalan. Semua pekerja di kediaman Yudistira—mulai dari sopir, asisten rumah tangga, hingga tukang kebun—paham betul perubahan sifat Yuna. Dulu, waktu kecil, Yuna adalah anak yang ceria dan suka tersenyum. Namun sejak delapan tahun lalu, sejak tubuh kecilnya mulai dipaksa menjadi mesin penyambung hidup untuk Yuda, gadis itu berubah total. Dia menjadi dingin, tertutup, dan tidak pernah membiarkan siapa pun mendekat.

Lampu lalu lintas di perempatan jalan berubah merah. Mobil berhenti tepat di barisan depan.

Yuna mengalihkan pandangannya dari kaca samping ke arah depan. Di atas gedung bertingkat di seberang jalan, sebuah layar billboard digital berukuran raksasa menyala terang. Layar itu menampilkan video wawancara eksklusif. Di sana tampak Yudistira dengan setelan jas mahal dan senyum berwibawa, berdampingan dengan Yulia yang anggun mengenakan pakaian serbaputih.

Teks di bawah layar itu tertulis dengan huruf kapital tebal: Keluarga Harmonis Yudistira Group: Kepedulian Tanpa Batas untuk Sesama.

Di video itu, Yulia tampak tersenyum hangat sambil memeluk anak-anak penderita leukemia di sebuah panti asuhan. Pembawa acara terdengar memuji kebaikan keluarga mereka yang tanpa henti mengucurkan dana miliaran rupiah untuk yayasan kanker anak, serta menyebut Yudistira sebagai sosok ayah idaman yang sangat menyayangi keluarganya.

Yuna memandangi wajah kedua orang tuanya di layar raksasa itu. Sudut bibirnya terangkat, membentuk sebuah garis tersenyum kecut.

Ia lalu tertawa pelan. Suara tawa yang lirih, tanpa nada bahagia sedikit pun.

"Keluarga bahagia, ya?" gumam Yuna sangat pelan, hampir tak terdengar. Matanya menatap sinis gambar ibunya yang sedang mengusap kepala anak penderita leukemia di layar. Seseorang yang di luar dipuja sebagai malaikat, tapi di rumah sendiri memperlakukan anak kandungnya seperti kantong darah berjalan.

Lampu hijau menyala. Pak Joko kembali menginjak pedal gas, melaju meninggalkan layar iklan yang terus memamerkan kebohongan manis keluarganya.

Sepuluh menit kemudian, mobil berhenti di area parkir khusus rumah sakit swasta termewah di pusat kota. Pak Joko bergegas turun dan membukakan pintu belakang.

"Sudah sampai, Non," ucap Pak Joko ragu.

Yuna turun tanpa bersuara. Langkah kakinya terasa berat saat menyusuri lorong rumah sakit yang berbau karbol menyengat. Suara ketukan sepatunya beradu dengan lantai granit dingin, menggema pelan di koridor lantai VIP yang sepi.

Langkah Yuna melambat ketika ia berdiri di depan pintu ruang perawatan berlabel President Suite. Bau antiseptik yang menusuk hidung seketika memicu memori kelam di kepalanya.

Ingatannya melayang mundur ke delapan tahun lalu. Saat usianya baru sembilan tahun.

Yuna ingat betul bagaimana ia menangis histeris di atas tempat tidur ruang operasi. Jarum suntik yang besar dan dingin menusuk kulitnya yang masih kecil. Waktu itu, ia menjerit ketakutan, memohon-mohon pada ayahnya untuk membatalkan prosedur tersebut.

'Pah, Yuna takut! Sakit, Pah! Yuna enggak mau!' teriak Yuna kecil malam itu sambil menangis sesenggukan.

Tapi bukannya pelukan atau kata-kata penenang yang ia dapatkan, Yudistira justru menampar pinggiran kasur dengan keras dan membentaknya.

'Diam, Yuna! Kamu itu cuma anak perempuan! Tugas kamu di keluarga ini cuma berkorban buat kakak kamu! Yuda itu penerus keluarga ini, kalau dia mati, kamu mau tanggung jawab?!'

Yulia yang berdiri di sampingnya pun hanya menatap dingin tanpa rasa iba sedikit pun. 'Jangan manja! Kamu cuma diambil darahnya sedikit, enggak bakal mati! Jangan bikin malu Papa sama Mama!'

Rasa sakit dari kenangan itu membuat dada Yuna terasa sesak seketika. Ia mengepalkan tangannya rapat-rapat sampai buku jari-jarinya memutih, menahan gemetar yang mendadak menyerang tubuhnya.

Yuna menarik napas panjang, menghembuskannya perlahan, lalu menggerakkan tangannya untuk mendorong pintu kayu tebal di depannya.

Pintu terbuka pelan.

Di dalam ruangan serbaputih yang luas itu, mesin pemantau detak jantung berbunyi berirama. Yudistira dan Yulia berdiri di samping ranjang dengan wajah tegang. Begitu melihat Yuna masuk, raut wajah Yudistira langsung berubah makin galak.

"Kenapa lama sekali?!" tegur Yudistira kasar tanpa basa-basi. "Sopir sudah Papa suruh ngebut dari tadi!"

"Dokter sudah tunggu di ruang laboratorium," sambung Yulia dingin, matanya menatap Yuna dari atas ke bawah. "Langsung ke sana sekarang. Jangan buang-buang waktu."

Yuna tidak merespons ucapan kedua orang tuanya. Ia sama sekali tidak menatap mereka. Pandangan Yuna justru tertuju lurus pada pemuda yang terbaring lemas di atas ranjang rumah sakit.

Yuda. Kakak laki-lakinya.

Wajah Yuda pucat pasi, hampir sama putihnya dengan sprei yang menutupi tubuhnya. Selang oksigen terpasang di hidungnya, dan tangannya dipenuhi selang infus. Mendengar suara pintu terbuka, Yuda perlahan membuka matanya yang sayu dan berat.

Begitu pandangan mereka bertemu, Yuda menatap adiknya itu dengan tatapan nanar. Ada duka yang amat mendalam dan rasa bersalah yang teramat sangat dari sorot mata pemuda itu.

Bibir Yuda yang kering dan bergetar perlahan bergerak, berusaha membentuk kata-kata di balik masker oksigennya.

"Ma... af, Dek," gumam Yuda dengan suara sangat pelan, hampir tak terdengar, terputus-putus oleh napasnya yang berat. "Maaf...in Mas..."

Yuna menatap kakaknya tanpa ekspresi. Tidak ada benci, tidak ada kasihan. Tatapannya benar-benar kosong, seolah-olah ia sudah mematikan seluruh perasaannya rapat-rapat.

 

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • HANYA ANAK PENGGANTI   BAB 34: KEMBALINYA SANG RATU ES

    Matahari pagi menyusup lembut menembus celah jendela kaca kamar Yuna di lantai dua kediaman keluarga Yudistira. Suasana di dalam kamar luas bernuansa minimalis itu tampak rapi dan sunyi seperti biasa. Di depan meja rias, Yuna berdiri tegak mengenakan seragam putih abu-abu lengkap dengan dasi yang terpasang rapi di kerah bajunya. Rambut panjangnya dikuncir satu dengan sangat teliti, memperlihatkan garis leher dan rahangnya yang tegas tanpa cela sedikit pun.Pergelangan tangan kiri Yuna masih dibalut rapi oleh plester medis berukuran kecil guna menutupi bekas tusukan jarum infus dari rumah sakit beberapa hari lalu. Gadis itu mengambil tas punggung berwarna hitam di atas kursi, menyampirkannya ke salah satu bahu, lalu bersiap melangkah keluar untuk memulai aktivitas paginya di sekolah.Tiba-tiba, pintu kamar yang tidak terkunci terdorong perlahan dari luar. Yuda melangkah masuk dengan mengenakan seragam sekolah yang serupa, meski wajah pucatnya masih menyisakan sedikit kelelahan pasca pe

  • HANYA ANAK PENGGANTI   BAB 33: SENIN PAGI YANG TERBURU-BURU

    Matahari pagi baru saja mengintip di balik cakrawala timur, memancarkan bias cahaya keemasan yang menembus celah ventilasi rumah sederhana keluarga Wandi. Udara Senin pagi terasa segar, berpadu dengan aroma kopi hangat dari dapur serta deru kendaraan bermotor yang mulai memadati jalanan komplek perumahan. Biasanya, suasana pagi di rumah ini diisi dengan rutinitas santai, obrolan ringan di meja makan, serta persiapan santai sebelum berangkat beraktivitas.Namun, kediaman keluarga Wandi pagi ini mendadak dikejutkan oleh sebuah pemandangan yang sama sekali tidak biasa.Jarum jam dinding di ruang tamu baru menunjukkan pukul enam lewat lima menit pagi. Pintu kamar utama terbuka perlahan saat Wandi dan Arumi keluar bersamaan dengan pakaian rumah yang masih santai. Di ruang tengah, mereka mendapati anak sulung mereka sudah berdiri tegap dengan seragam sekolah putih abu-abu yang disetrika sangat rapi. Tas ransel hitam berukuran besar sudah tersampir sempurna di kedua bahunya, lengkap dengan s

  • HANYA ANAK PENGGANTI   BAB 32: DUA KORBAN DI BALIK DINDING MEWAH

    Keheningan kamar bertambah pekat saat sore merambat naik. Bayangan tirai memanjang di atas keramik, membingkai dua sosok bersaudara yang duduk di atas kasur berseprai putih. Yuda masih memandangi pergelangan tangan Yuna yang menarik diri dari jangkauannya. Penyesalan yang menggantung di udara terasa kian mencekik tenggorokan, membuat suasana di dalam ruangan yang luas itu menjadi sangat berat dan menyesakkan dada.Yuna menatap lurus ke arah jendela luar. Iris mata cokelat gelapnya berair, memantulkan sinar jingga penutup hari. Ia menghembuskan napas pendek yang bergetar. Keheningan panjang berlalu sebelum akhirnya bibir pucat gadis itu kembali bergerak untuk menyuarakan rasa sakit yang terendap sekian lama di lubuk hatinya."Aku tahu kok, Kak," ucap Yuna pelan. Nada suaranya tak lagi sedingin batu, melainkan terdengar rapuh dan sangat tipis. "Aku tahu Kakak tidak punya niat. Aku tahu Kakak juga sakit. Aku juga enggak bisa benci sama Kakak... Karena Kakak juga korban."Pertahanan tembo

  • HANYA ANAK PENGGANTI   BAB 31: PERTANYAAN DI UJUNG SENJA

    Mobil sedan hitam milik Yudistira berhenti di depan teras rumah megah bernuansa cermin dan semen itu pada Minggu siang. Yuna melangkah turun dari pintu penumpang belakang dengan gerakan lambat. Tubuhnya masih terasa lemas, dan pergelangan tangan kirinya tertutup kain jaket tipis untuk menyembunyikan bekas tusukan jarum yang memar.Yuna berjalan lurus menuju kamarnya di lantai dua tanpa menyapa siapa pun. Di dalam kamar yang luas namun sunyi itu, Bik Sum sudah bersiap merapikan tempat tidur dan menyiapkan segelas air hangat di meja samping.Yuna merebahkan tubuhnya di atas kasur, menyandarkan punggung pada kepala ranjang. Matanya menatap lurus ke arah pintu kaca balkon yang tertutup rapat. Bik Sum berdiri di samping meja, menatap anak asuhnya dengan rasa iba yang tak pernah pudar.Tiba-tiba, pintu kamar Yuna yang sedikit terbuka didorong pelan dari luar. Yuda melangkah masuk dengan napas yang agak berat. Langkah kakinya perlahan, tangannya masih memegang area perut yang terasa sedikit

  • HANYA ANAK PENGGANTI   BAB 30: MINGGU PAGI DAN CANDA TAWA

    Sinar matahari Minggu pagi memancar cerah menghangatkan pekarangan kecil di depan rumah keluarga Wandi. Aroma kopi hitam hangat dan kue balok yang baru selesai dipanggang berembus halus dari arah dapur. Suasana komplek perumahan sederhana itu tampak tenang, dihiasi suara cicit burung liar di dahan pohon mangga serta sapuan sapu lidi tetangga yang sedang membersihkan halaman.Namun, suasana santai di teras depan rumah Wandi terasa sedikit berbeda bagi anak sulungnya.Ken duduk bersandar kaku di atas bangku kayu teras, mengenakan kaus oblong putih dan celana pendek santai. Tubuhnya disandarkan lesu ke dinding, dengan kedua kaki diluruskan ke depan tanpa bertenaga. Wajah pemuda yang biasanya penuh semangat dan senyum ceria itu kini tampak muram, dengan mata yang menatap kosong ke arah deretan pot bunga kertas milik ibunya di sudut halaman.Ken menghembuskan napas panjang secara dramatis untuk yang kesepuluh kalinya pagi itu."Haaaaah..."Arumi yang baru saja keluar dari dalam rumah sambi

  • HANYA ANAK PENGGANTI   BAB 29: BINTIK CAHAYA DI KEGELAPAN

    Sinar matahari Sabtu sore memancar redup dari balik tirai kamar rawat VIP nomor 302, membias warna jingga hangat di atas keramik steril. Suasana di dalam ruangan terasa begitu hening, hanya diwarnai oleh gesekan pendingin udara dan bunyi teratur monitor detak jantung Yuna yang sudah jauh lebih stabil.Yuna duduk bersandar di atas ranjang periksa. Slang infus masih menancap di tangan kirinya, mengalirkan kantong vitamin penambah darah yang hampir habis. Wajahnya tidak sepucat kemarin malam, namun raut dingin dan tatapan matanya yang hampa kembali terkunci rapat, seolah isakan hebat dan kerapuhan luar biasa beberapa jam lalu hanyalah sebuah mimpi buruk yang menguap disapu fajar.Bik Sum duduk di kursi kayu di samping ranjang. Tangan tua wanita paruh baya itu dengan telaten mengupas buah apel merah, memotongnya menjadi bagian-bagian kecil lalu menaruhnya di piring kaca kecil di meja samping bed.Bik Sum melirik Yuna yang sejak tadi hanya menatap lurus ke arah jendela luar tanpa mengucapk

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status