Beranda / Romansa / HASRAT TERLARANG ADIK TIRI / 136 - KEBERADAANNYA YANG TIDAK DIKETAHUI

Share

136 - KEBERADAANNYA YANG TIDAK DIKETAHUI

Penulis: Ranari Kka
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-04 20:40:42

"Kau selalu cantik meski sedang panik seperti ini."

Kael menyesap kopi hitamnya perlahan, membiarkan uap panasnya menyentuh wajahnya. Di seberang meja, Talia tampak gelisah. Ia terus meremas jemarinya sendiri di bawah meja kayu kafe yang mulai sepi itu.

"Hentikan, Kael. Kita di sini bukan untuk membicarakan penampilanku," desis Talia tajam.

Kael justru terkekeh rendah. Suaranya terdengar seperti vibrasi yang menggetarkan meja. Ia mencondongkan tubuh, memperpendek jarak hingga aroma parfum masku
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • HASRAT TERLARANG ADIK TIRI   144 - DIAMBANG KEMBALI

    Ketegangan di balik pintu itu memuncak hingga ke titik nadir. Talia berdiri kaku, menghalangi pandangan Chloe dengan tubuhnya.Matanya menyipit dalam kegelapan, mencoba menangkap bayangan apa pun melalui celah di bawah pintu. Gagang pintu itu sempat berderit keras, dipaksa oleh seseorang dari luar, namun kemudian segalanya mendadak hening.Keheningan itu justru lebih menyiksa daripada suara dobrakan. Chloe yang meringkuk di atas ranjang hanya bisa mendengar detak jantungnya sendiri yang berpacu liar.Ia bisa merasakan hawa dingin yang merayap dari lantai keramik, seolah bahaya sedang mengintip dari balik sekat kayu tersebut.Tiba-tiba, suara ketukan kembali terdengar. Kali ini bukan paksaan brutal, melainkan ketukan yang terburu-buru, berat, dan tidak beraturan."Buka! Talia, buka pintunya!" Sebuah suara berat membentak dari balik pintu.Talia tertegun. Ia mengenali otoritas dalam nada bicara itu. Suara Richard, ayah Dante."Talia! Cepat! Ini aku!" Suara itu kembali terdengar, kali in

  • HASRAT TERLARANG ADIK TIRI   143 - DALAM PENGINTAIAN

    Kael menarik napas dalam, membiarkan udara lembap dan berdebu dari kawasan industri itu mengisi paru-parunya.Di hadapannya, gudang beton itu berdiri seperti nisan raksasa yang terlupakan. Sinar matahari siang menyengat pundaknya, namun suhu di sekitarnya terasa membeku.Ia memberi kode tangan yang sangat halus kepada dua pria di belakangnya. Mereka bergerak tanpa suara, menyisip di antara bayang-bayang dinding retak yang ditumbuhi lumut kering.Setiap langkah Kael adalah perhitungan matang. Mobil yang digunakan anak buah Viktor terlihat memasuki area ini dua jam lalu. Sinyal ponsel yang mereka retas juga berakhir di titik ini."Pintu belakang terkunci dari dalam, Bos," bisik salah satu rekannya melalui perangkat telinga."Dobrak saat hitungan ketiga," jawab Kael dingin. Ia menggenggam senjatanya erat, merasakan dinginnya logam di telapak tangannya yang mulai berkeringat.Satu. Dua. Tiga.Suara dentuman keras memecah kesunyian siang itu. Kael merangsek masuk, tubuhnya rendah, matanya

  • HASRAT TERLARANG ADIK TIRI   142 - DI ANTARA TIRAI DAN JALAN

    Chloe tidak menolak saat Talia membawanya kembali masuk ke dalam gedung rumah sakit.Langkahnya pelan dan tertatih, seolah setiap pijakan membutuhkan pertimbangan. Tubuhnya belum sepenuhnya pulih dan kelelahan yang menumpuk sejak malam sebelumnya kini terasa menekan dari dalam.Bahunya sedikit merunduk, pandangannya kosong menyapu lantai keramik yang berkilau oleh pantulan cahaya siang.Beberapa perawat melirik singkat, lalu kembali melanjutkan pekerjaan mereka.Chloe tampak seperti pasien yang bangkit terlalu cepat dari ranjangnya, seseorang yang masih belum seharusnya berjalan sendiri.Begitu sampai di kamar, ia menurut ketika diminta duduk, lalu berbaring kembali. Gerakannya lambat dan patuh, seolah seluruh perlawanan telah terkuras.Tangannya tergeletak di sisi tubuh, jemarinya dingin dan tidak menggenggam apa pun.Jarum infus dilepas dan diganti. Cairan bening kembali mengalir pelan ke dalam pembuluh darahnya. Chloe memperhatikan proses itu tanpa ekspresi, matanya mengikuti selan

  • HASRAT TERLARANG ADIK TIRI   141 - LANGKAH YANG TERLALU LEMAH

    Chloe terbangun perlahan.Kesadarannya muncul bertahap, seperti naik ke permukaan air yang dingin. Kepalanya terasa berat, napasnya masih belum sepenuhnya teratur, dan ada nyeri tumpul yang tertinggal di dada setiap kali ia menarik udara terlalu dalam.Ia menatap langit-langit beberapa detik, mencoba mengingat di mana dirinya berada dan kenapa tubuhnya terasa seperti baru saja kehilangan sesuatu yang penting.Rumah sakit.Ingatannya kembali dalam potongan pendek. Dante dibawa pergi. Seragam polisi. Tangannya ditarik. Tatapannya yang sempat bertemu dengan mata Chloe sebelum semuanya menjadi gelap.Jantung Chloe berdetak lebih cepat.Ia menoleh ke samping ranjang. Kursi di sana kosong. Talia tidak ada. Mungkin keluar sebentar, pikirnya. Pikiran itu seharusnya menenangkan, tetapi justru meninggalkan ruang kosong yang membuat kecemasannya tumbuh.Chloe menelan ludah. Tangannya meremas seprai tipis di bawah jemarinya.Dante ditangkap polisi. Itu yang ia tahu. Secara logika, itu seharusnya

  • HASRAT TERLARANG ADIK TIRI   140 - NOTIFIKASI TANPA SUARA

    Chloe terlelap di ranjangnya. Napasnya masih belum sepenuhnya stabil, naik turun pelan seolah tubuhnya belum yakin aman untuk beristirahat.Wajahnya pucat. Garis kelelahan masih jelas di bawah mata, tapi untuk pertama kalinya sejak malam sebelumnya, alisnya tidak lagi berkerut.Talia duduk di kursi di samping ranjang itu sejak semalam. Punggungnya bersandar kaku, tangan terlipat di pangkuan, seolah kalau ia bergerak terlalu banyak, ketenangan rapuh ini akan runtuh.Ia belum tidur. Kopi di gelas kertas di tangannya sudah lama dingin karena tak tersentuh.Matanya beberapa kali beralih ke arah pintu kamar. Setiap langkah kaki di lorong membuat otot bahunya menegang. Richard baru saja dibawa masuk ke ruang konsultasi oleh perawat, masih dalam kondisi setengah linglung.Kael belum memberikannya kabar. Dunia terasa berjalan terlalu cepat, sementara Talia tertinggal di ruangan ini, menjaga seseorang yang bahkan belum tahu betapa dekatnya ia dengan kehancuran.Getaran pelan di atas nakas samp

  • HASRAT TERLARANG ADIK TIRI   139 - TIDAK AKAN MENYERAH

    Mobil milik Kael melambat saat mendekati gerbang rumah sakit. Dari balik kaca jendela, mata Talia menangkap sosok yang membuatnya merasa seolah jantungnya diremas.Di sana, Richar duduk bersimpuh di atas trotoar yang dingin. Pria tua itu tampak begitu hancur sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangan yang gemetar. Bahunya berguncang hebat, menunjukkan isak tangis pria yang benar-benar kehilangan harapan."Itu Om Richard! Sepertinya dia tahu Dante tidak dibawa ke kantor polisi ...," bisik Talia, suaranya tercekat. Ia hendak membuka pintu mobil bahkan sebelum Kael benar-benar berhenti.Kael menghentikan mobilnya dengan sempurna, namun saat Talia bersiap untuk turun, Kael mencekal pergelangan tangannya."Talia, dengarkan aku," ucap Kael dengan nada yang sangat serius, matanya mengunci pandangan Talia. "Kau turun di sini. Temani ayah dari bocah tidak tahu diri itu, dan pastikan mereka semua aman di dalam. Mereka butuh seseorang yang masih bisa berpikir jernih."Talia menggeleng cepat,

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status