LOGINChapter 57Teman Curhat yang KebanyakanSabtu sore, Anran sengaja mengajak Kexin bertemu karena sejak neneknya datang ke rumah dan mengatakan akan menginap sampai Minggu, kepalanya terasa semakin penuh. Ia sebenarnya hanya ingin mencari seseorang untuk diajak mengeluh dan Kexin adalah pilihan paling aman karena sebagai teman dekat, perempuan itu sudah mengetahui hubungan Anran dengan Zeyan dan biasanya selalu punya komentar yang membuatnya sedikit lebih tenang, meskipun terkadang komentar Kexin justru membuatnya semakin kesal.Anran tiba di restoran yang sudah mereka sepakati beberapa menit setelah waktu yang dijanjikan. Begitu masuk, ia langsung mencari meja yang disebutkan Kexin. Namun, langkahnya terhenti ketika melihat bukan hanya Kexin yang duduk di sana. Tang Wei dan Yiran juga ada di meja yang sama, bahkan mereka sudah memesan beberapa minuman membuat Anran untuk sesaat hanya bisa menatap ketiga sahabatnya tanpa ingin berkomentar.Kexin yang melihat Anran langsung melambaikan t
Chapter 56Kakak Tukang Mengadu Keesokan harinya, Anran menjalani pekerjaannya seperti biasa. Sejak pagi ia sudah sibuk di UGD dan baru benar-benar merasa sedikit lega ketika jam kerjanya selesai. Untungnya sore itu Zeyan menjemputnya karena setelah seharian berdiri dan menangani pasien, ia lebih suka duduk di mobil sambil bersandar daripada harus menyetir sendiri meskipun jarak rumah sakit ke rumahnya tidak sampai memakan waktu lima belas menit.Begitu keluar dari rumah sakit, ia langsung melihat Zeyan yang sudah menunggunya. Anran langsung menghampirinya sembari tersenyum. “Bagiamana hari ini?” tanyanya.“Lumayan sibuk. Ada beberapa pasien yang datang bersamaan menjelang sore.”“Sudah lapar?”Anran menggeleng. “Lumayan.”“Saya sudah menyiapkan makanan untuk Anda.”Anran hanya mengangguk, kemudian mereka berjalan menuju tempat parkir. Setelah duduk di mobil, Anran menyandarkan kepala ke kursi sambil mengobrol santai dengan Zeyan. Namun, ketenangan itu hanya berlangsung beberapa men
Chapter 55Kakak yang Patah HatiAnran harus berangkat ke rumah sakit pukul tujuh karena mendapat shift pagi dan mau tidak mau meninggalkan Yuan yang masih terlelap di tempat tidurnya. Anran berdiri beberapa saat di sisi tempat tidur, memastikan Yuan benar-benar baik-baik saja lalu mengambil kunci cadangan rumah yang biasa disimpan di laci meja dan meletakkannya di atas nakas bersama sebotol air mineral. Ia kemudian mengambil wadah tahan panas berisi sup yang sudah disiapkan lalu menaruhnya di sebelah botol air mineral. Sebelum pergi, Anran juga menulis catatan kecil di selembar kertas untuk kakaknya dan meninggalkan catatan itu di samping botol air kemudian menatap kakaknya sekali lagi sebelum keluar dari kamar. Hari itu terasa lebih panjang daripada biasanya karena meskipun sibuk di UGD, pikiran Anran beberapa kali kembali kepada kakaknya. Setiap kali mengingat suara Yuan yang semalam terus menyebut nama Shenya, perasaan tidak nyaman kembali muncul karena menduga masalah kakaknya
Chapter 54Menjemput Kakak MabukBegitu tiba di lounge, Anran langsung mengenali Liang Chen berdiri di dekat pintu masuk bersama beberapa orang lainnya. Dokter itu tampak lega ketika melihatnya keluar dari mobil kemudian mengajak Anran masuk ke dalam private room, di sana Yuan duduk di sofa dengan tubuh sedikit miring, kepalanya tertunduk dan rambutnya sudah tidak serapi biasanya. Jas yang dikenakannya masih lengkap, tetapi kancing bagian atas kemejanya terbuka dan wajahnya terlihat merah karena alkohol.“Kak Yuan,” panggil Anran sambil menyentuh lengannya, tetapi Yuan hanya mengangkat kepala sebentar sebelum kembali menutup mata.“Kali ini terpaksa merepotkan Anda,” kata Liang Chen.Anran menghela napas panjang. “Dia minum sebanyak apa?”Liang Chen mengangkat bahu. “Saya tidak begitu memperhatikan, tapi malam ini dia tidak seperti biasanya.”Zeyan yang berdiri di samping Anran memperhatikan Yuan beberapa detik sebelum akhirnya mendekat. “Saya bawa dia ke mobil.”“Bisa?” Anran menoleh
Chapter 53Pulang ke JiangsuSetelah sarapan, Anran membantu Li Shuyan membereskan peralatan makan. Nuonuo sudah pergi ke ruang tengah untuk mengambil boneka kesayangannya, sementara Zeyan masih duduk di meja makan sambil memeriksa sesuatu di ponselnya. Anran membawa beberapa piring ke dapur dan meletakkannya di dekat wastafel, lalu mengambil gelas-gelas yang tersisa.Li Shuyan yang sedang mengelap meja tiba-tiba menoleh pada Anran. “Anran, hari ini Anda libur, kan?”Anran yang sedang membawa dua gelas langsung mengangguk meskipun Shuyan tidak sedang menatapnya. “Iya, saya libur.”“Kalau begitu, bagiamana kalau ikut saya ke Jiangsu?”Anran berhenti sebentar dan menatap Shuyan. “Ke Jiangsu?”“Nuonuo harus pulang. Sekalian makan malam bersama kami, saya sudah bilang kepada Zeyan.”Anran meletakkan gelas di atas meja dapur, kemudian tersenyum canggung. “Tapi, apa tidak merepotkan?”“Merepotkan apa?” Shuyan terkekeh pelan. “Anda pacar anak saya, masa datang dan makan malam saja merasa mer
Chapter 52Akhir Sebuah HubunganMalam semakin larut ketika Zeyan mengemudikan mobil meninggalkan restoran. Lampu-lampu kota Shanghai terlihat berderet di sepanjang jalan, sementara suasana di dalam mobil tenang dibandingkan saat mereka pergi karena Nuonuo sudah tertidur di kursi belakang setelah terlalu banyak makan dan bermain bersama Anran. Tubuh kecilnya miring ke samping dengan kepala bersandar pada sabuk pengaman, sementara boneka kecil yang tadi dibawanya dari rumah tergeletak di sampingnya.Anran beberapa kali menoleh ke belakang untuk memastikan Nuonuo masih nyaman, lalu kembali melihat ke depan. Zeyan yang sedang mengemudi hanya sesekali melirik melalui kaca spion.“Dia cepat sekali tidur,” kata Anran pelan.“Kalau sudah kenyang, biasanya begitu.” Zeyan tersenyum lembut. “Tadi dia juga menghabiskan makanan lebih banyak dari biasanya.”Anran tertawa pelan. “Karena Anda membiarkannya makan kue lebih dari satu.”“Saya tidak punya pilihan. Anda bersekutu dengannya.”“Saya hanya







