LOGINSerena tak pernah menyangka pernikahan kedua ibunya akan membawanya pada kehidupan yang rumit. Kini, ia harus tinggal bersama tiga kakak tiri kembar sekaligus kuliah di universitas yang sama dengan mereka. Di kampus, mereka bahkan tidak boleh terlihat seperti keluarga. Namun, semakin Serena berusaha menjaga jarak, semakin ia terseret ke dalam hubungan yang sulit dijelaskan. Tiga kakak tiri. Satu rahasia. Dan sebuah perasaan yang perlahan membuat Serena terjebak.
View More“Akhirnya, kalian berdua sampai juga, sayang.” Pria p Akhirnya aruh baya itu menyambut kedatangan istrinya dan juga putri tirinya dengan senyum hangat yang terukir di wajahnya, sembari berdiri di ambang pintu.
“Maaf, Mas, kita lama sampainya,” ucap wanita paruh baya itu sambil melangkah mendekati suaminya dengan senyum tipis di wajahnya. Sementara Serena hanya diam dengan kepala sedikit tertunduk sambil mengekor di belakang mamanya. Tangannya menggenggam erat pegangan koper yang dibawanya. Sesekali, gadis itu melirik ke sekeliling, memperhatikan rumah besar yang kini akan menjadi tempat tinggal barunya. Tiga hari yang lalu, Serena baru saja menyaksikan pernikahan mamanya dengan seorang pria tampan yang kini resmi menjadi ayah tirinya. Pria itu bukan orang sembarangan. Ia adalah seorang pengusaha sukses sekaligus pemilik perusahaan besar yang namanya cukup dikenal di kota ini. Bahkan, ia disebut-sebut sebagai salah satu orang terkaya di kota. Serena masih belum terbiasa dengan semua perubahan yang terjadi begitu cepat. Namun, ia tidak ingin memikirkan semuanya terlalu jauh. Selama mamanya bahagia, Serena akan mencoba menerima pernikahan itu. “Hal itu bukan masalah bagiku, sayang. Kalian datang dengan selamat, itu yang lebih penting.” Pria itu mengusap lembut puncak kepala istrinya, membuat kedua pipi wanita itu seketika memerah karena malu. Serena yang melihatnya ikut tersenyum kecil. “Dan seharusnya Mas yang minta maaf sama kalian berdua karena tidak bisa menepati janji Mas untuk menjemput kalian,” ucap pria itu. Wanita itu tersenyum tipis. “Tidak apa-apa, Mas. Kami berdua mengerti keadaan Mas. Lagi pula, pekerjaan Mas tidak mungkin ditinggalkan begitu saja hanya karena ingin menjemput kami. Jadi, Mas tidak perlu merasa bersalah. Mas tetap menepati janji dengan menyuruh asisten Mas untuk menjemput kami,” jelasnya. Mendengar penjelasan istrinya, pria itu tersenyum hangat. Ia merasa sedikit lega karena istrinya memahami keadaannya. Lalu, ia beralih menatap Serena yang sejak tadi berdiri diam di samping mamanya. Tatapannya sejenak memperhatikan gadis itu. “Serena,” panggil pria itu. Mendengar namanya dipanggil, Serena spontan mendongak. Tatapannya langsung tertuju pada ayah tirinya yang kini sedang menatapnya. “Iya, Om,” jawab Serena pelan. Lalu, Serena menundukkan kepalanya. Sudah tiga hari pria itu resmi menjadi ayah tirinya. Mamanya juga sudah mengatakan sejak sebelum mereka datang ke rumah ini bahwa Serena harus mulai terbiasa memanggilnya “Ayah”. Namun, sampai sekarang, Serena masih belum terbiasa dengan panggilan itu. Ia masih merasa canggung untuk memanggil pria tersebut dengan sebutan “Ayah”. Serena kembali menundukkan kepalanya sambil menggigit bibir bawah. Kedua matanya melirik ke arah mamanya, seolah ingin memastikan bahwa wanita itu tidak marah karena dirinya masih memanggil pria tersebut “Om”. Namun, mamanya hanya menatap Serena dengan tenang, seolah tidak mempermasalahkannya. Serena menarik napas panjang, lalu mendongak pelan. “Maksud aku... Ayah,” ucapnya gugup. Pria itu tertawa kecil melihat Serena yang tampak gugup. “Sayang, putrimu ini sangat takut jika dia tidak memanggilku dengan sebutan Ayah.” Pria itu menoleh ke arah istrinya. “Tapi dia sangat menggemaskan, padahal aku tidak akan memaksanya untuk memanggilku dengan sebutan itu.” Pria itu tersenyum lebar ke arah istrinya. “Dia memang begitu, Mas. Serena masih belum terbiasa dengan semua ini,” ujar mamanya sambil tersenyum. Wanita itu kemudian merangkul lengan suaminya dengan manja. Pria itu mendengus pelan, lalu mengelus puncak kepala Serena. Serena hanya terdiam, menatap pria itu dengan sedikit rasa bersalah. “Serena, saya sudah pernah bilang sama kamu.” “Saya tidak akan pernah memaksa kamu untuk memanggil saya seperti tiga putra kembar saya, dengan sebutan Ayah,” jelasnya. “Saya mengerti perasaan kamu. Jadi, jangan terlalu dipaksakan. Tunggu sampai kamu sudah terbiasa dan siap menerima kehidupan baru kamu.” “Maaf, Om,” pinta Serena pelan. Pria itu tersenyum kecil. “Ayo, masuk. Tidak baik terlalu lama di luar.” “Ayo, Mas. Kedua kakiku juga sudah pegal dari tadi,” keluh wanita itu. “Baik, sayang.” Pria itu kemudian menoleh kepada seorang pembantu yang berdiri tidak jauh dari mereka. “Bi, tolong bawa barang-barang Serena ke kamar yang sudah saya siapkan untuknya.” Serena hanya diam, sambil tersenyum ke arah pembantu yang kini mengambil barang-barangnya. “Bi, nanti suruh Pak Dino bawa barang-barang istri saya yang masih ada di mobil ke dalam, ya,” titah pria itu. “Baik, Tuan,” ucap wanita tua itu dengan menunduk singkat. Setelah memberikan perintah, mereka bertiga masuk ke dalam rumah dan duduk di ruang tamu. Serena hanya diam sambil memperhatikan sekeliling rumah mewah itu. “Mas, putra kembar kamu mana?” tanya istrinya sambil celingukan. “Dari kita menikah, aku tidak pernah melihat. Apa mereka tidak menerima kedatangan kami?” Serena yang sejak tadi diam ikut mencari keberadaan ketiga saudara tirinya. Sebenarnya, ia juga penasaran seperti apa putra-putra ayah tirinya itu. Pria itu terdiam sejenak sebelum menjawab pertanyaan istrinya. “Mereka ada di dalam kamar, sayang. Kamu jangan memikirkan yang aneh-aneh, ya,” kata pria itu. “Mereka menerima kedatangan kamu dan putri kamu, sayang. Buktinya, mereka setuju sama pernikahan kita.” Mendengar jawaban suaminya, wanita itu tersenyum kecil. Raut wajahnya terlihat lega. Belum sempat wanita paruh baya itu mengatakan sesuatu, Serena akhirnya bersuara. “Mah,” panggil Serena pelan. Mamanya dan ayah tirinya serempak menoleh ke arahnya. “Iya, sayang? Ada apa?” tanya mamanya. “Aku mau ke kamar, Mah,” ucap Serena sambil memainkan jari-jarinya. “Kamu capek, Serena?” tanya ayah tirinya. “Iya, Om,” gumam Serena. “Ya sudah. Kalau begitu, kamu ke kamar saja dan istirahat. Ayah panggil Bi Yanti dulu, biar dia mengantarkan kamu ke kamar.” Serena menggeleng cepat. “Tidak usah, Om. Biar aku pergi sendiri. Om bilang saja kamar aku di mana.” “Baiklah, Serena.” Pria itu kemudian menunjuk ke arah tangga. “Kamarmu ada di lantai dua. Nanti kamu belok kiri, di situ kamar kamu.” “Terima kasih, Om,” pinta Serena. Kemudian, ia menoleh kepada mamanya. “Kalau begitu, Serena ke kamar dulu, ya, Mah. Om.” “Iya, sayang. Tidur yang nyenyak, ya.” Serena tersenyum kecil, lalu bangkit dan berjalan meninggalkan mamanya serta ayah tirinya di ruang tamu. Serena melangkah menaiki tangga satu per satu. Sesekali, matanya menyapu sekeliling, memperhatikan interior rumah yang begitu mewah. Sesampainya di lantai dua, Serena berhenti sejenak. Ia melihat ke kiri seperti yang dikatakan ayah tirinya tadi, lalu berjalan menuju kamarnya. Tak lama kemudian, Serena sudah berdiri di depan pintu kamar. Namun, ia masih terdiam di tempat karena bingung menentukan mana kamarnya. Ayah tirinya tadi tidak memberitahukan pintu mana yang merupakan kamarnya. Di hadapannya terdapat dua pintu kamar yang saling berhadapan. “Yang mana kamar aku?” Serena menatap kedua pintu itu secara bergantian. Serena terdiam beberapa detik. Rasa kantuk dan lelah membuatnya tidak memiliki tenaga untuk turun kembali dan menanyakan kepada ayah tirinya mengenai kamarnya. Namun, entah kenapa, hatinya justru tertarik pada salah satu kamar di hadapannya. Serena merasa yakin bahwa kamar itu adalah miliknya. Tanpa berpikir panjang, Serena melangkah menuju kamar tersebut. Tangannya perlahan membuka pintu. Dahinya sempat mengernyit ketika menyadari pintu itu tidak terkunci. Serena akhirnya mengembuskan napas lega. Ternyata firasatnya benar. Ini benar kamar miliknya. Tanpa berpikir panjang, Serena masuk dan langsung menuju kasur. Kamar yang gelap membuatnya tidak terlalu memperhatikan keadaan sekitar. Rasa lelah dan kantuk sudah membuatnya ingin segera tidur. Serena menjatuhkan tubuhnya di atas kasur. “Ah... akhirnya bisa tidur.” Ia memejamkan mata dan memiringkan tubuhnya. Tangannya bergerak mencari sesuatu untuk dipeluk hingga menemukan benda yang terasa hangat. Serena mengernyit. “Lho... kok gulingnya panas?” Tangannya menyentuh benda itu sekali lagi. Namun, saat matanya terbuka, Serena langsung membeku. Seorang pria sedang tertidur tepat di sampingnya. “Aaaa!” Serena langsung bangkit dengan panik. Tangannya terlepas dari pria itu dan tanpa sengaja menyenggol benda di atas nakas. Brak! Sebuah benda jatuh ke lantai. Pria itu sontak membuka mata. Tatapannya langsung tertuju pada Serena yang terduduk panik di atas kasur.“Bianca!” Teriakan itu membuat beberapa orang di kantin langsung menoleh ke belakang. Saat melihat siapa yang datang, bisikan mulai terdengar di antara mereka. “Ares datang.” “Gawat nih, bisa mampus tuh cewek.” “Biarin. Biar tahu rasa. Siapa suruh nampar Bianca, sahabat Ares, cowok yang ditakuti di kampus ini.” Serena yang mendengar bisikan itu langsung menoleh ke belakang. Ia terlonjak kaget saat melihat siapa pria yang datang. “Kak Ares.” Seketika, tatapan mereka bertemu. Serena buru-buru menundukkan kepalanya. Ares melangkah cepat ke arah Bianca yang masih terduduk di lantai. Ia langsung berjongkok sambil memegang kedua bahu Bianca. Bianca yang merasakan kehadiran Ares langsung mendelik menatapnya dengan kedua mata yang sudah berkaca-kaca. “Ares, sakit…” rintih Bianca dengan suara pelan. “Mana yang sakit?” tanya Ares sambil memperhatikan keadaan Bianca. Apa dia pacar Kak Ares? gumam Serena dalam hati sambil terus memperhatikan keduanya. Tiba-tiba, tatapan Serena bert
Setelah mengetahui ruang kelasnya, Serena segera menuju perpustakaan terlebih dahulu. Ia ingin mencari sebuah buku untuk mengisi waktu sebelum perkuliahan dimulai. Tidak lama kemudian, Serena keluar dari perpustakaan sambil membawa sebuah buku di tangannya. Ia kembali ke kelas dan memilih duduk di kursi dekat jendela. Setelah meletakkan tasnya, Serena langsung membuka buku yang baru saja dipinjamnya. Suasana kelas masih cukup ramai. Beberapa mahasiswa sibuk berbicara dengan teman-temannya, sementara yang lain memainkan ponsel. Serena tidak terlalu memperhatikan keadaan di sekitarnya. Ia tetap fokus membaca sampai seseorang berhenti di samping mejanya. “Permisi.” Serena mengangkat wajahnya. Seorang mahasiswi berdiri di samping mejanya sambil tersenyum ramah. “Kamu mahasiswa baru, ya?” tanya wanita itu. Serena mengangguk pelan. “Iya.” “Pantas saja kamu terlihat asing di kelas kami. Orang-orang juga sedang membicarakan kamu.” Serena mengerutkan dahi. “Membicarakan
Sepanjang perjalanan, tidak ada satu pun dari mereka yang mengajak Serena berbicara. Gadis itu hanya menatap keluar jendela sambil memainkan jemarinya. Di sampingnya, Arga duduk dengan tenang. Serena sebenarnya ingin sekali mengajaknya berbicara. Ada banyak hal yang ingin ia tanyakan kepada Arga, tetapi rasa canggung membuatnya tidak berani membuka percakapan. Akhirnya, Serena memilih untuk tetap diam. Sementara itu, Ardian dan Ares duduk di kursi depan. Serena masih sedikit kesal mengingat ucapan Ares saat mereka berada di rumah tadi. Sejujurnya, ia sendiri tidak ingin berangkat bersama pria itu. Bahkan, Serena sempat menolak ketika diminta ikut satu mobil dengan mereka. Namun, karena William terus memintanya, Serena akhirnya terpaksa ikut. Beberapa menit kemudian, suara Ares tiba-tiba terdengar. “Ardian, berhenti.” Ares mengucapkannya tanpa menoleh sedikit pun. Satu alis Ardian terangkat. Ia yang sejak tadi fokus mengemudikan mobil kini melirik Ares sekilas. “Kenapa?
Serena terdiam. Matanya berkaca-kaca, tak percaya mendengar ucapan pria itu. Kedua tangannya refleks mengepal erat di sisi tubuhnya. “M-maksud kamu apa? K-kenapa kamu bilang mamaku pelakor, hah?” tanya Serena terbata-bata, nadanya terdengar tak terima. Kedua matanya menatap pria itu tajam, menyiratkan kemarahan. Mendengar itu, pria itu justru tertawa miring. Ucapan Serena terdengar begitu konyol di telinganya. “Kamu sangat bodoh. Padahal semua itu sudah jelas di depan mata.” Pria itu menjeda ucapannya sejenak. Tatapannya tetap tertuju pada Serena dengan wajah datar yang terlihat sinis, sementara kedua tangannya terlipat santai di dada. “Atau... kamu pura-pura tidak tahu?” Serena mengerutkan dahinya. “Kamu aja yang ngarang cerita. Tidak mungkin mama aku pelakor,” katanya. Pria itu berdeham pelan. Sudut bibirnya terangkat tipis, membentuk senyum sinis. “Kalau memang mama aku seperti itu, sudah dari dulu dia gonta-ganti pria.” “Seorang pelakor tidak perlu berganti






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews