共有

5. Kunci Loker

last update 公開日: 2026-06-17 00:57:49

Chapter 5

Kunci Loker

Wang Zeyan tidak pernah berpikir setelah bekerja hampir dua belas jam di restoran barunya, hal pertama yang dilakukan ketika kembali ke apartemen bukanlah tidur melainkan duduk di tepi tempat tidur sambil memperhatikan sebuah benda kecil di telapak tangannya. Zeyan mengangkat kunci loker itu, memperhatikan gantungan kecil berbentuk bunga yang terpasang di ujungnya.

Ia baru menyadari ada benda yang terjatuh setelah mobil yang dikemudikan Anran pergi cukup jauh dari restoran dan Zeyan memungutnya, ia berniat menitipkan di bagian resepsionis restoran. Namun, saat membaca nama Dokter Zhao yang terukir di salah satu hiasan gantungan yang berbentuk plat persegi panjang, Zeyan mengurungkan niatnya.

Zeyan tersenyum, menurutnya Anran cukup lucu karena sampai tidak sadar kehilangan barang kecilnya sendiri ketika sedang sibuk memastikan orang lain tidak jatuh.

Zeyan menyandarkan tubuhnya ke kepala tempat tidur sambil memutar kunci itu di antara jarinya, ia masih ingat ekspresi Anran saat pertama kali mereka bertemu. Saat menghadapinya duduk di ranjang UGD dengan tangan terluka, wanita itu justru menatapnya seolah sedang menghadapi kasus yang sangat rumit dan ekspresi Anran sangat serius. Bahkan setelah mendengar jika lukanya berasal dari pecahan kaca, dokter itu justru berhasil membuat dirinya merasa seperti sedang menjalani pemeriksaan psikologi.

Senyum Zeyan melebar mengingatnya, dokter Zhao benar-benar aneh. Tetapi, malam ini ia melihat sisi lain dari wanita itu. Di rumah sakit, Anran terlihat sangat berbeda. Rambutnya rapi, ekspresinya serius, dan setiap kata yang keluar dari mulutnya terdengar seperti keputusan medis yang tidak bisa dibantah.

Namun, dia ternyata biasa tertawa bersama teman-temannya di restoran. Ia juga mengeluh, kesal, dan bahkan terlihat tidak berdaya ketika harus menghadapi teman yang mabuk.

Zeyan meletakkan kunci itu di meja kecil samping tempat tidur dan berpikir besok pagi dia akan mengembalikannya. Sebenarnya dia bisa saja menitipkan benda itu kepada staf restoran agar dikirimkan, atau meminta seseorang dari restoran mengantarkannya karena setiap pelanggan VIP yang mereservasi dicatat dengan sangat detail, namun entah kenapa Zeyan merasa lebih baik mengembalikannya sendiri. Lagipula, rumah sakit tempat Anran bekerja tidak terlalu jauh dari restoran dan tempat tinggalnya.

***

Keesokan paginya, Zeyan memasukkan kunci loker Anran ke dalam saku jaket olahraganya. Seperti biasa ia selalu mengawali paginya dengan bersepeda atau sekedar joging di taman di dekat tempat tinggalnya. Jadi, ia berpikir sebelum bersepeda pagi ini sebaiknya mengantarkan baraang itu terlebih dahulu.

Begitu tiba di rumah sakit, suasana sudah cukup sibuk. Rumah sakit besar seperti ini tidak pernah benar-benar sepi. Bahkan pagi hari, orang-orang sudah memenuhi area pendaftaran, keluarga pasien berjalan cepat membawa dokumen, dan para tenaga medis bergerak dengan langkah terburu-buru.

Zeyan langsung pergi ke meja informasi UGD dan menitipkannya lalu pergi karena tidak ingin mengganggu pekerjaan Anran, setidaknya itu yang dia katakan pada dirinya sendiri.

"Permisi, saya ingin menitipkan barang milik dokter di UGD," kata Zeyan pada staf di konter administrasi UGD.

Staf administrasi menerima kunci tersebut lalu melihat nama yang tertera. "Milik dokter Zhao Anran?"

Zeyan mengangguk.

"Dokter Zhao sedang bertugas sekarang," kata staf itu.

Pagi sekali sudah berada di UGD, padahal semalam habis minum-minum bersama teman-temannya, batin Zeyan.

"Oh," kata Zeyan pelan dan singkat.

"Kalau mau, saya bisa membantu menyerahkan ke bagian perawat."

Zeyan hampir mengangguk dan mengiyakan ucapan staf itu, namun sebelum sempat berbicara, dari arah lorong UGD terdengar suara seseorang.

"Dokter Zhao, hasil pemeriksaan pasien sudah keluar."

Zeyan tanpa sadar menoleh dan di antara beberapa dokter serta perawat yang berjalan cepat, ia melihat Anran. Wanita itu mengenakan pakaian kerja dokter, rambut panjangnya yang diikat rapi, dan wajahnya terlihat sedikit lelah, tetapi ekspresinya tetap fokus membaca laporan pemeriksaan sambil berjalan. Sangat berbeda dengan malam tadi, pagi ini tidak ada senyum atau ekspresi santai seorang dokter yang sedang bekerja.

Zeyan terdiam beberapa detik dan baru menyadari bahwa ini adalah pertama kalinya dia melihat Anran dalam lingkungan sebenarnya, bukan sebagai pasien, dan bukan sebagai pelanggan restoran. Tetapi, sebagai seorang dokter.

"Dokter Zhao."

Salah satu perawat memanggilnya.

Anran langsung berhenti. "Apa?"

"Pasien nomor tiga membutuhkan pemeriksaan ulang."

"Baik, saya datang."

Anran bahkan tidak sempat menyadari keberadaan Zeyan yang berdiri beberapa langkah dari sana sambil memperhatikannya, kemudian wanita itu berjalan cepat menuju ruang pemeriksaan dan berhenti beberapa kali untuk menjawab pertanyaan perawat, lalu kembali memeriksa pasien berikutnya.

Semuanya dilakukan tanpa ragu, tidak seperti malam tadi ketika dia kesulitan membawa seorang teman yang mabuk. Zeyan hampir tersenyum karena ternyata ada hal yang lebih sulit bagi Dokter Zhao daripada menangani pasien yaitu menghadapi teman sendiri.

"Chef Wang?"

Suara itu membuat Zeyan kembali menoleh dan mendapati Anran berdiri tidak jauh darinya, sepertinya Anran baru menyadari keberadaannya.

"Kenapa Anda di sini?" tanya Anran.

Zeyan mengeluarkan kunci dari saku jaket olahraganya nya. "Saya datang untuk mengembalikan sesuatu."

Anran melihat benda di tangannya dan matanya langsung membesar, tetapi ia tidak mengulurkan tangan untuk menerimanya.

"Ternyata kunci loker saya... tertinggal di restoran?"

"Jatuh kemarin malam."

"Jatuh?"

"Ketika Anda membantu teman Anda masuk mobil."

Anran terdiam karena tidak menyadari kehilangan benda itu saat itu, ia baru menyadari saat hendak membuka lokernya.

Zeyan mengulurkan kunci itu, tetapi Anran seperti enggan menerimanya. Terlihat dari ekspresinya.

"Jangan khawatir, tidak kena keringatku. Belum," kata Zeyan dan tersenyum seperi mengejek.

Anran berdehem dan menerimanya. "Terima kasih."

"Sama-sama."

Beberapa detik mereka hanya berdiri dalam diam seperti ada kecanggungan, Anran memasukkan kunci itu ke saku jas dokternya.

"Saya tidak menyangka Anda benar-benar datang ke rumah sakit hanya untuk mengembalikan ini," kata Anran.

"Saya tidak ingin dokter yang terlalu serius seperti Anda kehilangan akses ke lokernya sendiri," jawab Zeyan dengan santai.

Anran langsung menatap Zeyan. "Itu terdengar seperti ejekan."

"Saya hanya mengatakan apa yang saya lihat."

Kalimat itu membuat Anran mengingat percakapan mereka tadi malam dan menghela napas kecil. "Anda memang selalu berbicara seperti itu."

"Tidak semua orang menyadarinya."

"Mungkin karena tidak semua orang mau berdebat dengan Anda."

Zeyan tersenyum kecil, tetapi sebelum mereka bisa melanjutkan percakapan, suara perawat kembali terdengar.

"Dokter Zhao."

Anran langsung menoleh pada perawat lalu kembali menatap Zeyan dan berkata, "Saya harus kembali bekerja."

"Tentu."

Anran sempat berjalan beberapa langkah sebelum berhenti lali menoleh. "Terima kasih sekali lagi."

Zeyan mengangguk dan kali ini tidak mengatakan apa-apa, hanya melihat wanita itu kembali berjalan menuju ruang pasien dan anehnya mereka baru bertemu beberapa kali. Namun, entah kenapa Zhao Anran selalu berhasil membuatnya memperhatikan hal-hal kecil tentang dirinya.

Zeyan memasukkan kedua tangannya ke saku jaket lalu berjalan meninggalkan rumah sakit dan membawa pulang satu kesan baru tentang Dokter Zhao, bahwa wanita itu jauh lebih menarik daripada yang terlihat.

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • HOT DUDA DI SEBELAH RUMAH    11. Teman SMA

    Chapter 11Teman SMAPukul setengah lima sore, Zhao Anran memasuki jalanan menuju tempat tinggalnya, matahari mulai condong ke barat, meninggalkan semburat jingga di balik deretan pepohonan yang tumbuh di sepanjang jalan. Hari itu UGD lebih sibuk dibanding biasanya sehingga bahu Anran terasa pegal dan kepalanya sedikit berat dan Anran ingin segera tiba di rumahnya kemudian mandi air hangat, makan malam lalu tidur lebih awal.Namun, begitu mobilnya berbelok ke jalanan depan rumah, spontan Anran mengurangi kecepatan karena sebuah sedan hitam terparkir tepat di depan pagar. Anran sangat mengenali mobil itu dan segera menurunkan kaca mobil.Tang Wei juga menurunkan kaca mobil lalu tersenyum dan berkata, "Akhirnya pulang juga."Anran juga tersenyum, tetapi tidak menjawab. Ia membuka pintu mobil lalu menghampiri Tang Wei. "Bukannya semalam aku sudah bilang tidak ingin merepotkanmu?""Aku tidak merasa direpotkan," ujar Tang Wei.Anran mengedikkan bahunya. "Baiklah. Kalau begitu, aku menganda

  • HOT DUDA DI SEBELAH RUMAH    10. Salah Mengira

    Chapter 10Salah MengiraUntuk beberapa saat Anran membeku karena pengakuan Zeyan, sementara angin malam berembus melewati jalan kecil di antara kedua rumah mereka. Sejak melihat Zeyan menggendong anak perempuan. Anran sibuk membayangkan pria di depannya memiliki keluarga kecil yang sempurna. Seorang istri cantik yang menunggunya pulang setiap malam, seorang putri yang manja, rumah hangat dengan lampu-lampu yang selalu menyala. Rupanya semua itu hanya kesimpulan yang ia buat sendiri."Maaf," ucap Anran pelan sambil tersenyum canggung. "Saya... salah mengira."Zeyan tersenyum. "Tidak masalah." Anran mengangguk kecil dan suasana mendadak menjadi sedikit kikuk, ia baru mengenal pria itu beberapa hari, tetapi sudah dua kali salah menilai. Pertama mengira Zeyan mencoba bunuh diri, sekarang mengira pria itu masih memiliki istri.Zeyan melirik ke arah dalam rumah. ."Tawaran saya masih berlaku."Anran mengikuti arah pandangan Zeyan lalu mengembuskan napas pelan. Tawaran Zeyan seperti oase di

  • HOT DUDA DI SEBELAH RUMAH    9. Duda Sebelah Rumah

    Chapter 9Duda Sebelah Rumah Zhao Anran tidak langsung kembali ke rumahnya, ia mengemudikan mobilnya ke arah yang berlawanan dengan tempat tinggalnya menuju sebuah restoran untuk mengambil makanan untuk makan malamnya yang telah dipesan sebelum ia meninggalkan tempat kerjanya. Ketika memasuki kawasan rumah lama neneknya, ia memperlambat laju kendaraannya, dan setelah berada di depan rumah, ia tidak langsung keluar dari mobil untuk membuka pagar. Anran menatap pintu gerbang rumah Zeyan, rumah bergaya Eropa modern itu selalu tampak hidup. Ketika hari mulai gelap, lampu-lampu terasnya menyala dan ketika siang hari selalu terlihat tenang. Pasti keluarga kecil chef Wang hidup rukun dan bahagia di dalam rumah itu, istrinya juga cantik, pikir Anran.Seorang chef berbakat, tampan, mapan, memiliki putri yang menggemaskan, dan keluarga yang hangat. Kehidupan Chef Wang benar-benar sempurna, pikirnya lagi. Anran menggeleng pelan lalu menghela napas berat dan buru-buru keluar dari mobil kemudia

  • HOT DUDA DI SEBELAH RUMAH    8. Pemeriksaan Rutin

    Chapter 8Pemeriksaan Rutin"Jangan berlarian."Suara Wang Zeyan terdengar tenang, tetapi gadis kecil yang mengenakan baju kuning itu sama sekali tidak memedulikannya. Nuonuo justru tertawa riang sambil berlari menyusuri lorong poliklinik anak, kedua kepang pendeknya bergoyang ke kanan dan kiri mengikuti langkah-langkah kecilnya."Nuonuo menang!" serunya bangga.Zeyan mengembuskan napas pelan. Ia sudah memperingatkan putrinya sejak mereka turun dari mobil. Rumah sakit bukan taman bermain. Banyak pasien yang sedang beristirahat dan anak-anak lain yang mungkin kondisinya jauh lebih buruk daripada Nuonuo. Namun, di mata anak berusia empat tahun, lorong rumah sakit yang panjang justru terlihat seperti lintasan lomba lari."Awas, hati-hati jangan sampai jatuh.""Aku enggak jatuh!" Nuonuo berhenti, lalu menoleh sambil menyeringai jahil. "Papa lambat!""Benarkah?"Zeyan melangkah sedikit lebih cepat. Belum sempat Nuonuo kabur lagi, tubuh mungil itu sudah terangkat ke udara dan mendarat di p

  • HOT DUDA DI SEBELAH RUMAH    7. Salah Paham

    Chapter 7Salah PahamPukul lima sore, Tang Wei sudah tiba di depan rumah Zhao Anran tepat waktu seperti yang dijanjikannya. Anran membawa tas kecil lalu keluar dari rumah sambil masih melihat daftar barang di ponselnya."Aku merasa seperti mahasiswa baru," gumamnya sembari menunjukkan layar ponselnya.Tang Wei yang bersandar di samping mobil tersenyum sembari membaca daftar di layar yang ditunjukkan Anran. "Kasur, lemari, rak buku, rak sepatu, meja kerja....""Aku benar-benar tidak bisa memakai barang-barang lama nenekku," kata Anran. "Tentu. Kurasa aku pun akan membeli barang-barang baru dibandingkan menggunakan furnitur lama milik nenekku," kata tang Wei sembari menjauh dari mobil lalu membukakan pintu mobil untuk Anran. "Jika butuh bantuan membereskan barang-barangmu, katakan saja." Anran menatap Tang Wei dan berpikir kalau Kexin pasti memberitahu keadaan tempat tinggalnya. "Aku bisa mengatasinya sendiri," kata Anran lalu masuk ke dalam mobil."Aku tahu," kata Tang Wei lalu men

  • HOT DUDA DI SEBELAH RUMAH    6. Tetangga Sebelah Rumah

    Chapter 6Tetangga Sebelah RumahPukul empat sore, Zhao Anran akhirnya sampai di rumah setelah menyelesaikan sif paginya. Meski disebut sif pagi, bekerja sebagai dokter UGD tidak pernah benar-benar terasa seperti jadwal normal. Ada saja pasien yang datang tiba-tiba atau kondisi darurat yang membuat waktu berjalan tanpa terasa, dan ketika akhirnya bisa pulang, tubuhnya terasa seperti baru saja melewati perang kecil.Anran mematikan mesin mobil lalu bersandar sebentar di kursi pengemudi sambil memejamkan mata. Kepalanya sedikit pusing, bukan hanya karena kelelahan, tetapi juga karena sejak pagi ia sudah memikirkan kondisi barang-barangnya yang masih berantakan.Bukan hanya perlu membeli beberapa furnitur baru, sepertinya ia juga memerlukan jasa kebersihan rumah karena jika mengerjakannya sendiri sepertinya dirinya tidak sanggup. Di London, Anran terbiasa tinggal sendiri dan mengurus dirinya sendiri bukan hal yang baru, tetapi mengurus rumah sebesar itu sendirian dan membagi tenaga denga

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status