LOGINChapter 6
Tetangga Sebelah Rumah Pukul empat sore, Zhao Anran akhirnya sampai di rumah setelah menyelesaikan sif paginya. Meski disebut sif pagi, bekerja sebagai dokter UGD tidak pernah benar-benar terasa seperti jadwal normal. Ada saja pasien yang datang tiba-tiba atau kondisi darurat yang membuat waktu berjalan tanpa terasa, dan ketika akhirnya bisa pulang, tubuhnya terasa seperti baru saja melewati perang kecil. Anran mematikan mesin mobil lalu bersandar sebentar di kursi pengemudi sambil memejamkan mata. Kepalanya sedikit pusing, bukan hanya karena kelelahan, tetapi juga karena sejak pagi ia sudah memikirkan kondisi barang-barangnya yang masih berantakan. Bukan hanya perlu membeli beberapa furnitur baru, sepertinya ia juga memerlukan jasa kebersihan rumah karena jika mengerjakannya sendiri sepertinya dirinya tidak sanggup. Di London, Anran terbiasa tinggal sendiri dan mengurus dirinya sendiri bukan hal yang baru, tetapi mengurus rumah sebesar itu sendirian dan membagi tenaga dengan bekerja di UGD menjadi terasa sangat berat di bayangannya. Anran menghela napas panjang lalu mengambil tas kerjanya. "Kenapa hidup setelah bekerja justru malah terasa lebih sulit?" gumamnya pelan. Ia keluar dari mobil dan berjalan menuju pagar rumah. Rumah neneknya memang memiliki halaman luas dan bangunan yang indah, tetapi sistemnya masih mempertahankan gaya lama. Tidak ada pagar otomatis seperti rumah modern sekarang sehingga setiap kali ingin masuk, ia harus turun dari mobil dan membuka pagar secara manual. Anran memasukkan kunci sambil menahan rasa lelah di tubuhnya. Namun, saat baru saja membuka sebagian pagar, suara pintu pagar sebelah terdengar membuatnya menoleh. Seorang pria keluar dari rumah sebelah sambil membawa kantong sampah. Pria itu mengenakan seragam chef hitam yang rapi, rambutnya tertata sempurna, dan wajahnya terlihat jauh lebih segar dibanding Anran yang baru pulang bekerja. Anran langsung mengenali pria itu dan tatapan mereka bertemu sementara bibir Anran terbuka sedikit karena terkejut hingga nyaris tidak percaya dengan siapa yang berada di depannya. "Dokter Zhao?" sapa Zeyan. Anran berkedip beberapa kali sebelum menjawab. "Chef Wang?" Kemudian keduanya sama-sama terdiam karena situasi itu terasa sedikit aneh. Mereka sudah bertemu beberapa kali dalam keadaan yang tidak biasa, pertama kali di UGD lalu di restoran dan saat tengah malam ketika Anran membantu teman mabuk kemudian saat Zeyan mengantarkan kunci lokernya di UGD, tetapi tidak pernah sekalipun membicarakan tempat tinggal. Zeyan melirik rumah Anran lalu melihat ke rumahnya sendiri yang hanya dipisahkan pagar. "Jangan bilang kita tetangga." Anran mengikuti arah pandangannya dan akhirnya menyadari hal yang sama. "Anda tinggal di rumah itu?" "Ya." "Sejak kapan?" "Sekitar satu tahun." Anran mengangguk pelan, tetapi tidak tahu harus mengatakan apa. Shanghai memang besar, tetapi ternyata orang yang beberapa kali muncul dalam hidupnya justru tinggal beberapa meter dari rumahnya. "Ini cukup kebetulan," kata Zeyan. "Terlalu kebetulan," jawab Anran sambil menarik pagar lebih lebar. Zeyan tersenyum kecil melihat ekspresinya yang masih terlihat seperti sedang mencoba memahami keadaan. "Anda baru pulang kerja?" Anran mengangguk. Zeyan melirik jam tangannya. "Sampai jam empat?" "Namanya juga di UGD." Zeyan mengangguk mengerti. Tatapannya sempat berhenti di wajah Anran yang terlihat lelah. "Anda terlihat sangat butuh tidur." Anran langsung menatapnya. "Saya tahu." "Saya hanya mengatakan." "Dan saya hanya menjawab." Zeyan menahan senyum karena dalam kondisi kelelahan, dokter ini masih memiliki energi untuk membalas perkataannya. "Saya juga akan pergi bekerja," kata Zeyan sambil mengangkat kantong sampah di tangannya. Anran mengangguk. "Baiklah." "Sampai jumpa, Dokter Zhao." Anran hanya mengangguk sembari tersenyum tipis dan mereka kemudian kembali melakukan urusan masing-masing. Zeyan membuang sampah di tempatnya, sementara Anran masuk ke halaman rumahnya. *** Anran memasukkan handuk yang baru saja dipakainya ke dalam keranjang pakaian kotor lalu berganti pakaian dan akhirnya merasa sedikit lebih segar. Ia membawa segelas air lalu berdiri di balkon kamar untuk menikmati udara sore yang mulai berubah dingin, dari sana ia bisa melihat sebagian rumah sebelah. Rumah sebelah ternyata rumah chef Zeyan, ia masih sedikit tidak percaya dengan fakta itu. Tetapi, pikirannya segera berganti dengan tumpukan barang yang membuat kepalanya seolah mau pecah setiap kali mengingatnya karena jika seseorang masuk ke rumahnya sekarang, mereka mungkin akan mengira ia seorang hoarding disorder. Anran maskuk ke dalam kamarnya dan ketika mengecek ponselnya, ternyata ada sebuah pesan masuk dari Tang Wei dan saat sedang mengetik pesan balasan, Tang Wei menelepon . Anran mengangkat panggilan itu. "Halo?" "Anran, Anda jadi membeli perabot hari ini?" tanya Wei. Anran langsung mengerutkan kening. "Bagaimana Anda tahu?" Ada tawa kecil dari ujung telepon. "Kexin memberitahu." Anran langsung menghela napas, Shen Kexin memang tidak pernah bisa menyimpan informasi terlalu lama dan selalu ingin menjodohkannya dengan Tang Wei, tidak ada bedanya dengan neneknya. "Sepertinya saya tidak bisa lagi memberitahu Kexin apa pun," ucapnya ringan. "Anda sudah di rumah?" tanya Wei. "Ya. Saya baru pulang, UGD sangat sibuk." "Saya bisa mengantarmu, kapan saja Anda mau." Anran terdiam sebentar. "Tidak perlu merepotkan." "Bukan masalah besar, lagipula saya juga sedang senggang." Anran melihat kembali ke arah kamar yang masih berantakan, biasanya ia akan menolak karena tidak ingin merepotkan orang lain, tetapi kali ini ia benar-benar membutuhkan bantuan dan juga lelah menanggung sendirian. "Baiklah. Tapi, bagaimana jika hari ini?" "Oke. Bersiaplah, jam lima saya akan menjemput Anda." Anran meletakkan ponselnya, tetapi kemudian mengambilnya lagi dan menelepon Kexin. "Halo," sapa Kexin. "Kenapa Anda bilang pada Wei Wei kalau saya mau membeli furnitur?" sungut Anran langsung. Kexin tertawa kecil. "Kenapa memangnya? Kalau saya tidak bilang, apa Anda akan minta bantuannya sendiri?" "Saya...." "Saya tahu kau butuh bantuan, tempat tinggal Anda sekarang seperti kapal pecah!" "Saya bisa menyewa jasa pengurus rumah untuk membereskan." "Saya rasa Wei Wei tidak keberatan juga jika Anda minta bantuan untuk menyusun barang-barang itu," kata Kexin dengan santai. Anran mendengus. "Saya tidak mau merepotkannya." "Apa dia merasa direpotkan? Dia bahkan menawarkan diri untuk menemani Anda membeli perabot rumah, bukan?" Untungnya neneknya tidak memaksanya menikahi Tang Wei, tetapi Kexin sepertinya akan melakukannya. "Dengar, saya tidak mau Anda membocorkan apa pun tentang saya pada Wei Wei lagi." "Iya, iya... saya tahu." Kemudian Kexin terkekeh. "Dia benar-benar menyukai Anda, apa Anda benar-benar tidak ingin mempertimbangkannya?" "Shen Kexin...." Anran berhenti sejenak dan mendengus kesal. "Saya benar-benar ingin mencekik Anda." Kexin tertawa keras. "Anda sebaiknya juga memikirkan isi kulkas, jangan sampai kelaparan tengah malam setelah pulang sif siang." Anran tersenyum, Kexin selalu bisa membuatnya kesal, tetapi juga dalam sekejap membuatnya tersenyum. "Untungnya Anda adalah sahabat saya." "Baiklah, saya masih di kantor. Nanti saya telepon lagi, sampai jumpa," kata Kexin.Chapter 43Masa LaluSetelah menghabiskan hari liburnya di rumah orang tua dan kembali mendapat jadwal masuk siang, anran belum sempat bertemu Zeyan. Rencana kecil di rumah orang tua Anran ternyata juga mendadak gagal, Yuan mengatakan ada kesibukan mendadak, padahal Anran sudah bersusah payah menyetir pulang ke rumah orang tuanya setelah bekerja.Paginya, Anran terbangun lebih cepat dari biasanya dan saat berusaha memejamkan mata lagi, ternyata kantuknya sepertinya sudah hilang. Mungkin karena terlalu memikirkan kejanggalan alasan kakaknya yang tiba-tiba membatalkan acara makan malam keluarga di rumah mereka. Kakaknya adalah orang yang sangat rapi, bahkan dalam hal kecil sekalipun. Namun, Anran tidak ingin mendesak kakaknya untuk mengatakan hal yang sebenarnya karena meskipun mereka sangat dekat, bukan berarti tidak ada batasan di antara mereka. Karena masih memiliki cukup banyak waktu sebelum berangkat bekerja, ia tidak langsung bersiap ke rumah sakit. Setelah beberapa saat memikir
Chapter 42PulangSetelah menyelesaikan beberapa urusan di rumah dan beristirahat sebentar, Anran yang sedang mendapatkan liburnya memutuskan untuk pulang ke rumah orang tuanya pada sore hari. Sudah beberapa hari ia tidak pulang, bukan karena tidak ingin bertemu keluarganya, tetapi karena belakangan sela waktu luangnya ia lebih sering menghabiskan waktu bersama Zeyan.Anran sengaja membeli beberapa kotak makanan, kue, dan hidangan yang disukai orang tuanya dan neneknya. Saat memasuki rumah, ia mendengar suara percakapan dari ruang keluarga dan ternyata benar saja ibunya, ayahnya, dan neneknya sedang berada di sana.Anran baru berjalan beberapa langkah ketika ibunya langsung menoleh."Anda akhirnya pulang juga," kata Xu Jinghua sambil tersenyum. "Kata Yuan, Anda kemarin mentraktirnya makan?"Anran yang masih membawa beberapa kotak makanan langsung menghela napas panjang. "Mama benar-benar tidak bisa menunggu saya duduk?" Ia meletakkan kotak-kotak tersebut di atas meja sebelum duduk di
Chapter 41CiumanAnran masih melingkarkan kedua tangannya di leher Zeyan ketika pria itu membawanya naik menuju lantai atas. Tubuhnya terasa ringan dalam pelukan Zeyan, sementara wajahnya masih sedikit panas karena ucapan yang tadi tanpa sengaja keluar dari mulutnya. Ia benar-benar datang hanya untuk melihat Zeyan, tetapi sekarang memang sudah sangat terlambat untuk pulang. "Bagaimana makan malam Anda dengan Kak Yuan?" tanya Zeyan."Baik-baik saja," jawab Anran sambil memainkan ujung rambut Zeyan dengan jarinya. "Saya makan cukup banyak."Zeyan tersenyum tipis. "Bagus.""Saya juga bertemu Kexin sebentar.""Kexin?" Zeyan mengangkat alis, lalu kembali menatap tangga di depannya.Anran mengangguk. "Minum kopi. Sudah lama saya tidak bertemu dengannya."Zeyan hanya mengangguk pelan. "Teman Anda... yang mabuk itu, kan?"Anran langsung melotot menatap Zeyan. "Anda selalu mengingat itu?"Zeyan justru tersenyum. "Anda sering menyebutnya, saya rasa dia yang paling dekat dengan Anda."Anran te
Chapter 40Sahabat yang TerlupakanSetelah makan malam bersama kakaknya, Anran tidak langsung pulang tetapi mampir ke sebuah toko untuk membeli beberapa pengharum ruangan karena pengharum di kamarnya akan segera habis. Setelah mendapatkan barang dan membayar, Anran keluar berjalan menuju area parkir sambil membuka ponselnya dan melihat beberapa pesan yang masuk di grup pertemanan mereka. Salah satunya dari Kexin yang sejak beberapa hari terakhir memang belum sempat ditemuinya.Kexin: Anran, Anda masih hidup?Anran langsung tersenyum dan mengetik balasan: Tentu saja.Tidak sampai beberapa detik, balasan Kexin muncul: Bagus. Saya kira Anda sudah meninggal karena sibuk pacaran.Anran tertawa kecil ketika membaca pesan itu lalu memasukkan ponselnya ke dalam tas sambil berjalan menuju mobil, tetapi kemudian berhenti sebentar sebelum akhirnya membalas.Anran: Kalian di mana?Kexin langsung membalas seolah memang sedang menunggu kesempatan untuk mengomel: Akhirnya Anda ingat kami masih sahab
Chapter 39Mentraktir Kakak Anran datang lebih awal ke restoran yang sudah dipilih Yuan. Restoran tersebut merupakan salah satu restoran Shanghai cuisine yang cukup terkenal dan selalu ramai, tetapi suasananya tetap nyaman dan tidak terlalu mewah. Begitu masuk, Anran langsung melihat Yuan dan Shenya yang sudah lebih dulu datang. Yuan mengangkat tangan untuk memanggilnya, sementara Shenya tersenyum ketika melihat Anran berjalan menghampiri mereka."Maaf membuat kalian menunggu," ucap Anran sambil menarik kursi."Kami juga baru sampai," jawab Shenya.Anran duduk di sebelah Yuan dengan wajah ceria. Entah karena baru menerima gaji atau karena akhirnya bisa mentraktir kakaknya menggunakan uang hasil kerjanya sendiri sehingga malam itu suasana hatinya terasa lebih baik. "Bagaimana pekerjaan Anda hari ini?" tanya Yuan seraya menyodorkan buku menu pada Anran. "Lumayan lelah, UGD hampir tidak pernah sepi," jawab Anran seraya membuka buku menu lalu membaliknya beberapa kali untuk membaca kes
Chapter 38Kunci Rumah SebelahSetelah dua hari berada di rumah Zeyan, kondisi Anran akhirnya benar-benar pulih. Demamnya sudah turun, kepalanya tidak lagi terasa berat, tenggorokannya juga sudah jauh lebih baik dan ia sudah bisa makan seperti biasa. Li Shuyan yang sejak datang terus memperhatikan keadaan Anran akhirnya merasa tenang setelah memastikan Anran benar-benar tidak lagi terlihat seperti orang sakit. Setelah makan siang, Li Shuyan dan Nuonuo pun bersiap untuk pulang. Nuonuo sempat beberapa kali memeluk Anran dan mengatakan bahwa ia akan merindukan Kakak Dokter, sementara Li Shuyan kembali mengingatkan Anran agar menjaga tubuh dan tidak terlalu memaksakan diri bekerja.Anran berdiri di depan rumah bersama Zeyan ketika taksi online yang dipesan Li Shuyan berhenti di depan pagar. Nuonuo melambaikan tangannya dari dalam mobil dengan wajah ceria, tetapi setelah mobil mulai bergerak, Anran masih berdiri di tempat sambil memandanginya sampai kendaraan itu berbelok dan menghilang da







