Share

4. Chef Tampan

last update publish date: 2026-06-17 00:57:11

Chapter 4

Chef Tampan

Setelah perkenalan singkat mengenai chef mereka, para tamu kembali menikmati makan malam dengan suasana yang lebih santai. Musik instrumental yang lembut terdengar memenuhi ruangan, sementara cahaya hangat dari lampu gantung membuat restoran itu terasa semakin nyaman.

Tidak lama kemudian, pintu ruang VIP mereka terbuka dan beberapa pelayan masuk membawa hidangan utama.

"Ini adalah hidangan signature restoran kami," jelas salah satu pelayan sambil meletakkan piring dengan hati-hati di tengah meja. "Chef Wang yang mengembangkan resep ini secara langsung."

Mendengar nama itu, Anran tanpa sadar melirik ke arah pintu dan beberapa detik kemudian, Wang Zeyan muncul.

Berbeda dengan saat berada di UGD pagi tadi, pria itu terlihat jauh lebih profesional. Seragam chef hitam yang dikenakannya membuatnya terlihat berbeda. Tidak ada ekspresi bingung atau santai seperti ketika duduk di ranjang pasien, hanya ketenangan seseorang yang sangat memahami pekerjaannya.

"Selamat malam," sapa Zeyan.

Semua orang di meja menoleh kepadanya.

"Saya Wang Zeyan, chef yang bertanggung jawab atas hidangan malam ini. Ini adalah salah satu menu yang paling saya banggakan. Saya menggunakan teknik kuliner Prancis, tetapi tetap mempertahankan karakter rasa khas Tiongkok."

Kemudian Zeyan menjelaskan bahan utama, teknik memasak, dan alasan mengapa ia memilih kombinasi rasa tersebut. Caranya menjelaskan tidak terlalu panjang sehingga tidak membuat tamu merasa bosan.

Anran memperhatikannya dan jujur saja, dia tidak terlalu memahami dunia kuliner. Baginya makanan enak adalah makanan yang membuatnya bahagia setelah pulang dari shift panjang. Namun, melihat cara Zeyan berbicara tentang hidangannya, Anran bisa melihat bahwa pria itu sangat serius dengan profesinya.

Kemarin malam dia hanya terlihat seperti pasien aneh yang terlalu tenang saat pergelangan tangannya berdarah, tetapi sekarang dia terlihat seperti seseorang yang benar-benar berada di tempatnya.

Ketika pandangan mereka bertemu, Zeyan langsung mengenali Anran. "Dokter Zhao."

Anran sedikit terkejut karena Zeyan masih mengingat namanya. "Chef Wang."

Kexin yang duduk di samping Anran langsung menyipitkan mata melihat kedua saling menyapa nama masing-masing.

"Kalian saling kenal?" tanya Kexin.

Anran belum sempat menjawab, tetapi Zeyan lebih dulu berkata, "Kami pernah bertemu."

"Di rumah sakit," tambah Anran.

"Rumah sakit?" ulang Kexin.

Anran mengangguk kecil. "Dia pasien UGD kemarin malam."

Zeyan meliriknya. "Saya rasa lebih tepatnya pasien yang dicurigai dokter Zhao sebagai pasien percobaan bunuh diri."

Anran langsung menatapnya tidak senang. "Itu karena luka Anda memang terlihat seperti itu."

"Saya sudah menjelaskan penyebabnya," sahut Zeyan sembari tersenyum ramah.

"Dan saya sudah memastikan Anda tidak mengalami masalah psikologis," ucap Anran tidak mau kalah.

Sudut bibir Zeyan sedikit terangkat. "Syukurlah."

Setelah itu Zeyan hanya mengangguk kecil dan meninggalkan ruangan untuk kembali mengawasi dapur. Begitu pintu tertutup, keheningan hanya bertahan beberapa detik karena Gu Yiran tertawa.

"Dokter Zhao!" Ucap Yiran sambil tertawa.

Anran menatapnya curiga. "Apa?"

"Anda menuduh chef terkenal ini ingin bunuh diri?" tanya Yiran masih sambil tertawa.

"Saya melakukan pemeriksaan sesuai prosedur," jawab Anran malas.

Xiaoyu mengangguk serius. "Benar. Sangat profesional."

Anran sedikit lega karena ada yang membenarkan tindakannya.

"Sayangnya, pasiennya ternyata hanya kehilangan rak kaca, bukan kehilangan harapan hidup," lanjut Xiaoyu dan semua orang langsung tertawa.

Anran mengambil gelas airnya dan meneguknya dengan wajah kesal. "Saya tidak salah."

"Anda tidak salah," kata Xiaoyu sambil tersenyum. "Chef itu yang salah."

"Salah?" tanya Anran.

"Karena terlalu tampan," sahut Kexin.

"Dasar tidak bisa melihat pria tampan!" dengus Anran.

Yiran memotong dagingnya sambil berkata santai, "Aku hanya penasaran, apakah semua pasienmu mendapat perhatian seperti itu atau hanya pasien yang tampan yang mendapatkan perhatianmu?"

Anran langsung menatap Yiran tajam. "Gu Yiran."

"Saya diam," ucap Yiran, namun ekspresinya sama sekali tidak menunjukkan bahwa dia benar-benar akan diam.

Malam itu akhirnya berjalan lebih santai dari rencana awal. Setelah makan malam selesai, mereka tidak langsung pulang, Kexin memesan beberapa minuman karena merasa malam masih terlalu awal untuk berakhir.

Menurut Kexin, tidak masuk akal datang ke restoran baru yang mahal lalu pulang sebelum menikmati suasananya dan menurut Anran, itu hanya alasan untuk minum lebih banyak. Tentu saja Anran hanya bisa menurut apa kata Kexin.

"Sayang sekali," kata Xiaoyu sambil melihat gelasnya. "Pria yang disukai Kexin tidak ada di sini."

Kexin langsung menoleh. "Kenapa kalian semua terus membahas itu?"

"Karena dia pria bodoh," jawab Yiran.

"Dia kehilangan kesempatan," kata Kexin.

"Kesempatan apa?" tanya Anran.

"Kesempatan makan malam bersama saya," jawab Kexin santai.

Xiaoyu menggeleng. "Saya pikir, Anda akan bilang kesempatan memenangkan hati Anda."

"Itu juga," kata Kexin sembari tersenyum lebar.

"Tidak. Yang lebih menyedihkan adalah dia kehilangan kesempatan mencoba makanan chef terkenal ini," kata Yiran.

Kexin menunjuk Yiran. "Anda seharusnya membela saya."

"Saya membela fakta," kata Yiran

Semua orang kembali tertawa dan waktu terus berjalan tanpa mereka sadari. Ketika Anran melihat jam di ponselnya, sudah hampir pukul dua belas malam dan seperti yang sudah diperkirakan, hanya dia yang masih sadar penuh.

Xiaoyu sudah mulai berbicara lebih banyak dari biasanya, Yiran masih terlihat normal tetapi sudah mulai tersenyum tanpa alasan, sementara Kexin adalah yang paling parah sampai tidak bisa berdiri.

Anran menutup matanya sebentar sembari menghela napas, menjadi dokter ternyata tidak membuat menghadapi orang mabuk menjadi lebih mudah. Akhirnya ia membantu Kexin berdiri dan memegang lengannya kemudian membawa Kexin yang mulai mengoceh tidak karuan keluar dari restoran.

Ketika mereka keluar dari restoran, udara malam Shanghai langsung menyambut mereka. Jalanan masih ramai meskipun sudah hampir tengah malam, lampu kota memantul di permukaan Sungai Huangpu membuat pemandangan malam terlihat indah, dan Anran baru beberapa langkah berjalan ketika suara seseorang terdengar dari belakang.

"Dokter Zhao."

Anran berhenti dan menoleh dan mendapati Wang Zeyan berdiri beberapa langkah darinya, pria itu sudah mengganti seragam chef dengan pakaian kasual sederhana. Kemeja hitam dan celana panjang membuatnya terlihat jauh lebih santai dibanding sebelumnya.

"Chef Wang," kata Anran sembari melirik Kexin yang hampir seluruh berat tubuhnya bergantung pada Anran.

"Teman Anda sepertinya dia minum cukup banyak," kata Zeyan.

Anran menghela napas. "Saya tahu."

Zeyan melihatnya beberapa detik lalu berkata, "Saya baru tahu dokter juga bisa kesulitan menangani satu orang mabuk."

Anran langsung menatap Zeyan. "Saya tidak mabuk."

"Saya tidak mengatakan Anda mabuk."

"Tapi nada bicara Anda terdengar seperti itu."

Zeyan tersenyum kecil. "Baiklah. Saya hanya mengatakan seorang dokter yang biasanya terlihat sangat serius di rumah sakit ternyata bisa datang ke restoran dan pulang tengah malam setelah minum bersama teman."

Anran mendengus. "Dokter juga manusia."

"Saya tahu."

"Bagus."

"Karena sebelumnya saya sempat berpikir dokter Zhao hanya tahu bekerja."

Anran terdiam sebentar, entah kenapa kalimat itu terdengar seperti ejekan. "Apa Anda selalu berbicara seperti sedang mengejek orang?"

"Tidak."

"Benarkah?"

"Saya hanya mengatakan apa yang saya lihat."

Anran ingin membalas, tetapi tiba-tiba Kexin kembali hampir kehilangan keseimbangan, Anran segera menahannya dan melihat Anran yang kesulitan Zeyan akhirnya membantu memegang sisi lain tubuh Kexin.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • HOT DUDA DI SEBELAH RUMAH    43. Masa Lalu

    Chapter 43Masa LaluSetelah menghabiskan hari liburnya di rumah orang tua dan kembali mendapat jadwal masuk siang, anran belum sempat bertemu Zeyan. Rencana kecil di rumah orang tua Anran ternyata juga mendadak gagal, Yuan mengatakan ada kesibukan mendadak, padahal Anran sudah bersusah payah menyetir pulang ke rumah orang tuanya setelah bekerja.Paginya, Anran terbangun lebih cepat dari biasanya dan saat berusaha memejamkan mata lagi, ternyata kantuknya sepertinya sudah hilang. Mungkin karena terlalu memikirkan kejanggalan alasan kakaknya yang tiba-tiba membatalkan acara makan malam keluarga di rumah mereka. Kakaknya adalah orang yang sangat rapi, bahkan dalam hal kecil sekalipun. Namun, Anran tidak ingin mendesak kakaknya untuk mengatakan hal yang sebenarnya karena meskipun mereka sangat dekat, bukan berarti tidak ada batasan di antara mereka. Karena masih memiliki cukup banyak waktu sebelum berangkat bekerja, ia tidak langsung bersiap ke rumah sakit. Setelah beberapa saat memikir

  • HOT DUDA DI SEBELAH RUMAH    42. Pulang

    Chapter 42PulangSetelah menyelesaikan beberapa urusan di rumah dan beristirahat sebentar, Anran yang sedang mendapatkan liburnya memutuskan untuk pulang ke rumah orang tuanya pada sore hari. Sudah beberapa hari ia tidak pulang, bukan karena tidak ingin bertemu keluarganya, tetapi karena belakangan sela waktu luangnya ia lebih sering menghabiskan waktu bersama Zeyan.Anran sengaja membeli beberapa kotak makanan, kue, dan hidangan yang disukai orang tuanya dan neneknya. Saat memasuki rumah, ia mendengar suara percakapan dari ruang keluarga dan ternyata benar saja ibunya, ayahnya, dan neneknya sedang berada di sana.Anran baru berjalan beberapa langkah ketika ibunya langsung menoleh."Anda akhirnya pulang juga," kata Xu Jinghua sambil tersenyum. "Kata Yuan, Anda kemarin mentraktirnya makan?"Anran yang masih membawa beberapa kotak makanan langsung menghela napas panjang. "Mama benar-benar tidak bisa menunggu saya duduk?" Ia meletakkan kotak-kotak tersebut di atas meja sebelum duduk di

  • HOT DUDA DI SEBELAH RUMAH    41. Ciuman

    Chapter 41CiumanAnran masih melingkarkan kedua tangannya di leher Zeyan ketika pria itu membawanya naik menuju lantai atas. Tubuhnya terasa ringan dalam pelukan Zeyan, sementara wajahnya masih sedikit panas karena ucapan yang tadi tanpa sengaja keluar dari mulutnya. Ia benar-benar datang hanya untuk melihat Zeyan, tetapi sekarang memang sudah sangat terlambat untuk pulang. "Bagaimana makan malam Anda dengan Kak Yuan?" tanya Zeyan."Baik-baik saja," jawab Anran sambil memainkan ujung rambut Zeyan dengan jarinya. "Saya makan cukup banyak."Zeyan tersenyum tipis. "Bagus.""Saya juga bertemu Kexin sebentar.""Kexin?" Zeyan mengangkat alis, lalu kembali menatap tangga di depannya.Anran mengangguk. "Minum kopi. Sudah lama saya tidak bertemu dengannya."Zeyan hanya mengangguk pelan. "Teman Anda... yang mabuk itu, kan?"Anran langsung melotot menatap Zeyan. "Anda selalu mengingat itu?"Zeyan justru tersenyum. "Anda sering menyebutnya, saya rasa dia yang paling dekat dengan Anda."Anran te

  • HOT DUDA DI SEBELAH RUMAH    40. Sahabat yang Terlupakan

    Chapter 40Sahabat yang TerlupakanSetelah makan malam bersama kakaknya, Anran tidak langsung pulang tetapi mampir ke sebuah toko untuk membeli beberapa pengharum ruangan karena pengharum di kamarnya akan segera habis. Setelah mendapatkan barang dan membayar, Anran keluar berjalan menuju area parkir sambil membuka ponselnya dan melihat beberapa pesan yang masuk di grup pertemanan mereka. Salah satunya dari Kexin yang sejak beberapa hari terakhir memang belum sempat ditemuinya.Kexin: Anran, Anda masih hidup?Anran langsung tersenyum dan mengetik balasan: Tentu saja.Tidak sampai beberapa detik, balasan Kexin muncul: Bagus. Saya kira Anda sudah meninggal karena sibuk pacaran.Anran tertawa kecil ketika membaca pesan itu lalu memasukkan ponselnya ke dalam tas sambil berjalan menuju mobil, tetapi kemudian berhenti sebentar sebelum akhirnya membalas.Anran: Kalian di mana?Kexin langsung membalas seolah memang sedang menunggu kesempatan untuk mengomel: Akhirnya Anda ingat kami masih sahab

  • HOT DUDA DI SEBELAH RUMAH    39. Mentraktir Kakak

    Chapter 39Mentraktir Kakak Anran datang lebih awal ke restoran yang sudah dipilih Yuan. Restoran tersebut merupakan salah satu restoran Shanghai cuisine yang cukup terkenal dan selalu ramai, tetapi suasananya tetap nyaman dan tidak terlalu mewah. Begitu masuk, Anran langsung melihat Yuan dan Shenya yang sudah lebih dulu datang. Yuan mengangkat tangan untuk memanggilnya, sementara Shenya tersenyum ketika melihat Anran berjalan menghampiri mereka."Maaf membuat kalian menunggu," ucap Anran sambil menarik kursi."Kami juga baru sampai," jawab Shenya.Anran duduk di sebelah Yuan dengan wajah ceria. Entah karena baru menerima gaji atau karena akhirnya bisa mentraktir kakaknya menggunakan uang hasil kerjanya sendiri sehingga malam itu suasana hatinya terasa lebih baik. "Bagaimana pekerjaan Anda hari ini?" tanya Yuan seraya menyodorkan buku menu pada Anran. "Lumayan lelah, UGD hampir tidak pernah sepi," jawab Anran seraya membuka buku menu lalu membaliknya beberapa kali untuk membaca kes

  • HOT DUDA DI SEBELAH RUMAH    38. Kunci Rumah Sebelah

    Chapter 38Kunci Rumah SebelahSetelah dua hari berada di rumah Zeyan, kondisi Anran akhirnya benar-benar pulih. Demamnya sudah turun, kepalanya tidak lagi terasa berat, tenggorokannya juga sudah jauh lebih baik dan ia sudah bisa makan seperti biasa. Li Shuyan yang sejak datang terus memperhatikan keadaan Anran akhirnya merasa tenang setelah memastikan Anran benar-benar tidak lagi terlihat seperti orang sakit. Setelah makan siang, Li Shuyan dan Nuonuo pun bersiap untuk pulang. Nuonuo sempat beberapa kali memeluk Anran dan mengatakan bahwa ia akan merindukan Kakak Dokter, sementara Li Shuyan kembali mengingatkan Anran agar menjaga tubuh dan tidak terlalu memaksakan diri bekerja.Anran berdiri di depan rumah bersama Zeyan ketika taksi online yang dipesan Li Shuyan berhenti di depan pagar. Nuonuo melambaikan tangannya dari dalam mobil dengan wajah ceria, tetapi setelah mobil mulai bergerak, Anran masih berdiri di tempat sambil memandanginya sampai kendaraan itu berbelok dan menghilang da

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status