共有

8. Pemeriksaan Rutin

last update 公開日: 2026-07-21 22:54:29

Chapter 8

Pemeriksaan Rutin

"Jangan berlarian."

Suara Wang Zeyan terdengar tenang, tetapi gadis kecil yang mengenakan baju kuning itu sama sekali tidak memedulikannya. Nuonuo justru tertawa riang sambil berlari menyusuri lorong poliklinik anak, kedua kepang pendeknya bergoyang ke kanan dan kiri mengikuti langkah-langkah kecilnya.

"Nuonuo menang!" serunya bangga.

Zeyan mengembuskan napas pelan. Ia sudah memperingatkan putrinya sejak mereka turun dari mobil. Rumah sakit bukan taman bermain. Banyak pasien yang sedang beristirahat dan anak-anak lain yang mungkin kondisinya jauh lebih buruk daripada Nuonuo. Namun, di mata anak berusia empat tahun, lorong rumah sakit yang panjang justru terlihat seperti lintasan lomba lari.

"Awas, hati-hati  jangan sampai jatuh."

"Aku enggak jatuh!" Nuonuo berhenti, lalu menoleh sambil menyeringai jahil. "Papa lambat!"

"Benarkah?"

Zeyan melangkah sedikit lebih cepat. Belum sempat Nuonuo kabur lagi, tubuh mungil itu sudah terangkat ke udara dan mendarat di pelukannya.

"Ayah curang!" protes Nuonuo sambil tertawa geli.

"Namanya bukan curang, ini karena kakimu pendek."

Nuonuo langsung mengembungkan pipi. "Papa, kau tidak boleh mengejekku berkaki pendek!"

"Kakimu akan memanjang."

"Benarkah?"

"Ya."

Nuonuo mendengus pelan lalu menyandarkan kepalanya di bahu Zeyan. Meski mulutnya masih mengomel pelan, kedua tangannya sudah melingkari leher ayahnya.

Zeyan mengusap dengan lembut rambut putrinya, setiap tiga bulan sekali mereka selalu datang ke rumah sakit untuk pemeriksaan rutin. Nuonuo memang terlihat sehat seperti anak-anak lain seusianya, tetapi di balik wajah ceria itu tersimpan penyakit yang sudah menemaninya sejak lahir.

Kelainan jantung bawaan itu membuat masa kecil Nuonuo tidak sama seperti anak lain karena keterbatasan yang disebabkan penyakit bawaan. Nuonuo tidak boleh naik turun tangga, berlarian terlalu lama, bahkan tidak boleh menangis histeris. Putrinya juga tidak boleh sampai terserang demam tinggi atau terkena infeksi sehingga kebersihannya harus sangat diperhatikan.

Untungnya Nuonuo sangat patuh sehingga memberinya pengertian tidak begitu sulit, hanya saja Nuonuo tumbuh menjadi sedikit manja karena hampir semua keinginannya dipenuhi asalkan tidak menangis.

"Apa sudah hampir dimulai?"

Suara seorang wanita paruh baya membuat Zeyan menoleh.

"Ma," sapa Zeyan pada Li Shuyan, ibunya yang baru saja tiba sambil membawa tas kecil berisi botol minum dan beberapa camilan kesukaan cucunya.

"Nenek!" seru Nuonuo sambil mengulurkan tangan.

Li Shuyan langsung mengambil cucunya dari pelukan Zeyan. "Cucu Nenek hari ini cantik sekali."

"Ayah bilang kakiku pendek."

Li Shuyan terkekeh. "Papamu menindasmu?"

Nuonuo mengangguk sambil merengut.

"Nenek akan memukulnya nanti," kata Li Shuyan.

Zeyan mengerutkan alisnya. "Ma...."

Li Shuyan terkekeh melihat wajah Nuonuo yang cemberut, juga ekspresi Zeyan. "Setelah bertemu dokter, apa Nuonuo mau beli boneka baru?"

"Nuonuo mau," jawab Nuonuo.

Zeyan tersenyum menyaksikannya. Sejak Nuonuo lahir, sebagian besar waktu gadis kecil itu memang dihabiskan bersama kakek dan neneknya. Bukan karena Zeyan tidak menyayangi putrinya, tetapi karena kedua orang tuanya bersikeras mengambil alih pengasuhan.

Mereka mengenal pekerjaannya dengan sangat baik, menjadi chef berarti pulang larut malam, dan bekerja saat akhir pekan, bahkan hari libur justru menjadi waktu tersibuk di restoran. Mustahil membawa Nuonuo menjalani kehidupan seperti itu.

"Aku tidak mau cucuku dibesarkan pengasuh," kata Li Shuyan dulu saat pertama kali mengusulkan hal itu. "Kalau kau sibuk bekerja, biar Mama dan Papa yang mengurusnya."

Zeyan sempat menolak karena merasa itu adalah tanggung jawabnya sebagai ayah. Namun, setelah beberapa bulan mencoba mengatur waktu sendiri, ia akhirnya menyerah. Nuonuo jauh lebih bahagia tinggal bersama kakek dan neneknya. Setiap pagi ada yang menyiapkan sarapan, setiap malam ada yang menemaninya tidur, dan ketika sakit, selalu ada orang dewasa yang bisa langsung berada di sisinya.

"Nomor sepuluh."

Suara perawat memanggil dari depan ruang praktik. Zeyan, ibunya, dan Nuonuo masuk ke ruang pemeriksaan. Di sana dokter spesialis jantung anak yang menangani Nuonuo langsung tersenyum ketika melihat gadis kecil itu.

"Halo, Nuonuo," sapa Dokter.

"Halo, Dokter!" Balas Nuonuo.

"Nuonuo masih masih minum obatnya?"

Nuonuo menggeleng cepat. "Nuonuo tidak suka, tidak enak."

"Namun, Nuonuo tetap meminumnya?"

Nuonuo mengangguk. "Karena Ayah bilang harus."

Dokter tertawa kecil sebelum mulai melakukan pemeriksaan. Ia mendengarkan bunyi jantung Nuonuo menggunakan stetoskop, memeriksa saturasi oksigen, lalu membuka hasil ekokardiografi yang baru saja selesai dilakukan beberapa menit sebelumnya. Ruangan menjadi lebih tenang, Zeyan memperhatikan wajah dokter dengan saksama, mencoba membaca ekspresinya.

"Bagaimana kondisinya, Dokter?" tanya Zeyan.

Dokter menutup berkas pemeriksaan lalu mengangguk pelan. "Secara umum cukup stabil. Fungsi jantungnya masih cukup baik dan tidak ada penurunan dibanding pemeriksaan tiga bulan lalu."

Zeyan mengembuskan napas lega. "Syukurlah."

"Ya, tetapi kita tetap harus berhati-hati. Kelainan bawaan Nuonuo memang masih ada dan belum bisa dianggap sembuh. Untuk sementara kondisinya terkendali dengan pengobatan, tetapi aktivitas fisiknya tetap harus dibatasi," terang dokter.

Li Shuyan mengangguk. "Kami selalu mengawasinya, tidak membiarkannya bermain sendiri."

Dokter tersenyum. "Anda sangat kooperatif. Justru karena itu kondisinya bisa stabil sampai sekarang."

Zeyan memandang putrinya yang sedang asyik memainkan boneka kecil di pangkuannya, sama sekali tidak memahami pembicaraan orang-orang dewasa di sekelilingnya.

"Jadi, bagaiamana operasinya?" tanya Zeyan pelan.

Dokter menggeleng. "Berat badan dan kondisi fisiknya belum memenuhi syarat. Kita tetap menunggu sampai waktunya lebih aman, yang terpenting sekarang adalah menjaga agar kondisinya tetap stabil dan jangan sampai mengalami infeksi berat."

Zeyan mengangguk pelan karena jawaban itu sama seperti kunjungan sebelumnya dan setelah penjelasan dokter dirasa cukup, mereka meninggalkan ruang pemerikasaan. Ketika hendak menuju lobi, dari jauh Zeyan melihat Zhao Anran keluar dari ruang ganti sambil merapikan jas dokter putih yang disampirkannya di lengan.

Wanita itu melangkah tanpa memedulikan sekitarnya. Zeyan hanya bisa memperhatikannya karena jaraknya tidak memungkinkan untuk menyapa Anran.

***

Anran menerima kunci mobil yang diberikan petugas valet parkir lalu masuk ke dalam mobil, ketika mesin mobil sudah dinyalakan dan sedang memasang sabuk pengaman, ia tidak sengaja menoleh dan mendapati Zeyan tiba di lobi. Namun, pria itu tidak sendirian melainkan menggendong seorang gadis kecil.

Anran berhenti sejenak dan mengamatinya beberapa saat, gadis kecil di pelukan Zeyan memiliki mata bulat yang cantik dan pipi tembam yang memerah karena habis menangis. Terlihat menggemaskan, pikirnya.

Anran lalu mengemudikan mobilnya meninggalkan halaman rumah sakit, tetapi matanya tertuju pada kaca spion di mana bayangan Zeyan menggendong putrinya perlahan-lahan terlihat semakin jauh lalu meghilang.

"Jadi... Chef Wang ternyata sudah beristri dan memiliki istri," gumamnya.

Kesimpulan itu muncul begitu saja di kepalanya, tetapi menurutnya sangat wajar pria setampan itu, mapan, dan memiliki karier yang bagus sudah memiliki pasangan dan keluarga kecil. Tanpa sadar, Anran mengembuskan napas berat sembari mengalihkan pandangannya ke depan.

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • HOT DUDA DI SEBELAH RUMAH    11. Teman SMA

    Chapter 11Teman SMAPukul setengah lima sore, Zhao Anran memasuki jalanan menuju tempat tinggalnya, matahari mulai condong ke barat, meninggalkan semburat jingga di balik deretan pepohonan yang tumbuh di sepanjang jalan. Hari itu UGD lebih sibuk dibanding biasanya sehingga bahu Anran terasa pegal dan kepalanya sedikit berat dan Anran ingin segera tiba di rumahnya kemudian mandi air hangat, makan malam lalu tidur lebih awal.Namun, begitu mobilnya berbelok ke jalanan depan rumah, spontan Anran mengurangi kecepatan karena sebuah sedan hitam terparkir tepat di depan pagar. Anran sangat mengenali mobil itu dan segera menurunkan kaca mobil.Tang Wei juga menurunkan kaca mobil lalu tersenyum dan berkata, "Akhirnya pulang juga."Anran juga tersenyum, tetapi tidak menjawab. Ia membuka pintu mobil lalu menghampiri Tang Wei. "Bukannya semalam aku sudah bilang tidak ingin merepotkanmu?""Aku tidak merasa direpotkan," ujar Tang Wei.Anran mengedikkan bahunya. "Baiklah. Kalau begitu, aku menganda

  • HOT DUDA DI SEBELAH RUMAH    10. Salah Mengira

    Chapter 10Salah MengiraUntuk beberapa saat Anran membeku karena pengakuan Zeyan, sementara angin malam berembus melewati jalan kecil di antara kedua rumah mereka. Sejak melihat Zeyan menggendong anak perempuan. Anran sibuk membayangkan pria di depannya memiliki keluarga kecil yang sempurna. Seorang istri cantik yang menunggunya pulang setiap malam, seorang putri yang manja, rumah hangat dengan lampu-lampu yang selalu menyala. Rupanya semua itu hanya kesimpulan yang ia buat sendiri."Maaf," ucap Anran pelan sambil tersenyum canggung. "Saya... salah mengira."Zeyan tersenyum. "Tidak masalah." Anran mengangguk kecil dan suasana mendadak menjadi sedikit kikuk, ia baru mengenal pria itu beberapa hari, tetapi sudah dua kali salah menilai. Pertama mengira Zeyan mencoba bunuh diri, sekarang mengira pria itu masih memiliki istri.Zeyan melirik ke arah dalam rumah. ."Tawaran saya masih berlaku."Anran mengikuti arah pandangan Zeyan lalu mengembuskan napas pelan. Tawaran Zeyan seperti oase di

  • HOT DUDA DI SEBELAH RUMAH    9. Duda Sebelah Rumah

    Chapter 9Duda Sebelah Rumah Zhao Anran tidak langsung kembali ke rumahnya, ia mengemudikan mobilnya ke arah yang berlawanan dengan tempat tinggalnya menuju sebuah restoran untuk mengambil makanan untuk makan malamnya yang telah dipesan sebelum ia meninggalkan tempat kerjanya. Ketika memasuki kawasan rumah lama neneknya, ia memperlambat laju kendaraannya, dan setelah berada di depan rumah, ia tidak langsung keluar dari mobil untuk membuka pagar. Anran menatap pintu gerbang rumah Zeyan, rumah bergaya Eropa modern itu selalu tampak hidup. Ketika hari mulai gelap, lampu-lampu terasnya menyala dan ketika siang hari selalu terlihat tenang. Pasti keluarga kecil chef Wang hidup rukun dan bahagia di dalam rumah itu, istrinya juga cantik, pikir Anran.Seorang chef berbakat, tampan, mapan, memiliki putri yang menggemaskan, dan keluarga yang hangat. Kehidupan Chef Wang benar-benar sempurna, pikirnya lagi. Anran menggeleng pelan lalu menghela napas berat dan buru-buru keluar dari mobil kemudia

  • HOT DUDA DI SEBELAH RUMAH    8. Pemeriksaan Rutin

    Chapter 8Pemeriksaan Rutin"Jangan berlarian."Suara Wang Zeyan terdengar tenang, tetapi gadis kecil yang mengenakan baju kuning itu sama sekali tidak memedulikannya. Nuonuo justru tertawa riang sambil berlari menyusuri lorong poliklinik anak, kedua kepang pendeknya bergoyang ke kanan dan kiri mengikuti langkah-langkah kecilnya."Nuonuo menang!" serunya bangga.Zeyan mengembuskan napas pelan. Ia sudah memperingatkan putrinya sejak mereka turun dari mobil. Rumah sakit bukan taman bermain. Banyak pasien yang sedang beristirahat dan anak-anak lain yang mungkin kondisinya jauh lebih buruk daripada Nuonuo. Namun, di mata anak berusia empat tahun, lorong rumah sakit yang panjang justru terlihat seperti lintasan lomba lari."Awas, hati-hati jangan sampai jatuh.""Aku enggak jatuh!" Nuonuo berhenti, lalu menoleh sambil menyeringai jahil. "Papa lambat!""Benarkah?"Zeyan melangkah sedikit lebih cepat. Belum sempat Nuonuo kabur lagi, tubuh mungil itu sudah terangkat ke udara dan mendarat di p

  • HOT DUDA DI SEBELAH RUMAH    7. Salah Paham

    Chapter 7Salah PahamPukul lima sore, Tang Wei sudah tiba di depan rumah Zhao Anran tepat waktu seperti yang dijanjikannya. Anran membawa tas kecil lalu keluar dari rumah sambil masih melihat daftar barang di ponselnya."Aku merasa seperti mahasiswa baru," gumamnya sembari menunjukkan layar ponselnya.Tang Wei yang bersandar di samping mobil tersenyum sembari membaca daftar di layar yang ditunjukkan Anran. "Kasur, lemari, rak buku, rak sepatu, meja kerja....""Aku benar-benar tidak bisa memakai barang-barang lama nenekku," kata Anran. "Tentu. Kurasa aku pun akan membeli barang-barang baru dibandingkan menggunakan furnitur lama milik nenekku," kata tang Wei sembari menjauh dari mobil lalu membukakan pintu mobil untuk Anran. "Jika butuh bantuan membereskan barang-barangmu, katakan saja." Anran menatap Tang Wei dan berpikir kalau Kexin pasti memberitahu keadaan tempat tinggalnya. "Aku bisa mengatasinya sendiri," kata Anran lalu masuk ke dalam mobil."Aku tahu," kata Tang Wei lalu men

  • HOT DUDA DI SEBELAH RUMAH    6. Tetangga Sebelah Rumah

    Chapter 6Tetangga Sebelah RumahPukul empat sore, Zhao Anran akhirnya sampai di rumah setelah menyelesaikan sif paginya. Meski disebut sif pagi, bekerja sebagai dokter UGD tidak pernah benar-benar terasa seperti jadwal normal. Ada saja pasien yang datang tiba-tiba atau kondisi darurat yang membuat waktu berjalan tanpa terasa, dan ketika akhirnya bisa pulang, tubuhnya terasa seperti baru saja melewati perang kecil.Anran mematikan mesin mobil lalu bersandar sebentar di kursi pengemudi sambil memejamkan mata. Kepalanya sedikit pusing, bukan hanya karena kelelahan, tetapi juga karena sejak pagi ia sudah memikirkan kondisi barang-barangnya yang masih berantakan.Bukan hanya perlu membeli beberapa furnitur baru, sepertinya ia juga memerlukan jasa kebersihan rumah karena jika mengerjakannya sendiri sepertinya dirinya tidak sanggup. Di London, Anran terbiasa tinggal sendiri dan mengurus dirinya sendiri bukan hal yang baru, tetapi mengurus rumah sebesar itu sendirian dan membagi tenaga denga

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status