ログインChapter 9
Duda Sebelah Rumah Zhao Anran tidak langsung kembali ke rumahnya, ia mengemudikan mobilnya ke arah yang berlawanan dengan tempat tinggalnya menuju sebuah restoran untuk mengambil makanan untuk makan malamnya yang telah dipesan sebelum ia meninggalkan tempat kerjanya. Ketika memasuki kawasan rumah lama neneknya, ia memperlambat laju kendaraannya, dan setelah berada di depan rumah, ia tidak langsung keluar dari mobil untuk membuka pagar. Anran menatap pintu gerbang rumah Zeyan, rumah bergaya Eropa modern itu selalu tampak hidup. Ketika hari mulai gelap, lampu-lampu terasnya menyala dan ketika siang hari selalu terlihat tenang. Pasti keluarga kecil chef Wang hidup rukun dan bahagia di dalam rumah itu, istrinya juga cantik, pikir Anran. Seorang chef berbakat, tampan, mapan, memiliki putri yang menggemaskan, dan keluarga yang hangat. Kehidupan Chef Wang benar-benar sempurna, pikirnya lagi. Anran menggeleng pelan lalu menghela napas berat dan buru-buru keluar dari mobil kemudian membuka pagar. Sepuluh menit kemudian ia telah berada di lantai atas tempat tinggalnya dan telah mengganti pakaiannya, suasana sunyi tempat tinggalnya terasa menyebalkan sementara di sebelah rumahnya mungkin penghuninya sedang bercengkerama penuh kehangatan. Bel rumah berbunyi nyaring membuyarkan pikirannya dan ketika pintu dibuka, dua orang petugas ekspedisi berdiri di depan bersama sebuah truk berisi berbagai perabot yang dibelinya kemarin. "Selamat sore, Nona Zhao. Kami mengantar pesanan furnitur," kata salah satu petugas. Anran mempersilakan mereka masuk dan kardus demi kardus mulai dipindahkan ke ruang tamu. Lemari pakaian, meja rias, rak buku, meja kerja, nakas, hingga kasur baru memenuhi hampir seluruh lantai bawah tempat tinggalnya. Setelah semua barang selesai diturunkan, salah seorang petugas menyerahkan berkas penerimaan. "Silakan ditandatangani, Nona." Anran membaca berkasnya dengan saksama lalu membubuhkan tanda tangan kemudian mengembalikan berkasnya pada petugas. Petugas mengangguk ramah. "Terima kasih, Nona. Dan kami mohon pamit." Alis Anran berkerut. "Tunggu... barangnya belum dipasang, bukan?" Petugas itu tersenyum. "Bukan, Nona. Kami hanya bagian pengantaran, tim pemasangan akan datang terpisah sesuai jadwal." Anran mendengus pelan. "Ya Tuhan, Kapan mereka akan ke sini?" "Mungkin dua sampai tiga hari lagi. Nanti akan dihubungi." Anran menatap tumpukan kardus di belakang petugas, lalu kembali menatap wajah petugas itu. "Dua... sampai tiga hari?" "Iya, Nona." Anran kehilangan kata-kata, dua atau tiga hari terlalu lama. Namun, ia hanya bisa mengangguk pasrah dan menatap petugas yang berpamitan padanya lalu meninggalkannya yang berdiri ditemani kekecewaan. Lantai bawah rumahnya dipenuhi tumpukan kardus, begitu juga lantai atas. Barang-barangnya berserakan, tidak pada tempatnya, membuatnya merasa pusing setiap kali melihatnya. "Tiga hari melihat ini... bisa gila!" desah Anran lalu melangkah ke dapur dan mengeluarkan satu persatu makanan yang dibelinya. Ada semangkuk wonton dengan salad sayur dingin, dua butir telur rebus, seporsi xiaolongbao, dan beberapa cheesecake mini, juga semangkuk potongan buah. Meskipun di dalam kulkasnya ada stok buah-buahan, tetapi Anran terlalu malas untuk mengeluarkannya dan memotong-motongnya. Anran mulai memasukkan makanan ke dalam mulutnya, tetapi pikirannya tidak bisa lupa dari tumpukan kardus dan bayangan tiga hari menyaksikan kesemrawutan tempat tinggalnya. Ia buru-buru memakan telur rebus dan xiaolongbao lalu minum dan mencuci tangan kemudian pergi ke lantai atas. Ia mulai membongkar isi kamar utama lalu memindahkan barang-barangnya ke dalam gudang, ketika semua barang-barang lama neneknya telah berpindah ke gudang, Anran memutuskan untuk mengangkut kardus berisi lemari pakaian dan meja rias ke atas. Begitu kardus-kardus berhasil dipindahkan, ia mulai membukanya satu per satu. Potongan papan kayu berserakan memenuhi lantai kamar, plastik pelindung menumpuk di sudut ruangan, dan sekantong baut kecil tumpah karena tidak sengaja tersenggol. Anran menghela napas lalu mengambil buku petunjuk perakitan dan setelah membacanya alisnya berkerut sangat dalam. Ia membolak-balikkan halaman demi halaman, bergantian buku petunjuk meja rias dan lemari, sayangnya ia tetap tidak mengerti. Nomor-nomor di gambar kerangka lemari berwarna hitam putih beserta paku-paku yang entah berapa jumlahnya itu jauh lebih rumit dari pada bayangannya. "Kenapa gambar ini tidak masuk akal?" Menurut buku petunjuk, papan nomor tiga harus dipasang lebih dulu. Masalahnya, ia bahkan tidak tahu papan nomor tiga yang mana karena semua papan terlihat hampir sama. Sepuluh menit kemudian Anran masih duduk bersila di lantai sambil memandangi gambar petunjuk dengan wajah serius seolah sedang membaca hasil CT Scan pasien. "Ini lebih sulit daripada anatomi tubuh manusia...." Akhirnya ia menyerah dan mengambil sisa makanannya, mungkin makan lagi bisa membuat otaknya konsentrasi. Ia duduk di lantai kamar sambil menyantap makanannya dan menatap lemari yang bahkan belum berbentuk apa pun dan setelah berpikir beberapa saat, ia akhirnya menghubungi Tang Wei. "Sudah makan?" tanya Tang Wei tanpa basa-basi dulu. "Ya, aku sedang makan." "Lemarinya sudah datang?" tanya Wei. Anran tertawa hambar. "Datang." "Nada suaramu terdengar tidak bahagia." "Aku baru tahu membeli lemari ternyata jauh lebih mudah daripada merakitnya." Tang Wei langsung tertawa. "Merakit?" "Aku pikir, sebagai dokter seharusnya aku cukup pintar." "Lalu?" "Aku kalah sama buku petunjuk." Tawa Tang Wei semakin keras. "Besok selesai kerja aku akan datang." Anran hampir tersedak makanannya. "Tidak usah!" "Kenapa?" "Aku tidak mau merepotkanmu." "Merepotkan apa? Paling dua jam selesai." Anran mengambil botol minum dan meminum isinya lalu berkata, "Lebih baik aku menunggu petugas." "Tadi kau sendiri bilang tidak sabar," kata Wei. "Sekarang lebih baik aku bersabar dari pada otakku sakit." Hening sesaat. "Sayanya malam ini aku harus mengerjakan laporan untuk besok pagi." Anran menggeleng meski Tang Wei tidak mungkin melihatnya. "Jangan. Kau juga pasti lelah setelah bekerja." "Besok aku akan datang, oke?" kata Wei. Namun, perhatian Anran teralihkan karena suara bel rumahnya berbunyi. "Ada orang di luar. Aku akan meneleponmu lagi nanti," katanya dan mengakhiri panggilan lalu menuruni tangga. Ketika pagar dibuka, Anran sedikit tertegun mendapati seseorang yang berdiri di depan pagar tempat tinggalnya. "Chef Wang?" Wang Zeyan berdiri di luar pagar mengenakan kaus hitam dan celana panjang abu-abu, terlihat sangat santai bahkan rambutnya masih sedikit basah seolah baru selesai mandi. "Selamat malam," katanya sambil tersenyum tipis. Anran mengangguk. "Ada yang bisa saya bantu?" Zeya mengangguk ramah lalu sekilas menatap ke dalam rumah. "Saya melihat rumah Anda masih terang benderang." Anran refleks menoleh ke belakang lalu melihat layar ponselnya dan mendapati waktu menunjukkan hampir pukul sepuluh malam sementara seluruh lampu dari lantai bawah sampai lantai atas masih menyala. "Oh...." Anran tersenyum malu. "Saya sedang merakit lemari." "Merakit lemari?" Alis Zeyan berkerut dalam dan menatap Anran heran. Anran tersenyum canggung. "Saya membeli beberapa perabot baru kemarin dan petugas baru akan datang dua atau tiga hari lagi. Jadi, saya merakitnya sendiri." Zeyan menatap Anran yang terlihat tidak meyakinkan. "Anda bisa merakit lemari?" Anran menggeleng. "Saya...." Anran berdehem pelan. "Ya, sedang berusaha." Zeyan tersenyum tipis karena kecurigaannya pada Anran sepertinya sudah terjawab. "Saya bisa membantu Anda." Anran segera mengibaskan kedua tangannya di depan dadanya beberapa kali sambil menggeleng-gelengkan kepala. "Tidak, tidak perlu." "Kenapa?" tanya Zeyan. Anran menatap Zeyan beberap detik dan tampak ragu, "Kurang pantas." "Kurang pantas?" Anran kembali berdehem pelan. "Anda pria yang sudah beristri dan saya wanita lajang. Rasanya tidak baik kalau malam-malam Anda masuk ke rumah saya." Zeyan tersenyum menatap Anran. "Saya tidak punya istri." Anran berkedip. "Maaf?" "Saya sudah bercerai." Bersambung.... Jangan lupa tinggalkan jejak komentar yaaaChapter 11Teman SMAPukul setengah lima sore, Zhao Anran memasuki jalanan menuju tempat tinggalnya, matahari mulai condong ke barat, meninggalkan semburat jingga di balik deretan pepohonan yang tumbuh di sepanjang jalan. Hari itu UGD lebih sibuk dibanding biasanya sehingga bahu Anran terasa pegal dan kepalanya sedikit berat dan Anran ingin segera tiba di rumahnya kemudian mandi air hangat, makan malam lalu tidur lebih awal.Namun, begitu mobilnya berbelok ke jalanan depan rumah, spontan Anran mengurangi kecepatan karena sebuah sedan hitam terparkir tepat di depan pagar. Anran sangat mengenali mobil itu dan segera menurunkan kaca mobil.Tang Wei juga menurunkan kaca mobil lalu tersenyum dan berkata, "Akhirnya pulang juga."Anran juga tersenyum, tetapi tidak menjawab. Ia membuka pintu mobil lalu menghampiri Tang Wei. "Bukannya semalam aku sudah bilang tidak ingin merepotkanmu?""Aku tidak merasa direpotkan," ujar Tang Wei.Anran mengedikkan bahunya. "Baiklah. Kalau begitu, aku menganda
Chapter 10Salah MengiraUntuk beberapa saat Anran membeku karena pengakuan Zeyan, sementara angin malam berembus melewati jalan kecil di antara kedua rumah mereka. Sejak melihat Zeyan menggendong anak perempuan. Anran sibuk membayangkan pria di depannya memiliki keluarga kecil yang sempurna. Seorang istri cantik yang menunggunya pulang setiap malam, seorang putri yang manja, rumah hangat dengan lampu-lampu yang selalu menyala. Rupanya semua itu hanya kesimpulan yang ia buat sendiri."Maaf," ucap Anran pelan sambil tersenyum canggung. "Saya... salah mengira."Zeyan tersenyum. "Tidak masalah." Anran mengangguk kecil dan suasana mendadak menjadi sedikit kikuk, ia baru mengenal pria itu beberapa hari, tetapi sudah dua kali salah menilai. Pertama mengira Zeyan mencoba bunuh diri, sekarang mengira pria itu masih memiliki istri.Zeyan melirik ke arah dalam rumah. ."Tawaran saya masih berlaku."Anran mengikuti arah pandangan Zeyan lalu mengembuskan napas pelan. Tawaran Zeyan seperti oase di
Chapter 9Duda Sebelah Rumah Zhao Anran tidak langsung kembali ke rumahnya, ia mengemudikan mobilnya ke arah yang berlawanan dengan tempat tinggalnya menuju sebuah restoran untuk mengambil makanan untuk makan malamnya yang telah dipesan sebelum ia meninggalkan tempat kerjanya. Ketika memasuki kawasan rumah lama neneknya, ia memperlambat laju kendaraannya, dan setelah berada di depan rumah, ia tidak langsung keluar dari mobil untuk membuka pagar. Anran menatap pintu gerbang rumah Zeyan, rumah bergaya Eropa modern itu selalu tampak hidup. Ketika hari mulai gelap, lampu-lampu terasnya menyala dan ketika siang hari selalu terlihat tenang. Pasti keluarga kecil chef Wang hidup rukun dan bahagia di dalam rumah itu, istrinya juga cantik, pikir Anran.Seorang chef berbakat, tampan, mapan, memiliki putri yang menggemaskan, dan keluarga yang hangat. Kehidupan Chef Wang benar-benar sempurna, pikirnya lagi. Anran menggeleng pelan lalu menghela napas berat dan buru-buru keluar dari mobil kemudia
Chapter 8Pemeriksaan Rutin"Jangan berlarian."Suara Wang Zeyan terdengar tenang, tetapi gadis kecil yang mengenakan baju kuning itu sama sekali tidak memedulikannya. Nuonuo justru tertawa riang sambil berlari menyusuri lorong poliklinik anak, kedua kepang pendeknya bergoyang ke kanan dan kiri mengikuti langkah-langkah kecilnya."Nuonuo menang!" serunya bangga.Zeyan mengembuskan napas pelan. Ia sudah memperingatkan putrinya sejak mereka turun dari mobil. Rumah sakit bukan taman bermain. Banyak pasien yang sedang beristirahat dan anak-anak lain yang mungkin kondisinya jauh lebih buruk daripada Nuonuo. Namun, di mata anak berusia empat tahun, lorong rumah sakit yang panjang justru terlihat seperti lintasan lomba lari."Awas, hati-hati jangan sampai jatuh.""Aku enggak jatuh!" Nuonuo berhenti, lalu menoleh sambil menyeringai jahil. "Papa lambat!""Benarkah?"Zeyan melangkah sedikit lebih cepat. Belum sempat Nuonuo kabur lagi, tubuh mungil itu sudah terangkat ke udara dan mendarat di p
Chapter 7Salah PahamPukul lima sore, Tang Wei sudah tiba di depan rumah Zhao Anran tepat waktu seperti yang dijanjikannya. Anran membawa tas kecil lalu keluar dari rumah sambil masih melihat daftar barang di ponselnya."Aku merasa seperti mahasiswa baru," gumamnya sembari menunjukkan layar ponselnya.Tang Wei yang bersandar di samping mobil tersenyum sembari membaca daftar di layar yang ditunjukkan Anran. "Kasur, lemari, rak buku, rak sepatu, meja kerja....""Aku benar-benar tidak bisa memakai barang-barang lama nenekku," kata Anran. "Tentu. Kurasa aku pun akan membeli barang-barang baru dibandingkan menggunakan furnitur lama milik nenekku," kata tang Wei sembari menjauh dari mobil lalu membukakan pintu mobil untuk Anran. "Jika butuh bantuan membereskan barang-barangmu, katakan saja." Anran menatap Tang Wei dan berpikir kalau Kexin pasti memberitahu keadaan tempat tinggalnya. "Aku bisa mengatasinya sendiri," kata Anran lalu masuk ke dalam mobil."Aku tahu," kata Tang Wei lalu men
Chapter 6Tetangga Sebelah RumahPukul empat sore, Zhao Anran akhirnya sampai di rumah setelah menyelesaikan sif paginya. Meski disebut sif pagi, bekerja sebagai dokter UGD tidak pernah benar-benar terasa seperti jadwal normal. Ada saja pasien yang datang tiba-tiba atau kondisi darurat yang membuat waktu berjalan tanpa terasa, dan ketika akhirnya bisa pulang, tubuhnya terasa seperti baru saja melewati perang kecil.Anran mematikan mesin mobil lalu bersandar sebentar di kursi pengemudi sambil memejamkan mata. Kepalanya sedikit pusing, bukan hanya karena kelelahan, tetapi juga karena sejak pagi ia sudah memikirkan kondisi barang-barangnya yang masih berantakan.Bukan hanya perlu membeli beberapa furnitur baru, sepertinya ia juga memerlukan jasa kebersihan rumah karena jika mengerjakannya sendiri sepertinya dirinya tidak sanggup. Di London, Anran terbiasa tinggal sendiri dan mengurus dirinya sendiri bukan hal yang baru, tetapi mengurus rumah sebesar itu sendirian dan membagi tenaga denga







