Share

7. Salah Paham

last update publish date: 2026-07-21 22:54:03

Chapter 7

Salah Paham

Pukul lima sore, Tang Wei sudah tiba di depan rumah Zhao Anran tepat waktu seperti yang dijanjikannya. Anran membawa tas kecil lalu keluar dari rumah sambil masih melihat daftar barang di ponselnya.

"Saya merasa seperti mahasiswa baru," gumamnya sembari menunjukkan layar ponselnya.

Tang Wei yang bersandar di samping mobil tersenyum sembari membaca daftar di layar yang ditunjukkan Anran. "Kasur, lemari, rak buku, rak sepatu, meja kerja...."

"Saya benar-benar tidak bisa memakai barang-barang lama nenek," kata Anran.

"Tentu. Saya rasa juga akan membeli barang-barang baru dibandingkan menggunakan furnitur lama milik nenek," kata tang Wei sembari menjauh dari mobil lalu membukakan pintu mobil untuk Anran. "Jika butuh bantuan membereskan barang-barang Anda, katakan saja."

Anran menatap Tang Wei dan berpikir kalau Kexin pasti memberitahu keadaan tempat tinggalnya.

"Saya bisa mengatasinya sendiri," kata Anran lalu masuk ke dalam mobil.

"Saya tahu," kata Tang Wei lalu menutup pintu mobil dengan lembut.

Tang Wei lalu mengemudikan mobil menuju pusat kota, ia beberapa kali melirik Anran yang terlihat serius membalas pesan dan bibir Tang Wei mengulas senyum tipis.

"Apa kita hanya akan membeli furnitur?" tanya Tang Wei ketika Anran sudah memasukkan ponselnya ke dalam tas.

"Saya juga harus membeli stok makanan," jawab Anran.

"Anda bahkan belum memiliki stok makanan di kulkas?"

"Saya sibuk bekerja, tidak sempat."

Tang Wei sekilas menoleh dan menghela napas pelan. "Anda harus memperhatikan kesehatan."

"Saya tahu, tapi bekerja di UGD benar-benar hampir membuat tidak sempat melakukan hal lain."

Tang Wei tertawa kecil melihat ekspresi Anran yang mulai kesal. Sejak kecil, dia sudah terbiasa melihat ekspresi Anran seperti itu. Anran selalu terlihat sangat percaya diri ketika membahas ilmu kedokteran, tetapi ketika dihadapkan dengan kehidupan sehari-hari, dia sering terlihat tidak tahu harus mulai dari mana.

Mereka kemudian pergi ke toko furnitur yang cukup besar di pusat kota. Karena Tang Wei tahu Anran memiliki selera yang sederhana, ia tidak membawanya ke tempat yang terlalu mewah. Mereka menghabiskan hampir tiga jam memilih barang, mulai dari lemari, meja kerja, hingga sofa kecil untuk ruang tengah, dan barang-barang lain yang dibutuhkan Anran.

Setelah semua selesai dipesan, mereka kemudian pergi ke supermarket untuk membeli stok makanan. Tang Wei mengambil beberapa bungkus dimsum beku kesukaan Anran, mantou, daging potong, ikan, dan beberapa bumbu dapur. Ia juga mengambil beberapa kemasan beras dan memasukkannya ke dalam keranjang sementara Anran justru mengambil beberapa jenis buah dan mi instan.

"Sebaiknya kurangi makan mi instan," kata Tang Wei.

Anran menatap keranjang belanjaan. "Saya tidak makan mi instan setiap hari."

Tang Wei mengambil beberapa kotak susu dan memasukkannya. "Ada banyak aplikasi pengantar makanan, kalau tidak sempat masak leih baik memesan makanan dari pada makan mi instan."

Anran berpikir sebentar. Masalahnya saat memilih makanan apa yang akan dibeli di aplikasi pengantar makanan, ia memerlukan waktu lebih dari setengah jam untuk memilih makanan apa yang akan dibeli lalu berakhir dengan makan mi instan.

"Jangan bilang kebiasan Anda belum hilang," kata Tang Wei dan menatap Anran.

Anran tersenyum. "Tidak juga."

Tang Wei menggeleng. "Dasar."

Anran memeriksa jam di ponselnya. "Anda sudah membantu sejak sore."

Wei mengangkat bahu. "Tidak masalah."

"Saya akan mentraktir Anda makan malam."

Wei ingin menolak, tetapi melihat ekspresi Anran yang tidak akan menerima bantahan, akhirnya ia mengangguk. "Baiklah."

Mereka kemudian pergi ke sebuah restoran tidak jauh dari sana, namun, Anran langsung menyesal begitu memasuki restoran karena melihat dua orang yang sangat dikenalnya duduk di meja dekat jendela. Shen Kexin dan Gu Yiran.

"Anran!" kata Kexin yang pertama kali menyadari keberadaan mereka sembari melambaikan tangan.

Anran menutup matanya sebentar. "Sial," gumamnya pelan.

Tidak ada kebetulan di dunia ini, terutama bagi Kexin karena ia sudah memberitahu di mana posisinya di grup obrolan satu jam yang lalu, batin Anran.

Yiran melihat ke arah Wei lalu tersenyum penuh arti.

"Apa?" tanya Anran sembari melotot pada Yiran.

"Kalian mau makan malam berdua?" tanya Yiran.

"Wei Wei baru saja membantu saya membeli furnitur," kata Anran.

Kexin mendekati Anran dengan ekspresi menggoda. "Membantu membeli furnitur, sangat romantis."

"Shen Kexin!" geram Anran.

Kexin mengedikkan bahunya. "Saya hanya mengatakan sangat romantis."

Wei tertawa kecil melihat Anran dan Kexin, ia sudah terbiasa dengan cara teman-temannya menggoda Anran dan karena tidak mungkin menghindar, Anran dan Tang Wei bergabung di meja yang sama.

Rencana makan malam sederhana berubah menjadi pertemuan kecil, Kexin menceritakan berbagai gosip kantor, Yiran sesekali menyela dengan komentar pedasnya, sementara Tang Wei lebih banyak mendengarkan sambil tersenyum, dan Anran beberapa kali mencoba mengakhiri makan malam, sayangnya usahanya gagal.

Anran hanya bisa menghela karena berdebat dengan Kexin memang tidak pernah menghasilkan kemenangan dan mereka baru keluar dari restoran setelah jam sudah hampir menunjukkan pukul sebelas malam.

"Saya benar-benar minta maaf," kata Anran kepada Wei saat mereka berjalan menuju mobil.

"Untuk apa?"

"Membuat Anda menemani sampai larut malam."

"Saya tidak merasa keberatan menemanimu."

Anran menghela napas. "Saya tidak tau mereka juga di sana."

Wei tersenyum dan meletakkan tangannya di kepala Anran. "Saya tahu. Tidak perlu merasa tidak nyaman pada saya."

"Namun, Anda jadi kehilangan waktu istirahat."

"Jangan dipikirkan," kata Tang Wei sembari mengusap-usap lembut kepala Anran.

Mereka kemudian masuk ke mobil dan Tang Wei mengemudikan mobil menuju tempat tinggal Anran. Di perjalanan beberapa kali Anran menguap, Tang Wei sengaja tidak mengajak Anran berbicara dan benar saja dugaannya, Anran tertidur.

Tang Wei memperlambat laju mobilnya dan mengatur suhu di dalam kabin agar tidak terlalu dingin. Bibirnya menyunggingkan senyum tipis, sudah lama ia memendam perasaan pada perempuan di sampingnya. Tetapi, Tang Wei tahu jika mengutarakannya mungkin akan membuat persahabatan mereka menjadi retak dan berjarak. Tang Wei tidak ingin kehilangan Anran dan memilih untuk tetap menjadi sahabat bagi Anran.

Tidak lama kemudian mobil berhenti di depan rumah Anran, Tang Wei tidak langsung membangunkan Anran dan menunggu beberapa saat dengan sabar. Barulah setelah beberapa menit, ia menyentuh bahu Anran dan memanggilnya dengan lembut.

Anran membuka mata dan memerlukan waktu beberapa menit sebelum menyadari keberadaannya. "Saya ketiduran?"

"Ya. Kita sudah sampai."

Anran melirik jam di layar head unit mobil dan ternyata cukup lama juga ia tertidur. "Apa saya mengorok tadi?"

Tang Wei terkekeh pelan, Anran justru sangat menggemaskannya saat tidur. Bulu matanya yang panjang menutupi matanya seperti sayap kupu-kupu.

"Jangan khawatir, Anda tidak mengorok."

Anran berdehem pelan. "Terima kasih sudah membantu saya hari ini."

Tang Wei mengangguk lalu keluar dan membukakan pintu mobil untuk Anran. Namun, baru saja Anran keluar, sebuah mobil berhenti di depan gerbang halaman sebelah.

Zeyan keluar dari mobil, pria itu terlihat lelah setelah bekerja, tetapi masih terlihat rapi dengan pakaian kasualnya. Ketika melihat Anran berdiri di depan rumah bersama seorang pria, ia tidak langsung membuka gerbang rumahnya.

"Dokter Zhao," sapa Zeyan.

Anran menatap Zeyan dan tersenyum tipis sembari mengangguk pelan. "Chef Wang."

Zeyan mengalihkan pandangannya pada Tang Wei. "Halo."

"Halo," balas Tang Wei dan mengangguk pelan.

Kemudian Zeyan membuka gerbang sembari di dalam hatinya mengira jika pria itu adalah pacar Anran.

"Saya masuk dulu," kata Zeyan.

Anran tidak menjawab, hanya mengangguk canggung.

"Selamat malam, Dokter Zhao," kata Zeyan lagi.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • HOT DUDA DI SEBELAH RUMAH    43. Masa Lalu

    Chapter 43Masa LaluSetelah menghabiskan hari liburnya di rumah orang tua dan kembali mendapat jadwal masuk siang, anran belum sempat bertemu Zeyan. Rencana kecil di rumah orang tua Anran ternyata juga mendadak gagal, Yuan mengatakan ada kesibukan mendadak, padahal Anran sudah bersusah payah menyetir pulang ke rumah orang tuanya setelah bekerja.Paginya, Anran terbangun lebih cepat dari biasanya dan saat berusaha memejamkan mata lagi, ternyata kantuknya sepertinya sudah hilang. Mungkin karena terlalu memikirkan kejanggalan alasan kakaknya yang tiba-tiba membatalkan acara makan malam keluarga di rumah mereka. Kakaknya adalah orang yang sangat rapi, bahkan dalam hal kecil sekalipun. Namun, Anran tidak ingin mendesak kakaknya untuk mengatakan hal yang sebenarnya karena meskipun mereka sangat dekat, bukan berarti tidak ada batasan di antara mereka. Karena masih memiliki cukup banyak waktu sebelum berangkat bekerja, ia tidak langsung bersiap ke rumah sakit. Setelah beberapa saat memikir

  • HOT DUDA DI SEBELAH RUMAH    42. Pulang

    Chapter 42PulangSetelah menyelesaikan beberapa urusan di rumah dan beristirahat sebentar, Anran yang sedang mendapatkan liburnya memutuskan untuk pulang ke rumah orang tuanya pada sore hari. Sudah beberapa hari ia tidak pulang, bukan karena tidak ingin bertemu keluarganya, tetapi karena belakangan sela waktu luangnya ia lebih sering menghabiskan waktu bersama Zeyan.Anran sengaja membeli beberapa kotak makanan, kue, dan hidangan yang disukai orang tuanya dan neneknya. Saat memasuki rumah, ia mendengar suara percakapan dari ruang keluarga dan ternyata benar saja ibunya, ayahnya, dan neneknya sedang berada di sana.Anran baru berjalan beberapa langkah ketika ibunya langsung menoleh."Anda akhirnya pulang juga," kata Xu Jinghua sambil tersenyum. "Kata Yuan, Anda kemarin mentraktirnya makan?"Anran yang masih membawa beberapa kotak makanan langsung menghela napas panjang. "Mama benar-benar tidak bisa menunggu saya duduk?" Ia meletakkan kotak-kotak tersebut di atas meja sebelum duduk di

  • HOT DUDA DI SEBELAH RUMAH    41. Ciuman

    Chapter 41CiumanAnran masih melingkarkan kedua tangannya di leher Zeyan ketika pria itu membawanya naik menuju lantai atas. Tubuhnya terasa ringan dalam pelukan Zeyan, sementara wajahnya masih sedikit panas karena ucapan yang tadi tanpa sengaja keluar dari mulutnya. Ia benar-benar datang hanya untuk melihat Zeyan, tetapi sekarang memang sudah sangat terlambat untuk pulang. "Bagaimana makan malam Anda dengan Kak Yuan?" tanya Zeyan."Baik-baik saja," jawab Anran sambil memainkan ujung rambut Zeyan dengan jarinya. "Saya makan cukup banyak."Zeyan tersenyum tipis. "Bagus.""Saya juga bertemu Kexin sebentar.""Kexin?" Zeyan mengangkat alis, lalu kembali menatap tangga di depannya.Anran mengangguk. "Minum kopi. Sudah lama saya tidak bertemu dengannya."Zeyan hanya mengangguk pelan. "Teman Anda... yang mabuk itu, kan?"Anran langsung melotot menatap Zeyan. "Anda selalu mengingat itu?"Zeyan justru tersenyum. "Anda sering menyebutnya, saya rasa dia yang paling dekat dengan Anda."Anran te

  • HOT DUDA DI SEBELAH RUMAH    40. Sahabat yang Terlupakan

    Chapter 40Sahabat yang TerlupakanSetelah makan malam bersama kakaknya, Anran tidak langsung pulang tetapi mampir ke sebuah toko untuk membeli beberapa pengharum ruangan karena pengharum di kamarnya akan segera habis. Setelah mendapatkan barang dan membayar, Anran keluar berjalan menuju area parkir sambil membuka ponselnya dan melihat beberapa pesan yang masuk di grup pertemanan mereka. Salah satunya dari Kexin yang sejak beberapa hari terakhir memang belum sempat ditemuinya.Kexin: Anran, Anda masih hidup?Anran langsung tersenyum dan mengetik balasan: Tentu saja.Tidak sampai beberapa detik, balasan Kexin muncul: Bagus. Saya kira Anda sudah meninggal karena sibuk pacaran.Anran tertawa kecil ketika membaca pesan itu lalu memasukkan ponselnya ke dalam tas sambil berjalan menuju mobil, tetapi kemudian berhenti sebentar sebelum akhirnya membalas.Anran: Kalian di mana?Kexin langsung membalas seolah memang sedang menunggu kesempatan untuk mengomel: Akhirnya Anda ingat kami masih sahab

  • HOT DUDA DI SEBELAH RUMAH    39. Mentraktir Kakak

    Chapter 39Mentraktir Kakak Anran datang lebih awal ke restoran yang sudah dipilih Yuan. Restoran tersebut merupakan salah satu restoran Shanghai cuisine yang cukup terkenal dan selalu ramai, tetapi suasananya tetap nyaman dan tidak terlalu mewah. Begitu masuk, Anran langsung melihat Yuan dan Shenya yang sudah lebih dulu datang. Yuan mengangkat tangan untuk memanggilnya, sementara Shenya tersenyum ketika melihat Anran berjalan menghampiri mereka."Maaf membuat kalian menunggu," ucap Anran sambil menarik kursi."Kami juga baru sampai," jawab Shenya.Anran duduk di sebelah Yuan dengan wajah ceria. Entah karena baru menerima gaji atau karena akhirnya bisa mentraktir kakaknya menggunakan uang hasil kerjanya sendiri sehingga malam itu suasana hatinya terasa lebih baik. "Bagaimana pekerjaan Anda hari ini?" tanya Yuan seraya menyodorkan buku menu pada Anran. "Lumayan lelah, UGD hampir tidak pernah sepi," jawab Anran seraya membuka buku menu lalu membaliknya beberapa kali untuk membaca kes

  • HOT DUDA DI SEBELAH RUMAH    38. Kunci Rumah Sebelah

    Chapter 38Kunci Rumah SebelahSetelah dua hari berada di rumah Zeyan, kondisi Anran akhirnya benar-benar pulih. Demamnya sudah turun, kepalanya tidak lagi terasa berat, tenggorokannya juga sudah jauh lebih baik dan ia sudah bisa makan seperti biasa. Li Shuyan yang sejak datang terus memperhatikan keadaan Anran akhirnya merasa tenang setelah memastikan Anran benar-benar tidak lagi terlihat seperti orang sakit. Setelah makan siang, Li Shuyan dan Nuonuo pun bersiap untuk pulang. Nuonuo sempat beberapa kali memeluk Anran dan mengatakan bahwa ia akan merindukan Kakak Dokter, sementara Li Shuyan kembali mengingatkan Anran agar menjaga tubuh dan tidak terlalu memaksakan diri bekerja.Anran berdiri di depan rumah bersama Zeyan ketika taksi online yang dipesan Li Shuyan berhenti di depan pagar. Nuonuo melambaikan tangannya dari dalam mobil dengan wajah ceria, tetapi setelah mobil mulai bergerak, Anran masih berdiri di tempat sambil memandanginya sampai kendaraan itu berbelok dan menghilang da

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status