ログインChapter 7
Salah Paham Pukul lima sore, Tang Wei sudah tiba di depan rumah Zhao Anran tepat waktu seperti yang dijanjikannya. Anran membawa tas kecil lalu keluar dari rumah sambil masih melihat daftar barang di ponselnya. "Aku merasa seperti mahasiswa baru," gumamnya sembari menunjukkan layar ponselnya. Tang Wei yang bersandar di samping mobil tersenyum sembari membaca daftar di layar yang ditunjukkan Anran. "Kasur, lemari, rak buku, rak sepatu, meja kerja...." "Aku benar-benar tidak bisa memakai barang-barang lama nenekku," kata Anran. "Tentu. Kurasa aku pun akan membeli barang-barang baru dibandingkan menggunakan furnitur lama milik nenekku," kata tang Wei sembari menjauh dari mobil lalu membukakan pintu mobil untuk Anran. "Jika butuh bantuan membereskan barang-barangmu, katakan saja." Anran menatap Tang Wei dan berpikir kalau Kexin pasti memberitahu keadaan tempat tinggalnya. "Aku bisa mengatasinya sendiri," kata Anran lalu masuk ke dalam mobil. "Aku tahu," kata Tang Wei lalu menutup pintu mobil dengan lembut. Tang Wei lalu mengemudikan mobil menuju pusat kota, ia beberapa kali melirik Anran yang terlihat serius membalas pesan dan bibir Tang Wei mengulas senyum tipis. "Apa kita hanya akan membeli furnitur?" tanya Tang Wei ketika Anran sudah memasukkan ponselnya ke dalam tas. "Aku juga harus membeli stok makanan," jawab Anran. "Kau bahkan belum memiliki stok makanan di kulkas?" "Aku sibuk bekerja, tidak sempat." Tang Wei sekilas menoleh dan menghela napas pelan. "Kau harus memperhatikan kesehatanmu." "Aku tahu. Bekerja di UGD benar-benar hampir membuatku tidak sempat melakukan hal lain." Tang Wei tertawa kecil melihat ekspresi Anran yang mulai kesal. Sejak kecil, dia sudah terbiasa melihat ekspresi Anran seperti itu. Anran selalu terlihat sangat percaya diri ketika membahas ilmu kedokteran, tetapi ketika dihadapkan dengan kehidupan sehari-hari, dia sering terlihat tidak tahu harus mulai dari mana. Mereka kemudian pergi ke toko furnitur yang cukup besar di pusat kota. Karena Tang Wei tahu Anran memiliki selera yang sederhana, ia tidak membawanya ke tempat yang terlalu mewah. Mereka menghabiskan hampir tiga jam memilih barang, mulai dari lemari, meja kerja, hingga sofa kecil untuk ruang tengah, dan barang-barang lain yang dibutuhkan Anran. Setelah semua selesai dipesan, mereka kemudian pergi ke supermarket untuk membeli stok makanan. Tang Wei mengambil beberapa bungkus dimsum beku kesukaan Anran, mantou, daging potong, ikan, dan beberapa bumbu dapur. Ia juga mengambil beberapa kemasan beras dan memasukkannya ke dalam keranjang sementara Anran justru mengambil beberapa jenis buah dan mi instan. "Sebaiknya kurangi makan mi instan," kata Tang Wei. Anran menatap keranjang belanjaan. "Aku tidak makan mi instan setiap hari." Tang Wei mengambil beberapa kotak susu dan memasukkannya. "Ada banyak aplikasi pengantar makanan, kalau tidak sempat masak leih baik memesan makanan dari pada makan mi instan." Anran berpikir sebentar. Masalahnya saat memilih makanan apa yang akan dibeli di aplikasi pengantar makanan, ia memerlukan waktu lebih dari setengah jam untuk memilih makanan apa yang akan dibeli lalu berakhir dengan makan mi instan. "Jangan bilang kebiasanmu belum hilang," kata Tang Wei dan menatap Anran. Anran tersenyum. "Tidak juga." Tang Wei menggeleng. "Dasar." Anran memeriksa jam di ponselnya. "Kau sudah membantuku sejak sore." Wei mengangkat bahu. "Tidak masalah." "Aku akan mentraktirmu makan malam." Wei ingin menolak, tetapi melihat ekspresi Anran yang tidak akan menerima bantahan, akhirnya ia mengangguk. "Baiklah." Mereka kemudian pergi ke sebuah restoran tidak jauh dari sana, namun, Anran langsung menyesal begitu memasuki restoran karena melihat dua orang yang sangat dikenalnya duduk di meja dekat jendela. Shen Kexin dan Gu Yiran. "Anran!" kata Kexin yang pertama kali menyadari keberadaan mereka sembari melambaikan tangan. Anran menutup matanya sebentar. "Sial," gumamnya pelan. Tidak ada kebetulan di dunia ini, terutama bagi Kexin karena ia sudah memberitahu di mana posisinya di grup obrolan satu jam yang lalu, batin Anran. Yiran melihat ke arah Wei lalu tersenyum penuh arti. "Apa?" tanya Anran sembari melotot pada Yiran. "Kalian mau makan malam berdua?" tanya Yiran. "Wei Wei baru saja membantuku membeli furnitur," kata Anran. Kexin mendekati Anran dengan ekspresi menggoda. "Membantu membeli furnitur, sangat romantis." "Shen Kexin!" geram Anran. Kexin mengedikkan bahunya. "Aku hanya mengatakan sangat romantis." Wei tertawa kecil melihat Anran dan Kexin, ia sudah terbiasa dengan cara teman-temannya menggoda Anran dan karena tidak mungkin menghindar, Anran dan Tang Wei bergabung di meja yang sama. Rencana makan malam sederhana berubah menjadi pertemuan kecil, Kexin menceritakan berbagai gosip kantor, Yiran sesekali menyela dengan komentar pedasnya, sementara Tang Wei lebih banyak mendengarkan sambil tersenyum, dan Anran beberapa kali mencoba mengakhiri makan malam, sayangnya usahanya gagal. Anran hanya bisa menghela karena berdebat dengan Kexin memang tidak pernah menghasilkan kemenangan dan mereka baru keluar dari restoran setelah jam sudah hampir menunjukkan pukul sebelas malam. "Aku benar-benar minta maaf," kata Anran kepada Wei saat mereka berjalan menuju mobil. "Untuk apa?" "Membuatmu menemaniku sampai larut malam." "Aku tidak merasa keberatan menemanimu." Anran menghela napas. "Aku tidak tau mereka juga di sana." Wei tersenyum dan meletakkan tangannya di kepala Anran. "Aku tahu. Jangan merasa tidak nyaman padaku." "Tapi karena Kexin, kau kehilangan waktu istirahat." "Jangan dipikirkan," kata Tang Wei sembari mengusap-usap lembut kepala Anran. Mereka kemudian masuk ke mobil dan Tang Wei mengemudikan mobil menuju tempat tinggal Anran. Di perjalanan beberapa kali Anran menguap, Tang Wei sengaja tidak mengajak Anran berbicara dan benar saja dugaannya, Anran tertidur. Tang Wei memperlambat laju mobilnya dan mengatur suhu di dalam kabin agar tidak terlalu dingin. Bibirnya menyunggingkan senyum tipis, sudah lama ia memendam perasaan pada perempuan di sampingnya. Tetapi, Tang Wei tahu jika mengutarakannya mungkin akan membuat persahabatan mereka menjadi retak dan berjarak. Tang Wei tidak ingin kehilangan Anran dan memilih untuk tetap menjadi sahabat bagi Anran. Tidak lama kemudian mobil berhenti di depan rumah Anran, Tang Wei tidak langsung membangunkan Anran dan menunggu beberapa saat dengan sabar. Barulah setelah beberapa menit, ia menyentuh bahu Anran dan memanggilnya dengan lembut. Anran membuka mata dan memerlukan waktu beberapa menit sebelum menyadari keberadaannya. "Aku ketiduran?" "Ya. Kita sudah sampai." Anran melirik jam di layar head unit mobil dan ternyata cukup lama juga ia tertidur. "Apa aku mengorok tadi?" Tang Wei terkekeh pelan, Anran justru sangat menggemaskannya saat tidur. Bulu matanya yang panjang menutupi matanya seperti sayap kupu-kupu. "Jangan khawatir, kau tidak mengorok." Anran berdehem pelan. "Terima kasih sudah membantuku hari ini." Tang Wei mengangguk lalu keluar dan membukakan pintu mobil untuk Anran. Namun, baru saja Anran keluar, sebuah mobil berhenti di depan gerbang halaman sebelah. Zeyan keluar dari mobil, pria itu terlihat lelah setelah bekerja, tetapi masih terlihat rapi dengan pakaian kasualnya. Ketika melihat Anran berdiri di depan rumah bersama seorang pria, ia tidak langsung membuka gerbang rumahnya. "Dokter Zhao," sapa Zeyan. Anran menatap Zeyan dan tersenyum tipis sembari mengangguk pelan. "Chef Wang." Zeyan mengalihkan pandangannya pada Tang Wei. "Halo." "Halo," balas Tang Wei dan mengangguk pelan. Kemudian Zeyan membuka gerbang sembari di dalam hatinya mengira jika pria itu adalah pacar Anran. "Saya masuk dulu," kata Zeyan. Anran tidak menjawab, hanya mengangguk canggung. "Selamat malam, Dokter Zhao," kata Zeyan lagi.Chapter 11Teman SMAPukul setengah lima sore, Zhao Anran memasuki jalanan menuju tempat tinggalnya, matahari mulai condong ke barat, meninggalkan semburat jingga di balik deretan pepohonan yang tumbuh di sepanjang jalan. Hari itu UGD lebih sibuk dibanding biasanya sehingga bahu Anran terasa pegal dan kepalanya sedikit berat dan Anran ingin segera tiba di rumahnya kemudian mandi air hangat, makan malam lalu tidur lebih awal.Namun, begitu mobilnya berbelok ke jalanan depan rumah, spontan Anran mengurangi kecepatan karena sebuah sedan hitam terparkir tepat di depan pagar. Anran sangat mengenali mobil itu dan segera menurunkan kaca mobil.Tang Wei juga menurunkan kaca mobil lalu tersenyum dan berkata, "Akhirnya pulang juga."Anran juga tersenyum, tetapi tidak menjawab. Ia membuka pintu mobil lalu menghampiri Tang Wei. "Bukannya semalam aku sudah bilang tidak ingin merepotkanmu?""Aku tidak merasa direpotkan," ujar Tang Wei.Anran mengedikkan bahunya. "Baiklah. Kalau begitu, aku menganda
Chapter 10Salah MengiraUntuk beberapa saat Anran membeku karena pengakuan Zeyan, sementara angin malam berembus melewati jalan kecil di antara kedua rumah mereka. Sejak melihat Zeyan menggendong anak perempuan. Anran sibuk membayangkan pria di depannya memiliki keluarga kecil yang sempurna. Seorang istri cantik yang menunggunya pulang setiap malam, seorang putri yang manja, rumah hangat dengan lampu-lampu yang selalu menyala. Rupanya semua itu hanya kesimpulan yang ia buat sendiri."Maaf," ucap Anran pelan sambil tersenyum canggung. "Saya... salah mengira."Zeyan tersenyum. "Tidak masalah." Anran mengangguk kecil dan suasana mendadak menjadi sedikit kikuk, ia baru mengenal pria itu beberapa hari, tetapi sudah dua kali salah menilai. Pertama mengira Zeyan mencoba bunuh diri, sekarang mengira pria itu masih memiliki istri.Zeyan melirik ke arah dalam rumah. ."Tawaran saya masih berlaku."Anran mengikuti arah pandangan Zeyan lalu mengembuskan napas pelan. Tawaran Zeyan seperti oase di
Chapter 9Duda Sebelah Rumah Zhao Anran tidak langsung kembali ke rumahnya, ia mengemudikan mobilnya ke arah yang berlawanan dengan tempat tinggalnya menuju sebuah restoran untuk mengambil makanan untuk makan malamnya yang telah dipesan sebelum ia meninggalkan tempat kerjanya. Ketika memasuki kawasan rumah lama neneknya, ia memperlambat laju kendaraannya, dan setelah berada di depan rumah, ia tidak langsung keluar dari mobil untuk membuka pagar. Anran menatap pintu gerbang rumah Zeyan, rumah bergaya Eropa modern itu selalu tampak hidup. Ketika hari mulai gelap, lampu-lampu terasnya menyala dan ketika siang hari selalu terlihat tenang. Pasti keluarga kecil chef Wang hidup rukun dan bahagia di dalam rumah itu, istrinya juga cantik, pikir Anran.Seorang chef berbakat, tampan, mapan, memiliki putri yang menggemaskan, dan keluarga yang hangat. Kehidupan Chef Wang benar-benar sempurna, pikirnya lagi. Anran menggeleng pelan lalu menghela napas berat dan buru-buru keluar dari mobil kemudia
Chapter 8Pemeriksaan Rutin"Jangan berlarian."Suara Wang Zeyan terdengar tenang, tetapi gadis kecil yang mengenakan baju kuning itu sama sekali tidak memedulikannya. Nuonuo justru tertawa riang sambil berlari menyusuri lorong poliklinik anak, kedua kepang pendeknya bergoyang ke kanan dan kiri mengikuti langkah-langkah kecilnya."Nuonuo menang!" serunya bangga.Zeyan mengembuskan napas pelan. Ia sudah memperingatkan putrinya sejak mereka turun dari mobil. Rumah sakit bukan taman bermain. Banyak pasien yang sedang beristirahat dan anak-anak lain yang mungkin kondisinya jauh lebih buruk daripada Nuonuo. Namun, di mata anak berusia empat tahun, lorong rumah sakit yang panjang justru terlihat seperti lintasan lomba lari."Awas, hati-hati jangan sampai jatuh.""Aku enggak jatuh!" Nuonuo berhenti, lalu menoleh sambil menyeringai jahil. "Papa lambat!""Benarkah?"Zeyan melangkah sedikit lebih cepat. Belum sempat Nuonuo kabur lagi, tubuh mungil itu sudah terangkat ke udara dan mendarat di p
Chapter 7Salah PahamPukul lima sore, Tang Wei sudah tiba di depan rumah Zhao Anran tepat waktu seperti yang dijanjikannya. Anran membawa tas kecil lalu keluar dari rumah sambil masih melihat daftar barang di ponselnya."Aku merasa seperti mahasiswa baru," gumamnya sembari menunjukkan layar ponselnya.Tang Wei yang bersandar di samping mobil tersenyum sembari membaca daftar di layar yang ditunjukkan Anran. "Kasur, lemari, rak buku, rak sepatu, meja kerja....""Aku benar-benar tidak bisa memakai barang-barang lama nenekku," kata Anran. "Tentu. Kurasa aku pun akan membeli barang-barang baru dibandingkan menggunakan furnitur lama milik nenekku," kata tang Wei sembari menjauh dari mobil lalu membukakan pintu mobil untuk Anran. "Jika butuh bantuan membereskan barang-barangmu, katakan saja." Anran menatap Tang Wei dan berpikir kalau Kexin pasti memberitahu keadaan tempat tinggalnya. "Aku bisa mengatasinya sendiri," kata Anran lalu masuk ke dalam mobil."Aku tahu," kata Tang Wei lalu men
Chapter 6Tetangga Sebelah RumahPukul empat sore, Zhao Anran akhirnya sampai di rumah setelah menyelesaikan sif paginya. Meski disebut sif pagi, bekerja sebagai dokter UGD tidak pernah benar-benar terasa seperti jadwal normal. Ada saja pasien yang datang tiba-tiba atau kondisi darurat yang membuat waktu berjalan tanpa terasa, dan ketika akhirnya bisa pulang, tubuhnya terasa seperti baru saja melewati perang kecil.Anran mematikan mesin mobil lalu bersandar sebentar di kursi pengemudi sambil memejamkan mata. Kepalanya sedikit pusing, bukan hanya karena kelelahan, tetapi juga karena sejak pagi ia sudah memikirkan kondisi barang-barangnya yang masih berantakan.Bukan hanya perlu membeli beberapa furnitur baru, sepertinya ia juga memerlukan jasa kebersihan rumah karena jika mengerjakannya sendiri sepertinya dirinya tidak sanggup. Di London, Anran terbiasa tinggal sendiri dan mengurus dirinya sendiri bukan hal yang baru, tetapi mengurus rumah sebesar itu sendirian dan membagi tenaga denga







