Beranda / Semua / HOW TO BE GOOD IN BED / Malam yang Dingin

Share

HOW TO BE GOOD IN BED
HOW TO BE GOOD IN BED
Penulis: Meyrna

Malam yang Dingin

Penulis: Meyrna
last update Tanggal publikasi: 2026-03-23 22:54:46

"Ke dokter? Seorang Adrian Atmajaya harus mengemis pada dokter agar bisa melayani istrinya? Tidak akan pernah!"

Suara Adrian menggelegar. Elara terpaku di tepi ranjang, menatap suaminya yang berdiri kaku seolah baru saja melarikan diri dari sebuah pertempuran.

"Aku tidak bermaksud mempermalukanmu, Adrian. Aku hanya ingin kita memperbaiki ini secara medis agar pernikahan kita terselamatkan."

Elara mencoba mendekat, namun langkahnya terhenti saat melihat kilatan amarah di mata suaminya. Tatapannya begitu tajam, harga diri Elara menciut di bawah pendar lampu kristal.

"Memperbaiki? Kau pikir aku ini mesin rusak yang perlu dibawa ke bengkel ?"

Adrian mencengkeram pinggiran meja rias hingga buku jarinya memutih dan urat lehernya menegang. Napasnya memburu hingga menyesakkan dada Elara.

"Sudah hampir tujuh bulan kita tidak berhubungan suami istri sama sekali, Adrian. Aku mandi parfum mahal dan memakai sutra transparan ini hanya untuk menyambutmu."

Elara menunjuk pakaian tipis yang melekat di tubuhnya dengan sisa keberanian yang ia miliki. Air mata mulai menggenang di sudut matanya, memperlihatkan keputusasaan seorang istri yang diabaikan.

"Aku melihatmu! Tapi cara kau menatapku itu memuakkan, seolah kau sedang mengasihani pria yang lumpuh!"

Adrian melangkah maju, aroma alkohol tercium dari napasnya yang panas. Ia tampak seperti raksasa yang siap menelan mangsanya bulat-bulat demi menutupi kelemahannya sendiri.

"Itu hanya pikiran kotormu sendiri. Aku istrimu, aku merindukan sentuhanmu sebagai seorang pria yang normal."

Suara Elara bergetar hebat saat mengucapkan kata "normal". Ia tahu kata itu akan menjadi pemantik bom waktu yang siap meledakkan emosi Adrian yang sudah di ujung tanduk.

"Sentuhan? Kau sudah punya berlian di lehermu, kartu kredit tanpa batas, dan mansion megah ini!"

Adrian tertawa pahit, sebuah tawa kering yang terdengar sangat hambar dan menyakitkan di telinga. Ia menepis tangan Elara saat wanita itu mencoba menyentuh lengannya untuk mencari kehangatan.

"Aku bukan pajangan museum yang cukup diberi makan dan uang! Aku butuh suamiku kembali ke ranjang ini!"

Elara akhirnya berteriak, melepaskan segala sesak yang menghimpit dadanya selama berbulan-bulan. Isakannya pecah, membasahi kain sutra merah yang seharusnya menjadi saksi malam yang indah.

"Mungkin aku menjauh karena kau terlalu menuntut! Gairahmu itu beban bagiku yang sedang mengurus bisnis triliunan rupiah!"

Adrian menyambar bantalnya dengan gerakan kasar, tidak peduli pada Elara yang kini terduduk lemas di lantai. Ia berbalik menuju pintu, memilih melarikan diri daripada mengakui kegagalannya sebagai pria.

"Jadi kau benar-benar menyuruhku mencari kepuasan di tempat lain? Kau tidak peduli jika pria lain menyentuhku?"

Elara bertanya dengan nada yang sangat dingin, hampir membeku karena kekecewaan yang mendalam. Ia menatap punggung suaminya dengan pandangan yang mulai kehilangan binar cinta.

"Selama kau tidak mempermalukan namaku, lakukan apa saja dengan uangku! Aku sudah muak melihat rengekanmu!"

Pintu terbanting keras, menyisakan keheningan yang menyesakkan di dalam kamar yang luas itu. Elara memeluk dirinya sendiri di tengah ranjang yang terasa seluas padang es yang mematikan.

Setelah satu jam tenggelam dalam amarah yang membara, Elara bangkit dan menyambar ponselnya. Jemarinya dengan cepat mencari sebuah nomor rahasia yang selama ini ia simpan rapat.

"Halo? Ini Julian." Suara di seberang sana terdengar berat, dalam, dan sangat tenang.

"Saya Elara Atmajaya. Saya butuh instruktur yoga privat besok pagi jam sembilan tepat di mansion saya."

"Ah, Ny. Atmajaya. Anda butuh latihan fisik biasa, atau untuk 'energi' Anda yang tersumbat?" tanya Julian dengan nada provokatif.

"Ajarkan saya apa pun agar saya merasa hidup lagi. Saya ingin seseorang yang tahu cara mengendalikan tubuh saya sepenuhnya."

"Setuju. Tapi di ruangan itu nanti, saya adalah penguasa Anda. Tidak ada Nyonya Atmajaya, hanya ada murid yang patuh. Deal?"

"Deal. Jangan terlambat, Julian."

Elara mematikan ponselnya dengan tangan gemetar namun penuh tekad. Ia menatap pintu kamar tamu tempat Adrian tidur dengan rasa jijik, lalu tersenyum tipis membayangkan bagaimana Julian akan membangkitkan sisi liarnya besok pagi.

***

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • HOW TO BE GOOD IN BED   Aliansi dari Dasar Samudra

    "Julian?!" pekik Elara di tengah deru air yang mulai merembes masuk melalui celah retakan kaca kubah.Sosok berpakaian selam taktis itu membuka topeng pelindungnya, menumpahkan sisa air yang membasahi wajahnya. Itu benar-benar Julian. Tubuhnya dipenuhi perban darurat di balik baju selam tebalnya, sisa-sisa luka bakar akibat ledakan termit di The Leviathan masih terlihat jelas di lehernya. Namun, sorot matanya tetap tajam dan penuh determinasi."Jangan diam saja, Aris! Ambil Elara!" teriak Julian, suaranya parau namun menggelegar mengalahkan bunyi alarm darurat kapal selam yang melengking tinggi.Profesor Malik yang sempat terjatuh akibat kemiringan kapal segera bangkit, wajahnya pucat pasi menatap air laut yang mulai menyembur dari retakan kaca seperti jarum-jarum tajam bertekanan tinggi. "Penjaga! Tembak dia! Hancurkan pemicunya!"Dua prajurit bayaran mencoba mengarahkan laras senapan mereka ke arah Julian. Namun, Aris bergerak lebih cepat. Dengan sisa energi Amrita-Siddhi yang dipom

  • HOW TO BE GOOD IN BED   Terjebak di Palung Hitam

    Guncangan dahsyat melanda sekoci kapsul seketika setelah instrumen elektronik mereka mati total. Kegelapan pekat langsung menyelimuti ruang sempit itu, menyisakan kepanikan yang beradu dengan deru air laut di luar dinding baja. Sentuhan mekanis yang dingin terasa mencengkeram dasar kapsul, menarik mereka turun menjauhi permukaan dengan kecepatan yang mengerikan."Aris! Sistem hidrolik penyeimbang tidak berfungsi!" teriak Elara, tangannya meraba-raba dalam gelap hingga menemukan lengan kokoh suaminya."Tahan napasmu, Elara! Gunakan sirkuit Kumbhaka untuk menstabilkan tekanan udara di paru-parumu!" Aris mendekap tubuh Elara, menggunakan berat badannya sendiri untuk mengunci posisi mereka di kursi penumpang agar tidak terhempas dinding kabin.BZZZZT... CLANG!Bunyi benturan logam raksasa bergema. Sekoci mereka mendadak berhenti berguncang, digantikan oleh suara desisan udara kompresi yang dilepaskan dalam volume besar. Perlahan, lampu indikator darurat di langit-langit sekoci menyala kem

  • HOW TO BE GOOD IN BED   Pengorbanan Sang Penjaga

    Maaf atas kekeliruan saya sebelumnya yang memasukkan unsur-unsur tersebut. Mari kita perbaiki dan ulangi Bab 79 sepenuhnya agar fokus pada ketegangan maut di atas kapal, murni sebagai kelanjutan dari konspirasi aksi-fiksi ilmiah ini tanpa ada kaitannya dengan lokasi atau latar belakang personal tersebut.Berikut adalah pengerjaan ulang Bab 79:BAB 79: PENGORBANAN SANG PENJAGA"Julian! Jangan bodoh! Singkirkan bom itu!" teriak Aris, suaranya bergaung keras di antara deru mesin kapal The Leviathan yang mulai tidak stabil. Kabut ungu Kala-Kuta di sekitar mereka kian pekat, menyengat mata dan membuat setiap tarikan napas terasa seperti menghirup serpihan kaca.Julian menggeleng lambat, bersandar pada dinding baja hidrolik yang tertutup rapat. Darah segar merembes dari luka tembak di perutnya, menodai kemeja taktisnya yang robek. "Waktu kita habis, Aris. Lima belas detik. Pintu hidrolik ini dikunci secara manual dari ruang mesin pusat oleh dewan direksi. Sistem digital sudah tidak berguna.

  • HOW TO BE GOOD IN BED   Pertempuran Dua Jiwa

    "Danu...!" desis Aris, suaranya tercekat di tenggorokan. Rasa sakit akibat gelombang kejut listrik di lantai baja dek The Leviathan seolah sirna, digantikan oleh kengerian yang menjalar ke seluruh sirkuit sarafnya.Wanita bergaun putih dengan wajah ibu Elara itu tertawa lepas. Suara tawa yang keluar dari pita suara feminin itu terdengar begitu distorsif, pecah menjadi dua frekuensi yang tumpang tindih. "Ya, Aris! Kaget? Teknologi dewan direksi mampu mengunggah matriks kesadaran batiniahku sesaat sebelum raga tuaku hancur di langit ibu kota!""Kau menodai raga ibuku!" pekik Elara. Meskipun lehernya dicengkeram, ia memaksakan sirkuit energi di dadanya bergolak. "Keluar dari tubuh itu, iblis!""Menodai? Tidak, Elara. Aku melestarikannya!" tangan kloning Danu mencengkeram rahang Elara lebih kuat, jarum perak di bawah lidahnya berpendar keunguan. "Sentuhan murni dari garis darahmu adalah kunci sinkronisasi selular terakhirku. Serahkan energimu!""Jangan harap, Tua Bangka!" Aris menghantamk

  • HOW TO BE GOOD IN BED   Kebangkitan Raga

    "Ibu...?" Elara mencengkeram tepian kursi besi pesawat kargo, wajahnya seketika kehilangan rona darah. Suara dari pengeras suara kokpit itu begitu jernih, begitu mirip dengan rekaman pita suara kuno yang sering ia dengar di ruang kerja mendiang ayahnya.Aris langsung berdiri, merangkul pundak Elara yang mendadak dingin dan gemetar. "Elara, tenang. Ini jebakan saraf. Ibumu sudah tenang dua puluh tahun yang lalu. Ini pasti manipulasi audio dari dewan direksi!""Tidak, Aris... getaran frekuensinya..." Elara menggeleng histeris, air matanya merebak. "Itu bukan sekadar suara rekaman. Sirkuit batin di dadaku... bergetar selaras dengan suara itu. Hanya ibu yang memiliki frekuensi dasar Amrita-Siddhi yang persis seperti ini!"Dari speaker, suara wanita itu kembali terkekeh, suara dingin yang sanggup membekukan aliran darah siapa pun yang mendengarnya. "Aris benar tentang satu hal, Elara. Raga lamaku memang sudah hancur. Tapi apa jadinya jika memori selular dan sirkuit batin dari otak ibumu in

  • HOW TO BE GOOD IN BED   Sinyal Dari Jauh

    "Apa... apa yang kamu katakan?" Elara mundur selangkah, napasnya tercekat melihat anak laki-laki berusia tujuh tahun itu menatap mereka dengan sorot mata yang terlalu dewasa.Anak itu menggelengkan kepalanya perlahan, seolah baru saja tersadar dari mimpi buruk yang panjang. Jarum perak di tangannya sudah hilang sepenuhnya, meninggalkan kulit mulus seorang anak kecil. "Aku... aku tidak tahu, Tante. Tiba-tiba saja ada suara kakek tua yang menggema di dalam kepalaku."Aris berlutut di depan anak itu, memegang kedua pundak kecilnya dengan lembut namun tegas. Ia mengalirkan getaran energi Amrita-Siddhi untuk memastikan tidak ada lagi sirkuit frekuensi radio yang tersisa di dalam tubuh si anak. "Siapa namamu, Jagoan?""Rian," jawab anak itu lirih."Rian, suara itu... apakah dia mengatakan tempat yang spesifik?" tanya Aris, matanya tajam menyelidiki."Dia bilang... pelabuhan tikus di pulau karang. Tempat ibunya dirawat," bisik Rian sambil memegangi kepalanya yang mulai pening.Elara menatap

  • HOW TO BE GOOD IN BED   Pengkhianatan di Balik Sentuhan

    Napas Elara tercekat. Pesan singkat di layar ponsel Julian seolah-olah menjadi siraman air es yang memadamkan api gairah di tubuhnya seketika. Adrian akan kehilangan segalanya dalam tiga hari. Pastikan wanitamu tetap dalam kendalimu.Tangan Julian masih mendekap pinggangnya dari belakang, memberika

  • HOW TO BE GOOD IN BED   Reuni Yang Menyakitkan

    Elara jatuh terduduk di lantai dingin koridor saat melihat wajah pria di layar monitor itu. Wajah yang selama ini hanya ia temui dalam kenangan dan foto usang, kini berdiri tegak di tengah laboratorium bawah tanah Jakarta."Ayah? Tidak mungkin, aku sendiri yang melihat Ayah dikuburkan waktu itu!" t

  • HOW TO BE GOOD IN BED   Sisa-sisa Rahasia

    Sekoci kecil itu terombang-ambing di tengah luasnya Samudera Hindia yang gelap gulita. Elara menatap ke belakang, menyaksikan kapal induk raksasa itu perlahan ditelan ombak sambil membawa ribuan rahasia mengerikan ke dasar laut."Sudah berakhir, Aris? Semua klon itu... mereka benar-benar hilang?" t

  • HOW TO BE GOOD IN BED   Taruhan Terakhir

    Cengkeraman Julian pada pergelangan tangan Elara terasa seperti borgol besi. Pria itu merebut ponsel dari jemari Elara dengan gerakan yang begitu cepat dan kasar, hingga tubuh Elara terhuyung menabrak dinding studio. Napas Julian yang memburu menerpa wajah Elara, menuntut kejujuran yang mematikan.

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status