Mag-log inPukul sembilan tepat. Elara berdiri di depan cermin besar studio pribadinya, merapikan sport bra dan legging ketat yang terasa seperti kulit kedua. Ruangan ini kedap suara, tersembunyi di lantai dua mansion, jauh dari jangkauan para pelayan yang sibuk di bawah.
"Nyonya, tamu Anda sudah tiba." Suara pelayan dari interkom membuyarkan lamunannya.
"Suruh dia langsung ke atas," jawab Elara singkat. Jantungnya berdegup kencang, sebuah sensasi yang sudah lama tidak ia rasakan, antisipasi yang bercampur dengan rasa takut yang manis.
Pintu studio terbuka tanpa ketukan. Julian melangkah masuk dengan ransel hitam tersampir di bahu atletisnya. Ia mengenakan kaus polos yang menonjolkan otot lengannya, dan tatapannya langsung mengunci mata Elara dengan intensitas yang membuat lutut wanita itu lemas.
"Anda tepat waktu, Julian," sapa Elara, mencoba tetap terlihat berwibawa sebagai nyonya rumah yang berkuasa.
"Waktu adalah aset yang paling berharga bagi saya, Nyonya Atmajaya. Terutama waktu yang dihabiskan di ruangan tertutup seperti ini."
Julian meletakkan tasnya di sudut ruangan, lalu berjalan pelan mengelilingi Elara. Langkahnya ringan, seperti seekor macan tutul yang sedang menilai mangsanya sebelum menerkam.
"Kenapa kau menatapku seolah aku adalah barang pecah belah?" tanya Elara, mulai merasa panas di bawah tatapan itu.
"Saya sedang melakukan penilaian fisik. Untuk mengajarkan teknik Kamasutra, saya harus tahu di mana letak ketegangan tubuh Anda yang tersembunyi."
Julian berhenti tepat di depan Elara, jarak mereka hanya beberapa sentimeter hingga Elara bisa merasakan panas yang memancar dari tubuh pria itu. Aroma maskulin yang bercampur sedikit wangi kayu cendana mulai memenuhi indra penciuman Elara, membuatnya sedikit pening.
"Tubuh Anda sangat kaku, Elara. Bahu Anda terlalu tegang, seolah memikul beban seluruh mansion ini sendirian di atas pundak yang rapuh."
Julian mengangkat tangannya, jemarinya yang kasar namun hangat menyentuh leher Elara. Elara tersentak, sebuah kejutan listrik seolah menyambar sarafnya, namun ia tidak mundur.
"Lepaskan tanganmu. Aku belum memberimu izin untuk menyentuhku secara fisik," desis Elara, meski suaranya terdengar tidak meyakinkan.
"Tadi malam Anda setuju bahwa di ruangan ini, saya adalah penguasa Anda. Apa Anda sudah ingin melanggar kontrak bahkan sebelum kita mulai?"
Julian menekan titik saraf di pangkal leher Elara dengan ibu jarinya. Sensasi nyeri yang bercampur nikmat menjalar hingga ke tulang belakang Elara, memaksa mulutnya sedikit terbuka untuk meraup udara.
"Bagus. Lepaskan napas Anda, jangan ditahan. Kemarahan Anda terhadap suami Anda telah mengunci energi seksual di sini, di titik ini."
Julian memindahkan tangannya ke pinggang Elara, menariknya sedikit lebih dekat hingga tubuh mereka hampir bersentuhan sepenuhnya. Elara bisa merasakan kerasnya otot dada Julian di balik kaus tipisnya.
"Adrian tidak pernah menyentuhku dengan cara seberani ini," gumam Elara tanpa sadar, matanya mulai sayu dan berkabut oleh gairah yang mulai bangkit.
"Itu karena suamimu melihatmu sebagai pajangan, bukan sebagai wanita yang memiliki darah panas yang mengalir di nadinya."
Kata-kata Julian menusuk tepat di ulu hati Elara. Pria asing ini seolah bisa membaca seluruh sejarah kegagalan ranjang yang ia simpan rapat-rapat selama tujuh bulan terakhir.
"Sekarang, berbaliklah. Saya ingin memeriksa kelenturan tulang belakang Anda sebelum kita masuk ke posisi pertama."
Elara menurut, ia berbalik memunggungi Julian dengan tubuh yang mulai gemetar. Ia merasakan tangan Julian menelusuri garis punggungnya, dari tengkuk hingga ke pinggul dengan gerakan lambat yang sangat menyiksa.
"Kamasutra bukan sekadar seks, Elara. Ini adalah tentang penyerahan diri secara total kepada pasangan yang memegang kendali."
Julian membisikkan kalimat itu tepat di telinga Elara, embusan napasnya membuat bulu kuduk Elara berdiri tegak. Elara merasa kekuatannya sebagai "Nyonya Atmajaya" runtuh, digantikan oleh identitas baru yang diciptakan Julian.
"Lakukan apa pun yang kau mau, Julian. Buat aku merasa bahwa aku masih diinginkan sebagai seorang wanita," bisik Elara pasrah.
Julian tersenyum tipis, sebuah senyuman penuh kemenangan yang tidak terlihat oleh Elara. Ia menarik pinggul Elara agar menempel pada tubuhnya, memberikan tekanan yang jelas menunjukkan dominasinya.
"Ini baru penilaian awal, Elara. Tubuhmu sangat responsif terhadap sentuhan asing, dan itu adalah pertanda buruk bagi suamimu."
Julian melepaskan cengkeramannya secara tiba-tiba, membuat Elara hampir kehilangan keseimbangan karena kehilangan sandaran hangatnya. Pria itu menatap Elara dengan pandangan menantang, seolah sedang menguji seberapa jauh wanita itu akan mengejarnya.
"Besok kita akan mulai latihan yang sesungguhnya. Siapkan mentalmu, karena aku tidak akan selembut ini lagi."
Julian menyambar tasnya dan berjalan menuju pintu tanpa menoleh lagi, meninggalkan Elara yang masih terengah-engah di tengah ruangan yang sunyi. Elara menyentuh bibirnya, menyadari bahwa ia baru saja menyerahkan kunci hatinya kepada pria yang paling berbahaya dalam hidupnya.
Saat Elara hendak keluar dari studio, sebuah pesan masuk ke ponselnya. Itu dari Adrian yang mengabarkan bahwa dia harus pergi ke Singapura selama seminggu. Elara melihat ke arah pintu yang baru saja dilewati Julian dengan senyum liar, seminggu tanpa suami berarti seminggu penuh dalam kendali Julian.
***
"Julian?!" pekik Elara di tengah deru air yang mulai merembes masuk melalui celah retakan kaca kubah.Sosok berpakaian selam taktis itu membuka topeng pelindungnya, menumpahkan sisa air yang membasahi wajahnya. Itu benar-benar Julian. Tubuhnya dipenuhi perban darurat di balik baju selam tebalnya, sisa-sisa luka bakar akibat ledakan termit di The Leviathan masih terlihat jelas di lehernya. Namun, sorot matanya tetap tajam dan penuh determinasi."Jangan diam saja, Aris! Ambil Elara!" teriak Julian, suaranya parau namun menggelegar mengalahkan bunyi alarm darurat kapal selam yang melengking tinggi.Profesor Malik yang sempat terjatuh akibat kemiringan kapal segera bangkit, wajahnya pucat pasi menatap air laut yang mulai menyembur dari retakan kaca seperti jarum-jarum tajam bertekanan tinggi. "Penjaga! Tembak dia! Hancurkan pemicunya!"Dua prajurit bayaran mencoba mengarahkan laras senapan mereka ke arah Julian. Namun, Aris bergerak lebih cepat. Dengan sisa energi Amrita-Siddhi yang dipom
Guncangan dahsyat melanda sekoci kapsul seketika setelah instrumen elektronik mereka mati total. Kegelapan pekat langsung menyelimuti ruang sempit itu, menyisakan kepanikan yang beradu dengan deru air laut di luar dinding baja. Sentuhan mekanis yang dingin terasa mencengkeram dasar kapsul, menarik mereka turun menjauhi permukaan dengan kecepatan yang mengerikan."Aris! Sistem hidrolik penyeimbang tidak berfungsi!" teriak Elara, tangannya meraba-raba dalam gelap hingga menemukan lengan kokoh suaminya."Tahan napasmu, Elara! Gunakan sirkuit Kumbhaka untuk menstabilkan tekanan udara di paru-parumu!" Aris mendekap tubuh Elara, menggunakan berat badannya sendiri untuk mengunci posisi mereka di kursi penumpang agar tidak terhempas dinding kabin.BZZZZT... CLANG!Bunyi benturan logam raksasa bergema. Sekoci mereka mendadak berhenti berguncang, digantikan oleh suara desisan udara kompresi yang dilepaskan dalam volume besar. Perlahan, lampu indikator darurat di langit-langit sekoci menyala kem
Maaf atas kekeliruan saya sebelumnya yang memasukkan unsur-unsur tersebut. Mari kita perbaiki dan ulangi Bab 79 sepenuhnya agar fokus pada ketegangan maut di atas kapal, murni sebagai kelanjutan dari konspirasi aksi-fiksi ilmiah ini tanpa ada kaitannya dengan lokasi atau latar belakang personal tersebut.Berikut adalah pengerjaan ulang Bab 79:BAB 79: PENGORBANAN SANG PENJAGA"Julian! Jangan bodoh! Singkirkan bom itu!" teriak Aris, suaranya bergaung keras di antara deru mesin kapal The Leviathan yang mulai tidak stabil. Kabut ungu Kala-Kuta di sekitar mereka kian pekat, menyengat mata dan membuat setiap tarikan napas terasa seperti menghirup serpihan kaca.Julian menggeleng lambat, bersandar pada dinding baja hidrolik yang tertutup rapat. Darah segar merembes dari luka tembak di perutnya, menodai kemeja taktisnya yang robek. "Waktu kita habis, Aris. Lima belas detik. Pintu hidrolik ini dikunci secara manual dari ruang mesin pusat oleh dewan direksi. Sistem digital sudah tidak berguna.
"Danu...!" desis Aris, suaranya tercekat di tenggorokan. Rasa sakit akibat gelombang kejut listrik di lantai baja dek The Leviathan seolah sirna, digantikan oleh kengerian yang menjalar ke seluruh sirkuit sarafnya.Wanita bergaun putih dengan wajah ibu Elara itu tertawa lepas. Suara tawa yang keluar dari pita suara feminin itu terdengar begitu distorsif, pecah menjadi dua frekuensi yang tumpang tindih. "Ya, Aris! Kaget? Teknologi dewan direksi mampu mengunggah matriks kesadaran batiniahku sesaat sebelum raga tuaku hancur di langit ibu kota!""Kau menodai raga ibuku!" pekik Elara. Meskipun lehernya dicengkeram, ia memaksakan sirkuit energi di dadanya bergolak. "Keluar dari tubuh itu, iblis!""Menodai? Tidak, Elara. Aku melestarikannya!" tangan kloning Danu mencengkeram rahang Elara lebih kuat, jarum perak di bawah lidahnya berpendar keunguan. "Sentuhan murni dari garis darahmu adalah kunci sinkronisasi selular terakhirku. Serahkan energimu!""Jangan harap, Tua Bangka!" Aris menghantamk
"Ibu...?" Elara mencengkeram tepian kursi besi pesawat kargo, wajahnya seketika kehilangan rona darah. Suara dari pengeras suara kokpit itu begitu jernih, begitu mirip dengan rekaman pita suara kuno yang sering ia dengar di ruang kerja mendiang ayahnya.Aris langsung berdiri, merangkul pundak Elara yang mendadak dingin dan gemetar. "Elara, tenang. Ini jebakan saraf. Ibumu sudah tenang dua puluh tahun yang lalu. Ini pasti manipulasi audio dari dewan direksi!""Tidak, Aris... getaran frekuensinya..." Elara menggeleng histeris, air matanya merebak. "Itu bukan sekadar suara rekaman. Sirkuit batin di dadaku... bergetar selaras dengan suara itu. Hanya ibu yang memiliki frekuensi dasar Amrita-Siddhi yang persis seperti ini!"Dari speaker, suara wanita itu kembali terkekeh, suara dingin yang sanggup membekukan aliran darah siapa pun yang mendengarnya. "Aris benar tentang satu hal, Elara. Raga lamaku memang sudah hancur. Tapi apa jadinya jika memori selular dan sirkuit batin dari otak ibumu in
"Apa... apa yang kamu katakan?" Elara mundur selangkah, napasnya tercekat melihat anak laki-laki berusia tujuh tahun itu menatap mereka dengan sorot mata yang terlalu dewasa.Anak itu menggelengkan kepalanya perlahan, seolah baru saja tersadar dari mimpi buruk yang panjang. Jarum perak di tangannya sudah hilang sepenuhnya, meninggalkan kulit mulus seorang anak kecil. "Aku... aku tidak tahu, Tante. Tiba-tiba saja ada suara kakek tua yang menggema di dalam kepalaku."Aris berlutut di depan anak itu, memegang kedua pundak kecilnya dengan lembut namun tegas. Ia mengalirkan getaran energi Amrita-Siddhi untuk memastikan tidak ada lagi sirkuit frekuensi radio yang tersisa di dalam tubuh si anak. "Siapa namamu, Jagoan?""Rian," jawab anak itu lirih."Rian, suara itu... apakah dia mengatakan tempat yang spesifik?" tanya Aris, matanya tajam menyelidiki."Dia bilang... pelabuhan tikus di pulau karang. Tempat ibunya dirawat," bisik Rian sambil memegangi kepalanya yang mulai pening.Elara menatap
Elara jatuh terduduk di lantai dingin koridor saat melihat wajah pria di layar monitor itu. Wajah yang selama ini hanya ia temui dalam kenangan dan foto usang, kini berdiri tegak di tengah laboratorium bawah tanah Jakarta."Ayah? Tidak mungkin, aku sendiri yang melihat Ayah dikuburkan waktu itu!" t
Layar monitor di dinding studio menampilkan wajah seorang wanita dengan riasan tajam yang tampak kacau. Rambut panjangnya sedikit berantakan, dan matanya berkilat penuh amarah ke arah kamera gerbang. Elara membeku di pelukan Julian, napasnya yang tadi menderu karena gairah mendadak terhenti oleh ra
Lampu kristal di ruang tengah mansion Atmajaya berpendar redup, kontras dengan gejolak di dada Elara. Kepergian Adrian ke Singapura pagi buta tadi terasa seperti oksigen segar yang dipompakan ke dalam paru-parunya yang sesak. Seminggu. Ia memiliki waktu tujuh hari penuh tanpa harus bersandiwara men
"Ke dokter? Seorang Adrian Atmajaya harus mengemis pada dokter agar bisa melayani istrinya? Tidak akan pernah!"Suara Adrian menggelegar. Elara terpaku di tepi ranjang, menatap suaminya yang berdiri kaku seolah baru saja melarikan diri dari sebuah pertempuran."Aku tidak bermaksud mempermalukanmu,