Beranda / Semua / HOW TO BE GOOD IN BED / Tamu Tak Diundang

Share

Tamu Tak Diundang

Penulis: Meyrna
last update Tanggal publikasi: 2026-03-26 18:57:10

Layar monitor di dinding studio menampilkan wajah seorang wanita dengan riasan tajam yang tampak kacau. Rambut panjangnya sedikit berantakan, dan matanya berkilat penuh amarah ke arah kamera gerbang. Elara membeku di pelukan Julian, napasnya yang tadi menderu karena gairah mendadak terhenti oleh rasa dingin yang menjalar.

"Siapa dia, Julian?" bisik Elara, suaranya parau dan bergetar.

Julian tidak langsung menjawab. Ia melepaskan cengkeramannya pada dagu Elara dengan tenang, seolah teriakan di luar sana hanyalah gangguan angin lalu. Ia berdiri, merapikan kausnya yang sedikit berantakan, lalu menatap layar monitor dengan tatapan datar yang sulit diartikan.

"Masa lalu yang tidak tahu cara mengetuk pintu," jawab Julian dingin.

"Dia menyebut namamu! Dia tahu kau ada di sini!" Elara bangkit, merapikan atasan olahraganya yang sempat melorot. Ketakutan mulai merayapi pikirannya—jika wanita ini membuat keributan, para pelayan akan melapor pada Adrian, dan skandal ini akan meledak sebelum seminggu berakhir.

"Julian! Aku tahu kau di dalam bersama wanita itu! Jangan pikir kau bisa lari dariku lagi!" Suara wanita itu melengking dari pengeras suara interkom, membuat suasana di studio yang tadi panas menjadi sangat mencekam.

Elara menyambar ponselnya, jemarinya gemetar. "Aku harus memanggil keamanan. Dia akan merusak reputasiku jika terus berteriak seperti itu di depan gerbang."

"Jangan," cegat Julian. Ia menahan pergelangan tangan Elara dengan tekanan yang kuat namun tidak menyakitkan. "Jika keamanan datang, keributan akan semakin besar. Biarkan aku yang menanganinya."

"Bagaimana kau bisa menanganinya? Dia tampak seperti orang gila!" Elara menunjuk ke layar. Wanita itu kini mulai memukul-mukul pagar besi mansion Atmajaya yang megah.

Julian menatap Elara dalam-dalam, sebuah tatapan dominan yang seolah memaksa Elara untuk tetap patuh meski dalam keadaan darurat. "Tunggu di sini. Jangan keluar dari ruangan ini, apa pun yang Anda dengar."

Julian melangkah keluar studio tanpa menunggu persetujuan Elara. Suara langkah sepatunya yang berat bergema di lorong sunyi mansion, meninggalkan Elara sendirian dengan jantung yang berpacu liar. Elara tidak bisa hanya diam, rasa penasaran dan kecemburuan yang tidak beralasan mulai membakar dadanya.

Ia mendekat ke arah jendela besar yang menghadap ke halaman depan, menyibakkan sedikit tirai sutra untuk mengintip. Di bawah sana, ia melihat Julian berjalan dengan tenang menuju gerbang. Sosoknya tampak begitu berwibawa sekaligus mengancam di bawah sinar matahari pagi.

Begitu Julian sampai di gerbang, wanita itu langsung menghambur ke arahnya, mencoba mencengkeram kerah kaus Julian. Elara tidak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan, namun ia bisa melihat gestur Julian yang tetap kaku dan dingin, sementara wanita itu menangis histeris sambil menunjuk-nunjuk ke arah lantai dua—ke arah kamar Elara.

"Siapa sebenarnya pria ini?" gumam Elara pada dirinya sendiri. Ia merasa seperti sedang bermain api dengan seseorang yang memiliki gudang mesiu di belakangnya.

Sepuluh menit berlalu yang terasa seperti selamanya. Julian tampak mengucapkan beberapa kata yang sangat tajam hingga wanita itu terdiam seketika, bahunya merosot layu. Dengan satu lambaian tangan yang mengusir, Julian membuat wanita itu berbalik dan masuk ke dalam mobilnya yang terparkir sembarangan, lalu melaju pergi dengan kecepatan tinggi.

Julian kembali ke dalam mansion. Elara menunggu di balik pintu studio dengan napas tertahan. Saat pintu terbuka, Julian masuk dengan wajah yang lebih gelap dari sebelumnya.

"Dia sudah pergi. Dia tidak akan kembali lagi," ucap Julian singkat sambil menutup pintu dan menguncinya kembali.

"Siapa dia, Julian? Aku butuh penjelasan. Aku tidak mau terlibat dalam drama sementara aku sedang mempertaruhkan pernikahanku!" Elara menuntut, harga dirinya sebagai nyonya rumah kembali muncul.

Julian berjalan mendekati Elara, memojokkannya hingga punggung wanita itu menempel pada dinding studio yang dingin. Ia meletakkan kedua tangannya di sisi kepala Elara, mengurungnya dalam ruang yang sangat sempit.

"Namanya Nadia. Dia adalah mantan murid yang gagal memahami bahwa pelajaranku memiliki batasan," bisik Julian, suaranya rendah dan penuh ancaman.

"Gagal memahami? Apa maksudmu?"

"Dia jatuh cinta pada instruktur yang seharusnya hanya melatih tubuhnya. Dia terobsesi pada kendali yang aku berikan, sama seperti Anda saat ini, Elara."

Julian mendekatkan wajahnya, hidung mereka bersentuhan. Elara bisa merasakan amarah yang tertahan di balik ketenangan pria itu.

"Apakah Anda juga akan berakhir seperti dia? Menangis di depan gerbang karena tidak sanggup melepaskan candu dari sentuhanku?"

Elara terdiam, lidahnya kelu. Ia menyadari bahwa Julian bukan hanya melatihnya; pria ini sedang menghancurkan kewarasannya lapis demi lapis.

"Aku... aku berbeda darinya," bisik Elara menantang, meski matanya mulai berkaca-kaca.

"Kita lihat saja. Karena pelajaran hari ini baru saja menjadi jauh lebih berat."

Julian menarik tangan Elara dan membimbingnya kembali ke tengah matras. Kali ini, tidak ada lagi kelembutan. Pelajaran pertama tentang penyerahan diri yang sesungguhnya baru saja dimulai, dan Elara tahu, ia sudah tidak bisa lagi menarik diri.

Di tengah sesi latihan yang semakin intens, ponsel Julian yang tertinggal di atas tasnya bergetar. Sebuah pesan muncul di layar yang sempat tertangkap oleh mata Elara: "Tugas hampir selesai. Adrian Atmajaya akan kehilangan segalanya dalam tiga hari. Pastikan wanitamu tetap dalam kendalimu."

***

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • HOW TO BE GOOD IN BED   Aliansi dari Dasar Samudra

    "Julian?!" pekik Elara di tengah deru air yang mulai merembes masuk melalui celah retakan kaca kubah.Sosok berpakaian selam taktis itu membuka topeng pelindungnya, menumpahkan sisa air yang membasahi wajahnya. Itu benar-benar Julian. Tubuhnya dipenuhi perban darurat di balik baju selam tebalnya, sisa-sisa luka bakar akibat ledakan termit di The Leviathan masih terlihat jelas di lehernya. Namun, sorot matanya tetap tajam dan penuh determinasi."Jangan diam saja, Aris! Ambil Elara!" teriak Julian, suaranya parau namun menggelegar mengalahkan bunyi alarm darurat kapal selam yang melengking tinggi.Profesor Malik yang sempat terjatuh akibat kemiringan kapal segera bangkit, wajahnya pucat pasi menatap air laut yang mulai menyembur dari retakan kaca seperti jarum-jarum tajam bertekanan tinggi. "Penjaga! Tembak dia! Hancurkan pemicunya!"Dua prajurit bayaran mencoba mengarahkan laras senapan mereka ke arah Julian. Namun, Aris bergerak lebih cepat. Dengan sisa energi Amrita-Siddhi yang dipom

  • HOW TO BE GOOD IN BED   Terjebak di Palung Hitam

    Guncangan dahsyat melanda sekoci kapsul seketika setelah instrumen elektronik mereka mati total. Kegelapan pekat langsung menyelimuti ruang sempit itu, menyisakan kepanikan yang beradu dengan deru air laut di luar dinding baja. Sentuhan mekanis yang dingin terasa mencengkeram dasar kapsul, menarik mereka turun menjauhi permukaan dengan kecepatan yang mengerikan."Aris! Sistem hidrolik penyeimbang tidak berfungsi!" teriak Elara, tangannya meraba-raba dalam gelap hingga menemukan lengan kokoh suaminya."Tahan napasmu, Elara! Gunakan sirkuit Kumbhaka untuk menstabilkan tekanan udara di paru-parumu!" Aris mendekap tubuh Elara, menggunakan berat badannya sendiri untuk mengunci posisi mereka di kursi penumpang agar tidak terhempas dinding kabin.BZZZZT... CLANG!Bunyi benturan logam raksasa bergema. Sekoci mereka mendadak berhenti berguncang, digantikan oleh suara desisan udara kompresi yang dilepaskan dalam volume besar. Perlahan, lampu indikator darurat di langit-langit sekoci menyala kem

  • HOW TO BE GOOD IN BED   Pengorbanan Sang Penjaga

    Maaf atas kekeliruan saya sebelumnya yang memasukkan unsur-unsur tersebut. Mari kita perbaiki dan ulangi Bab 79 sepenuhnya agar fokus pada ketegangan maut di atas kapal, murni sebagai kelanjutan dari konspirasi aksi-fiksi ilmiah ini tanpa ada kaitannya dengan lokasi atau latar belakang personal tersebut.Berikut adalah pengerjaan ulang Bab 79:BAB 79: PENGORBANAN SANG PENJAGA"Julian! Jangan bodoh! Singkirkan bom itu!" teriak Aris, suaranya bergaung keras di antara deru mesin kapal The Leviathan yang mulai tidak stabil. Kabut ungu Kala-Kuta di sekitar mereka kian pekat, menyengat mata dan membuat setiap tarikan napas terasa seperti menghirup serpihan kaca.Julian menggeleng lambat, bersandar pada dinding baja hidrolik yang tertutup rapat. Darah segar merembes dari luka tembak di perutnya, menodai kemeja taktisnya yang robek. "Waktu kita habis, Aris. Lima belas detik. Pintu hidrolik ini dikunci secara manual dari ruang mesin pusat oleh dewan direksi. Sistem digital sudah tidak berguna.

  • HOW TO BE GOOD IN BED   Pertempuran Dua Jiwa

    "Danu...!" desis Aris, suaranya tercekat di tenggorokan. Rasa sakit akibat gelombang kejut listrik di lantai baja dek The Leviathan seolah sirna, digantikan oleh kengerian yang menjalar ke seluruh sirkuit sarafnya.Wanita bergaun putih dengan wajah ibu Elara itu tertawa lepas. Suara tawa yang keluar dari pita suara feminin itu terdengar begitu distorsif, pecah menjadi dua frekuensi yang tumpang tindih. "Ya, Aris! Kaget? Teknologi dewan direksi mampu mengunggah matriks kesadaran batiniahku sesaat sebelum raga tuaku hancur di langit ibu kota!""Kau menodai raga ibuku!" pekik Elara. Meskipun lehernya dicengkeram, ia memaksakan sirkuit energi di dadanya bergolak. "Keluar dari tubuh itu, iblis!""Menodai? Tidak, Elara. Aku melestarikannya!" tangan kloning Danu mencengkeram rahang Elara lebih kuat, jarum perak di bawah lidahnya berpendar keunguan. "Sentuhan murni dari garis darahmu adalah kunci sinkronisasi selular terakhirku. Serahkan energimu!""Jangan harap, Tua Bangka!" Aris menghantamk

  • HOW TO BE GOOD IN BED   Kebangkitan Raga

    "Ibu...?" Elara mencengkeram tepian kursi besi pesawat kargo, wajahnya seketika kehilangan rona darah. Suara dari pengeras suara kokpit itu begitu jernih, begitu mirip dengan rekaman pita suara kuno yang sering ia dengar di ruang kerja mendiang ayahnya.Aris langsung berdiri, merangkul pundak Elara yang mendadak dingin dan gemetar. "Elara, tenang. Ini jebakan saraf. Ibumu sudah tenang dua puluh tahun yang lalu. Ini pasti manipulasi audio dari dewan direksi!""Tidak, Aris... getaran frekuensinya..." Elara menggeleng histeris, air matanya merebak. "Itu bukan sekadar suara rekaman. Sirkuit batin di dadaku... bergetar selaras dengan suara itu. Hanya ibu yang memiliki frekuensi dasar Amrita-Siddhi yang persis seperti ini!"Dari speaker, suara wanita itu kembali terkekeh, suara dingin yang sanggup membekukan aliran darah siapa pun yang mendengarnya. "Aris benar tentang satu hal, Elara. Raga lamaku memang sudah hancur. Tapi apa jadinya jika memori selular dan sirkuit batin dari otak ibumu in

  • HOW TO BE GOOD IN BED   Sinyal Dari Jauh

    "Apa... apa yang kamu katakan?" Elara mundur selangkah, napasnya tercekat melihat anak laki-laki berusia tujuh tahun itu menatap mereka dengan sorot mata yang terlalu dewasa.Anak itu menggelengkan kepalanya perlahan, seolah baru saja tersadar dari mimpi buruk yang panjang. Jarum perak di tangannya sudah hilang sepenuhnya, meninggalkan kulit mulus seorang anak kecil. "Aku... aku tidak tahu, Tante. Tiba-tiba saja ada suara kakek tua yang menggema di dalam kepalaku."Aris berlutut di depan anak itu, memegang kedua pundak kecilnya dengan lembut namun tegas. Ia mengalirkan getaran energi Amrita-Siddhi untuk memastikan tidak ada lagi sirkuit frekuensi radio yang tersisa di dalam tubuh si anak. "Siapa namamu, Jagoan?""Rian," jawab anak itu lirih."Rian, suara itu... apakah dia mengatakan tempat yang spesifik?" tanya Aris, matanya tajam menyelidiki."Dia bilang... pelabuhan tikus di pulau karang. Tempat ibunya dirawat," bisik Rian sambil memegangi kepalanya yang mulai pening.Elara menatap

  • HOW TO BE GOOD IN BED   Malam yang Dingin

    "Ke dokter? Seorang Adrian Atmajaya harus mengemis pada dokter agar bisa melayani istrinya? Tidak akan pernah!"Suara Adrian menggelegar. Elara terpaku di tepi ranjang, menatap suaminya yang berdiri kaku seolah baru saja melarikan diri dari sebuah pertempuran."Aku tidak bermaksud mempermalukanmu,

  • HOW TO BE GOOD IN BED   Reuni Yang Menyakitkan

    Elara jatuh terduduk di lantai dingin koridor saat melihat wajah pria di layar monitor itu. Wajah yang selama ini hanya ia temui dalam kenangan dan foto usang, kini berdiri tegak di tengah laboratorium bawah tanah Jakarta."Ayah? Tidak mungkin, aku sendiri yang melihat Ayah dikuburkan waktu itu!" t

  • HOW TO BE GOOD IN BED   Sisa-sisa Rahasia

    Sekoci kecil itu terombang-ambing di tengah luasnya Samudera Hindia yang gelap gulita. Elara menatap ke belakang, menyaksikan kapal induk raksasa itu perlahan ditelan ombak sambil membawa ribuan rahasia mengerikan ke dasar laut."Sudah berakhir, Aris? Semua klon itu... mereka benar-benar hilang?" t

  • HOW TO BE GOOD IN BED   Kedatangan Instruktur Predator

    Pukul sembilan tepat. Elara berdiri di depan cermin besar studio pribadinya, merapikan sport bra dan legging ketat yang terasa seperti kulit kedua. Ruangan ini kedap suara, tersembunyi di lantai dua mansion, jauh dari jangkauan para pelayan yang sibuk di bawah."Nyonya, tamu Anda sudah tiba." Suara

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status