LOGINLayar monitor di dinding studio menampilkan wajah seorang wanita dengan riasan tajam yang tampak kacau. Rambut panjangnya sedikit berantakan, dan matanya berkilat penuh amarah ke arah kamera gerbang. Elara membeku di pelukan Julian, napasnya yang tadi menderu karena gairah mendadak terhenti oleh rasa dingin yang menjalar.
"Siapa dia, Julian?" bisik Elara, suaranya parau dan bergetar.
Julian tidak langsung menjawab. Ia melepaskan cengkeramannya pada dagu Elara dengan tenang, seolah teriakan di luar sana hanyalah gangguan angin lalu. Ia berdiri, merapikan kausnya yang sedikit berantakan, lalu menatap layar monitor dengan tatapan datar yang sulit diartikan.
"Masa lalu yang tidak tahu cara mengetuk pintu," jawab Julian dingin.
"Dia menyebut namamu! Dia tahu kau ada di sini!" Elara bangkit, merapikan atasan olahraganya yang sempat melorot. Ketakutan mulai merayapi pikirannya—jika wanita ini membuat keributan, para pelayan akan melapor pada Adrian, dan skandal ini akan meledak sebelum seminggu berakhir.
"Julian! Aku tahu kau di dalam bersama wanita itu! Jangan pikir kau bisa lari dariku lagi!" Suara wanita itu melengking dari pengeras suara interkom, membuat suasana di studio yang tadi panas menjadi sangat mencekam.
Elara menyambar ponselnya, jemarinya gemetar. "Aku harus memanggil keamanan. Dia akan merusak reputasiku jika terus berteriak seperti itu di depan gerbang."
"Jangan," cegat Julian. Ia menahan pergelangan tangan Elara dengan tekanan yang kuat namun tidak menyakitkan. "Jika keamanan datang, keributan akan semakin besar. Biarkan aku yang menanganinya."
"Bagaimana kau bisa menanganinya? Dia tampak seperti orang gila!" Elara menunjuk ke layar. Wanita itu kini mulai memukul-mukul pagar besi mansion Atmajaya yang megah.
Julian menatap Elara dalam-dalam, sebuah tatapan dominan yang seolah memaksa Elara untuk tetap patuh meski dalam keadaan darurat. "Tunggu di sini. Jangan keluar dari ruangan ini, apa pun yang Anda dengar."
Julian melangkah keluar studio tanpa menunggu persetujuan Elara. Suara langkah sepatunya yang berat bergema di lorong sunyi mansion, meninggalkan Elara sendirian dengan jantung yang berpacu liar. Elara tidak bisa hanya diam, rasa penasaran dan kecemburuan yang tidak beralasan mulai membakar dadanya.
Ia mendekat ke arah jendela besar yang menghadap ke halaman depan, menyibakkan sedikit tirai sutra untuk mengintip. Di bawah sana, ia melihat Julian berjalan dengan tenang menuju gerbang. Sosoknya tampak begitu berwibawa sekaligus mengancam di bawah sinar matahari pagi.
Begitu Julian sampai di gerbang, wanita itu langsung menghambur ke arahnya, mencoba mencengkeram kerah kaus Julian. Elara tidak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan, namun ia bisa melihat gestur Julian yang tetap kaku dan dingin, sementara wanita itu menangis histeris sambil menunjuk-nunjuk ke arah lantai dua—ke arah kamar Elara.
"Siapa sebenarnya pria ini?" gumam Elara pada dirinya sendiri. Ia merasa seperti sedang bermain api dengan seseorang yang memiliki gudang mesiu di belakangnya.
Sepuluh menit berlalu yang terasa seperti selamanya. Julian tampak mengucapkan beberapa kata yang sangat tajam hingga wanita itu terdiam seketika, bahunya merosot layu. Dengan satu lambaian tangan yang mengusir, Julian membuat wanita itu berbalik dan masuk ke dalam mobilnya yang terparkir sembarangan, lalu melaju pergi dengan kecepatan tinggi.
Julian kembali ke dalam mansion. Elara menunggu di balik pintu studio dengan napas tertahan. Saat pintu terbuka, Julian masuk dengan wajah yang lebih gelap dari sebelumnya.
"Dia sudah pergi. Dia tidak akan kembali lagi," ucap Julian singkat sambil menutup pintu dan menguncinya kembali.
"Siapa dia, Julian? Aku butuh penjelasan. Aku tidak mau terlibat dalam drama sementara aku sedang mempertaruhkan pernikahanku!" Elara menuntut, harga dirinya sebagai nyonya rumah kembali muncul.
Julian berjalan mendekati Elara, memojokkannya hingga punggung wanita itu menempel pada dinding studio yang dingin. Ia meletakkan kedua tangannya di sisi kepala Elara, mengurungnya dalam ruang yang sangat sempit.
"Namanya Nadia. Dia adalah mantan murid yang gagal memahami bahwa pelajaranku memiliki batasan," bisik Julian, suaranya rendah dan penuh ancaman.
"Gagal memahami? Apa maksudmu?"
"Dia jatuh cinta pada instruktur yang seharusnya hanya melatih tubuhnya. Dia terobsesi pada kendali yang aku berikan, sama seperti Anda saat ini, Elara."
Julian mendekatkan wajahnya, hidung mereka bersentuhan. Elara bisa merasakan amarah yang tertahan di balik ketenangan pria itu.
"Apakah Anda juga akan berakhir seperti dia? Menangis di depan gerbang karena tidak sanggup melepaskan candu dari sentuhanku?"
Elara terdiam, lidahnya kelu. Ia menyadari bahwa Julian bukan hanya melatihnya; pria ini sedang menghancurkan kewarasannya lapis demi lapis.
"Aku... aku berbeda darinya," bisik Elara menantang, meski matanya mulai berkaca-kaca.
"Kita lihat saja. Karena pelajaran hari ini baru saja menjadi jauh lebih berat."
Julian menarik tangan Elara dan membimbingnya kembali ke tengah matras. Kali ini, tidak ada lagi kelembutan. Pelajaran pertama tentang penyerahan diri yang sesungguhnya baru saja dimulai, dan Elara tahu, ia sudah tidak bisa lagi menarik diri.
Di tengah sesi latihan yang semakin intens, ponsel Julian yang tertinggal di atas tasnya bergetar. Sebuah pesan muncul di layar yang sempat tertangkap oleh mata Elara: "Tugas hampir selesai. Adrian Atmajaya akan kehilangan segalanya dalam tiga hari. Pastikan wanitamu tetap dalam kendalimu."
***
Suara alarm di dalam kabin pesawat amfibi itu berbunyi sangat melengking dan memekakkan telinga. Angka merah di layar kendali menunjukkan waktu tinggal dua puluh detik lagi sebelum ledakan menghancurkan mereka."Aris, cepat cari bomnya di bawah kursi! Kita tidak bisa melompat di ketinggian ini!" teriak Elara sambil mencoba menahan kemudi agar tetap stabil.Aris merangkak ke lantai pesawat dengan tangan yang masih gemetar karena cedera yang dialaminya tadi. Ia menemukan sebuah kotak hitam dengan kabel-kabel rumit yang tertanam langsung ke kerangka badan pesawat."Sial, ini bom rakitan tingkat tinggi! Smith benar-benar ingin kita mati di udara!" seru Aris sambil mencoba mencabut kabel secara acak.Kembaran Elara segera mendekat dan menyingkirkan tangan Aris dengan gerakan yang sangat cepat dan tenang. "Jangan disentuh sembarangan, Aris, bom ini terhubung dengan sensor detak jantung Elara lewat sinyal nirkabel."Elara menoleh dengan wajah pucat pasi, menyadari betapa liciknya rencana cad
Pria tua itu melangkah maju dengan tenang, sementara Aris masih mengerang kesakitan di lantai gua. Elara berdiri melindungi Aris, menatap tajam ke arah sosok yang terlihat sangat berkuasa itu."Siapa sebenarnya kamu? Kenapa kamu punya alat untuk melumpuhkan Aris secepat itu?" tanya Elara dengan suara gemetar namun tegas.Pria itu tertawa kecil sambil mengetukkan tongkat peraknya ke lantai batu yang lembap. "Panggil saja aku Tuan Smith, penyokong dana tunggal yang membuat riset ayahmu bisa terwujud hingga sejauh ini."Elara melirik ke arah kembarannya yang berdiri mematung di samping meja komputer tua. "Dia bukan barang milikmu, Smith! Dia adalah manusia, sama seperti aku!"Smith hanya tersenyum dingin, seolah menganggap perkataan Elara hanyalah angin lalu yang tidak berarti. "Dia adalah perangkat keras paling mahal yang pernah aku beli, dan sekarang saatnya dia pulang ke pemiliknya."Tiba-tiba, kembaran Elara mulai melangkah mendekati Tuan Smith tanpa ekspresi sedikit pun di wajahnya.
Elara berdiri mematung di pinggir pantai, matanya tak lepas dari sosok yang berjalan keluar menembus asap tebal. Wanita itu melangkah dengan tenang, sementara api di belakangnya masih berkobar melahap sisa-sisa laboratorium."Berhenti di sana! Siapa kamu sebenarnya?" teriak Aris sambil menodongkan senjata dengan tangan yang gemetar.Wanita itu berhenti tepat sepuluh langkah di depan mereka, wajahnya tampak sangat bersih seolah api tidak menyentuhnya sama sekali. Ia mengangkat tangannya yang memegang potongan kain hitam milik Diana, lalu menjatuhkannya ke atas pasir yang basah."Diana sudah selesai, dia tidak akan bisa mengejar kita lagi untuk selamanya," ucap wanita itu dengan suara yang terdengar sangat lembut namun datar.Elara merasa dadanya sesak, ia tidak bisa membedakan apakah itu adiknya yang klon atau justru ada sesuatu yang lain. "Apakah kamu... adikku? Bagaimana kamu bisa selamat dari ledakan sedahsyat itu tanpa luka sedikit pun?"Wanita itu menatap Elara dengan mata biru ya
Suara deru mesin helikopter di atas bangunan tua itu membuat debu berterbangan menutupi pandangan. Elara mencengkeram tangan kembarannya yang masih lemas, sementara Aris sudah bersiap di balik tembok dengan senjata di tangan."Mereka sudah di sini, Elara! Kita tidak punya waktu lagi untuk berdebat soal perasaan!" teriak Aris sambil mengintip dari balik celah jendela yang pecah.Pasukan Naga Hitam terjun menggunakan tali, mendarat dengan sangat senyap namun mematikan di sekeliling laboratorium. Elara melihat wanita di pelukannya mulai membuka mata, namun ada kilat biru yang aneh di dalam pupil matanya yang tadi redup."Kakak, berikan aku senjata. Aku bisa merasakan posisi mereka semua di dalam kepalaku sekarang," bisik klon itu dengan nada suara yang mendadak dingin.Aris melemparkan sebuah pistol cadangan ke arah klon tersebut meski masih ada keraguan besar di wajahnya. "Gunakan itu dengan benar, jangan sampai kau malah menembak punggung kami saat situasi menjadi kacau!"Pintu depan l
Elara terpaku di ambang pintu bangunan tua itu, menatap sosok yang berdiri beberapa meter di depannya. Wanita itu memiliki sorot mata yang sama, bahkan bekas luka kecil di dahi yang didapat Elara saat jatuh dari pohon waktu kecil pun ada di sana."Jangan dengarkan dia, Elara! Dia cuma gumpalan daging yang diisi data digital oleh Diana!" teriak Aris sambil mengarahkan senjatanya ke arah klon tersebut.Wanita itu tidak bergerak, ia justru tersenyum tipis yang terlihat sangat tulus sekaligus menyedihkan. "Ingat boneka beruang tanpa telinga yang Ayah berikan saat kita ulang tahun ke-tujuh? Namanya Barny, dan kita selalu menyembunyikannya di bawah kasur agar tidak diambil Diana."Elara merasa lututnya lemas mendengarkan rahasia kecil yang bahkan tidak pernah ia ceritakan kepada Aris maupun Master Rama. "Bagaimana kamu bisa tahu soal Barny? Ayah bilang boneka itu sudah dibuang saat kita pindah rumah!""Ayah tidak membuangnya, dia mengambil memori itu dan menanamkannya di kepalaku agar aku m
Sekoci kecil itu terombang-ambing di tengah luasnya Samudera Hindia yang gelap gulita. Elara menatap ke belakang, menyaksikan kapal induk raksasa itu perlahan ditelan ombak sambil membawa ribuan rahasia mengerikan ke dasar laut."Sudah berakhir, Aris? Semua klon itu... mereka benar-benar hilang?" tanya Elara dengan suara yang hampir hilang ditelan deru angin.Aris yang sedang berusaha menyalakan mesin motor sekoci hanya bisa terdiam dengan wajah yang sangat pucat. "Seharusnya begitu, tapi aku tidak yakin api bisa menghapus dosa sebesar yang Adrian lakukan di sana."Cahaya fajar mulai mengintip di ufuk timur, memberikan sedikit penerangan pada wajah Elara yang penuh dengan noda oli dan darah. Ia teringat lambaian tangan klon dirinya di pinggir dek tadi, sebuah ingatan yang membuatnya merasa sangat kedinginan."Tadi aku melihat salah satu dari mereka tersenyum, Aris, rasanya bukan seperti robot yang diprogram," bisik Elara sambil memeluk dirinya sendiri.Aris akhirnya berhasil menyalaka