Home / All / HOW TO BE GOOD IN BED / Permainan Kendali

Share

Permainan Kendali

Author: Meyrna
last update publish date: 2026-03-26 18:55:41

Lampu kristal di ruang tengah mansion Atmajaya berpendar redup, kontras dengan gejolak di dada Elara. Kepergian Adrian ke Singapura pagi buta tadi terasa seperti oksigen segar yang dipompakan ke dalam paru-parunya yang sesak. Seminggu. Ia memiliki waktu tujuh hari penuh tanpa harus bersandiwara menjadi istri yang patuh di meja makan yang dingin.

Tepat pukul sembilan, suara deru motor besar terdengar dari gerbang depan. Elara berdiri di balkon lantai dua, memerhatikan Julian yang memarkirkan kendaraannya dengan gestur yang begitu maskulin. Pria itu mendongak, seolah tahu Elara sedang mengintainya dari balik tirai tipis.

"Masuklah, Julian. Pintu studio tidak dikunci," ucap Elara melalui interkom dengan suara yang sengaja ia buat sedatar mungkin, meski jemarinya gemetar.

Elara sudah menunggu di tengah studio. Kali ini ia mengenakan pakaian olahraga yang lebih berani—celana pendek ketat dan atasan tanpa lengan yang memamerkan lekuk bahunya yang putih porselen. Ia ingin melihat sejauh mana Julian akan memegang kendali atas dirinya hari ini.

"Anda tampak lebih... siap, Nyonya Atmajaya," ujar Julian saat melangkah masuk. Ia tidak membawa tas, hanya sebotol air mineral dan handuk kecil yang tersampir di lehernya.

"Suamiku pergi ke luar kota. Kita punya waktu lebih banyak untuk latihan hari ini," jawab Elara sambil mencoba menatap langsung ke bola mata Julian yang gelap.

Julian tersenyum tipis, sebuah senyuman yang tidak sampai ke mata namun sanggup menggetarkan naluri terdalam Elara. Ia berjalan mendekat, perlahan namun pasti, hingga ujung sepatu mereka bersentuhan.

"Waktu tanpa gangguan adalah kemewahan. Tapi ingat, tanpa pengawasan suami, Anda cenderung akan lebih liar, dan tugas saya adalah menjinakkan keliaran itu agar menjadi energi yang terarah."

Julian mengitari Elara, tangannya menyentuh udara di sekitar tubuh wanita itu tanpa benar-benar bersentuhan. Elara bisa merasakan hawa panas yang memancar dari tubuh Julian, membuat bulu kuduknya berdiri tegak.

"Sekarang, duduklah di tengah matras. Posisi Baddha Konasana. Kita akan mulai dengan membuka kunci di panggul Anda," perintah Julian dengan nada yang tidak menerima bantahan.

Elara menurut, ia duduk dengan melipat kedua kakinya hingga telapak kaki saling bersentuhan. Ia merasa sangat rentan dalam posisi terbuka seperti itu, terutama dengan Julian yang kini berdiri tepat di belakangnya.

"Teknik Kamasutra bukan dimulai dari ranjang, Elara. Ia dimulai dari bagaimana Anda mengizinkan seseorang masuk ke dalam ruang privasi Anda tanpa rasa takut."

Julian berlutut di belakang Elara. Ia meletakkan kedua tangannya di atas paha dalam Elara, memberikan tekanan yang mantap dan berat. Elara memekik kecil, sebuah desahan tertahan yang lolos dari bibirnya.

"Sakit?" bisik Julian tepat di telinga Elara. "Atau ini adalah rasa yang sudah lama Anda rindukan? Rasa ditekan dan dikuasai?"

"Jangan... jangan banyak bicara, Julian. Lakukan saja tugasmu," jawab Elara dengan napas yang mulai tersengal.

Julian justru menambah tekanannya. Ia menarik tubuh Elara agar bersandar sepenuhnya pada dadanya yang bidang. Elara bisa merasakan detak jantung Julian yang tenang dan teratur, sangat kontras dengan jantungnya sendiri yang berpacu seperti kuda lepas kendali.

"Anda terlalu terbiasa memerintah orang lain, Elara. Di sini, Anda belajar untuk diperintah. Pejamkan mata Anda."

Elara memejamkan mata. Dalam kegelapan itu, indra perasanya menjadi sepuluh kali lebih tajam. Ia merasakan tangan Julian berpindah, menelusuri perutnya yang rata hingga berhenti tepat di bawah tulang rusuknya.

"Napas Anda pendek-pendek. Itu tandanya Anda sedang melawan gairah Anda sendiri. Biarkan ia mengalir, Elara. Jangan ditahan."

Jemari Julian mulai melakukan gerakan melingkar yang provokatif di atas kulit Elara. Setiap sentuhan itu seolah membakar lapisan demi lapisan harga diri Elara sebagai wanita sosialita, menyisakan seorang wanita yang hanya haus akan belaian.

"Kenapa kau melakukan ini padaku, Julian?" bisik Elara, kepalanya terkulai lemas di bahu Julian.

"Karena Anda yang memintanya. Anda ingin merasa hidup, bukan? Dan hidup berarti merasakan setiap jengkal saraf di tubuh Anda berteriak meminta lebih."

Julian membalikkan tubuh Elara dengan satu gerakan cepat hingga kini wanita itu terduduk di pangkuannya, saling berhadapan. Mata mereka bertemu dalam jarak yang sangat dekat. Elara bisa melihat pantulan dirinya yang penuh hasrat di mata Julian.

"Ini adalah pelajaran pertama tentang koneksi mata. Jangan berpaling, Elara. Lihat pria yang sedang memegang kendali atas hidupmu saat ini."

Julian memegang dagu Elara dengan tegas. Detik itu juga, Elara menyadari bahwa ia bukan lagi sedang berlatih yoga atau Kamasutra biasa. Ia sedang menyerahkan jiwanya pada seorang pria yang mungkin akan menghancurkannya, namun ia tidak peduli.

Saat wajah Julian mendekat dan bibir mereka hampir bersentuhan, bel pintu mansion berbunyi berkali-kali. Suara interkom di studio berbunyi, menampilkan wajah seorang wanita asing yang cantik namun tampak marah di layar monitor. "Keluarkan Julian dari sana! Aku tahu dia ada di dalam!" teriak wanita itu.

***

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • HOW TO BE GOOD IN BED   Cermin yang Berbicara

    Elara terpaku di ambang pintu bangunan tua itu, menatap sosok yang berdiri beberapa meter di depannya. Wanita itu memiliki sorot mata yang sama, bahkan bekas luka kecil di dahi yang didapat Elara saat jatuh dari pohon waktu kecil pun ada di sana."Jangan dengarkan dia, Elara! Dia cuma gumpalan daging yang diisi data digital oleh Diana!" teriak Aris sambil mengarahkan senjatanya ke arah klon tersebut.Wanita itu tidak bergerak, ia justru tersenyum tipis yang terlihat sangat tulus sekaligus menyedihkan. "Ingat boneka beruang tanpa telinga yang Ayah berikan saat kita ulang tahun ke-tujuh? Namanya Barny, dan kita selalu menyembunyikannya di bawah kasur agar tidak diambil Diana."Elara merasa lututnya lemas mendengarkan rahasia kecil yang bahkan tidak pernah ia ceritakan kepada Aris maupun Master Rama. "Bagaimana kamu bisa tahu soal Barny? Ayah bilang boneka itu sudah dibuang saat kita pindah rumah!""Ayah tidak membuangnya, dia mengambil memori itu dan menanamkannya di kepalaku agar aku m

  • HOW TO BE GOOD IN BED   Sisa-sisa Rahasia

    Sekoci kecil itu terombang-ambing di tengah luasnya Samudera Hindia yang gelap gulita. Elara menatap ke belakang, menyaksikan kapal induk raksasa itu perlahan ditelan ombak sambil membawa ribuan rahasia mengerikan ke dasar laut."Sudah berakhir, Aris? Semua klon itu... mereka benar-benar hilang?" tanya Elara dengan suara yang hampir hilang ditelan deru angin.Aris yang sedang berusaha menyalakan mesin motor sekoci hanya bisa terdiam dengan wajah yang sangat pucat. "Seharusnya begitu, tapi aku tidak yakin api bisa menghapus dosa sebesar yang Adrian lakukan di sana."Cahaya fajar mulai mengintip di ufuk timur, memberikan sedikit penerangan pada wajah Elara yang penuh dengan noda oli dan darah. Ia teringat lambaian tangan klon dirinya di pinggir dek tadi, sebuah ingatan yang membuatnya merasa sangat kedinginan."Tadi aku melihat salah satu dari mereka tersenyum, Aris, rasanya bukan seperti robot yang diprogram," bisik Elara sambil memeluk dirinya sendiri.Aris akhirnya berhasil menyalaka

  • HOW TO BE GOOD IN BED   Pasukan Tanpa Wajah

    Elara menyentuh kaca tangki yang dingin, menatap wajah di dalam cairan yang benar-benar serupa dengan cerminannya sendiri. "Ini tidak mungkin, Aris, wajah-wajah ini... mereka semua adalah aku?"Aris menarik tangan Elara agar menjauh dari barisan tangki yang mengerikan itu dengan wajah penuh ketegangan. "Ayahmu tidak hanya menciptakan kode, dia menciptakan pasukan yang punya detak jantung sama agar sistem kuncinya tidak pernah mati."Lampu di dalam ruangan itu mendadak berubah menjadi merah pekat, diiringi suara desisan uap dari mesin-mesin pendingin. Satu per satu tabung kaca itu mulai mengeluarkan gelembung udara, menandakan proses pembangunan paksa sedang berjalan otomatis."Kita harus pergi sekarang, Elara, kalau mereka bangun, kita tidak akan bisa keluar hidup-hidup dari sini!" seru Aris sambil menyeret Elara ke arah pintu keluar.Tiba-tiba, suara tawa Adrian menggema melalui pengeras suara di sudut ruangan, terdengar sangat puas melihat keterkejutan korbannya. "Selamat datang di

  • HOW TO BE GOOD IN BED   Markas di Tengah Samudera

    Kapal induk itu terlihat seperti raksasa besi yang membelah kegelapan samudera dengan lampu-lampu sorot yang sangat terang. Elara berjalan dengan langkah gontai keluar dari helikopter, tangannya dicengkeram erat oleh dua anak buah Adrian yang bertubuh kekar."Jangan mencoba lari, Elara. Di sini tidak ada tempat untuk bersembunyi selain terjun ke mulut hiu," ucap Adrian sambil berjalan mendahuluinya dengan angkuh.Lantai kapal yang terbuat dari baja terasa dingin dan bergetar karena suara mesin raksasa di bawah mereka. Elara menoleh ke belakang, melihat Aris diseret secara kasar oleh penjaga lain menuju arah yang berbeda dari tujuannya."Lepaskan Aris, Adrian! Dia tidak tahu apa-apa soal kode itu, dia cuma mencoba menolongku!" teriak Elara dengan suara yang hampir habis.Adrian berhenti melangkah dan berbalik, menatap Elara dengan pandangan meremehkan seolah sedang melihat mainan yang rusak. "Di tempat ini, orang yang hanya 'mencoba menolong' biasanya berakhir menjadi umpan pancing di

  • HOW TO BE GOOD IN BED   Jatuh ke Dasar Laut

    Helikopter yang ditumpangi Elara berguncang hebat setelah misil kedua menghantam bagian ekor dengan telak. Alarm di dalam kabin berbunyi nyaring, bercampur dengan suara peringatan dari jantung Elara yang semakin cepat."Pegangan yang kuat, Elara! Kita akan jatuh ke laut!" teriak Aris sambil berusaha melindungi kepala Elara dengan lengannya.Asap hitam pekat memenuhi ruangan sempit itu, membuat semua orang terbatuk-batuk karena sesak napas. Diana terlihat panik, ia mencoba meraih parasut di bawah kursi namun helikopter mendadak menukik tajam ke arah air."Sialan! Adrian benar-benar ingin membunuh kita semua demi kode itu!" teriak Diana sambil memaki-maki di tengah guncangan.Helikopter itu menghantam permukaan laut dengan benturan yang sangat keras hingga kaca depannya pecah berkeping-keping. Air laut yang dingin mulai masuk dengan cepat, menenggelamkan kabin helikopter ke dalam kegelapan samudera yang sangat dalam."Aris, tolong! Borgolnya macet, aku tidak bisa keluar!" teriak Elara s

  • HOW TO BE GOOD IN BED   Hitung Mundur Kematian

    Dada Elara terasa seperti dihimpit bongkahan batu panas yang membara hingga ia sulit untuk menghirup oksigen. Aris segera membaringkan Elara di atas meja besi yang dingin sambil memasang kabel pemantau ke pergelangan tangannya."Tahan napasmu, Elara! Aku harus menstabilkan frekuensi detak jantungmu sebelum sistemnya mencapai titik didih!" teriak Aris dengan tangan yang bergerak lincah di atas papan ketik.Layar monitor di ruangan itu mendadak berubah menjadi merah darah dengan angka hitung mundur yang terus berjalan mundur. Elara melihat angka 02:00:00 berkedip-kedip dengan suara detak yang sangat memekakkan telinganya."Dua jam? Jadi aku cuma punya waktu dua jam sebelum jantungku sendiri meledak?" tanya Elara dengan suara yang parau dan penuh ketakutan.Aris tidak menjawab, ia justru sibuk menyuntikkan cairan penenang ke dalam selang infus yang baru saja ia pasang di lengan Elara. "Ini bukan bom biasa, Elara. Ini adalah sistem pengamanan terakhir agar kunci rahasia itu tidak jatuh ke

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status