LOGINDi Seoul.
Terjadi kepanikan di sana. Petinggi K-AI Corp ketar-ketir saat menyaksikan layar televisi tampak macet, layar raksasa di panggung Big Tech tidak bisa dioperasikan, microphone Devy mati, dan tentu saja para tim teknis sangat sibuk guna mengatasi masalah tersebut. Ini adalah promosi spektakuler. Jika gagal, maka para pesaing bakal ketawa, dan K-AI Corp bakal redup di tengah persaingan inovasi AI dunia. Di antara banyak orang yang khawatir dan takut di sana, Devy gemeteran badannya. Keringat dingin di dahinya mulai bercucuran. Deru napasnya beradu dengan kebisingan penonton dan para awak media. Matanya mengawasi sekitar, berusaha memastikan bahwa tidak ada yang kecewa dan tidak ada yang mencemooh nya. Devy bicara dalam hati, ‘Baru pekan kemarin aku dipromosikan jadi PM. Dan ini adalah presentasi pertamaku. Oh Tuhan, tolonglah. Selesaikan masalah ini sekarang juga.” Ujian terbesar bagi Devy sebagai salah satu lulusan terbaik di KAIST dan pegawai terbaik di K-AI Corp. Menjadi PM di perusahaan AI terbesar di Asia merupakan pencapaian tertinggi di dalam hidupnya. Apakah mungkin semua akan hancur dalam hitungan menit saja? The Carbon tidak butuh mencuri file atau mengendap masuk ke server pusat. Mereka cuma butuh membuat siaran langsung dan sistem AI Devy macet total di depan ratusan ribu penonton global. Sementara itu di Warnet MBG yang usang, Palembang. Aden tidak kaget kalau semuanya adalah ulah organisasi peretas dunia The Carbon. Tetapi dia cukup kaget kenapa bisa Devy yang jadi sasaran targetnya. Aden masa bodoh dengan K-AI Corp. Yang dia khawatirkan adalah pacar khayalannya. Karena itu dia tidak akan membiarkan The Carbon menghancurkan karir Devy. Berjuta-juta paket data sampah dari puluhan ribu botnet zombi tengah disalurkan oleh peretas kelas Gold untuk menyumbat bandwidth dan meremukkan server CDN tempat siaran Devy berlangsung. Alih-alih menyerap lalu lintas data (traffic) palsu yang mencapai jutaan request per detik, Aden membelokkan seluruh serangan botnet The Carbon ke jalur kosong yang tak berujung. Teknisnya adalah menggunakan metode Blackhole/Null Routing atau menyalurkan traffic ke server honeypot (jebakan). Kocaknya, Aden juga mengarahkan jutaan lalu lintas botnet milik The Carbon langsung ke IP lokal modul Wi-Fi gratisan milik warnet sebelah, atau menguncinya dalam loop tanpa akhir di sistem Billing MBG yang sibuk memutar lagu galau secara streaming. "Mereka mau nge-DDoS pake jutaan botnet?" Aden terkekeh pelan. Tanpa henti mengunyah pempek, dia mengetikkan tiga baris perintah di terminal: ===== route add -host [IP_Carbon] dev lo. ===== Dalam sekejap, jutaan data serangan The Carbon tersedot masuk ke dalam "lubang hitam" lokal komputer billing MBG—berputar-putar tanpa henti di server iklan judi online yang biasa memblokir browser bocil. Namun, tidak ada yang sempurna. Kejutan tak terduga muncul di LAN warnet. Karena Aden mengeksekusi Blackhole Routing secara cepat dari PC Billing, sekitar 0,05% sisa lalu lintas data sampah (residual UDP flood) nyasar dan bocor masuk ke router internal warnet. Seketika seluruh monitor di ruangan berkedip. Ping di game Point Blank dan Mobile Legends milik anak-anak warnet membumbung tinggi dari 15 ms ke angka keramat: 999 ms. Sekonyong-konyong terjadi lagging parah. Gedebuk! Remaja SMP meninju papan bilik nomor 1 yang hampir roboh sambil mendamprat kasar, “An… jirrr!!! Mati aku. Kenapa lag? Aahhhh!!! “ Yang lainnya menggebrak keyboard dengan cukup keras. GGRRR!! Dua puluh lampu hijau kecil di samping kotak CPU berdebu itu menyala terang. Artinya ada dua puluh orang yang jadi korban salah sasaran dari serangan yang tadi Aden kerahkan. Lima belas main game, sisanya cuma googling, dan mungkin ada yang diam-diam nonton film biru 18 plus. Riuh rendah suara mereka berperang dengan keributan di dalam kepala Aden. Aden hampir kehilangan fokus. Baginya, Devy tetap di atas segalanya. Apalagi kalau dibandingkan para bocil di sini. Kesal game-nya keluar sendiri, satu bocah memundurkan kursi dengan kesal, berdiri, lalu bergegas menuju meja kasir. “Kak, billing bilik 12 matikan aja!” si bocah memberengut kesal. Mata Aden tetap fokus mengawal ratusan kode yang berlalu-lalang. “Sabar, Dek. Ini lagi nambal firewall Seoul.” Aden keceplosan. Bocah ingusan itu malah semakin kesal. “Sok-sokan ngomongin Firewall pula. Ngurusin sinyal lagi gak becus! Ini duitnya. Malas aku main di sini lagi.” Sekilas lirikan mata Aden menangkap langkah kaki bocah tadi kemudian kembali melanjutkan pekerjaan. ‘Hm. Tinggal satu serangan pamungkas!’===== [THE CARBON - BOUNTY BOARD :: TIER BRONZE] MISSION ID : #BRZ-8809-PLM TARGET : Devy [K-AI Corp - Lead Product Manager] VECTOR : Physical Reconnaissance & Local Sniffing LOCATION : Palembang, Indonesia (Local Coordinates Attached) ----------------- OBJECTIVE : 1. Deploy local Bluetooth ARP Spoofing / Wi-Fi MitM at target's proximity. 2. Intercept & exfiltrate local authentication tokens from target's device. 3. DO NOT ENGAGE SPEECH OR PHYSICAL CONTACT. REWARD : 0.05 BTC (~$3,200 USD) STATUS : CLAIMED BY [USER: BRONZE_BLUEX] ======= Aden kembali masuk ke rombongan. Riko tak henti ketawa sampai memegangi perut. “Astaga! Den, Den. Apa pula kau ini? Ada-ada aja! Rupanya kau ya anak kecil yang suka berdiri di pinggir jalan sambil teriak ‘Om Telolet Om’. Hahaha.” Seseorang menimpali. “Memang badut. Seperti jam tangannya. Lucu.” Seperti biasa, ketika terpojok dan tertekan, Aden berusaha tidak ambil hati. Sakit, tapi tetap dibawa hepi. Dia malah berdiri di samping Devy
Dan waktu itu pun tiba. Sabtu malam di pelataran Benteng Kuto Besak. Sebuah kawasan yang ramai kalau tiba libur akhir pekan. Di sana air Sungai Musi beriak-riak, menimbulkan gelombang kecil, menghanyutkan perahu ketek yang sedang melawan arus. Tak jauh di sana, Jembatan Ampera menjulang gagah, ikon kota yang sangat terkenal dan melegenda. Aden berjalan di tengah kerumunan orang-orang, menuju salah satu restoran ternama di Palembang : Riverside. Ketika di parkiran, tiga orang berbadan besar mengawasi Aden dengan pandangan penuh curiga. Mereka berpakaian serba hitam, berkaca mata, dan mungkin menyimpan senjata api. Melirik sekilas, Aden segera masuk ke area restoran. Suara ombak kecil terdengar saat Aden melewati jembatan besi yang menghubungkan lorong restoran menuju kapal terapung. Di sana lah Devy dan belasan teman SMA lainnya sudah berkumpul di satu meja bundar besar. Riko berdiri sambil bertelekan pinggang. Dengan raut wajah angkuh Riko berkata dengan nada menyindir, “Oh, t
“Aku punya info lain lagi…. Kau sampai memakai NIK KTP anggota keluarga mu supaya dapat pinjaman online.” Aden mengoles dagu. “Apakah ini lebih baik dari pada penjaga warnet?”Mereka berempat tercengang. Dari mana Aden tahu semua informasi itu?Kalau Aden mengarang cerita, seharusnya Ujang marah dan protes, tetapi Ujang malah kikuk dan diam seribu bahasa.Lagipula semua teman tongkrongan tahu bahwa Ujang memang penjudi dan pelaku pinjol. Hanya saja mereka tidak tahu sampai sedetail itu.Aden tidak perlu menekan tombol atau mengusap layar agar layar menampilkan data baru.Hebatnya, dia cukup memberikan perintah lewat pikirannya saja. Cukup bicara dalam hati, data terenkripsi langsung terbaca otomatis di jam tangan plastik murahan bermotif badut di tangannya.“Apa perlu aku sebutkan riwayat judi dan pinjol selama dari awal main sampai hari ini?”Ujang sontak bereaksi. “Jangan! Jangan! Jangan! Dek Aden, kau tidak perlu bicara lagi. Cukup. Aku minta maaf atas ucapanku tadi.”“Juga yang ke
Aden benci media sosial, tapi lebih benci lagi terhadap dunia nyata.Baginya, keduanya sama-sama menyeramkan dan menyakitkan.Di media sosial terlalu banyak penipuan, pamer, kebohongan, sandiwara, kesombongan, kemunafikan, hoaks, kedengkian, ironi, dan rasa haus validasi.Media sosial menyetir orang-orang agar mereka selalu tampil bagus. Menutupi aib dan celah, lalu menggantinya dengan kesempurnaan yang padahal itu hanyalah konten palsu.Mereka terjebak di dalam kehendak kosong yang sebenarnya tidak berguna. Memamerkan sesuatu yang sebenarnya tidak perlu dipamerkan.Aden benci Facebook, Instagram, apalagi Tiktok.Sedikit sekali pelajaran dan manfaat yang bisa diambil di sana, kecuali menimbulkan iri dan mematahkan semangat.Ah, Aden tidak suka berlomba-lomba untuk jadi yang terbaik hanya demi validasi dan popularitas.Tapi sebenci-bencinya Aden dengan dunia maya, dia lebih benci dengan kehidupan nyata.Jika di media sosial orang-orang bisa bersembunyi untuk melakukan kejahatan, maka d
Mang Bowo sempat bercita-cita ingin jadi tentara walaupun akhirnya dia selalu gagal. Skill menembak dan membunuhnya dia tuangkan di dalam PB dan PUBG.Meski fisik dan wajahnya tidak meyakinkan, tapi Mang Bowo sangat jago dalam berbagai permainan di warnet miliknya sendiri.Pas ‘mabar’, para bocil di sana dibuat terkagum-kagum berkat skill kelas dewa miliknya.Para bocil di sana kerap berteriak :“Mang Bowo GG!”“Mang Bowo GG!”Ketika mendengar lolongan dan pujian para pendengarnya, Mang Bowo langsung menyetel musik disko haram yang dilarang MUI lalu berjoget ria ala pecandu media sosial di Tiktok.Dulu nama warnetnya adalah Warnet Bowo. Tapi sudah berubah nama mungkin sejak lebih dari tiga tahun lalu. Jauh sebelum adanya program makan gratis yang diadakan pemerintah, entah siapa nama presiden Konoha yang punya ide itu.Warnet MBG tidak begitu terkenal di Palembang. Kendati begitu, pelayanan di sini dapat rating 4,9. Pelayanannya cukup bagus dan jarang terjadi kendala.Para bocil jaran
====== [SUDO] CARBON_NET_SINKHOLE :: INITIATED BY ACE OF SPADES ====== [+] PURGING 42.8 Gbps BOTNET TRAFFIC... [SUCCESS] [+] REVERSE ROUTING TO NULL INTERFACE... [DONE] [+] TARGET [K-AI_SEOUL_NODE_01] RESTORED [100%] ===== [ALL ATTACK VECTORS NEUTRALIZED] MESSAGE TO ATTACKERS: "Amateur DDoS. Traffic rerouted, nodes incinerated. Go back to school." -- ACE OF SPADES -- ===== Saluran yang tadi macet kini jadi normal kembali. Suara Devy mampu terdengar lagi. Dan layar Big Tech raksasa yang menampilkan presentasi di belakang Devy muncul tulisan : [SYSTEM SECURE] Ace of Spades Lalu layar menampilkan foto dan tulisan tentang Hexa AI. Para tim ahli menyampaikan pada para petinggi perusahaan bahwa semua sudah benar-benar terkendali. Tim media mengangkat dua jempol lalu kembali bertugas. Di atas panggung mewah, Devy menghela napas lega sambil mengelus dada. Tadi adalah dua puluh detik yang sangat amat menegangkan dalam hidupnya. “Syukurlah. Terimakasih, Tuhan, sud







