Mag-log inCatatan: Kila tidak menggunakan lilin rumahan atau lilin paraffin biasa yang suhunya bisa mencapai 60 ∘C dan melepuhkan kulit. Lilin merah ini adalah lilin khusus berformula minyak nabati yang aman untuk tubuh, dirancang memberikan rasa hangat menyengat yang meleleh menjadi minyak pijat.
***"Kila?!"Baru saja Kila memutar badan hendak meninggalkan area bank berlogo biru itu, seseorang memanggil namanya.Seorang pria berperawakan tegap dengan seragam bank berdiri di depan pintu. Sebuah name tag bertuliskan jabatan Manager tersemat di dadanya.Kila mengenal pria berwajah campuran oriental itu."Andrian?"Pria yang dulu pernah dijodohkan oleh kedua orang tuanya."Kamu mau mengantre?" tanya Andrian. "Sekarang lagi tidak bisa. Jaringannya sedang gangguan."Kila menghela napas kecewa. Berarti tidak ada bantuan internet di sini."Apa kabar, Kila? Kamu kerja di dekat sini?""Kabar baik," jawab Kila. "Kantorku sekitar 300 meter dari sini.""Wah, dekat berarti."Kila mengangguk. "Aku baru tahu kamu kerja di bank sini.""Ah, aku baru rotasi. Baru satu minggu di sini.""Oh …" Kila kembali mengangguk, lalu spontan melihat ponselnya. Melihat jam dan internet mati."Ayo, masuk saja. Biar ngadem," ajak Andrian."Tidak usah, Andrian. Aku harus keliling lagi," tolak Kila berdengus."K
***Kila mengacak rambutnya. Internet kantor sedang bermasalah sejak pagi. Kemarin dia sempat membaca berita tentang kabel jaringan optik bawah laut yang putus hingga koneksi internet di berbagai wilayah ikut terdampak. Bahkan sinyal di ponselnya pun kumat-kumatan."Gila, memangnya ini salah kita? Kenapa kena imbasnya?" keluh Kila."Ya, mau bagaimana lagi," celetuk Lina dari meja seberang. "Mana seminggu lagi gajian. Masa aku harus ngurus penggajian secara manual, sih?"Kila bisa membayangkan betapa rumitnya pekerjaan Lina. Beruntung, pekerjaannya sendiri tidak berhubungan dengan uang, hanya saja dia harus memastikan email dan komunikasi dengan vendor tetap berjalan."Ya, semoga cepat diperbaiki, deh.""Coba kamu minta pasang Starline sama Pak Aksara.""Starline?""Iya, yang punya Spaceeks itu, loh. Internet satelit," sahut Lina."Oh, site biasa pakai itu, tapi harus jauh-jauh hari ordernya."Kila menoleh ke arah ruang kerja Aksara. Dari balik kaca, pria itu tampak tak kalah kusut. Ak
⚠️CONTENT WARNING:Bab ini mengandung unsur Explicit Sexual Content yang intens, BDSM/Kink, FemDom (Female Dominance), Kekerasan Fisik, Masokisme, Borgol, manipulasi, Sensory Erotic Stimulation. Mohon pertimbangkan kebijakan Anda sebelum melanjutkan membaca.***Begitu suara borgol jatuh di lantai, Aksara yang terbebas langsung menyambar tubuh Kila dan menariknya kasar ke atas pangkuan. Pria itu tak membuang kesempatan untuk merebut kendalinya."Waktumu sudah habis, Sayang," gumam Aksara serak.Lengan kekatnya langsung melingkar kencang, mengunci tubuh telanjang Kila agar tak bergeser dari pangkuannya. Tatapan Aksara sempat tertahan sejenak pada bekas gigitan Kandi. Sebenarnya, amarahnya membakar hebat, tapi dia memilih tak ingin merusak momen intim ini.Aksara tak lagi menahan diri. Pria itu merunduk, melumat puncak dada Kila seraya menghirup dalam-dalam wangi kulit wanita itu yang bercampur sabun dan keringat. Aroma itu seperti racun, menyulut habis seluruh gairah yang sejak tadi di
⚠️CONTENT WARNING:Bab ini mengandung unsur Explicit Sexual Content yang intens, BDSM/Kink, FemDom (Female Dominance), Kekerasan Fisik, Masokisme, Borgol, manipulasi, Sensory Erotic Stimulation. Mohon pertimbangkan kebijakan Anda sebelum melanjutkan membaca.***"Anak kucingku, aku sudah bilang permainan kita baru saja mulai," bisik Kila sementara ujung jarinya masih mengusap area paling sensitif Aksara yang berdenyut.Kila berdiri tegak, menyapu ke belakang beberapa helai rambut basah yang menempel di dahinya. Dengan tatapan bak seorang pemenang, dipandanginya tubuh Aksara yang terkulai lemas pasca klimaks—posisi bokongnya terangkat, dengan paha yang gemetar dan terbuka lebar."Hadiahku ternyata cepat sekali keluar, hm?" bisik Kila sambil terkekeh.Kila menikmati ketidakberdayaan pria itu. Tanpa mengalihkan pandangannya dari Aksara, jarinya mulai meloloskan satu per satu kancing pakaiannya. Piyama itu jatuh di atas lantai—isyarat bahwa permainan ini akan naik ke level berikutnya.Kila
⚠️CONTENT WARNING:Bab ini mengandung unsur Explicit Sexual Content yang intens, BDSM/Kink, FemDom (Female Dominance), Kekerasan Fisik, Masokisme, Borgol & Sabetan Kulit, Wax Play (Lelehan Lilin Merah), Sensory Erotic Stimulation. Mohon pertimbangkan kebijakan Anda sebelum melanjutkan membaca.***"Ayo, ucapkan terima kasih dengan sopan!"Aksara bingung, tetapi akhirnya mengatakan apa yang seharusnya dikatakan."Te-terima kasih, Kila … sudah memberitahuku posisi yang benar."Kila terkekeh, suaranya renyah, begitu kontras dengan sikapnya yang tanpa belas kasihan. Perlahan, dia mengangkat kakinya dari tengkuk Aksara."Pintar."Aksara tidak berani mengubah posisinya, tetap berlutut dengan napas yang masih menderu. Dari sudut matanya, dia melihat Kila kembali ke meja, mengambil lilin merah, lalu menyalakannya.Aroma khas lilin perlahan menyeruak. Nyala api kecil menari di ujung sumbu.Kila memiringkan wajahnya."Panas lilin ini akan membuatmu ketagihan," bisiknya seraya melangkah mendekati
⚠️CONTENT WARNING:Bab ini mengandung unsur EKSPLISIT BDSM/Kink, Dominasi Fisik, Penggunaan Alat, Kekerasan Fisik, Masokisme (Rasa Sakit yang Memicu Gairah), serta Sensasi Tercekik.Pembaca diharapkan bijak dan tidak untuk ditiru.***"Dengarkan aku. Putar tubuhmu menghadap kursi, lalu letakkan kedua tanganmu di belakang pinggang!"Aksara tidak mengerti kenapa dia harus menghadap kursi. Namun, dia memilih untuk menurut.Dia membalikkan tubuhnya, lalu berlutut menghadap kursi. Kedua tangannya ke belakang pinggang, mengikuti perintah Kila."Hmmm… Aksara, tubuhmu terlihat sangat bagus dari belakang."Aksara seketika membeku saat mendengar suara gemerincing logam di belakangnya.Kila kembali mendekat seraya memutar-mutar sepasang borgol di jemarinya. Senyum tipis terukir di bibir ranumnya."Mari kita mulai bermain."KLIK—!Tanpa aba-aba, Kila mengunci borgol itu pada kedua pergelangan tangan pria tersebut.Aksara tersentak. Dia ingat betul, borgol itu dulunya pemberian Raynar—dan Kila-lah







