Share

2. Menolak Fakta

last update Last Updated: 2022-07-06 16:27:31

Sepanjang perjalanan pulang, aku dan Mas Andra hanya diam tanpa bicara. Pikiranku berkecamuk. Mulut memang tak bersuara tapi di kepalaku penuh dengan pertanyaan dan perdebatan. Ada badai yang menghantam dan meluluhlantakkan kepercayaan yang selama ini aku bangun untuk Mas Andra.

Aku ingin cepat sampai ke rumah, agar bisa mengeluarkan semua uneg-uneg yang ada. Kepala terasa berdenyut seakan ingin pecah.

“Pelan-pelan, Naira. Jangan ngebut! Di depan sana lampu merah!” tegur Mas Andra. Ia terlihat sedikit gemetar saat memegang sabuk pengaman dengan erat.

Aku terkesiap saat tahu kalau tanpa sadar sudah memacu mobil dengan kecepatan di atas rata-rata. Untunglah aku masih sempat menurunkan kecepatan begitu mendekati lampu merah. Badan Mas Andra terhuyung ke depan saat kakiku menginjak rem sedikit mendadak.

Terlintas lagi apa yang terjadi di rumah sakit tadi. Setelah melakukan pengecekan dan tes darah, tentu saja hasilnya keluar dan aku dinyatakan sehat. Mungkinkah ini salah satu cara Tuhan menjagaku dari bahaya? Mas Andra belum sempat menyentuhku sama sekali karena ia sedang sakit dan juga aku sedang berhalangan. Seandainya kemarin kami bercampur sebagai suami istri, mungkin ceritanya akan beda lagi.

Rasa tak sabaran memuncak karena detik-detik yang berlalu di lampu merah terasa begitu lama. Aku berulang kali menoleh ke luar jendela, mencoba untuk mengalihkan pikiran. Kalau saja tak memikirkan sedang berada di rumah sakit, mungkin tadi Mas Andra sudah habis aku kuliti dengan pertanyaan. Dua buah map hasil tes lab dan setumpuk obat-obatan untuk Mas Andra, aku taruh begitu saja di bangku belakang.

Lampu hijau menyala, aku segera memacu mobil dengan kecepatan sedang-tinggi. Jika tadi pagi kami lalui jalan ini dengan rasa damai, maka saat ini sebaliknya. Tunggulah saat kita sampai di rumah nanti, Mas!

*

“Lama sekali, sih! Mama capek ngurusin Fadil. Banyak maunya!” protes Mama mertua saat kami turun dari mobil.

Fadil yang melihatku, langsung berlari dan memeluk. Bocah berumur empat tahun itu sengaja tak aku bawa serta ke rumah sakit, karena rasanya kurang aman.

“Maaf, Ma. Tadi antri di sana,” jawab Mas Andra, sambil melirikku sekilas.

“Halah, alasan aja kalian! Jangan-jangan kalian habis jalan-jalan, ya? Sengaja ninggalin Mama buat jagain Fadil!”

Sungguh muak sekali aku mendengar tuduhan Mama. Andai ia tahu apa yang sudah terjadi di rumah sakit. Apakah mulutnya yang cerewet dan suka asal bicara itu masih akan terus merepet?

“Nggak, Ma. Tadi emang beneran rame di rumah sakit! Gak mungkin lagi sakit gini jalan-jalan,” balas Mas Andra yang segera mengambil amplop dan obatnya dari dalam mobil.

“Ahh, pokoknya Mama capek! Kalian beli makanan, gak?” tanya Mama lagi, lehernya menjulur-julur dan matanya jelalatan melihat ke dalam mobil.

“Nanti Andra pesan Gofood, Ma. Tadi gak sempat mampir ke mana-mana.”

Mama menghentakkan kaki dan melirikku sinis. Aku hanya diam, lantas mengajak Fadil masuk ke kamar. Mama masih terus mengoceh ini dan itu, seperti biasa. Padahal di dapur sudah aku siapkan makanan yang cukup. Kulkas pun penuh berisi. Tak pernah aku menyia-nyiakan Mama mertua meskipun ia tak pernah menghargaiku sampai detik ini.

“Fadil tadi gak nakal kan, sama Oma?” tanyaku pada Fadil sambil mengusap rambutnya yang hitam legam.

Bocah berwajah mirip Mas Andra itu menggeleng pelan. Matanya sendu dan sedikit berkaca-kaca. Entah apa yang terjadi di rumah selama aku tinggalkan ia bersama Mama. Biasanya aku tak pernah meninggalkan Fadil ke manapun pergi. Hanya saja, tadi aku benar-benar terpaksa.

“Ta-tadi, Fadil minta masakan mie sama Oma … tapi ….” Bibir mungilnya bergetar, Anak lelakiku yang tampan itu tertunduk dalam.

Aku segera berjongkok sambil memegang bahunya. “Hey, lihat Bunda, Sayang. Terus gimana tadi? Dibikinin gak, sama Oma?” Aku mengusap pundaknya lembut.

Kepalanya menggeleng pelan. Tangannya menyeka mata yang sedikit basah. Ya Tuhan, anakku menangis?

“Oma malah marah-marah …. Ka-kata Oma, Oma capek ngasuh Fadil. Fadil banyak maunya. Fadil disuruh tunggu Bunda, gak boleh keluar kamar ….”

Usai mengucapkan kalimat itu, isakannya terdengar. Aku segera memeluknya dengan lembut. Tega, sungguh tega Mama memperlakukan cucunya sendiri seperti ini. Padahal, Fadil adalah anak yang sangat penurut. Ia tak pernah membuat masalah besar walaupun masih berumur empat tahun. Ia hanya minta dibuatkan mie saja tapi Mama tega berbuat dan berkata begitu? Dadaku bergemuruh.

“Gitu ya, Sayang? Ya udah, maafin Oma ya. Mungkin tadi Oma lagi bener-bener capek. Bunda juga minta maaf, tadi lama temenin Ayah berobat.” Aku terus mengusap lembut punggung Fadil. Isakannya mereda.

“Iya, Bunda … gak apa-apa. Fadil seneng Bunda sama Ayah udah pulang,” ucapnya dengan senyum terkembang.

Ah, anakku yang tampan. Betapa Bunda sayang padamu, Nak. Semoga kamu tumbuh menjadi sosok lelaki yang pengasih dan jujur.

“Sekarang, Fadil masih mau mie, gak? Kalau mau, Bunda bikinin! Tapi Bunda mandi, trus ganti baju dulu, ya?” Tanganku mencolek-colek pinggangnya, membuat Fadil terkikik geli.

Wajah lelaki kecilku seketika sumringah. Matanya berbinar-binar menunjukkan rasa gembira.

“Oke, Bunda! Fadil mau!” teriaknya riang.

*

“Obatmu sudah diminum, Mas?” tanyaku acuh tak acuh pada Mas Andra yang meringkuk di atas ranjang.

Ia membuka mata, menatap wajahku. Entah seperti apa perbincangan ini harus aku mulai. Mas Andra tampaknya sama sekali tak berniat memberikan penjelasan mengenai kondisinya.

“Su-sudah, Dek,” jawabnya gugup. Gelagat Mas Andra seperti orang yang sedang gelisah.

Aku menatapnya tajam. Menelisik sosok itu dari ujung kepala sampai ujung kaki. Ia terlihat baik-baik saja, terlepas dari ruam-ruam dan gejala lain yang dialaminya.

“Menurutmu, apa kita tidak perlu bicara, Mas?” desisku, beranjak untuk duduk di depan meja rias.

“Bi-bicara apa, Nai?”

“Masih berlagak bodoh kamu, Mas? S-I-F-I-L-I-S. Bagaimana penyakit itu bisa hinggap di tubuhmu? Bisa jelaskan?”

Tatapan kami bersiborok. Ada rasa takut dan sedih di mata Mas Andra. Entah apa yang ia lihat di dalam mataku? Mungkin bara api. Bibirnya terbuka, seperti ingin mengatakan sesuatu, kemudian mengatup lagi. Sungguh membuatku tak sabaran.

“Gak ada penjelasan dari kamu, Mas? Ayolah, kenapa bisa begini?!” desakku.

“Mas be-benar-benar gak tau, Nai! Bisa jadi diagnosa dokter Budi salah! Atau hasil tes Lab-nya yang salah! Entahlah!” jawabnya sembari mengusap wajah dengan kasar.

Aku tersenyum kecut dan menggelengkan kepala. Mas Andra masih saja bersikeras kalau dokter Budi salah. Bahkan tadi di rumah sakit, ia sungguh marah tak terima.

“Mas pikir kenapa tadi kita direkomdasikan untuk menemui dokter Budi saat konsultasi di poli umum? Beliau adalah salah satu dokter spesialis kulit dan k*lamin terbaik di kota ini, Mas!” tandasku, berusaha untuk tak berbicara terlalu kencang.

“Jadi, maksud kamu apa, Nai?” Mas Andra memandangiku lekat.

“Maksudku, kemungkinan kalau diagnosanya salah itu sangat kecil, Mas! Hasil Lab pun tak mungkin tertukar. Untuk menuduh mereka tidak profesional, menurutku terlalu mengada-ada!”

Aku mulai menyisir rambut dengan pelan. Mencoba sekuat tenaga untuk tetap tenang menghadapi situasi ini. Situasi yang aku pun tak tahu apa namanya. Kacau? Menyedihkan? Entahlah. Yang jelas, suamiku menderita penyakit k*lamin yang ia sendiri bahkan tak tahu dari mana asalnya. Bukan, sepertinya bukan tak tahu. Aku yakin Mas Andra punya jawabannya, ia hanya mencoba untuk mengelabuiku saat ini.

“Ya … bi-bisa saja, kan? Dari 100 persen itu, pasti ada kemungkinan salah meski hanya 0,0001 persen saja!” Mas Andra masih bersikeras.

Aku hanya bisa melengos mendengar jawaban Mas Andra. Tampak sekali kalau ia sedang membela diri. Apa yang kau tutupi, Mas?

“Oke, oke kalau begitu. Aku terima kalau Mas gak yakin. Jadi, besok bersiaplah, kita akan periksa di dua rumah sakit lainnya sebagai pembuktian dan perbandingan. Kita lihat hasilnya seperti apa!” tantangku.

Mata Mas Andra melebar sempurna. Tangannya mencengkeram selimut dengan erat. Ia seperti kucing yang sedang ketakutan, berlindung di balik selimut tebal yang menutupi tubuhnya.

“A-apa perlu sampai begitu, Nai?” tanya Mas Andra tergagap.

Aku mengamati bayangan Mas Andra dari pantulan cermin.

“Lho, kenapa? Bukankah Mas sendiri yang gak percaya sama dokter Budi? Berarti sebaiknya kita periksa lagi ke dokter lain, kan? Biar yakin betul, penyakit apa yang sedang bersarang di tubuhmu.” Dahiku berkerut.

Hening. Tak ada jawaban dari Mas Andra. Ia hanya diam membisu. Wajahnya tertunduk dalam. Andai aku tahu apa yang sedang ia pikirkan sekarang.

“Ng-nggak usah, Nai … Mas bakal minum obat dari dokter Budi,” ucapnya kemudian, nyaris tak terdengar.

“Mas yakin?”  Ia mengangguk lemah, masih tak berani membalas tatapanku.

“Oke, kalau begitu. Aku anggap Mas terima dengan hasil diagnosa dan tes lab. Berarti hanya tersisa satu pertanyaan lagi dariku, Mas. Aku harap kamu menjawab jujur!” Kali ini aku beranjak dari depan meja rias.

Perlahan aku dekati ranjang. Mas Andra menatapku nanar. Badannya terlihat sedikit gemetar. Ia benar-benar sedang dilanda kecemasan.

“A-apa, Nai?” cicitnya.

“Dari siapa dan di mana kamu dapatkan penyakit itu, Mas?”

***

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Ida Nurjanah
dari Pelacur lah ....mungkin andra jajan selama 4 bln .ga bisa nahan nafsu nya .
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Hadiah Pahit dari Suamiku   62. Lembaran Lama dan Lembaran Baru

    Tak jauh dari sebuah losmen melati, mobil terparkir. Aku tak sendirian di sana, melainkan ditemani oleh Abah dan juga Mas Anton. Beberapa polisi yang mengenakan pakaian seperti preman pun sudah bersiap di depan sebuah pintu kamar yang diduga merupakan tempat persembunyian Mas Andra dan Mbak Della.Setelah berapa hari mencoba melacak keberadaannya, akhirnya semua semakin terang dan jelas saja. Penjaga losmen itu pun sudah mengaku kalau memang ada sepasang laki-laki yang ciri-cirinya sama seperti orang yang kami cari.Liciknya, untuk menginap di losmen itu, mereka tidak perlu memberikan jaminan kartu identitas. Cukup bayar dua kali lipat saja dan mereka sudah bisa menginap.“Gimana, Bah? Mereka udah bergerak?” tanyaku, dengan keringat di pelipis dan telapak tangan. Jujur saja aku gugup dengan rencana penangkapan ini.“Sepertinya sudah, Nai. Itu mereka mulai ketok-ketok pintunya, tapi gak dibukakan,” ucap Abah yang sampai sengaja membawa teropong kecil agar bisa menyaksikan semuanya.Ke

  • Hadiah Pahit dari Suamiku   61. Buronan

    Mama harus menghadapi kenyataan bahwa dirinya menderita stroke setelah pingsan mendengar apa yang terjadi pada anak kesayangannya kemarin. Perempuan itu terus meneteskan air mata walaupun mulutnya tidak berbicara sama sekali.Aku antara tega tak tega melihatnya, sebab sejujurnya hatiku jauh lebih sakit lagi. Sampai detik ini pun, dua hari setelah ketahuan dengan kelakuan bejatnya, laki-laki yang masih berstatus sebagai suamiku itu tidak juga menunjukkan itikad baik sama sekali.Akhirnya Mas Andra resmi berstatus menjadi buronan setelah kami memasukkan laporan ke pihak kepolisian. Nomor ponselnya dan mbak Della tidak bisa dihubungi sama sekali, mungkin mereka sengaja agar tidak bisa dilacak keberadaannya.Aku kembali mendesah, menatap Mama yang terus melihat ke arah plafon yang berwarna putih. Tubuhnya terbaring lemah, dengan mulut sebelah kiri yang timpang. Sejak kemarin dia tidak bersuara sama sekali. Hanya helaan nafasnya saja yang sesekali terdengar.Sebenarnya aku sangat enggan be

  • Hadiah Pahit dari Suamiku   60. Beban Baru

    “Nai, Naira! Bangun, Nak!”Perlahan aku membuka mata di saat mendengar suara abah yang diiringi dengan tepukan pelan di pipi. Kepala ini terasa begitu berat seperti habis tertimpa benda yang besar.“A-abah …,” ucapku dengan suara parau.Abah mendesah pelan. “Syukurlah kamu udah sadar, Nai. Abah khawatir sekali pas datang tadi, lihat kamu terkapar di lantai. Hampir putus nyawa abah, Nai,” bisiknya.Ternyata kami tak hanya berdua saja di sana. Sudah ada Pak RT dan beberapa tetangga yang semuanya berkumpul di ruang tamu, sementara aku dibaringkan di atas sofa.Saat mencoba bangkit, aku mengernyit merasakan pedih di bagian pelipis. Entah sekeras apa Mas Andra menghantamku tadi. Bajing@n itu benar-benar tidak punya hati.“Berbaring aja kalau pusing, Nai. Gak usah dipaksakan duduk,” sergah Abah dengan suara bergetar. Aku yakin kalau dia pasti panik sekali di saat mendapati putrinya seperti sudah tidak bernyawa.“Gak apa-apa, Bah. Gak enak kalau Nai baring terus sementara banyak orang.”Deng

  • Hadiah Pahit dari Suamiku   59. Tak Mau Disalahkan

    Plak! Sebuah tamparan keras mendarat di wajah mulus Mbak Della. Aku sampai sedikit terperanjat, tak menyangka Mas Andra akan sekasar itu. Padahal tadi dia memanggil Mbak Della dengan panggilan ‘Sayang’.“M-mas, kamu nampar aku?” tanya perempuan itu dengan suara bergetar.“Tutup mulut busukmu itu, Della! Sejak kapan aku merayu kamu, hah? Kamu aja yang keganjenan setiap hari godain aku! Termasuk hari ini tadi!” geram Mas Andra seolah dialah yang paling benar.Aku hanya berdiri mematung menyaksikan pertengkaran di antara pasangan tak halal itu. Rupanya Mas Andra benar-benar pengecut dan ingin membuatku percaya kalau yang salah hanyalah Mbak Della.“Kamu keterlaluan, Mas! Bu Naira, saya berani sumpah kalau kami melakukan ini atas dasar suka sama suka! Saya gak bohong, Bu!” teriak Mbak Della setengah menangis.Aku manggut-manggut mendengarkan keluhannya. Kenapa sekarang menangis? Tangan Mas Andra kembali terangkat ke arah wajah Mbak Della. Saat itu juga aku bersuara.“Cukup, Mas! Kamu bole

  • Hadiah Pahit dari Suamiku   58. Tepat di Depan Mata

    Apakah ini hari di mana pernikahanku dan Mas Andra akan berakhir sepenuhnya? Kurasa, setelah ini nanti, dia tak akan punya kekuatan lagi untuk mengelak. Bukannya aku senang karena Mas Andra terbukti melakukan hal yang tidak senonoh, tetapi itu memang perbuatan yang dia lakukan sendiri dalam keadaan sadar dan tanpa tekanan dari siapapun. Tak ada yang memaksanya untuk bertindak tidak terpuji dengan Mbak Della. Bahkan, yang membawa perempuan itu ke rumah ini adalah Mama dan Mas Andra sendiri. Setelah aku mengirimkan rekaman yang pertama, Abah sempat mencoba menelpon, tetapi aku tolak. Meski demikian, aku segera mengirimkan pesan padanya. [Bah, Nai mau gerebek Mas Andra hari ini. Jangan telpon dulu ya, Bah. Nanti Nai kabari lagi] Aku tahu kedua orang tuaku di sana pasti khawatir. Sejujurnya aku pun tak tahu bagaimana reaksi Mas Andra nanti. Aku harus siap dengan segala kemungkinan terburuk. [Kamu hati-hati, Nai. Abah akan nyusul kamu ke sana sendirian. Biar Fadil sama umimu di rumah]

  • Hadiah Pahit dari Suamiku   57. Berduaan dengan Della

    (PoV Andra)“Kamu itu jadi suami yang tegas sedikit sama Naira! Lihat dia semakin ngelunjak aja!” omel Mama setelah Naira dan Fadil berlalu dengan mobil.Aku menghembuskan napas berat. Sebenarnya malas sekali mendengarkan omelan Mama seperti ini. Namun, aku juga tak kuasa untuk menahan Naira. Mobil itu memang miliknya, aku gunakan bekerja setiap hari.Jadi, di akhir pekan jika dia mau menggunakan kendaraan roda empat itu, aku tak bisa mencegah. Apalagi kalau hanya sekedar untuk mengantar Mama arisan.“Sudahlah Ma, kan udah Andra bilang, nanti Andra bayarin uang taksi. Pokoknya Mama tenang aja!” ucapku berusaha meredakan emosi Mama.Wajahnya masih memerah dan ditekuk sedemikian rupa. Terlihat jelas kalau Mama marah dan kesal. Mau bagaimana lagi?“Bukan masalah itu, Andra! Lihatlah kamu gak punya wibawa sebagai suami! Naira itu gak kerja apa-apa di rumah! Kerjanya ongkang-ongkang kaki aja! Main sama Fadil! Makan, tidur! Tapi masih aja kamu kasih uang belanja!” Mata Mama melotot saat m

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status