Beranda / Romansa / Hai Om, Aku Calon Istrimu! / Cerminan Langit dan Bumi

Share

Cerminan Langit dan Bumi

Penulis: Syamwiek
last update Terakhir Diperbarui: 2025-10-28 09:41:22

Aku pikir Om Kais akan membawaku ke ruangan tempat Dokter Naufal disidang. Ternyata tidak. Dia malah menyeretku ke lokasi pembangunan taman baru di area belakang rumah sakit.

Panas terik dan debu bercampur jadi satu, membuatku menyesal tidak membawa payung. Aku bahkan sempat berpikir untuk nyebur ke danau buatan yang mulai diisi air di sisi kanan proyek.

Om Kais benar-benar sulit ditebak. Setiap gebrakannya selalu sukses membuatku shock.

“Minum dulu, Bin,” ujar Kak Rayhan sambil menyodorkan segelas es teh dalam cup plastik.

Aku langsung menyambutnya dengan penuh rasa syukur. “Terima kasih, Kak. Ya ampun, panas banget sih!”

Aku meneguk setengah isi cup sekaligus, lalu mendesah lega.

Kak Rayhan terkekeh pelan. “Jangan salah paham sama Pak Kais, ya.”

Aku menatapnya datar. “Mana pernah sih aku salah paham sama Om Kais? Pokoknya, dia tuh nggak pernah salah di mataku.”

Kak Rayhan mendengkus sambil tersenyum miring. “Dasar bucin!”

Aku mengangkat dagu tinggi-tinggi, sok kuat. “Haha! Meskipun
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (23)
goodnovel comment avatar
Sri Yati
kamu itu sebenarnya nyenengin banget bin.. tapi bisa ngak jangan terlalu over ngejar om kais, endingnya om kais illfeel
goodnovel comment avatar
yesi rahmawati
Tetap ya bin berasa di awan kalau dapat sentuhan dari kais
goodnovel comment avatar
Almira Larasati
Kasian banget Binar jadi bahan omongan di kampus sama rumah sakit cuman gara" ulah Alya
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Hai Om, Aku Calon Istrimu!   Ekstra Part 1

    “Saga, Jangan lari-lari! Nanti jatuh!”Aku berteriak sambil mengejar Sagara yang berlari menuju bibir pantai. Anak itu kalau di suruh lari kencang sekali!“Ibu, Saga mau main pasir,” jawabnya tanpa menoleh ke belakang. Di umur lima tahun, Sagara tumbuh menjadi anak yang sangat tampan. Wajahnya duplikat Mas Kais, hehe… sekarang panggilanku berubah. Rambutnya hitam lebat, mata tajam, hidung mancung, kulit putih bersih. Sampai sifatnya pun menuruni Ayahnya, cuek dengan orang tak dikenal dan hangat dengan keluarga.“Saga, tunggu Ibu!” Nafasku sudah mulai ngos-ngosan mengejarnya. Mas Kais yang membawa tas piknik terkekeh di belakang. Jalannya santai banget—selalu begitu kalau aku sedang panik mengejar putranya. “Sayang, kamu kurang olahraga. Masak lari kalah sama Saga.”“Mas!” protesku. “Kamu aja yang ngejar dia. Aku capek banget!”Sebelum mengejar Sagara, Mas Kais menaruh tas piknik terlebih dulu, memintaku agar menatanya.“Maaf merepotkan Ibu,” ujarnya sambil mengecup pipiku. “Hmmm,”

  • Hai Om, Aku Calon Istrimu!   Malaikat Kecil

    “Aduh, sakit banget, Mas!”Aku berteriak kesakitan saat kontraksi datang kembali. Perutku rasanya kencang sekali kayak mau pecah.“Sabar, Sayang.”Om Kais memelukku sambil mengusap keringat di pelipisku. Menunggu perawat datang membawa brankar.Tak lama kemudian, Mama Maya datang dengan langkah lebar. Beliau masih memakai scrub hijau—sepertinya baru selesai operasi caesar pasiennya.“Ayo dipindahkan ke brankar, Kais,” ujar Mama Maya saat dua orang perawat datang. “Pelan-pelan saja.”Om Kais pun mengangguk. Lalu turun dari mobil sambil menggendongku. Pelan, takut jika aku terjatuh.“Ssshhh, sakit banget, Ma.” Aku menarik tangan Mama begitu berbaring di atas brankar.“Tahan ya, Sayang,” ujar Mama Maya.Perawat langsung mendorong brankar masuk ke dalam ruang IGD. Tangan Om Kais tak lepas dari tanganku. Sesampainya di ruang IGD, Mama Maya langsung memakai sarung tangan steril, mulai memeriksa pembukaan. “Sudah pembukaan tiga. Kontraksi teratur tiap lima menit,” ujar Mama Maya. Lalu mena

  • Hai Om, Aku Calon Istrimu!   Sudah Waktunya

    Matahari pagi hangat menyentuh kulitku. Kini aku tengah duduk di kursi taman dengan bantal penyangga punggung—dibeli Om Kais buat aku karena perut udah besar banget. Dipangkuanku ada mangkuk besar berisi salad buah. Campuran semangka, melon, anggur, stroberi dan kiwi dengan yogurt. Camilan kesukaanku semenjak hamil. “Sayang, kamu mau pot bunga yang warna apa? Pink atau biru? Om Kais berteriak dari ujung taman sambil mengangkat kedua pot yang baru datang.“Yang pink aja, Bunny. Biar kelihatan lucu tamannya.”Ceritanya tuh aku ingin membuat taman bunga. Aku sendiri yang berniat menata ulang. Tapi Om Kais gak kasih ijin. Jadilah suamiku yang turun tangan sendiri, dibantu tukang kebun saat mengangkat pot besar dan tanaman bonsai yang baru dikirim oleh toko bunga.“Pak Kais, pot mawar merahnya di taruh di sini?” tanya salah satu tukang kebun.“Iya, disana aja. Biar kelihatan dari sini,” jawab Om Kais sambil menunjuk area dekat gazebo.Aku senyum-senyum sendiri melihat Om Kais sibuk kesa

  • Hai Om, Aku Calon Istrimu!   Rumah Baru

    "Mbak Maya, ini box bayinya ditaruh di sini aja atau di sebelah jendela?”"Di sebelah jendela saja, Dek. Biar kena sinar matahari.”Aku duduk di sofa yang kelak akan aku gunakan untuk menyusvi Dedek Bayi, sambil melahap stroberi dan ceri. Perutku sudah membesar sekali—hingga bergerak ke sana kemari pun terasa sulit.Di depanku, dua mama—Mama Maya dan Mama Retha—sedang heboh banget mengatur kamar bayi. Box bayi dipindah sana-sini, boneka ditata ulang berkali-kali, lampu tidur dicoba berbagai posisi."Dek, menurutmu warna curtain ini cocok nggak sama wallpaper?" Mama Maya mengangkat curtain warna cream."Cocok, Mbak! Tapi kayaknya lebih bagus yang ada motif bintang-bintang deh. Biar lebih playful." Mama Retha membuka katalog curtain di ponselnya.Aku mengunyah ceri sambil geleng-geleng kepala. Dua mama ini lebih excited dari aku sendiri yang mau melahirkan."Mama, aku boleh kasih masukan nggak?" tanyaku."Ngak boleh!" jawab mereka berdua kompak sambil nggak ngeliatin aku."Ih, Mama—" pr

  • Hai Om, Aku Calon Istrimu!   DUMP TRIP JAPAN

    "Bunny, lihat! Banyak banget torii merahnya."Aku berteriak excited sambil menunjuk deretan gerbang torii merah yang membentang sepanjang jalan menuju Kuil Fushimi Inari. Pemandangannya epic banget!Om Kais tertawa sambil memegang tanganku. "Iya, cantik banget. Ayo kita foto dulu sebelum naik.""Naik?!" Aku menatapnya horor. “Bunny, aku lagi hamil. Nggak kuat naik tangga setinggi ini.""Kita foto di bawah aja. Nggak usah naik sampai atas." Om Kais mengeluarkan kamera. "Sini, pose dulu, Sayang."Aku berdiri di bawah torii merah sambil memegang perut—pose andalan bumil, hehe. Lalu Om Kais mengambil foto dari berbagai angle."Wah, Bunny jago banget sih!" pujiku sambil melihat hasil jepretannya di kamera."Karena modelku sangat cantik,” ujarnya sambil mencium pipiku.Seorang turis asing yang lewat melihat kami. "You want me to take your photo together?""Yes, please!" Om Kais langsung menyerahkan kameranya.Kami berdua berpose di bawah torii. Aku bersandar ke dada Om Kais, sementara dia m

  • Hai Om, Aku Calon Istrimu!   Tiba-tiba Babymoon

    "SAYANG! BANGUN!"Aku terlonjak dari tidur saat Om Kais tiba-tiba masuk kamar sambil membawa koper besar."Om? Kenapa bawa koper?" tanyaku sambil mengucek mata, masih setengah sadar."Kita packing, Sayang. Kita berangkat siang ini.""Berangkat? Kemana?""Jepang. Kita mau babymoon." Om Kais membuka lemari, mulai mengambil baju-bajuku.Aku langsung beranjak dari tempat tidur. "Hah?! Jepang?! Bunny, aku masih koas."Om Kais menatapku dengan senyum jahil. "Sudah aku urus. Kamu izin dua minggu.""Bunny!" Aku berteriak frustasi. "Kamu nggak bisa seenaknya gini! Aku kan—""Sayang." Om Kais berjalan mendekat, menggenggam kedua tanganku. "Kamu hamil lima bulan. Ini waktu yang tepat buat babymoon. Trimester kedua, kondisi paling stabil. Nanti kalau udah tua kandungannya, nggak boleh naik pesawat.""Tapi Bunny—"“Mama Maya sebagai dokter obgyn kamu sudah memberi izin. Mas Pandu juga sudah menyetujui izin koas kamu. Semuanya sudah beres.”Aku melongo. "Bunny... ini namanya diculik tau nggak?!"Di

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status