Compartilhar

Pakmil Ngidam

Autor: Syamwiek
last update Data de publicação: 2025-12-29 19:24:47

Aku mengelus perutku yang masih rata sambil tersenyum sendiri. Rasanya masih sulit dipercaya, ada kehidupan kecil yang sedang tumbuh di dalam sana. Dua bulan—dedek bayi baru berusia dua bulan.

Terdengar suara langkah sepatu mendekat. Om Kais muncul dengan wajah lelah, namun tetap terlihat tampan. Kemeja kerjanya sedikit kusut, dasinya sudah dilonggarkan. Saat mata kami bertemu, dia langsung tersenyum.

"Sayang, Mas Pandu bilang kamu mulai koas minggu depan?" tanyanya sambil melepas dasi.

Aku men
Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App
Capítulo bloqueado
Comentários (4)
goodnovel comment avatar
yesi rahmawati
Masih mending kalau ngidam makanan, kaakau ngidam gak mau dekat pasangan makin repot lah
goodnovel comment avatar
Sri Yati
sepertinya bukan binar yang ngidam, tapi om kais, sampai malam2 binar bela2in ikut nyari udang galah
goodnovel comment avatar
MAIMAI.
borong om tunjang nya, klo perlu sama rumah makan nya sekalian beli ......
VER TODOS OS COMENTÁRIOS

Último capítulo

  • Hai Om, Aku Calon Istrimu!   Ekstra Part 1

    “Saga, Jangan lari-lari! Nanti jatuh!”Aku berteriak sambil mengejar Sagara yang berlari menuju bibir pantai. Anak itu kalau di suruh lari kencang sekali!“Ibu, Saga mau main pasir,” jawabnya tanpa menoleh ke belakang. Di umur lima tahun, Sagara tumbuh menjadi anak yang sangat tampan. Wajahnya duplikat Mas Kais, hehe… sekarang panggilanku berubah. Rambutnya hitam lebat, mata tajam, hidung mancung, kulit putih bersih. Sampai sifatnya pun menuruni Ayahnya, cuek dengan orang tak dikenal dan hangat dengan keluarga.“Saga, tunggu Ibu!” Nafasku sudah mulai ngos-ngosan mengejarnya. Mas Kais yang membawa tas piknik terkekeh di belakang. Jalannya santai banget—selalu begitu kalau aku sedang panik mengejar putranya. “Sayang, kamu kurang olahraga. Masak lari kalah sama Saga.”“Mas!” protesku. “Kamu aja yang ngejar dia. Aku capek banget!”Sebelum mengejar Sagara, Mas Kais menaruh tas piknik terlebih dulu, memintaku agar menatanya.“Maaf merepotkan Ibu,” ujarnya sambil mengecup pipiku. “Hmmm,”

  • Hai Om, Aku Calon Istrimu!   Malaikat Kecil

    “Aduh, sakit banget, Mas!”Aku berteriak kesakitan saat kontraksi datang kembali. Perutku rasanya kencang sekali kayak mau pecah.“Sabar, Sayang.”Om Kais memelukku sambil mengusap keringat di pelipisku. Menunggu perawat datang membawa brankar.Tak lama kemudian, Mama Maya datang dengan langkah lebar. Beliau masih memakai scrub hijau—sepertinya baru selesai operasi caesar pasiennya.“Ayo dipindahkan ke brankar, Kais,” ujar Mama Maya saat dua orang perawat datang. “Pelan-pelan saja.”Om Kais pun mengangguk. Lalu turun dari mobil sambil menggendongku. Pelan, takut jika aku terjatuh.“Ssshhh, sakit banget, Ma.” Aku menarik tangan Mama begitu berbaring di atas brankar.“Tahan ya, Sayang,” ujar Mama Maya.Perawat langsung mendorong brankar masuk ke dalam ruang IGD. Tangan Om Kais tak lepas dari tanganku. Sesampainya di ruang IGD, Mama Maya langsung memakai sarung tangan steril, mulai memeriksa pembukaan. “Sudah pembukaan tiga. Kontraksi teratur tiap lima menit,” ujar Mama Maya. Lalu mena

  • Hai Om, Aku Calon Istrimu!   Sudah Waktunya

    Matahari pagi hangat menyentuh kulitku. Kini aku tengah duduk di kursi taman dengan bantal penyangga punggung—dibeli Om Kais buat aku karena perut udah besar banget. Dipangkuanku ada mangkuk besar berisi salad buah. Campuran semangka, melon, anggur, stroberi dan kiwi dengan yogurt. Camilan kesukaanku semenjak hamil. “Sayang, kamu mau pot bunga yang warna apa? Pink atau biru? Om Kais berteriak dari ujung taman sambil mengangkat kedua pot yang baru datang.“Yang pink aja, Bunny. Biar kelihatan lucu tamannya.”Ceritanya tuh aku ingin membuat taman bunga. Aku sendiri yang berniat menata ulang. Tapi Om Kais gak kasih ijin. Jadilah suamiku yang turun tangan sendiri, dibantu tukang kebun saat mengangkat pot besar dan tanaman bonsai yang baru dikirim oleh toko bunga.“Pak Kais, pot mawar merahnya di taruh di sini?” tanya salah satu tukang kebun.“Iya, disana aja. Biar kelihatan dari sini,” jawab Om Kais sambil menunjuk area dekat gazebo.Aku senyum-senyum sendiri melihat Om Kais sibuk kesa

  • Hai Om, Aku Calon Istrimu!   Rumah Baru

    "Mbak Maya, ini box bayinya ditaruh di sini aja atau di sebelah jendela?”"Di sebelah jendela saja, Dek. Biar kena sinar matahari.”Aku duduk di sofa yang kelak akan aku gunakan untuk menyusvi Dedek Bayi, sambil melahap stroberi dan ceri. Perutku sudah membesar sekali—hingga bergerak ke sana kemari pun terasa sulit.Di depanku, dua mama—Mama Maya dan Mama Retha—sedang heboh banget mengatur kamar bayi. Box bayi dipindah sana-sini, boneka ditata ulang berkali-kali, lampu tidur dicoba berbagai posisi."Dek, menurutmu warna curtain ini cocok nggak sama wallpaper?" Mama Maya mengangkat curtain warna cream."Cocok, Mbak! Tapi kayaknya lebih bagus yang ada motif bintang-bintang deh. Biar lebih playful." Mama Retha membuka katalog curtain di ponselnya.Aku mengunyah ceri sambil geleng-geleng kepala. Dua mama ini lebih excited dari aku sendiri yang mau melahirkan."Mama, aku boleh kasih masukan nggak?" tanyaku."Ngak boleh!" jawab mereka berdua kompak sambil nggak ngeliatin aku."Ih, Mama—" pr

  • Hai Om, Aku Calon Istrimu!   DUMP TRIP JAPAN

    "Bunny, lihat! Banyak banget torii merahnya."Aku berteriak excited sambil menunjuk deretan gerbang torii merah yang membentang sepanjang jalan menuju Kuil Fushimi Inari. Pemandangannya epic banget!Om Kais tertawa sambil memegang tanganku. "Iya, cantik banget. Ayo kita foto dulu sebelum naik.""Naik?!" Aku menatapnya horor. “Bunny, aku lagi hamil. Nggak kuat naik tangga setinggi ini.""Kita foto di bawah aja. Nggak usah naik sampai atas." Om Kais mengeluarkan kamera. "Sini, pose dulu, Sayang."Aku berdiri di bawah torii merah sambil memegang perut—pose andalan bumil, hehe. Lalu Om Kais mengambil foto dari berbagai angle."Wah, Bunny jago banget sih!" pujiku sambil melihat hasil jepretannya di kamera."Karena modelku sangat cantik,” ujarnya sambil mencium pipiku.Seorang turis asing yang lewat melihat kami. "You want me to take your photo together?""Yes, please!" Om Kais langsung menyerahkan kameranya.Kami berdua berpose di bawah torii. Aku bersandar ke dada Om Kais, sementara dia m

  • Hai Om, Aku Calon Istrimu!   Tiba-tiba Babymoon

    "SAYANG! BANGUN!"Aku terlonjak dari tidur saat Om Kais tiba-tiba masuk kamar sambil membawa koper besar."Om? Kenapa bawa koper?" tanyaku sambil mengucek mata, masih setengah sadar."Kita packing, Sayang. Kita berangkat siang ini.""Berangkat? Kemana?""Jepang. Kita mau babymoon." Om Kais membuka lemari, mulai mengambil baju-bajuku.Aku langsung beranjak dari tempat tidur. "Hah?! Jepang?! Bunny, aku masih koas."Om Kais menatapku dengan senyum jahil. "Sudah aku urus. Kamu izin dua minggu.""Bunny!" Aku berteriak frustasi. "Kamu nggak bisa seenaknya gini! Aku kan—""Sayang." Om Kais berjalan mendekat, menggenggam kedua tanganku. "Kamu hamil lima bulan. Ini waktu yang tepat buat babymoon. Trimester kedua, kondisi paling stabil. Nanti kalau udah tua kandungannya, nggak boleh naik pesawat.""Tapi Bunny—"“Mama Maya sebagai dokter obgyn kamu sudah memberi izin. Mas Pandu juga sudah menyetujui izin koas kamu. Semuanya sudah beres.”Aku melongo. "Bunny... ini namanya diculik tau nggak?!"Di

  • Hai Om, Aku Calon Istrimu!   Bunny, Mau Ini ...

    Setelah makan malam ronde dua ditemani Mama dan Papa, aku pamit ke kamar. Bukan untuk tidur, melainkan karena ada satu hal yang sejak tadi mengganjal di pikiranku.Om Kais sedang berada di kamarku, berbicara dengan klien dari China lewat telepon. Aku tidak ingin mengganggu, jadi memilih berbelok me

    last updateÚltima atualização : 2026-04-04
  • Hai Om, Aku Calon Istrimu!   Kamar Khusus Bumil

    "Alhamdulillah, visit terakhir selesai!" ucap Dita, teman satu tim koas, sambil meregangkan badannya.Aku duduk di kursi sambil mengelus perut yang mulai terlihat membuncit. Hari ini aku di stase jantung bareng Mas Pandu sebagai dokter pembimbing. Untung saja timku baik-baik semua. Nggak ada yang j

    last updateÚltima atualização : 2026-04-04
  • Hai Om, Aku Calon Istrimu!   Ketiban Berkah

    Aku duduk di sofa ruang istirahat anak koas sambil bermain ponsel. Jarum jam sudah menunjuk pukul lima sore, tapi Mas Pandu masih berada di ruang operasi."Binar, kamu nggak pulang duluan?" tanya Dita yang duduk di sampingku."Nggak. Aku mau pulang bareng Mas Pandu. Kebetulan aku mau nginep di ruma

    last updateÚltima atualização : 2026-04-04
  • Hai Om, Aku Calon Istrimu!   Adek Koas

    Aku melangkah masuk ke lobby Rumah Sakit Arfamed sambil membawa paper bag berisi bekal makan siang untuk Om Kais. AC ruangan langsung menyambut, mendinginkan kulitku yang sedikit gerah karena panas terik di luar.Pandanganku menyapu sekeliling. Rumah sakit ini megah banget. Minggu depan aku akan mu

    last updateÚltima atualização : 2026-04-03
Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status