LOGIN"Mbak Maya, ini box bayinya ditaruh di sini aja atau di sebelah jendela?”"Di sebelah jendela saja, Dek. Biar kena sinar matahari.”Aku duduk di sofa yang kelak akan aku gunakan untuk menyusvi Dedek Bayi, sambil melahap stroberi dan ceri. Perutku sudah membesar sekali—hingga bergerak ke sana kemari pun terasa sulit.Di depanku, dua mama—Mama Maya dan Mama Retha—sedang heboh banget mengatur kamar bayi. Box bayi dipindah sana-sini, boneka ditata ulang berkali-kali, lampu tidur dicoba berbagai posisi."Dek, menurutmu warna curtain ini cocok nggak sama wallpaper?" Mama Maya mengangkat curtain warna cream."Cocok, Mbak! Tapi kayaknya lebih bagus yang ada motif bintang-bintang deh. Biar lebih playful." Mama Retha membuka katalog curtain di ponselnya.Aku mengunyah ceri sambil geleng-geleng kepala. Dua mama ini lebih excited dari aku sendiri yang mau melahirkan."Mama, aku boleh kasih masukan nggak?" tanyaku."Ngak boleh!" jawab mereka berdua kompak sambil nggak ngeliatin aku."Ih, Mama—" pr
"Bunny, lihat! Banyak banget torii merahnya."Aku berteriak excited sambil menunjuk deretan gerbang torii merah yang membentang sepanjang jalan menuju Kuil Fushimi Inari. Pemandangannya epic banget!Om Kais tertawa sambil memegang tanganku. "Iya, cantik banget. Ayo kita foto dulu sebelum naik.""Naik?!" Aku menatapnya horor. “Bunny, aku lagi hamil. Nggak kuat naik tangga setinggi ini.""Kita foto di bawah aja. Nggak usah naik sampai atas." Om Kais mengeluarkan kamera. "Sini, pose dulu, Sayang."Aku berdiri di bawah torii merah sambil memegang perut—pose andalan bumil, hehe. Lalu Om Kais mengambil foto dari berbagai angle."Wah, Bunny jago banget sih!" pujiku sambil melihat hasil jepretannya di kamera."Karena modelku sangat cantik,” ujarnya sambil mencium pipiku.Seorang turis asing yang lewat melihat kami. "You want me to take your photo together?""Yes, please!" Om Kais langsung menyerahkan kameranya.Kami berdua berpose di bawah torii. Aku bersandar ke dada Om Kais, sementara dia m
"SAYANG! BANGUN!"Aku terlonjak dari tidur saat Om Kais tiba-tiba masuk kamar sambil membawa koper besar."Om? Kenapa bawa koper?" tanyaku sambil mengucek mata, masih setengah sadar."Kita packing, Sayang. Kita berangkat siang ini.""Berangkat? Kemana?""Jepang. Kita mau babymoon." Om Kais membuka lemari, mulai mengambil baju-bajuku.Aku langsung beranjak dari tempat tidur. "Hah?! Jepang?! Bunny, aku masih koas."Om Kais menatapku dengan senyum jahil. "Sudah aku urus. Kamu izin dua minggu.""Bunny!" Aku berteriak frustasi. "Kamu nggak bisa seenaknya gini! Aku kan—""Sayang." Om Kais berjalan mendekat, menggenggam kedua tanganku. "Kamu hamil lima bulan. Ini waktu yang tepat buat babymoon. Trimester kedua, kondisi paling stabil. Nanti kalau udah tua kandungannya, nggak boleh naik pesawat.""Tapi Bunny—"“Mama Maya sebagai dokter obgyn kamu sudah memberi izin. Mas Pandu juga sudah menyetujui izin koas kamu. Semuanya sudah beres.”Aku melongo. "Bunny... ini namanya diculik tau nggak?!"Di
Setelah makan malam ronde dua ditemani Mama dan Papa, aku pamit ke kamar. Bukan untuk tidur, melainkan karena ada satu hal yang sejak tadi mengganjal di pikiranku.Om Kais sedang berada di kamarku, berbicara dengan klien dari China lewat telepon. Aku tidak ingin mengganggu, jadi memilih berbelok menuju kamar Mas Pandu.Lampu kamar masih menyala. Pintu tidak tertutup rapat. Aku mengetuk pelan lalu masuk. Mas Pandu duduk di tepi ranjang sambil menatap layar ponselnya.“Mas,” panggilku.Mas Pandu mengangkat kepala. “Iya, Dek?”Aku menutup pintu dan duduk di kursi seberang ranjang. Menatapnya langsung.“Mas tahu nggak, Mbak Nindi lagi ngambek.”Mas Pandu mengernyit. “Ngambek? Kenapa? Bukannya dia lagi sibuk di tempat kerja yang baru?”Aku menarik napas. “Mas, ngambek sama sibuk itu beda.”Dia diam, menungguku melanjutkan.“Mas Pandu salah beliin pesanan Mbak Nindi. Terus nggak minta maaf langsung. Baru tiga hari kemudian minta maafnya.”Mas Pandu mengusap tengkuknya. “Aku kira itu bukan m
Aku duduk di sofa ruang istirahat anak koas sambil bermain ponsel. Jarum jam sudah menunjuk pukul lima sore, tapi Mas Pandu masih berada di ruang operasi."Binar, kamu nggak pulang duluan?" tanya Dita yang duduk di sampingku."Nggak. Aku mau pulang bareng Mas Pandu. Kebetulan aku mau nginep di rumah Mama." Aku meregangkan badan yang mulai pegal."Wah, pulang ke rumah mama? Kangen ya?""Iya, kangen banget. Aku mau minta dimasakin makanan kesukaanku. Udah lama nggak makan masakan Mama." Aku tersenyum membayangkan soto ayam buatan Mama yang super enak.Tadi pagi aku sudah minta izin ke Mama Maya sebelum berangkat ke rumah sakit. Beliau langsung setuju dan bahkan bilang, "Kamu ini menantu Mama, tapi juga tetap anak kandung mama kamu. Pulang aja, nggak usah izin segala. Rumah mama ya rumah kamu juga."Hatiku langsung menghangat mendengar kata-kata Mama mertuaku.Tapi masalahnya, aku nggak bisa menghubungi Om Kais dari tadi.Akhirnya aku hubungi menghubungi Rayhan."Halo, Mas Rayhan?""Iya,
"Alhamdulillah, visit terakhir selesai!" ucap Dita, teman satu tim koas, sambil meregangkan badannya.Aku duduk di kursi sambil mengelus perut yang mulai terlihat membuncit. Hari ini aku di stase jantung bareng Mas Pandu sebagai dokter pembimbing. Untung saja timku baik-baik semua. Nggak ada yang julid atau nyinyir kayak timnya Safa."Binar, untuk makan siang—kita tunggu kiriman dari Pak Kais, kan?" Reza, cowok satu-satunya di tim kami, nyengir lebar.Aku tertawa. "Iya, Om Kais bilang tadi pagi mau kirim makanan buat kita semua.""Asik! Makan enak dan gratis lagi!" seru Lina, teman lainnya.Nggak lama kemudian, pintu terbuka. Pak satpam masuk membawa kotak-kotak makan siang dengan logo restoran mewah."Pesanan untuk Mbak Binar dan tim?""Iya, Pak!" Aku mengangkat tangan.Pak satpam meletakkan enam kotak di meja. "Ini dari Pak Direktur. Selamat menikmati."Setelah Pak satpam pergi, kami langsung membuka kotak makanannya."WOOOW!" Semua kompak teriak.Di dalamnya ada nasi putih, ayam ba







