Share

6. Night Out

Dinara memutar bola matanya malas sebab nasi goreng yang tadinya dia siapkan untuk diri sendiri sekarang harus dia bagi dua. Setelah memutuskan untuk membawa Sandi masuk kedalam rumahnya, dia harus merelakan porsinya dibagi dua. Lelaki yang duduk santai lesehan di ruang tamu itu makan dengan super lahap seolah tidak sempat makan tiga hari. 

"Lo ada acara di rumah gak sempet colek makanan dikit gitu?" sarkas  Dinara sembari menyuap nasi goreng di piringnya.

"Jangankan makanan, gue aja kaget yang dateng tiba- tiba sekampung. Awalnya gue cuma ngajakin sepuluh orang. Eh mereka pada ngajakin pacarnya, belum lagi pacar- pacarnya pada bawa temen," ujar Sandi menggebu. 

Lelaki itu meneguk air dalam gelas yang juga sudah Dinara siapkan sebelumnya. Piringnya sudah bersih sekarang. 

"Tempat cuci piringnya dimana, Nar?" tanya sandi sembari berdiri. 

Dinara yang baru saja menghabiskan nasinya ikut beranjak. "Sini biar gue aja!" Tangannya hendak menagih piring di tangan Sandi. Namun dengan cepat lelaki itu berkilah. 

"Biar gue aja. Kalo cuma cuci piring sendiri gue masih bisa, kok!" ujarnya. 

Dinara mengernyit, dalam hati dia berbisik, yaa bagus kalau tahu diri. Gadis itu melangkah menuntun, membiarkan Sandi yang sudah berdiri di depan tempat cuci piring mulai dengan menggulung lengan kemejanya dan mencuci alat makan mereka berdua. Dia bahkan sekaligus mencuci alat masak yang sempat Dinara gunakan.  

"By the way, orang tua lo udah tidur? Sorry gue jadi ganggu malem- malem gini," ujarnya.

Dinara bersender di kulkas mengawasi, "udah berangkat keluar kota tadi sore," balasnya.

Bibir Sandi membentuk huruf o, "kalo Dikta?"

"Udah tidur," balas Dinara lagi.

Sandi mengangguk paham. "Keluarga gue juga lagi pada pergi. Biasanya cuma orang tua aja yang berangkat,  ini tumben banget Sean ikut. Mungkin karena lagi libur, ya? Kakak Kelasnya lagi ujian sekarang, " Sandi menerangkan cukup panjang.

Dinara tak pernah menyangka akan membicarakan hal- hal semacam ini dengan pria yang dulu dikenal sebagai cinta pertamanya SMA Tunas Raya. Katanya, siapapun yang baru masuk SMA Tunas Raya pasti akan mengidolakan Sandi Arsena. Wajar sih, dengan paras rupawan, tubuh atletis, dan segudang prestasi dalam hal olahraga membuatnya cukup menonjol. Apalagi Sandi juga merupakan pentolan dari ajang Putra Putri Daerah yang membuatnya semakin terkenal. 

Selama tiga tahun, mereka berdua berada di kelas yang sama. Meski begitu, seolah tak ada interaksi berarti diantara mereka. Keduanya mungkin hanya sekedar tahu nama. Dinara si juara kelas yang selalu sibuk berangkat pembinaan olimpiade dan sibuk mengurus ekstra kurikuler jurnalistik di sekolah. Sementara Sandi yang  sibuk persiapan Porseni dan terkadang ikut bolos untuk nongkrong di gang belakang sekolah. 

Kalaupun keduanya berada di kelas, hampir tak pernah bicara secara langsung. Dinara si penghuni bangku depan dan Sandi penghuni bangku belakang. Bahkan keduanya tak pernah berada dalam kelompok yang sama. Mereka teman sekelas yang tidak pernah benar- benar saling kenal.

Dinara terkesiap saat Sandi dengan jahil justru mencipratkan sisa air di tangan kearahnya. Gadis itu mendengus kasar dan memasang tatapan membunuh. 

Sandi tanpa takut justru tertawa kecil. 

"Udah, gak usah sok diserem-seremin gitu tampangnya. Lo justru kelihatan lucu," ujarnya santai berlalu dari hadapan Dinara. Bak di rumah sendiri, lelaki itu bahkan kini sudah kembali duduk di kursi panjang milik Dinara. 

"Masih laper gak, Nar?"

Dinara yang masih sewot menanggapi dengan ketus, "ya masih, lah!"

Meskipun tubuhnya terlihat ramping, Dinara kalau urusan makan nomor satu. Lagipula nasi goreng yang dia buat satu porsi justru dibagi dua, tidak mungkin dia kenyang. 

"Jajan keluar, yuk! Kemaren gue lihat diseberang ada semacam alun- alun gitu," ujar Sandi yang memancing Dinara untuk  kembali mengerutkan dahi.

"Lo gak inget kenapa lo disini? Kan lagi sembunyi, kok malah keluar?" 

Sandi tertawa kecil sembari menjelaskan rencananya. "Mereka masih pada di dalem. Lagian kan kita keluar pake mobil lo, jadi gak bakal ketahuan. " 

Dinara sih sebenarnya paling malas kalau keluar rumah begini. Dia lebih suka pesan secara online dan makan di rumah. Tapi Dinara pikir kesempatan ini bisa jadi kedempatan tepat untuk membayar kiriman Sandi tadi siang.  

"Yaudah, tapi gue yang bayar!" ujar Dinara.

"Kok gitu?" Sandi kini giliran bingung.

Dinara naik keatas menuju kamarnya guna mengambil dompet dan ponselnya.  "Gue gak mau punya utang. Tadi lo kirimin gue makan siang, sekarang giliran gue yang bayar," terangnya.

Sandi hendak menanggapi, namun melihat Dinara sudah menghilang membuatnya menahan diri. Ikuti saja lah apa yang gadis itu sebutkan. Sudah bagus Dinara mau menampungnya malam ini sehingga dia tidak perlu pusing mendengar ocehan memekakkan telinga dari wanita- wanita menyebalkan yang terus mengganggu harinya. 

Dinara memainkan kunci mobil di tangannya sembari memimpin Sandi berjalan menuju garase mobil. Kali ini Dinara juga yang menyetir mengingat Sandi harus membungkuk dan bersembunyi saat lewat di depan rumah. Meskipun orang luar tak bisa melihat kedalam mobil Dinara, mereka memutuskan untuk tetap waspada.. 

Setelah berhasil keluar dari kompleks, barulah dia kembali menegakkan tubuh dan bernafas lega. Dinara yang meliriknnya sekilas hanya memasang tampang julid, "udah kaya bawa buronan negara aja," celetuknya.

Tak sampai lima belas menit, keduanya tiba di alun-alun. Saat turun, Dinara langsung dimanjakan oleh aneka jajanan malam yang mengundang selera. 

Dinara berjalan di depan sementara Sandi mengekori dibelakang. Dinara hampir saja berteriak saat merasakan hoodienya ditarik kebawah.

Sandi berbisik, "ada om-om mesum yang liatin pantat lo dari tadi," Dinara mendadak bergidik ngeri sembari mempertahankan posisi hoodienya agar tetap menutupi bagian belakang tubuhnya.

Melihat Dinara yang berjalan lucu membuat Sandi terkikik. Padahal tidak ada om-om mesum, dia hanya ingin menjaga Dinara dari pandangan- pandangan tidak etis, termasuk pandangannya sendiri. 

Keduanya berhenti di salah satu stan yang menjual lumpia, lalu berpindah lagi pada stan cilok, lanjut membeli wedang ronde juga dan beberapa makanan lainnya. Setelah puas membeli cemilan, barulah keduanya memilih duduk di salah satu titik jalanan.

Hening. Tak ada percakapan karena Dinara sudah fokus pada cilok yang ditusuk. Pipinya penuh hingga membulat dan terlihat lucu. Sandi yang sedari tadi masih belum melepaskan pandangan dari Dinara sampai ikut tertawa. Ternyata dibalik citra dingin yang selama ini gadis itu tampilkan, menyimpan pesona lucu kalau sudah dihadapkan dengan makanan.

Refleks jemarinya mengusap pelan sudut bibir Dinara yang belepotan sedikit saus. Dinara membeku sebentar sebelum akhirnya menepis tangan Sandi dan beralih membersihkan sendiri sembari bercermin di ponsel. 

"Dinara.."

"Hmm?"

"Jadi pacar gue, mau?"

Komen (1)
goodnovel comment avatar
Baeblue xx00
mauuu bangetttg
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status