ログインNamun belum sempat Om Budi melangkah pergi dari ruang tamu, tubuh Aya tiba-tiba bergerak pelan di atas sofa. Gadis itu menggeliat kecil sambil mengerutkan dahi. Matanya masih terpejam, tetapi tubuhnya mulai sadar bahwa ada seseorang di dekatnya.
Perlahan, kelopak matanya terbuka. Dalam pandangan yang masih samar karena kantuk, ia melihat sosok Om Budi berdiri di samping sofa. “Om ngapain di sini…?” tanyanya pelan dengan suara seraMereka akhirnya duduk mengelilingi meja yang sama. Suasana di antara mereka terasa berat. Tidak ada lagi basa-basi. Setelah semua minuman datang, Ryan yang sejak awal menjadi penghubung pertemuan itu langsung membuka pembicaraan. "Jadi begini," ucap Ryan sambil menyandarkan tubuhnya ke kursi. "Kita semua punya musuh yang sama. Dan malam ini... kita akan membicarakan langkah untuk menghancurkan pria itu." Tatapannya beralih dari satu wajah ke wajah lainnya. Tidak ada yang menyela. Semuanya menunggu Ryan melanjutkan. Ryan lalu menoleh ke arah Andri. "Ini Andri. Dia keponakan Budi dan sekarang tinggal satu rumah dengannya. Jadi, kalau kita mau menusuk dari dalam, dia orang yang paling tepat." Pak Santoso menyilangkan kedua tangannya di dada. Sorot matanya langsung berubah tajam. Dendam lamanya kepada Om Budi kembali muncul ke permukaan. Perselisihan tanah yang dulu terjadi masih belum pernah ia lupakan. Di sisi lain, Buron hanya tersenyum tipis. Rahangnya mengeras saat nama Om Budi
Malamnya.Aya keluar dari kamarnya dengan penampilan yang jauh lebih memikat.Rambut panjangnya dibiarkan tergerai sederhana. Ia mengenakan atasan lengan panjang bermotif garis hitam putih yang pas di badan, memberi kesan rapi tanpa terlihat kaku. Di bagian bawah, rok pendek hitam bergaya balut dengan pita di pinggang membingkai penampilannya dengan manis. Sebuah tas hitam tersampir di bahunya, sementara sepasang sepatu kets melengkapi penampilannya.Dengan langkah pelan, Aya berjalan menuju teras.Om Budi yang sejak tadi sudah menunggu di sana spontan terdiam. Tatapannya sempat terpaku beberapa saat melihat penampilan gadis itu.Aya yang menyadari dirinya terus diperhatikan mulai salah tingkah."Kenapa, Om?" tanyanya pelan. "Ada yang salah sama penampilan Aya?"Om Budi baru tersadar. Ia berkedip beberapa kali, lalu tersenyum kecil."Oh, enggak."Ia menggeleng pelan."Kamu cantik sekali, Ay. Pakaian itu cocok sama kamu."Wajah Aya langsung bersemu merah. Ia menundukkan kepala sejenak
Tak lama. Om Budi akhirnya masuk ke dalam rumah dan melewati Tika yang berdiri di ruang tamu, wanita itu langsung menghampirinya. "Mau dibuatin kopi, Pak Bos?" tanyanya. "Boleh," jawab Om Budi singkat. Belum sempat Tika berbalik menuju dapur, suara Aya terdengar dari arah lorong. "Biar Aya aja, Mbak." Aya keluar dari kamarnya dengan senyum ramah. Tanpa menunggu jawaban dari siapa pun, ia langsung berjalan menuju dapur. Tika hanya tersenyum kecil lalu mengangguk. "Iya, Ay." Dari arah kamarnya, Andri hanya memperhatikan semua itu dalam diam. Tatapannya sempat mengikuti langkah Aya hingga menghilang ke dapur. Beberapa saat kemudian, ia berbalik dan masuk kembali ke dalam kamarnya. Di dalam, Diana sudah duduk di tepi ranjang. Wajahnya masih murung. Pikirannya belum bisa lepas dari pembicaraan mereka beberapa saat yang lalu. Semua pengakuan Andri masih terus terngiang di kepalanya. Sulit baginya menerima kenyataan bahwa suaminya menyimpan kebencian sebesar itu kepada Om Budi. E
Tak lama kemudian, Andri dan Ryan bersama tiga rekannya sudah duduk di sebuah warung kopi yang tidak jauh dari lokasi tadi. Suasana warung masih cukup sepi. Di atas meja hanya ada beberapa gelas kopi yang baru saja disajikan. Tidak ada satu pun dari mereka yang langsung berbicara. Mereka saling memperhatikan, sama-sama berusaha membaca orang yang baru saja mereka temui. Ryan akhirnya memecah keheningan. "Jadi, kamu nggak suka sama Om kamu sendiri?" tanyanya sambil menatap Andri lekat. Andri tersenyum hambar lalu menyandarkan tubuhnya ke kursi plastik. "Ya," jawabnya singkat. "Dia manusia licin." Ryan mengangguk pelan. Senyum samar mulai terlihat di sudut bibirnya. Di dalam hatinya, ia melihat ini sebagai kesempatan emas. Kalau ucapan Andri memang benar, berarti mereka memiliki jalan untuk menghancurkan Om Budi dari dalam, sesuatu yang selama ini tidak pernah mereka miliki. "Apa yang sebenarnya kamu rencanakan?" tanya Ryan lagi. "Apa kamu ingin dia mati?" Andri langsung menggele
Beberapa menit kemudian, Andri keluar dari kamar. Wajahnya masih terlihat tegang. Ia berjalan ke teras, lalu duduk di kursi sambil memandangi halaman rumah. Pikirannya terus bekerja. Ia mulai menyusun langkah demi langkah untuk segera menghancurkan Om Budi dan mendapatkan Aya seutuhnya, ambisi dan hasratnya semakin menggebu gebu. Namun saat sedang tenggelam dalam pikirannya, pandangannya tiba-tiba tertuju ke arah jalan. Ada dua sepeda motor yang terparkir cukup jauh dari rumah. Posisinya memang tidak terlalu mencolok, tetapi cukup membuat Andri curiga.Apalagi melihat gelagatnya. Keempat orang yang berada di sana tampak beberapa kali menoleh ke arah rumah Om Budi, seolah sedang mengawasi sesuatu. Siapa mereka? Kenapa dari tadi memperhatikan ke sini? pikirnya. Rasa penasarannya semakin besar. Ia langsung bangkit dari kursinya, masuk kembali ke dalam rumah, lalu keluar melalui pintu belakang agar tidak terlihat oleh orang-orang tersebut.Tika yang sedang berdiri di dapur meliha
"Diana, kamu dari kapan berdiri di situ?" tanya Andri dengan mata membesar. Nada suaranya terdengar sedikit panik.Diana tidak langsung menjawab. Matanya terus menatap Andri. Tatapan itu perlahan berubah. Kecewa, marah, dan tidak percaya bercampur menjadi satu, ia melangkah mendekat."Dari tadi..." jawabnya lirih sambil menggeleng pelan. "Aku... aku nggak nyangka, Mas. Kamu punya pikiran seperti itu."Rahang Andri langsung mengeras. Refleks ia melangkah cepat ke arah pintu kamar lalu menutupnya rapat. Setelah memastikan pintu benar-benar tertutup, ia berbalik dan mendekati Diana."Sayang... dengerin aku."Namun Diana langsung mundur selangkah sambil menggeleng keras."Enggak. Semuanya sudah jelas. Kamu punya niat jahat sama Om Budi." Matanya mulai memerah. "Jadi... selama ini kamu nyembunyiin sesuatu dariku."Andri mengusap wajahnya dengan kasar. Dadanya naik turun menahan emosi. Ia tahu tidak ada lagi alasan untuk mengelak.Beberapa saat ia hanya terdiam.Lalu ia mengembuskan napas p
Setelah beberapa saat terdiam di teras, Om Budi akhirnya berdiri lalu masuk ke dalam rumah. Ia langsung menuju kamarnya. Tak lama kemudian, ia keluar lagi dengan penampilan yang sudah rapi seperti biasa. Jaket kulit, kaos, dan celana jeans yang sering dik
Saat itu langkah kaki terdengar dari arah depan. "Pagi…" Semua menoleh. Mirna muncul membawa kantong belanjaan di tangan kanan, pundaknya masih dibalut tas kain. "Eh, Mbak Mirna udah datang," sapa Diana r
Andri menarik selimut dari tubuh Aya. Gadis itu hanya mengenakan kaos putih tipis dan celana pendek jeans biru. Tubuhnya terbaring telentang dengan kedua tangan di samping tubuh. Wajahnya tenang dengan mata terpejam, sementara napasnya terdengar
Di ruang makan, pagi itu suasana cukup hening. Hanya ada Diana dan Andri yang duduk berhadapan dengan piring masing-masing. Diana lebih banyak menunduk sambil menyuap nasi. Ia tidak banyak bicara. Wajahnya pucat. Pikirannya masih teringat kejadian semalam, hubungan terl







