Share

2

Author: Pena Malam
last update Petsa ng paglalathala: 2026-05-25 00:15:28

Hari itu Aya, atau nama lengkapnya Cahaya Pramesti, resmi tinggal di rumah Om Budi.

Gadis cantik itu menempati kamar tengah. Kamarnya rapi dan nyaman, lengkap dengan AC, lemari, rak buku, dan spring bed empuk. Buat Aya yang biasa tidur di kamar dengan kasur tipis di rumahnya, tempat ini terasa seperti pindah ke dunia lain.

Sore harinya, Aya keluar dari kamar.

Pakaian yang dipakainya tergolong sederhana, hanya kaos dan rok. Rambutnya digerai melewati bahu, sementara wajahnya masih terlihat polos tanpa makeup. Namun justru itu yang membuatnya tampak manis. Tubuhnya juga sudah mulai terlihat bagus, baru mekar dan segar dipandang mata.

Om Budi yang sudah lebih dulu duduk di meja makan sempat melirik ke arah gadis itu. Tatapannya jatuh pada dada Aya yang sedikit membusung di balik kaosnya.

“Astaga...” batinnya bergemuruh.

Namun begitu Aya mendekat, ia buru-buru membuang pandangannya ke arah lain.

“Makan dulu, Ay. Maaf ya kalau seadanya.”

“Iya, Om.”

Aya berjalan pelan lalu duduk. Sebelum bokongnya menempel di kursi, tangannya sempat merapikan rok terlebih dahulu. Gerakan kecil itu tanpa sadar membuat Om Budi kembali melirik.

Tak lama.

Keduanya makan dalam suasana sedikit canggung. Aya lebih banyak menunduk, sesekali hanya menjawab singkat saat Om Budi bertanya beberapa hal.

“Kapan kamu mau mulai ke kampus?” tanya Om Budi dengan nada tenang.

“Besok, Om,” jawab Aya singkat, namun matanya tak berani menatap pria itu.

Om Budi mengangguk pelan. Tatapannya sempat melirik kembali ke arah gadis itu.

“Ya udah, biar Om antar nanti.”

Aya langsung mengangkat wajahnya. Dengan suara pelan, ia berkata,

“Nggak usah, Om. Aya pergi sama teman.”

“Teman?” ulang Om Budi seolah memastikan. “Siapa?”

“Yongki,” jawab Aya.

Om Budi mengernyit. Jelas terlihat ia sedikit keberatan kalau keponakannya pergi dengan seorang pria, apalagi Aya baru saja tiba di kota.

“Ay, bukan Om melarang kamu pergi sama teman kamu,” ucapnya dengan nada hati-hati. “Tapi ibu kamu sudah nitipin kamu ke Om. Jadi Om keberatan kalau kamu pergi sama orang lain, apalagi laki-laki.”

Aya yang awalnya hanya menunduk kini mulai berani menatap wajah Om Budi. Ucapan pria itu jelas membuatnya keberatan.

“Maaf, Om,” ucap Aya dengan nada pelan namun sedikit tegas. “Sebenarnya Aya pengennya ngekos, tapi Mama yang maksa Aya tinggal di sini. Jadi bukan berarti Aya tinggal di sini Om bisa ngatur kehidupan Aya.”

Om Budi terdiam mendengarnya. Ia benar-benar tak menyangka kalau anak gadis yang ia pandang polos itu berani berkata seperti itu. Walau ia sudah mendengar sedikit dari Rini, mama Aya, kalau anaknya memang sedikit keras kepala dan kadang suka memaksakan kehendaknya.

Om Budi hanya menghela napas pendek. Sebagai pria matang yang sudah kenyang pengalaman, ia tahu menyikapi gadis seperti Aya tidak bisa terlalu keras. Salah sedikit, anak seusianya bisa memberontak. Namun meski begitu, ia juga tak bisa membiarkan Aya bersikap seenaknya.

“Ya udah, kalau gitu kamu lanjutin makannya. Om mau pergi dulu.” ucap om Budi sambil berdiri.

Aya tidak menjawab. Gadis itu kembali melanjutkan makan tanpa sadar, atau mungkin pura-pura tidak sadar, kalau ucapannya tadi sedikit menyinggung perasaan Om Budi.

Tak lama kemudian, suara motor terdengar meninggalkan halaman rumah. Mula-mula masih dekat, lalu perlahan menjauh hingga akhirnya menghilang.

Aya masih duduk di meja makan. Sendok di tangannya sempat berhenti bergerak. Tatapannya kosong menatap lauk di depannya.

Ia benar-benar tidak suka tinggal di rumah itu.

“Mama pikir bisa ngatur hidup aku dengan aku tinggal disini ...” gumamnya pelan.

Sudut bibirnya terangkat tipis membentuk senyum sinis sebelum akhirnya kembali melanjutkan makan.

***

Sementara itu, Om Budi sudah sampai di kos-kosannya.

Ia memarkir motor di bawah pohon mangga yang tumbuh di pinggir halaman kecil bangunan kos tersebut. Meski wajahnya terlihat biasa saja, namun ucapan Aya tadi masih terngiang di kepalanya.

Namun suasana hati Om Budi sedikit berubah begitu matanya menangkap sosok seorang gadis yang duduk di kursi teras depan. Seorang gadis berjilbab pashmina dengan wajah cantik dan kulit bersih. Tubuhnya ramping, namun tetap terlihat berisi di bagian tertentu. Meski duduk sopan sambil menunduk, aura muda dan segarnya tetap sulit diabaikan.

Dialah Vella, salah satu penghuni kos sekaligus mahasiswi semester enam.

Begitu melihat Om Budi datang, gadis itu langsung berdiri sedikit gugup.

“Om...” panggilnya pelan.

“Oh, Nak Vella.” Om Budi tersenyum tipis sambil mendekat. “Ada apa?”

Nada suaranya terdengar hangat dan menenangkan. Sikap seperti itulah yang membuat banyak penghuni kos nyaman padanya.

Vella tersenyum canggung. Tangannya meremas ujung jilbab di depan dada.

“Eh... gini, Om. Saya sebenarnya mau ngomong soal uang kos bulan ini...”

Om Budi menarik kursi lalu duduk tepat di depan gadis itu. Tatapannya sempat turun sekilas ke arah tubuh Vella yang padat berisi sebelum kembali ke wajahnya.

“Kenapa, Vell? Belum bisa bayar?”

Vella langsung menunduk.

“Iya, Om. Maaf... orang tua saya lagi ada kendala. Uangnya belum bisa dikirim.” Ia menggigit bibir kecilnya sebelum melanjutkan, “Saya takut Om marah atau nyuruh saya keluar.”

Om Budi tersenyum kecil, tatapannya tertuju pada bibir mungil gadis itu.

“Kenapa mesti takut?” ucapnya tenang. “Kalau memang belum ada, ya tinggal bilang baik-baik.”

Tangannya bergerak pelan menepuk meja kayu di antara mereka.

“Om ngerti kok.”

Vella mengangkat wajahnya perlahan. Matanya mulai berkaca-kaca.

“Dengar ya, Vell...” lanjut Om Budi dengan suara lembut penuh perhatian. “Om nggak mau kamu kepikiran soal uang kos.”

Matanya kembali melirik sekilas ke arah bibir mungil gadis itu sebelum tersenyum tipis.

“Yang penting kamu fokus kuliah. Cewek cantik dan pintar kayak kamu sayang kalau sampai putus kuliah.”

Vella tampak salah tingkah mendengar ucapan itu.

“Kalau nanti sudah ada rezeki, baru dibayar. Santai saja.”

“Maaf ya, Om... Vella jadi ngerepotin...” ucap gadis itu lirih.

Om Budi tersenyum lagi. Tatapannya begitu teduh dan dewasa, seolah benar-benar pria baik yang tulus membantu. Padahal di balik sikapnya yang tenang, pria itu memang punya kelemahan besar terhadap perempuan muda.

Dan Vella bukan satu-satunya gadis muda yang luluh karena perhatian dan kelembutannya. Banyak gadis merasa nyaman padanya. Merasa dimengerti. Merasa dilindungi.

Sampai akhirnya semua berakhir di atas ranjang.

Setelah mengobrol santai beberapa menit, Om Budi akhirnya berdiri dan pamit pulang.

Namun tanpa disadarinya, sejak tadi ada seseorang yang memperhatikan dari kejauhan. Seorang pria duduk di atas motor di balik bayangan pohon pinggir jalan. Tatapannya tajam mengarah ke arah teras kos.

“Aku tahu di balik sikap ramah kamu itu, tua bangka...” gumamnya pelan sambil mengepalkan tangan kuat-kuat. “Kamu pikir aku nggak tahu cara kamu deketin cewek-cewek muda?”

Tatapannya kembali mengarah ke Vella yang masih duduk di teras.

“Aku nggak bakal diem kalau kamu sampai manfaatin Vella.”

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Hangatnya Dekapan Om Budi   118

    Andri menarik selimut itu hingga terlepas dari tubuh Aya. Kini, kaos tipis dan rok sepaha yang melekat di tubuh gadis itu terlihat jelas di bawah cahaya lampu kamar. Aya spontan meringis. Ia buru-buru mengangkat lengan untuk menutupi wajahnya, seolah tak sanggup menatap Andri. "Mas... badanku semakin gerah, panas..." Melihat keadaan Aya yang sudah masuk kedalam perangkapnya, Andri perlahan merendahkan tubuhnya hingga sejajar dengan wajah gadis itu. Tatapannya tak lepas sedikit pun. "Kalau gitu buka aja baju kamu, Ay." Aya menggigit bibir bawahnya. Kepalanya langsung menggeleng pelan, sementara kedua bahunya ikut menegang. "Tapi, Mas... aku malu..." Napas Aya mulai tidak teratur, rasa panas semakin menyeruak dari tubuhnya. Andri tidak segera menjawab. Ia mengangkat satu tangan, lalu mengusap perlahan lengan Aya dengan

  • Hangatnya Dekapan Om Budi   117

    Aya membuka matanya perlahan. Tatapannya langsung tertuju pada gelas di atas meja kecil di samping ranjang. Cairan bening di dalamnya tampak dingin, embun masih menetes di permukaan gelas. "Minum dulu, Ay," ucap Andri yang masih berdiri di dekat meja. Nada suaranya dibuat tenang. "Biar kamu lebih rileks. Badanmu pasti capek." Aya menatap gelas itu cukup lama. Keraguan terlihat jelas di wajahnya. Bibirnya sempat bergerak hendak menolak, tetapi tak ada kata yang keluar. Jemarinya justru menggenggam selimut semakin erat. Melihat itu, Andri melangkah pelan mendekat. Ia duduk di tepi ranjang, hanya berjarak sejengkal dari Aya. Tubuhnya sedikit condong, lalu jemarinya menyentuh bahu gadis itu dengan lembut. "Ayolah... cuma minuman dingin. Kamu butuh itu. Percaya sama Mas, ya?" Aya menunduk sambil menarik napas panjang. Hatinya masih dipenuhi rasa gelisah, sementara pikirannya terasa kacau. Setelah beberapa saat, i

  • Hangatnya Dekapan Om Budi   116

    Kepala Aya menggeleng cepat. Air matanya terus menetes. Ia berdiri lalu mundur dua langkah sambil merapatkan kaos tipis yang dikenakannya. "Enggak, Mas. Aku nggak mau. Sekarang atau kapan pun. Mas ngerti nggak?!" Andri mengembuskan napas kasar. Ia benar-benar kesal dengan sikap Aya. Namun, ia tetap berusaha menahan diri. Ia tidak ingin gadis itu sampai membencinya. Perlahan, ia menatap Aya dengan wajah seolah penuh penyesalan. Kedua tangannya terangkat pelan, menunjukkan bahwa ia tidak akan memaksa lagi. "Ya udah, Ay... maafin Mas, ya. Mas kebablasan barusan. Mas cuma... nggak bisa nahan. Tapi Mas janji, Mas nggak bakal maksa kamu lagi." Aya menunduk, tetapi tubuhnya masih tegang. "Maafin Aya, Mas. Aya beneran nggak mau..." ucapnya lirih dengan suara yang nyaris pecah. Andri menepuk bahunya pelan, berpura-pura menenangkan. "Iya, iya... Mas ngerti. Kamu butuh tenang. Istirahat aj

  • Hangatnya Dekapan Om Budi   115

    Sementara itu, di hotel, suasana malam sudah sepi. Andri duduk di tepi ranjang, sejak tadi ia tidak bisa tenang. Tubuhnya dipenuhi hasrat yang sudah lama ia pendam. Malam ini, ia yakin kesempatan akhirnya datang. Dalam pikirannya, tidak akan ada lagi yang menghalangi keinginannya untuk mendapatkan Aya, gadis yang sudah membuatnya hampir gila. Ia merogoh saku celananya, lalu mengeluarkan sebotol kecil jamu kuat. Tutup botol dibuka, kemudian isinya langsung diteguk hingga habis. Setelah itu, botol kosong tersebut ia letakkan di atas meja samping ranjang. Tatapannya kembali mengarah ke pintu kamar mandi yang masih tertutup. Sudut bibirnya perlahan terangkat membentuk senyum tipis. "Aya," gumamnya lirih. "Aku harus lebih dulu dapatkan tubuh kamu... baru setelah itu aku kasih kamu ke si tua bangka itu." Ia menyandarkan tubuh sejenak, lalu menundukkan kepala. Tangannya mengangkat sedikit ujung celananya untuk melihat kejanta

  • Hangatnya Dekapan Om Budi   114

    Sementara itu, di rumah Om Budi... Suasana ruang tengah masih dipenuhi ketegangan. Om Budi duduk berhadapan dengan Diana. Wajahnya tampak letih, sementara sorot matanya menyimpan kegelisahan yang sejak tadi ia tahan. Di sisi lain, Diana duduk dengan wajah datar. Sebenarnya ia sama sekali tidak ingin mendengarkan penjelasan Om Budi. Namun karena terus diminta, akhirnya ia memilih duduk meski dengan perasaan enggan. Om Budi mengembuskan napas panjangnya sebelum membuka suara. "Dengan adanya informasi itu... Menurutnya Om, kalian itu terlalu cepat menyimpulkan. Om nggak pernah punya niatan nyakitin istri Om, apalagi sampe membuatnya meninggal." Diana tetap diam. Bibirnya terkatup rapat, sementara kedua tangannya saling menggenggam di pangkuan. Awalnya ia benar-benar tidak ingin mendengar apa pun, tetapi semakin lama duduk di sana, hatinya mulai dipenuhi kebimbangan.

  • Hangatnya Dekapan Om Budi   113

    Lobi hotel kecil itu tampak sepi. Hanya ada seorang resepsionis wanita berambut panjang tergerai dengan bibir merah menyala yang sedang asyik mengetuk layar ponselnya. Begitu melihat Andri dan Aya masuk, ia langsung mengangkat kepala dan melemparkan senyum tipis. Tatapannya menyapu keduanya sekilas, lalu berhenti beberapa saat pada wajah Aya yang tampak murung. "Cari kamar, Mas?" tanyanya dengan nada genit sambil mengunyah permen karet. "Iya," jawab Andri singkat. "Yang sepi. Atas kalau bisa." Resepsionis itu sedikit mencondongkan tubuh, dagunya bertumpu di telapak tangan lalu mengedip nakal. "Bisa, Mas. Biasanya tamu pasangan lebih suka kamar ujung. Lebih tenang." Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan dengan senyum penuh arti. "Kalau mau... data check-in juga bisa saya simpan manual aja, biar nggak masuk sistem." Andri mengeluarkan beberapa lembar uang

  • Hangatnya Dekapan Om Budi   10

    Yongki sudah tidak mampu menahan diri lagi. Tangannya bergerak cepat ke balik punggung Aya dan, dalam satu sentuhan, ia berhasil membuka bra gadis itu. Payudara Aya terbuka sepenuhnya. Yongki menelan ludah. "Dada kamu indah sekali, Ay." Aya spontan mengangkat kedua tangannya untuk menutupi dada.

  • Hangatnya Dekapan Om Budi   4

    Motor matik besar milik Om Budi melaju membelah jalanan pagi dengan kecepatan sedang. Udara masih terasa sejuk, sementara beberapa kendaraan mulai memenuhi jalan menuju pusat kota. Tujuan mereka pagi itu adalah kampus tempat Aya akan mendaftar. Di boncengan belakang, Aya duduk dengan wajah cemb

  • Hangatnya Dekapan Om Budi   3

    Sekitar pukul setengah sebelas malam, Om Budi akhirnya sampai di rumah. Halaman terlihat sepi. Hanya suara jangkrik yang terdengar bersahutan di tengah malam. Ia mematikan motor, lalu berjalan masuk ke dalam rumah. Meski pintu terkunci, ia tetap bisa masuk menggunakan kunci cadangan yang selalu i

  • Hangatnya Dekapan Om Budi   1.

    Om Budi Suharsono baru saja sampai di rumahnya saat jam menunjukkan pukul sebelas malam. Ia membuka pintu perlahan, lalu masuk sambil melonggarkan kancing kemejanya. Aroma parfum perempuan masih menempel samar di tubuhnya. Dengan langkah sedikit berat, Ia berjalan ke dapur mengambil air minum,

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status