ログインHari itu, Aya berada di kelas pertamanya sebagai mahasiswi baru. Seorang dosen sedang menjelaskan berbagai aturan kampus, jadwal kegiatan mahasiswa baru, hingga beberapa hal penting yang harus dipahami selama perkuliahan berlangsung.
Aya terlihat sangat antusias. Tangannya sibuk menulis poin-poin penting ke dalam buku catatannya, sesekali mengangguk kecil sambil memperhatikan penjelasan di depan kelas. “Baik, unSementara itu, Om Budi sudah duduk di ruang tamu rumah bidan Ririn. Di depannya, Bidan muda itu duduk dengan wajah yang masih terlihat sedikit gelisah. "Jadi begitu, Om. Saya nggak mau punya utang apa pun. Kalau Om nggak keberatan, saya mau kasih sertifikat rumah ini." Om Budi tersenyum kecil. "Saya sih sebenarnya nggak mempermasalahkan soal jaminan, Bu Bidan. Saya bisa bantu saja sudah senang." "Tapi saya tetap kepikiran, Om." Om Budi meraih gelas kopinya lalu meneguknya pelan. Sesaat matanya melirik ke arah Bidan Ririn. Entah kenapa, wanita itu terlihat semakin menarik di matanya. Mungkin karena selama ini ia terlalu sibuk dengan gadis-gadis muda atau mungkin karena kini ia mulai sering berinteraksi dengan wanita itu. Padahal sebenarnya, kalau mau, ia bisa saja mengambil rumah tersebut lalu menjualnya kepada Andri. Namun ia tidak tega melihat Bidan Ririn kehilangan satu-satunya rumah yang masih dimilikinya. Ia meletakkan kembali gelas kopinya di atas meja. "Saya in
Pagi harinya, Om Budi dan Andri berhenti di depan sebuah rumah yang berada tidak jauh dari kediaman om Budi. Rumah itu cukup besar, halaman depannya luas, dan bangunannya masih terlihat kokoh meski sudah beberapa tahun ditempati pemilik sebelumnya. Om Budi turun dari motornya lebih dulu. "Nah, ini salah satu rumah yang semalem Om ceritain." Andri ikut turun lalu memperhatikan rumah itu sekilas. Lumayan. Bahkan kalau dipikir-pikir, rumah itu jauh lebih baik daripada yang ia bayangkan. Namun entah kenapa, justru itu yang membuatnya tidak nyaman. Kalau rumahnya cocok, berarti ia dan Diana bisa segera pindah. Artinya, ia juga harus menjauh dari Aya. Om Budi berjalan masuk ke halaman sambil menunjuk beberapa bagian rumah. "Halamannya luas. Bangunannya juga m
Darah Andri berdesir kencang. Jantungnya menghentak, dan kakinya hampir saja melangkah masuk ke dalam kamar. Namun akalnya masih sempat menahan. Napasnya memburu, sementara tangan yang memegang pintu sedikit bergetar. Setelah beberapa lama melawan hasratnya sendiri, ia akhirnya mundur lalu menutup kembali pintu itu. Setibanya di koridor, ia menyandarkan punggung ke dinding sambil menekan dadanya yang berdegup tak karuan. "Hemm... bisa gila kalau tiap hari ngeliat Aya kayak begini," bisiknya. Tak lama kemudian, ia masuk ke kamarnya. Diana, istrinya, masih tertidur pulas dengan tubuh membelakangi pintu. Andri mendekat lalu mengguncang tubuh wanita itu pelan. "Dek... bangun sebentar." Diana bergumam setengah sadar. Matanya masih terpejam. "Hmm... apa, Mas...? Aku ngantuk banget..." Andri sudah tak sanggup menahan gairahnya. Napasnya berat
Bidan Ririn terdiam beberapa saat. Ia menatap Om Budi dengan ragu. Wanita itu memang sudah lama mengenal pria tersebut. Ia tahu Om Budi sering membantu tetangga yang sedang kesulitan. Namun kali ini jumlah uang yang dibutuhkan tidak sedikit. "Nggak usah, Om," jawabnya akhirnya. "Lagian jumlahnya besar. Saya nggak mau punya utang Budi." Om Budi malah terkekeh mendengarnya. "Kalau sama Budi, nggak ada utang, Bu." Bidan Ririn ikut tertawa kecil. Baru sadar kalau nama pria itu adalah Budi. "Orang lagi serius, Om." Senyum Om Budi langsung hilang. Ia kembali menatap Bidan Ririn dengan sungguh-sungguh. "Saya juga serius, Bu. Selama ini Ibu udah banyak bantu warga sekitar. Dulu waktu almarhum istri saya masih ada, Ib
Setelah Andri dan Diana masuk ke kamar mereka, Om Budi berjalan menuju kamarnya sendiri. Beberapa menit kemudian, pria itu keluar lagi dengan pakaian yang sudah rapi. "Ay," panggilnya. Aya yang sedang berdiri di dapur langsung menoleh. "Iya, Om?" Ia segera menghampiri. "Om mau keluar dulu. Sekalian ketemu temen buat nanyain rumah yang mungkin cocok buat Andri. Kamu nggak ke kampus, kan?" Aya menggeleng pelan. "Nggak, Om." Om Budi tersenyum. Lalu matanya tertuju ke wajah Aya yang terlihat cantik dan segar pagi itu, bibir yang merah merekah membuat hasratnya kembali bangkit. Pria itu mengangkat tangan untuk menyentuh bibirnya, namun sebelum semp
Keesokan paginya, Aya mengantar Dea ke depan rumah, dimana ojek online sudah menunggu gadis itu. “Nanti aku nginep lagi ya,” ucap Dea sambil senyum nakal. “Iya,” jawab Aya santai. Dea lalu mendekat lagi sedikit sambil menahan tawa. “Salam buat Om Budi ya. Bilang aja aku nggak sempat pamit.” Setelah itu ia sengaja mengedip genit. Aya langsung mendengus kesal. “Genit banget sih.” “Hehehe… salah sendiri om kamu ganteng,” balas Dea tanpa dosa, lalu cepat-cepat naik ke atas motor sebelum Aya mencubitnya. Aya cuma geleng-geleng kepala sambil melambaikan tangan ketika motor itu mulai melaju meninggalkan rumah. Setelah Dea menghilang di tikungan, Aya kembali masuk ke dalam r