登入Hari itu, Aya berada di kelas pertamanya sebagai mahasiswi baru. Seorang dosen sedang menjelaskan berbagai aturan kampus, jadwal kegiatan mahasiswa baru, hingga beberapa hal penting yang harus dipahami selama perkuliahan berlangsung.
Aya terlihat sangat antusias. Tangannya sibuk menulis poin-poin penting ke dalam buku catatannya, sesekali mengangguk kecil sambil memperhatikan penjelasan di depan kelas. “Baik, unAndri menarik selimut itu hingga terlepas dari tubuh Aya. Kini, kaos tipis dan rok sepaha yang melekat di tubuh gadis itu terlihat jelas di bawah cahaya lampu kamar. Aya spontan meringis. Ia buru-buru mengangkat lengan untuk menutupi wajahnya, seolah tak sanggup menatap Andri. "Mas... badanku semakin gerah, panas..." Melihat keadaan Aya yang sudah masuk kedalam perangkapnya, Andri perlahan merendahkan tubuhnya hingga sejajar dengan wajah gadis itu. Tatapannya tak lepas sedikit pun. "Kalau gitu buka aja baju kamu, Ay." Aya menggigit bibir bawahnya. Kepalanya langsung menggeleng pelan, sementara kedua bahunya ikut menegang. "Tapi, Mas... aku malu..." Napas Aya mulai tidak teratur, rasa panas semakin menyeruak dari tubuhnya. Andri tidak segera menjawab. Ia mengangkat satu tangan, lalu mengusap perlahan lengan Aya dengan
Aya membuka matanya perlahan. Tatapannya langsung tertuju pada gelas di atas meja kecil di samping ranjang. Cairan bening di dalamnya tampak dingin, embun masih menetes di permukaan gelas. "Minum dulu, Ay," ucap Andri yang masih berdiri di dekat meja. Nada suaranya dibuat tenang. "Biar kamu lebih rileks. Badanmu pasti capek." Aya menatap gelas itu cukup lama. Keraguan terlihat jelas di wajahnya. Bibirnya sempat bergerak hendak menolak, tetapi tak ada kata yang keluar. Jemarinya justru menggenggam selimut semakin erat. Melihat itu, Andri melangkah pelan mendekat. Ia duduk di tepi ranjang, hanya berjarak sejengkal dari Aya. Tubuhnya sedikit condong, lalu jemarinya menyentuh bahu gadis itu dengan lembut. "Ayolah... cuma minuman dingin. Kamu butuh itu. Percaya sama Mas, ya?" Aya menunduk sambil menarik napas panjang. Hatinya masih dipenuhi rasa gelisah, sementara pikirannya terasa kacau. Setelah beberapa saat, i
Kepala Aya menggeleng cepat. Air matanya terus menetes. Ia berdiri lalu mundur dua langkah sambil merapatkan kaos tipis yang dikenakannya. "Enggak, Mas. Aku nggak mau. Sekarang atau kapan pun. Mas ngerti nggak?!" Andri mengembuskan napas kasar. Ia benar-benar kesal dengan sikap Aya. Namun, ia tetap berusaha menahan diri. Ia tidak ingin gadis itu sampai membencinya. Perlahan, ia menatap Aya dengan wajah seolah penuh penyesalan. Kedua tangannya terangkat pelan, menunjukkan bahwa ia tidak akan memaksa lagi. "Ya udah, Ay... maafin Mas, ya. Mas kebablasan barusan. Mas cuma... nggak bisa nahan. Tapi Mas janji, Mas nggak bakal maksa kamu lagi." Aya menunduk, tetapi tubuhnya masih tegang. "Maafin Aya, Mas. Aya beneran nggak mau..." ucapnya lirih dengan suara yang nyaris pecah. Andri menepuk bahunya pelan, berpura-pura menenangkan. "Iya, iya... Mas ngerti. Kamu butuh tenang. Istirahat aj
Sementara itu, di hotel, suasana malam sudah sepi. Andri duduk di tepi ranjang, sejak tadi ia tidak bisa tenang. Tubuhnya dipenuhi hasrat yang sudah lama ia pendam. Malam ini, ia yakin kesempatan akhirnya datang. Dalam pikirannya, tidak akan ada lagi yang menghalangi keinginannya untuk mendapatkan Aya, gadis yang sudah membuatnya hampir gila. Ia merogoh saku celananya, lalu mengeluarkan sebotol kecil jamu kuat. Tutup botol dibuka, kemudian isinya langsung diteguk hingga habis. Setelah itu, botol kosong tersebut ia letakkan di atas meja samping ranjang. Tatapannya kembali mengarah ke pintu kamar mandi yang masih tertutup. Sudut bibirnya perlahan terangkat membentuk senyum tipis. "Aya," gumamnya lirih. "Aku harus lebih dulu dapatkan tubuh kamu... baru setelah itu aku kasih kamu ke si tua bangka itu." Ia menyandarkan tubuh sejenak, lalu menundukkan kepala. Tangannya mengangkat sedikit ujung celananya untuk melihat kejanta
Sementara itu, di rumah Om Budi... Suasana ruang tengah masih dipenuhi ketegangan. Om Budi duduk berhadapan dengan Diana. Wajahnya tampak letih, sementara sorot matanya menyimpan kegelisahan yang sejak tadi ia tahan. Di sisi lain, Diana duduk dengan wajah datar. Sebenarnya ia sama sekali tidak ingin mendengarkan penjelasan Om Budi. Namun karena terus diminta, akhirnya ia memilih duduk meski dengan perasaan enggan. Om Budi mengembuskan napas panjangnya sebelum membuka suara. "Dengan adanya informasi itu... Menurutnya Om, kalian itu terlalu cepat menyimpulkan. Om nggak pernah punya niatan nyakitin istri Om, apalagi sampe membuatnya meninggal." Diana tetap diam. Bibirnya terkatup rapat, sementara kedua tangannya saling menggenggam di pangkuan. Awalnya ia benar-benar tidak ingin mendengar apa pun, tetapi semakin lama duduk di sana, hatinya mulai dipenuhi kebimbangan.
Lobi hotel kecil itu tampak sepi. Hanya ada seorang resepsionis wanita berambut panjang tergerai dengan bibir merah menyala yang sedang asyik mengetuk layar ponselnya. Begitu melihat Andri dan Aya masuk, ia langsung mengangkat kepala dan melemparkan senyum tipis. Tatapannya menyapu keduanya sekilas, lalu berhenti beberapa saat pada wajah Aya yang tampak murung. "Cari kamar, Mas?" tanyanya dengan nada genit sambil mengunyah permen karet. "Iya," jawab Andri singkat. "Yang sepi. Atas kalau bisa." Resepsionis itu sedikit mencondongkan tubuh, dagunya bertumpu di telapak tangan lalu mengedip nakal. "Bisa, Mas. Biasanya tamu pasangan lebih suka kamar ujung. Lebih tenang." Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan dengan senyum penuh arti. "Kalau mau... data check-in juga bisa saya simpan manual aja, biar nggak masuk sistem." Andri mengeluarkan beberapa lembar uang
"Permisi," sapa Om Budi dengan ramah. Orang-orang yang sedang bersitegang itu langsung menoleh ke arahnya. Ketua ormas bahkan langsung mengernyit sambil menatap Om Budi dari ujung kepala sampai kaki, berusaha mengenali pria yang tiba-tiba muncul tersebut. Namun, ia y
Om Budi masih berada di kamarnya. Tubuhnya masih telanjang sambil rebahan di atas kasur dengan keringat masih menempel di kulitnya. Mirna baru saja keluar sekitar sepuluh menit yang lalu. Meski sudah mencapai puncak kepuasann
Bidan Ririn hanya mengangguk. Napasnya mulai memburu. Tubuhnya terasa semakin lemas, bahkan kedua kakinya nyaris kehilangan tenaga untuk berdiri tegak. Tangan Om Budi mulai membuka kancing bajunya satu per satu. Setelah kancing terakhir terbuka, ia menarik kain itu dari bahu
“Apa maksudnya, Ay?” tanya Om Budi seperti ingin memastikan kalau ia tidak salah mendengar. Aya gugup. Dadanya naik turun cepat. Namun ia tidak mundur, juga tidak berniat menarik kembali kat







