Share

35

Author: Pena Malam
last update publish date: 2026-06-06 10:05:58

Aya berusaha tetap fokus memijat kepala Om Budi, meski jantungnya sejak tadi tidak benar-benar tenang. Setiap kali jemarinya bergerak pelan di pelipis pria itu, setiap kali napas Om Budi terdengar berat dan rendah di depannya, dadanya ikut berdebar aneh.

Rumah terasa terlalu sepi.

Terlalu malam.

Dan terlalu hangat.

“Enak?” tanya Ay
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Hangatnya Dekapan Om Budi   118

    Andri menarik selimut itu hingga terlepas dari tubuh Aya. Kini, kaos tipis dan rok sepaha yang melekat di tubuh gadis itu terlihat jelas di bawah cahaya lampu kamar. Aya spontan meringis. Ia buru-buru mengangkat lengan untuk menutupi wajahnya, seolah tak sanggup menatap Andri. "Mas... badanku semakin gerah, panas..." Melihat keadaan Aya yang sudah masuk kedalam perangkapnya, Andri perlahan merendahkan tubuhnya hingga sejajar dengan wajah gadis itu. Tatapannya tak lepas sedikit pun. "Kalau gitu buka aja baju kamu, Ay." Aya menggigit bibir bawahnya. Kepalanya langsung menggeleng pelan, sementara kedua bahunya ikut menegang. "Tapi, Mas... aku malu..." Napas Aya mulai tidak teratur, rasa panas semakin menyeruak dari tubuhnya. Andri tidak segera menjawab. Ia mengangkat satu tangan, lalu mengusap perlahan lengan Aya dengan

  • Hangatnya Dekapan Om Budi   117

    Aya membuka matanya perlahan. Tatapannya langsung tertuju pada gelas di atas meja kecil di samping ranjang. Cairan bening di dalamnya tampak dingin, embun masih menetes di permukaan gelas. "Minum dulu, Ay," ucap Andri yang masih berdiri di dekat meja. Nada suaranya dibuat tenang. "Biar kamu lebih rileks. Badanmu pasti capek." Aya menatap gelas itu cukup lama. Keraguan terlihat jelas di wajahnya. Bibirnya sempat bergerak hendak menolak, tetapi tak ada kata yang keluar. Jemarinya justru menggenggam selimut semakin erat. Melihat itu, Andri melangkah pelan mendekat. Ia duduk di tepi ranjang, hanya berjarak sejengkal dari Aya. Tubuhnya sedikit condong, lalu jemarinya menyentuh bahu gadis itu dengan lembut. "Ayolah... cuma minuman dingin. Kamu butuh itu. Percaya sama Mas, ya?" Aya menunduk sambil menarik napas panjang. Hatinya masih dipenuhi rasa gelisah, sementara pikirannya terasa kacau. Setelah beberapa saat, i

  • Hangatnya Dekapan Om Budi   116

    Kepala Aya menggeleng cepat. Air matanya terus menetes. Ia berdiri lalu mundur dua langkah sambil merapatkan kaos tipis yang dikenakannya. "Enggak, Mas. Aku nggak mau. Sekarang atau kapan pun. Mas ngerti nggak?!" Andri mengembuskan napas kasar. Ia benar-benar kesal dengan sikap Aya. Namun, ia tetap berusaha menahan diri. Ia tidak ingin gadis itu sampai membencinya. Perlahan, ia menatap Aya dengan wajah seolah penuh penyesalan. Kedua tangannya terangkat pelan, menunjukkan bahwa ia tidak akan memaksa lagi. "Ya udah, Ay... maafin Mas, ya. Mas kebablasan barusan. Mas cuma... nggak bisa nahan. Tapi Mas janji, Mas nggak bakal maksa kamu lagi." Aya menunduk, tetapi tubuhnya masih tegang. "Maafin Aya, Mas. Aya beneran nggak mau..." ucapnya lirih dengan suara yang nyaris pecah. Andri menepuk bahunya pelan, berpura-pura menenangkan. "Iya, iya... Mas ngerti. Kamu butuh tenang. Istirahat aj

  • Hangatnya Dekapan Om Budi   115

    Sementara itu, di hotel, suasana malam sudah sepi. Andri duduk di tepi ranjang, sejak tadi ia tidak bisa tenang. Tubuhnya dipenuhi hasrat yang sudah lama ia pendam. Malam ini, ia yakin kesempatan akhirnya datang. Dalam pikirannya, tidak akan ada lagi yang menghalangi keinginannya untuk mendapatkan Aya, gadis yang sudah membuatnya hampir gila. Ia merogoh saku celananya, lalu mengeluarkan sebotol kecil jamu kuat. Tutup botol dibuka, kemudian isinya langsung diteguk hingga habis. Setelah itu, botol kosong tersebut ia letakkan di atas meja samping ranjang. Tatapannya kembali mengarah ke pintu kamar mandi yang masih tertutup. Sudut bibirnya perlahan terangkat membentuk senyum tipis. "Aya," gumamnya lirih. "Aku harus lebih dulu dapatkan tubuh kamu... baru setelah itu aku kasih kamu ke si tua bangka itu." Ia menyandarkan tubuh sejenak, lalu menundukkan kepala. Tangannya mengangkat sedikit ujung celananya untuk melihat kejanta

  • Hangatnya Dekapan Om Budi   114

    Sementara itu, di rumah Om Budi... Suasana ruang tengah masih dipenuhi ketegangan. Om Budi duduk berhadapan dengan Diana. Wajahnya tampak letih, sementara sorot matanya menyimpan kegelisahan yang sejak tadi ia tahan. Di sisi lain, Diana duduk dengan wajah datar. Sebenarnya ia sama sekali tidak ingin mendengarkan penjelasan Om Budi. Namun karena terus diminta, akhirnya ia memilih duduk meski dengan perasaan enggan. Om Budi mengembuskan napas panjangnya sebelum membuka suara. "Dengan adanya informasi itu... Menurutnya Om, kalian itu terlalu cepat menyimpulkan. Om nggak pernah punya niatan nyakitin istri Om, apalagi sampe membuatnya meninggal." Diana tetap diam. Bibirnya terkatup rapat, sementara kedua tangannya saling menggenggam di pangkuan. Awalnya ia benar-benar tidak ingin mendengar apa pun, tetapi semakin lama duduk di sana, hatinya mulai dipenuhi kebimbangan.

  • Hangatnya Dekapan Om Budi   113

    Lobi hotel kecil itu tampak sepi. Hanya ada seorang resepsionis wanita berambut panjang tergerai dengan bibir merah menyala yang sedang asyik mengetuk layar ponselnya. Begitu melihat Andri dan Aya masuk, ia langsung mengangkat kepala dan melemparkan senyum tipis. Tatapannya menyapu keduanya sekilas, lalu berhenti beberapa saat pada wajah Aya yang tampak murung. "Cari kamar, Mas?" tanyanya dengan nada genit sambil mengunyah permen karet. "Iya," jawab Andri singkat. "Yang sepi. Atas kalau bisa." Resepsionis itu sedikit mencondongkan tubuh, dagunya bertumpu di telapak tangan lalu mengedip nakal. "Bisa, Mas. Biasanya tamu pasangan lebih suka kamar ujung. Lebih tenang." Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan dengan senyum penuh arti. "Kalau mau... data check-in juga bisa saya simpan manual aja, biar nggak masuk sistem." Andri mengeluarkan beberapa lembar uang

  • Hangatnya Dekapan Om Budi   4

    Motor matik besar milik Om Budi melaju membelah jalanan pagi dengan kecepatan sedang. Udara masih terasa sejuk, sementara beberapa kendaraan mulai memenuhi jalan menuju pusat kota. Tujuan mereka pagi itu adalah kampus tempat Aya akan mendaftar. Di boncengan belakang, Aya duduk dengan wajah cemb

  • Hangatnya Dekapan Om Budi   3

    Sekitar pukul setengah sebelas malam, Om Budi akhirnya sampai di rumah. Halaman terlihat sepi. Hanya suara jangkrik yang terdengar bersahutan di tengah malam. Ia mematikan motor, lalu berjalan masuk ke dalam rumah. Meski pintu terkunci, ia tetap bisa masuk menggunakan kunci cadangan yang selalu i

  • Hangatnya Dekapan Om Budi   2

    Hari itu Aya, atau nama lengkapnya Cahaya Pramesti, resmi tinggal di rumah Om Budi. Gadis cantik itu menempati kamar tengah. Kamarnya rapi dan nyaman, lengkap dengan AC, lemari, rak buku, dan spring bed empuk. Buat Aya yang biasa tidur di kamar dengan kasur tipis di rumahnya, tempat ini terasa se

  • Hangatnya Dekapan Om Budi   1.

    Om Budi Suharsono baru saja sampai di rumahnya saat jam menunjukkan pukul sebelas malam. Ia membuka pintu perlahan, lalu masuk sambil melonggarkan kancing kemejanya. Aroma parfum perempuan masih menempel samar di tubuhnya. Dengan langkah sedikit berat, Ia berjalan ke dapur mengambil air minum,

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status