Share

40

Author: Pena Malam
last update publish date: 2026-06-07 10:05:04

“Apa maksudnya, Ay?” tanya Om Budi seperti ingin memastikan kalau ia tidak salah mendengar.

Aya gugup.

Dadanya naik turun cepat. Namun ia tidak mundur, juga tidak berniat menarik kembali kata-katanya.

“Om pasti ngerti maksud Aya.”

Jawaban itu terdengar jelas di telinga Om Budi.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Hangatnya Dekapan Om Budi   55

    Ketika malam semakin larut, rumah mulai sepi. Hanya suara pendingin kamar yang terdengar. Andri yang sejak tadi hanya berpura-pura tidur perlahan membuka mata. Diana, istrinya, sudah terlelap dengan napas yang teratur. Andri bangkit pelan dari kasur, berjalan ke pintu, lalu membukanya hati-hati agar tidak menimbulkan bunyi. Ruang tengah sunyi. Pandangannya sempat melirik ke arah kamar Om Budi. Pintu kamar itu tertutup rapat, tanda pria tersebut sudah tidur. Tatapannya kemudian bergeser ke kamar Aya. "Apa dia sudah tidur, ya?" pikirnya. Setelah diam sejenak, ia berjalan mendekat ke arah kamar Aya lalu berdiri di depan pintu itu. Entah kenapa, hanya berdiri di sana saja sudah membuat dadanya berdebar. Tiba-tiba pintu kamar terbuka. Aya muncul dengan wajah yang masih sedikit sembab karena baru bangun

  • Hangatnya Dekapan Om Budi   54

    Om Budi keluar dari rumah Ririn sambil mengancingkan kemejanya satu per satu. Waktu sudah menjelang sore. Entah sudah berapa lama mereka menghabiskan waktu di dalam kamar itu. Ririn menyusul dari belakang. Rambutnya yang berantakan ia gulung seadanya, sementara tubuhnya hanya dibalut selimut yang disematkan di bagian dada. "Ya udah, Om balik dulu ya. Makasih atas semuanya." Ririn tersenyum tipis. "Iya, Om," jawabnya pelan. Om Budi membuka pintu. Namun sebelum melangkah keluar, ia sempat berbalik lalu mengecup kening Ririn. "Kalau ada apa-apa, kabarin aja. Jangan sungkan." Ririn mengangguk kecil. Dadanya terasa hangat. Sudah lama ia tidak merasakan perhatian seperti itu. Om Budi kemudian berjalan ke halaman da

  • Hangatnya Dekapan Om Budi   53

    Sementara di tempat lain, di rumah Om Budi sendiri. Aya sedang belajar di kamarnya. Gadis itu duduk di meja belajar yang menghadap ke dinding. Buku pelajaran terbuka di hadapannya. Ia membaca paragraf demi paragraf, lalu mencatat poin-poin penting ke dalam buku catatannya. Mbak Mirna sudah pulang setengah jam yang lalu. Sebelum pulang, ia membersihkan rumah dan memasak untuk makan malam. Sekarang rumah hanya berisi Aya di kamarnya, serta Diana dan Andri yang entah sedang apa. Aya terlihat serius menulis. Pulpen di tangannya bergerak di atas kertas. Tiba-tiba suara Diana terdengar dari kejauhan. "Mas, jangan di sini..." Suaranya terdengar mendesah. Bukan desahan biasa. Ada nada cemas bercampur sesuatu yang tidak Aya kenali. Aya berhenti menulis. Ia menoleh ke arah pintu kamarnya yang memang tidak tertutup

  • Hangatnya Dekapan Om Budi   52

    Om Budi mengangguk. Ia memegang batangnya dengan telapak tangan, lalu mengarahkannya tepat ke liang Ririn yang ditumbuhi bulu-bulu halus yang terawat. Tangan kirinya menggenggam pinggul wanita itu agar tidak bergerak mundur. Saat ia menekan sedikit, kepala batangnya mulai masuk. Ririn langsung mengerutkan dahi. Bibir bawahnya menggigit bibir atas. Matanya terpejam rapat. "Ahh..." desahnya pendek. Baru bagian kepalanya saja yang masuk, Ririn sudah merasakan regangan di sekitar mulut jalannya. Perutnya naik turun cepat seperti menahan letupan yang ingin keluar. Kedua tangannya mencengkeram sprei di kiri dan kanan tubuhnya. Om Budi berhenti sejenak. Ia memperhatikan wajah Ririn. "Rileks ya." Ririn mengangguk pelan. Matanya masih belum berani membuka. Om Budi mendorong sedikit lagi.

  • Hangatnya Dekapan Om Budi   51

    Bidan Ririn hanya mengangguk. Napasnya mulai memburu. Tubuhnya terasa semakin lemas, bahkan kedua kakinya nyaris kehilangan tenaga untuk berdiri tegak. Tangan Om Budi mulai membuka kancing bajunya satu per satu. Setelah kancing terakhir terbuka, ia menarik kain itu dari bahu Ririn. Tak lama kemudian, baju tersebut terlepas dan jatuh ke lantai. Kini hanya bra putih yang tersisa di tubuh Bidan Ririn. Payudaranya tampak menekan kain bra, tetapi Ririn tidak berusaha menutupinya. Om Budi menatapnya selama beberapa detik. Sementara itu, Bidan Ririn hanya berdiri di tempat dengan napas yang masih belum teratur. Wajahnya terasa panas, tetapi ia tetap diam tanpa berusaha menutupi dirinya. Bibir Om Budi kembali mengecup lehernya, lalu bergerak turun ke tulang selangka. Tangannya menyusuri punggung Ririn, mencari kaitan bra yang dikenakannya. Sekali jentikan, kaitan itu terlepas. Om Budi menarik tali bra dari b

  • Hangatnya Dekapan Om Budi   50

    Om Budi menatap wanita itu sekali lagi untuk memastikan kesungguhannya. Namun Bidan Ririn malah membalas tatapan itu lebih berani. Ia tidak menghindar, tidak menjauh. Bibirnya yang merekah terbuka seperti menunggu untuk di lumat. Om Budi tidak bisa diam diri lagi, sedari tadi hasratnya sudah teruski. Tanpa bicara, ia langsung melumat bibir Bidan Ririn. Awalnya lembut, namun tak lama ciumannya berubah liar. Bibir bawah wanita itu ia kecup ia gigit, lalu bibir atasnya. Bidan Ririn tidak langsung membalas. Matanya terpejam sesaat. Jantungnya berdegup kencang. Sudah sangat lama ia tidak merasakan ciuman laki-laki sejak suaminya meninggal. Perasaan gugup, kaget, dan rindu bercampur jadi

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status