LOGINMentari pagi baru saja memancarkan sinarnya yang hangat saat Hana melangkah masuk ke dalam rumah kediaman Adista. Sebagai asisten pribadi yang merangkap sekretaris, datang pagi-pagi sekali sudah menjadi makanannya sehari-hari. Hana duduk di sofa ruang tamu dengan tablet kerja di pangkuannya, bersiap membacakan rentetan agenda padat yang harus dihadapi Fero di kantor hari ini.Karena jam dinding baru menunjukkan pukul setengah tujuh pagi, Fero rupanya masih berada di dalam kamar untuk bersiap-siap dan memakai kemeja kerjanya. Di ruang tamu itu, hanya ada Adista yang sedang duduk santai menikmati teh hangatnya.Adista menurunkan cangkir tehnya, lalu menatap Hana lekat-lekat. Ada yang berbeda dari bawahannya itu hari ini. Raut wajah Hana tampak jauh lebih sumringah, ceria, dan penuh binar kebahagiaan yang tidak bisa disembunyikan jika dibandingkan dengan hari-hari biasanya."Hana," panggil Adista, memecah keheningan.Hana langsung mendongak dari layar tabletnya, tersenyum lebar. "Iya,
Kamar yang ditempati Rosa malam itu tampak remang-remang. Di atas ranjang ukuran king size, wanita paruh baya itu sedang mengikir kukunya dengan santai saat ponsel di atas nakas mendadak berdering nyaring. Layar ponsel menampilkan nama sang suami. Rosa mendengus sebal sebelum akhirnya menggeser tombol hijau ke kanan."Halo, Pa. Ada apa malam-malam begini telepon?" tanya Rosa, nada suaranya dibuat sedatar mungkin, menyiratkan rasa malas yang kentara."Ma, kamu kapan pulang ke rumah? Ini sudah hampir seminggu kamu di Jakarta. Rumah sepi sekali kalau enggak ada kamu."Rosa memutar bola matanya jengah, lalu menyandarkan punggung ke kepala ranjang. "Aduh, Pa. Mungkin seminggu lagi aku baru bisa pulang ke Surabaya. Tolong mengerti dong, aku ini masih kangen sekali sama Adista. Kami kan sudah lama tidak bertemu dan mengobrol sedekat ini.""Tapi seminggu lagi itu lama, Ma. Memangnya urusan keponakanmu itu belum selesai? Kamu kan juga punya rumah di sini yang harus diurus," keluh suaminya di
Setelah jam makan malam, Fero sedang duduk di pinggiran ranjang. Baru saja hendak meregangkan otot-otot tubuhnya saat ponsel di atas nakas bergetar pendek. Sebuah notifikasi pesan masuk dari Zia. Fero menghela napas panjang sebelum membuka layar ponselnya. Berkomunikasi dengan wanita itu merupakan hal yang tidak dia suka. “Mas, kamu lagi apa sekarang? Udah makan belum? Kok seharian ini enggak ada kabar?” bunyi pesan dari Zia.Jemari Fero bergerak di atas papan ketik, menyusun jawaban dengan hati-hati. Walaupun terpaksa, dia tidak ingin secara terang-terangan menyakiti perasaan wanita itu. “Baru saja selesai menemani bos saya makan malam, Zia. Maaf baru balas.” Fero sengaja mempertahankan kebohongannya, ia mengaku kepada Zia kalau dirinya sekarang merantau di Jakarta dan bekerja sebagai seorang sopir pribadi demi menutupi status pernikahan kontraknya dengan Adista.Tidak butuh waktu lama, ponsel Fero kembali bergetar. Balasan Zia kali ini benar-benar membuat Fero tertegun di tempatn
Detik jarum jam dinding di ruang tamu terdengar begitu nyaring di telinga Adista. Ia melirik jam bulat berlapis krom itu untuk yang kesekian kalinya. Jarum pendek hampir menyentuh angka lima sore. Sejak tiga puluh menit yang lalu, Adista sudah mendudukkan diri di sofa beludru ruang tamu, mengabaikan dokumen kantor di tabletnya hanya karena satu alasan, ia sudah tidak sabar menunggu kepulangan Fero.Rasa cemas dan rindu yang bercampur aduk mendadak buncah saat suara deru mobil dinas Fero terdengar memasuki pelataran rumah. Tak lama kemudian, daun pintu utama terbuka, menampilkan sosok Fero yang tampak sedikit lelah, tetapi tetap gagah dengan balutan kemeja biru mudanya.Melihat pria itu melangkah masuk, Adista spontan bangkit dari duduknya. Tanpa memikirkan gengsi lagi, ia langsung berlari kecil menghampiri suaminya dan menghambur ke dalam pelukan Fero.Terdengar suara benturan tubuh mereka pelan. Tubuh tegap Fero sedikit terguncang ke belakang karena menerima pelukan mendadak yang c
Suasana pagi di akhir pekan selalu menjadi waktu yang paling dinantikan bagi sebagian besar pekerja ibu kota. Di dalam unit apartemennya, Hana baru saja menyelesaikan riasan tipis di wajahnya saat ponsel di atas meja rias bergetar, menampilkan pesan singkat dari Doni yang mengabarkan bahwa lelaki itu sudah sampai di lobi gedung apartemennya. Sesuai rencana yang mereka sepakati kemarin, Doni mengajaknya untuk mengunjungi sebuah pameran seni lukis kontemporer. Karena merasa tidak memiliki janji dengan siapa pun akhir pekan ini, Hana langsung menyetujui ajakan tersebut tanpa berpikir panjang.Hana meraih tas selempangnya, lalu melangkah keluar menuju lift. Begitu pintu lift terbuka di lantai dasar, matanya langsung menangkap sosok Doni yang berdiri tegap di dekat meja resepsionis, mengenakan kemeja kasual berbahan linen putih yang lengannya digulung santai."Hai, Don! Sudah lama menunggu?" sapa Hana sembari berjalan mendekat.Doni menoleh, dan sebuah senyuman hangat langsung terbit di
Suasana rumah terasa begitu tenang saat Fero melangkah masuk. Rasa lelah setelah seharian bergulat dengan dokumen dan rapat seketika menguap begitu ia menginjakkan kaki di dalam kamar tamu. Fero menaruh jas abu-abu dan tas kerjanya di atas ranjang. Dengan gerakan santai, lelaki itu membuka dua kancing kemeja biru mudanya, lalu menggulung lengan kemeja itu hingga sebatas siku, menampilkan otot lengan tangannya yang memberikan kesan 'seksi'.Setelah menyegarkan diri sejenak, Fero berjalan keluar. Sambil menyusuri ruangan, matanya bergerak mencari-cari keberadaan sang istri. Langkah kakinya membawa Fero menuju area belakang, dan sebuah senyuman langsung merekah di bibirnya saat melihat sosok yang ia cari sedang sibuk di dapur. Adista tampak begitu fokus menimbang bahan-bahan di atas meja. Rambut panjangnya dikuncir ekor kuda, bergoyang mengikuti gerakan tubuhnya, sementara sebuah apron bergambar stroberi manis menghiasi bagian depan tubuhnya. Fero terpesona. Penampilan rumahan Adista
Aroma harum mentega yang meleleh di atas wajan berpadu sempurna dengan wangi pekat biji kopi yang sedang digiling oleh mesin otomatis di sudut dapur.Adista tampak begitu lincah bergerak di balik meja marmer putih, bersenandung kecil sembari membalik potongan roti panggang. Rambutnya dicepol asal-a
Langkah kaki Hana yang terburu-buru bergema keras di sepanjang koridor lantai kantor. Wajah sekretaris andalan itu tampak sedikit pucat, dengan napas yang memburu menahan kepanikan. Tanpa sempat mengetuk pintu seperti biasa, Hana langsung mendorong pintu ruang kerja CEO dan melangkah masuk dengan t
Kemewahan di ruang kerja utama perusahaan Adiwangsa Kencana Group begitu jelas terlihat. Di balik meja kerjanya, Hardian Adiwangsa duduk di kursi kebesarannya. Lelaki berusia 73 tahun itu tampak begitu sepuh, gurat-gurat keriput di wajahnya menyiratkan sisa-sisa kejayaan sekaligus kesedihan mendal
Kegiatan sarapan pagi akhirnya selesai. Fero bangkit berdiri, merapikan letak dasinya dan bersiap untuk mengambil tas kerjanya di atas meja dekat ruang tengah. Baru saja Adista hendak mengantarkan suaminya sampai ke pintu depan, Tante Rosa tiba-tiba memegang pergelangan tangan Adista dengan erat.







