Se connecterPagi hari yang cerah itu terasa begitu menyesakkan bagi Adista. Mobil dinas hitam yang semalam telah disabotase kini terparkir rapi di dekat teras, siap membawa Fero dan Hana menempuh perjalanan jauh menuju Semarang untuk mengecek lahan cabang baru. Karena perjalanan luar kota kali ini membutuhkan privasi dan fleksibilitas waktu, Fero memutuskan untuk menyetir sendiri mobil itu, hanya berdua dengan Hana, tanpa didampingi sopir kantor seperti biasanya.Tepat di samping pintu kemudi, Adista berdiri dengan kedua lengan yang melingkar sangat erat di pinggang Fero. Kepala Adista bersandar dalam pada dada bidang suaminya, menghirup aroma parfum pria itu dalam-dalam seolah takut akan kehilangannya."Adista... sudah, ya? Hana sudah menunggu di dalam mobil," bisik Fero lembut, mengelus punggung Adista dengan penuh kasih sayang.Anehnya, Adista merasa hatinya mendadak begitu berat. Ada rasa cemas tak beralasan yang merayap di dadanya, membuat jemarinya enggan melepaskan pakaian Fero. Bahkan sa
Di atas ranjang, Adista sedang menyandarkan kepalanya di dada bidang Fero, melingkarkan kedua lengannya erat-erat pada pinggang pria itu. Malam ini, keduanya tampak serasi mengenakan piyama couple sutra berwarna biru navy yang baru saja dibeli Adista beberapa hari lalu.Adista mendongak sedikit, menatap dagu kokoh Fero yang berada tepat di atas kepalanya. Ada guratan cemas yang samar tergambar di wajah cantiknya."Fero... kamu benar-benar yakin mau mewakili aku besok?" tanya Adista, menyuarakan keraguan yang sejak tadi mengganggu pikirannya. "Maksudku, perjalanan luar kota untuk mengecek lahan cabang kantor baru itu pasti melelahkan. Apalagi lokasinya cukup jauh dari Jakarta."Fero menurunkan pandangannya, menatap Adista dengan senyuman menenangkan yang begitu tulus. Tangan kanannya bergerak lambat, mengelus lengan Adista yang memeluknya."Aku sangat yakin, Adista. Kamu tidak perlu khawatir," jawab Fero mantap. "Semua berkas kelayakan tanah dan izin dari pemda setempat sudah aku p
Mentari pagi baru saja memancarkan sinarnya yang hangat saat Hana melangkah masuk ke dalam rumah kediaman Adista. Sebagai asisten pribadi yang merangkap sekretaris, datang pagi-pagi sekali sudah menjadi makanannya sehari-hari. Hana duduk di sofa ruang tamu dengan tablet kerja di pangkuannya, bersiap membacakan rentetan agenda padat yang harus dihadapi Fero di kantor hari ini.Karena jam dinding baru menunjukkan pukul setengah tujuh pagi, Fero rupanya masih berada di dalam kamar untuk bersiap-siap dan memakai kemeja kerjanya. Di ruang tamu itu, hanya ada Adista yang sedang duduk santai menikmati teh hangatnya.Adista menurunkan cangkir tehnya, lalu menatap Hana lekat-lekat. Ada yang berbeda dari bawahannya itu hari ini. Raut wajah Hana tampak jauh lebih sumringah, ceria, dan penuh binar kebahagiaan yang tidak bisa disembunyikan jika dibandingkan dengan hari-hari biasanya."Hana," panggil Adista, memecah keheningan.Hana langsung mendongak dari layar tabletnya, tersenyum lebar. "Iya,
Kamar yang ditempati Rosa malam itu tampak remang-remang. Di atas ranjang ukuran king size, wanita paruh baya itu sedang mengikir kukunya dengan santai saat ponsel di atas nakas mendadak berdering nyaring. Layar ponsel menampilkan nama sang suami. Rosa mendengus sebal sebelum akhirnya menggeser tombol hijau ke kanan."Halo, Pa. Ada apa malam-malam begini telepon?" tanya Rosa, nada suaranya dibuat sedatar mungkin, menyiratkan rasa malas yang kentara."Ma, kamu kapan pulang ke rumah? Ini sudah hampir seminggu kamu di Jakarta. Rumah sepi sekali kalau enggak ada kamu."Rosa memutar bola matanya jengah, lalu menyandarkan punggung ke kepala ranjang. "Aduh, Pa. Mungkin seminggu lagi aku baru bisa pulang ke Surabaya. Tolong mengerti dong, aku ini masih kangen sekali sama Adista. Kami kan sudah lama tidak bertemu dan mengobrol sedekat ini.""Tapi seminggu lagi itu lama, Ma. Memangnya urusan keponakanmu itu belum selesai? Kamu kan juga punya rumah di sini yang harus diurus," keluh suaminya di
Setelah jam makan malam, Fero sedang duduk di pinggiran ranjang. Baru saja hendak meregangkan otot-otot tubuhnya saat ponsel di atas nakas bergetar pendek. Sebuah notifikasi pesan masuk dari Zia. Fero menghela napas panjang sebelum membuka layar ponselnya. Berkomunikasi dengan wanita itu merupakan hal yang tidak dia suka. “Mas, kamu lagi apa sekarang? Udah makan belum? Kok seharian ini enggak ada kabar?” bunyi pesan dari Zia.Jemari Fero bergerak di atas papan ketik, menyusun jawaban dengan hati-hati. Walaupun terpaksa, dia tidak ingin secara terang-terangan menyakiti perasaan wanita itu. “Baru saja selesai menemani bos saya makan malam, Zia. Maaf baru balas.” Fero sengaja mempertahankan kebohongannya, ia mengaku kepada Zia kalau dirinya sekarang merantau di Jakarta dan bekerja sebagai seorang sopir pribadi demi menutupi status pernikahan kontraknya dengan Adista.Tidak butuh waktu lama, ponsel Fero kembali bergetar. Balasan Zia kali ini benar-benar membuat Fero tertegun di tempatn
Detik jarum jam dinding di ruang tamu terdengar begitu nyaring di telinga Adista. Ia melirik jam bulat berlapis krom itu untuk yang kesekian kalinya. Jarum pendek hampir menyentuh angka lima sore. Sejak tiga puluh menit yang lalu, Adista sudah mendudukkan diri di sofa beludru ruang tamu, mengabaikan dokumen kantor di tabletnya hanya karena satu alasan, ia sudah tidak sabar menunggu kepulangan Fero.Rasa cemas dan rindu yang bercampur aduk mendadak buncah saat suara deru mobil dinas Fero terdengar memasuki pelataran rumah. Tak lama kemudian, daun pintu utama terbuka, menampilkan sosok Fero yang tampak sedikit lelah, tetapi tetap gagah dengan balutan kemeja biru mudanya.Melihat pria itu melangkah masuk, Adista spontan bangkit dari duduknya. Tanpa memikirkan gengsi lagi, ia langsung berlari kecil menghampiri suaminya dan menghambur ke dalam pelukan Fero.Terdengar suara benturan tubuh mereka pelan. Tubuh tegap Fero sedikit terguncang ke belakang karena menerima pelukan mendadak yang c
Kemewahan di ruang kerja utama perusahaan Adiwangsa Kencana Group begitu jelas terlihat. Di balik meja kerjanya, Hardian Adiwangsa duduk di kursi kebesarannya. Lelaki berusia 73 tahun itu tampak begitu sepuh, gurat-gurat keriput di wajahnya menyiratkan sisa-sisa kejayaan sekaligus kesedihan mendal
Adista dan Feto berjalan berdampingan di koridor kantor, diikuti oleh Hana di belakangnya. Sesekali Adista membalas sapaan para karyawan yang berpapasan dengannya. Sayang sekali, suasana pagi yang tenang itu terganggu oleh siluet dua orang yang sangat dikenal Adista berdiri menghadang jalan mereka
"Aku sejujurnya tidak rela kamu menikah dengan Adista, Stev. Aku belum siap membayangkan kamu akan melakukan hal ini bersamanya."Nada bicara Siska terdengar penuh kekhawatiran.Stevan terkekeh."Bukankah kamu tahu pasti apa tujuanku menikahi Adista, Sayang? Kenapa harus takut? Aku berani bersumpah
Seminggu lagi pernikahan Adista akan dilaksanakan dengan tunangannya, Stevan. Sore ini Adista berencana mengambil pesanan cincin, tapi mobilnya terhenti karena ada pertengkaran preman di tengah jalan sepi itu."B-Bu, mungkin kita cari jalan lain saja," bisik Hana, asisten pribadi Adista, memperlamb







