Share

Bab 2

Author: Ziana
Perasaan suka pun mulai tumbuh di hatiku.

Aku sengaja mendekatinya. Melihat hidupnya sangat hemat, aku sering mencari alasan untuk memberinya makanan. Dari masa pacaran hingga menikah, akulah yang selalu mengalah padanya.

Setelah menikah, ibunya sakit parah, sementara dia sibuk menghadapi ujian doktoralnya.

Akhirnya aku terpaksa berhenti bekerja dan tinggal di rumah untuk merawat ibu mertuaku.

Gadis yang dulu bahkan tak pernah menyentuh pekerjaan dapur itu akhirnya merawat ibu mertuanya sendiri hingga akhir hayat.

Supaya Ferdi bisa tenang bekerja, aku mengambil alih semua urusan rumah.

Aku bahkan rela melepaskan dua calon anak kami, hanya karena dia merasa waktunya belum tepat untuk memiliki anak.

Aku sangat ingin menjadi istri yang mendukungnya. Namun, aku tidak pernah tahu sejak kapan dia mulai merasa bosan padaku.

Aku teringat kembali masa lalu kami berdua yang dipenuhi kebahagiaan dan kemesraan.

Hatiku rasanya seperti ditusuk jarum.

Semua kenangan indah yang dulu kusimpan dalam hati, kini justru menjadi penghalang bagi dirinya untuk mengejar cinta sejati.

Saat fajar mulai menyingsing, akhirnya aku mengambil keputusan yang begitu berat.

Aku membenamkan diri ke dalam selimut hangat dan tertidur lelap. Saat mataku terbuka lagi, aku terbangun oleh aroma masakan dari dapur.

Setelah sedikit menenangkan diri dan berjalan keluar, aku terkejut melihat Ferdi dengan canggung menuangkan sup yang baru dimasaknya ke dalam termos makanan.

Begitu melihatku keluar, dia tampak sedikit tidak nyaman lalu menjelaskan dengan singkat, "Teman-teman di labku penasaran pengin coba masakanku, jadi aku sempatin pulang untuk bikin sup. Jangan salah paham."

Aku menunduk menatap tangannya yang halus, bahkan tidak terlihat seperti tangan pria. Rasa pahit perlahan memenuhi hatiku. Tangan seorang dokter sama berharganya seperti tangan pianis.

Selama bertahun-tahun ini, aku tidak pernah membiarkannya menyentuh pekerjaan rumah sedikit pun.

Tetapi sekarang, demi Laras, dia rela melakukan semua ini.

Melihat aku diam termenung, dengan ragu-ragu dia menuangkan semangkuk sup di depanku.

Lalu dia mengeluarkan obat dari sakunya dan menyodorkannya ke arahku.

"Aku bawa pulang obat baru. Diminumnya sama sup ini, penyerapannya juga lebih baik."

Aku menatap tulisan vitamin pada botol obat itu.

Hatiku terasa dingin.

Saat menggenggam botol obat itu, ada dorongan kuat dalam diriku.

Aku ingin bertanya keras padanya kenapa dia tega menipu dan menyakitiku seperti ini.

Namun pada akhirnya, aku hanya menatap Ferdi dalam-dalam.

Lalu tanpa ragu membuka botol obat dan memasukkan satu pil ke dalam mulutku.

Aku pun mengangkat mangkuk sup lalu menghabiskannya dalam sekali teguk.

Selama proses itu, andaikan saja dia menunjukkan sedikit keraguan, aku masih bersedia memberinya satu kesempatan lagi.

Tetapi setelah aku menelan obat itu, yang kulihat hanyalah tatapan penuh harap darinya.

Hatiku seperti melampaui batas kehancuran. Hanya menyisakan kehampaan yang sunyi.

Selama sebulan berikutnya, aku meminum obat itu setiap hari sesuai permintaannya. Tidak pernah sekalipun terlewat. Sementara itu, Ferdi tetap pergi pagi pulang malam.

Wajahnya setiap hari dipenuhi kebahagiaan seperti orang yang sedang jatuh cinta.

Ingatanku pun perlahan mulai memudar, tidak hilang sekaligus begitu saja.

Semuanya dimulai dari aku yang mulai lupa tanggal pernikahan kami.

Pada peringatan hari jadi kami, jarang-jarang Ferdi mengirimkan buket bunga dan gaun lewat kurir.

"Aku udah pesan restoran. Ini baju aku beliin buat kamu, dandanlah yang cantik. Banyak rekan laboratorium juga bakal datang."

"Memangnya hari ini ada acara spesial? Laboratoriummu berhasil dapat pencapaian baru?" tanyaku dengan bingung.

Dia tiba-tiba terdiam sejenak di telepon. Saat kembali berbicara, suaranya terdengar kecewa, "Jadi kamu udah mulai lupa secepat ini? Nggak apa-apa, yang penting kamu datang tepat waktu."

Saat ingatanku mulai kabur, kemampuan merasakan suasana hati orang juga ikut menurun.

Akhirnya aku memilih untuk tidak memikirkan apa pun.

Aku berdandan lalu datang pada waktunya.

Setibanya di sana, semua orang bergantian memandangku lalu memandang Laras yang datang dengan penampilan anggun.

Ekspresi mereka tampak agak aneh.

"Halo semuanya, maaf udah ganggu acara kalian. Nggak usah peduliin aku, lanjut aja bersenang-senang."

Aku tersenyum lembut memandang mereka, lalu mencari tempat duduk sendiri.

Ferdi berjalan menghampiriku.

Dengan nada hati-hati dia bertanya, "Shania, akhir-akhir ini setelah minum obat, apa kamu ngerasa ada yang nggak nyaman?"

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Hanya Sesal yang Tertinggal   Bab 10

    "Sejujurnya, aku udah nggak terlalu ingat masa lalu kita."Mendengar ucapanku, kedua matanya memerah, tetapi dia masih berusaha tersenyum."Shania, kali ini aku datang buat ngakuin sesuatu sama kamu. Aku nggak berharap kamu maafin aku, tapi menurutku kamu berhak tahu kebenarannya.""Enam bulan lalu, aku pernah kasih kamu obat yang aku bilang vitamin, kamu masih ingat?""Sebenarnya itu bukan vitamin, tapi obat yang sengaja aku kembangin untuk bikin orang kehilangan ingatan jangka pendek. Obat itu bahkan belum diumumkan ke publik oleh laboratorium."Sambil berbicara, dia menundukkan kepalanya perlahan.Suaranya mulai terdengar berat."Aku lakuin semua itu karena saat itu aku merasa udah jatuh cinta sama orang lain. Tapi kamu pernah sangat berjasa buatku, jadi aku nggak sanggup ngajuin cerai secara langsung.""Karena itu aku kepikiran cara ini. Obat itu bisa bikin ingatanmu selama tujuh tahun hilang, tepat kembali ke masa sebelum kita nikah.""Kamu percaya banget sama aku. Kamu minum obat

  • Hanya Sesal yang Tertinggal   Bab 9

    Produk ini secara khusus ditujukan bagi kelompok paruh baya hingga lanjut usia yang memiliki kondisi fisik lemah. Selain itu, ramuan tersebut juga disesuaikan dengan iklim setempat serta kebiasaan makan masyarakat sekitar.Dari situ, racikan yang kubuat terus berkembang menjadi lebih baik dan lebih matang.Setelah melalui uji klinis berskala besar di rumah sakit, aku terus melakukan penyempurnaan dan penyesuaian berulang kali.Pada akhirnya, aku berhasil mengembangkan resep obat tradisional yang paling cocok untuk kondisi tubuh lansia di daerah setempat.Khasiatnya sangat efektif bagi penderita rematik.Karena aku terus melakukan pengobatan gratis, ditambah kabar dari mulut ke mulut di antara warga,namaku mulai sedikit terkenal di daerah setempat.Bahkan ada wartawan yang datang untuk mewawancaraiku.Awalnya aku agak ragu.Tujuan awalku datang ke sini hanya ingin menjalani hidup dengan tenang.Namun, para wanita di sini semua mendorongku untuk menerima wawancara itu.Jadi akhirnya aku

  • Hanya Sesal yang Tertinggal   Bab 8

    Aku membeli nomor lokal baru.Selama beberapa hari ini, selain mengobrol dengan orang-orang di penginapan, aku juga sering keluar berjalan tanpa tujuan.Tempat ini entah kenapa mampu membuat hati menjadi tenang.Di wajah setiap orang terpancar senyum yang hangat dan menenangkan.Secara jujur, kehidupan materi mereka sebenarnya tidak bisa dibilang berlimpah.Tapi di tengah keindahan alam yang seperti lukisan ini, semua penilaian dunia perlahan memudar dan tak lagi penting.Selama bertahun-tahun ini aku memang tidak bekerja, tetapi setelah laboratorium medis Ferdi mulai menghasilkan keuntungan, dia pernah memberiku sebagian dividen.Aku menggunakan uang itu untuk berinvestasi dan memperoleh cukup banyak keuntungan.Selain itu, aku juga rutin mengirim artikel ke sebuah majalah sehingga memiliki penghasilan sendiri dari honor tulisan.Setelah mengunjungi beberapa desa, aku membuat sebuah keputusan.Aku akan melakukan pengobatan gratis.Sebenarnya dibanding Ferdi, kecintaanku pada dunia med

  • Hanya Sesal yang Tertinggal   Bab 7

    Aku hanya bisa menelusuri album foto lama dan mencarinya perlahan satu per satu.Dulu, karena dia terlalu sibuk bekerja hingga tak bisa makan teratur, aku selalu berusaha membuatkan bekal khusus untuknya dengan penuh perhatian. Semua kenangan indah itu kusimpan di ponselku.Pukul tujuh malam, aku meneleponnya.Belum lagi sempat berbicara, aku sudah mendengar suara manja Laras dari seberang sana."Kamu nggak boleh angkat telepon. Pokoknya aku belum cukup senang, sini kasih ke aku."Setelah suara berdesir samar terdengar beberapa saat, barulah Ferdi mulai berbicara, "Shania, hari ini ada urusan di laboratorium, aku nggak pulang. Ada apa?"Aku menatap meja penuh makanan kesukaannya lalu menutup telepon dengan pasrah.Aku tidak bisa bilang ini rasa kecewa, hanya ada sedikit rasa iba dan penyesalan untuknya.'Ferdi.''Ini kesempatan terakhir yang bisa aku beri padamu.' Setelah menutup telepon, aku sama sekali tidak terpengaruh dan menikmati hidangan itu dengan tenang.Sebenarnya banyak maka

  • Hanya Sesal yang Tertinggal   Bab 6

    Sampai-sampai sudah mulai memaksaku mundur dari rumah ini?Aku masih ingat tujuan Ferdi menyuruhku minum obat. Dia bersikeras aku harus menyelesaikan satu siklus penuh. Karena dia takut kalau berhenti di tengah jalan, ingatanku tidak akan hilang sepenuhnya.Dia takut suatu hari aku malah teringat kembali hal-hal yang membuat mereka tidak nyaman.Tenang saja, sebentar lagi aku akan memberi ruang untuk kalian.Aku bukan tipe orang yang bertahan tanpa tahu diri.Saat aku sedang menggerutu dalam hati, Laras tiba-tiba masuk dengan wajah sangat tidak senang.Senyuman di wajahnya tampak begitu dipaksakan."Kak Shania, di laboratorium ada hal penting yang harus segera ditangani sama Pak Ferdi. Boleh kami pinjam dia sebentar?"Ferdi yang berada di belakangnya tidak sempat menghentikannya.Wajahnya tampak sedikit tidak sabar.Melihat mereka seperti itu, tiba-tiba aku merasa semuanya hambar dan tak lagi menarik.'Ferdi.''Kamu benar-benar bodoh.''Di dunia ini, semua hubungan pasti akan melewati

  • Hanya Sesal yang Tertinggal   Bab 5

    Aku sendiri tak bisa menjelaskan makna tatapan itu.Ada penyesalan mendalam dan rasa kehilangan yang begitu kuat di dalamnya."Shania, dulu waktu aku pertama kali datang ke rumah sakit, semua orang merasa aku sulit didekati. Kamu orang pertama yang dekatin aku.""Bersama kamu, bikin aku ngerasa tenang tanpa alasan yang jelas.""Nggak terasa, kita udah bersama selama sembilan tahun."Saat mengatakan itu, suaranya pun terdengar sedikit tercekat.Tiba-tiba dia terdiam. Kemudian mendadak memalingkan wajah ke arah lain.Tanpa sadar aku mengangkat kepala dan melihat kedua matanya memerah.Aku pun ikut tertegun.Walau banyak kenanganku yang sudah kabur, tapi samar-samar aku ingat, selama bertahun-tahun ini sepertinya aku hanya pernah melihatnya menangis sekali.Itu saat ibunya meninggal dan dia tak sempat melihat untuk terakhir kalinya.Setelah menempuh perjalanan jauh untuk kembali, dia melihatku berdiri tenang di depan sisa abu yang telah dibakar.Dengan hati-hati dan lembut, aku memunguti

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status