分享

Bab 3

作者: Ziana
Aku tahu dia khawatir terhadap efek obat itu.

Setelah terdiam sejenak, aku menggeleng dengan tenang.

Ekspresinya tampak ragu-ragu, bahkan sempat terlihat bimbang sesaat.

Melihat itu, Laras menghampiri sambil memanggil dengan akrab, "Kak Shania, aku sering dengar Kak Ferdi cerita tentang kamu, tapi baru kali ini kita ketemu."

Aku bisa melihat jelas makna provokasi dalam tatapannya. Tetapi entah kenapa aku justru merasa semua itu tidak berarti.

Akhirnya aku mengerti mengapa Ferdi menyukainya.

Dia sangat mirip dengan diriku saat muda dulu.

Cantik mencolok, penuh percaya diri, cerdas, dan sedikit licik.

Seluruh tubuhnya memancarkan energi kehidupan yang begitu kuat.

Lantas, apa yang telah menghapus semua itu dariku?

Mungkin kehidupan rumah tangga yang dipenuhi hal-hal remeh, hari demi hari yang berlalu membuatku tak lagi menemukan makna diriku sendiri.

Ditambah lagi dengan pandangan merendahkan dari orang yang kucintai.

Aku mengangkat gelas anggur di meja lalu berinisiatif bersulang dengannya.

"Makasih ya, karena selalu mendukung Ferdi. Semoga kalian … makin cocok bekerja sama."

Entah kenapa, Ferdi tampak panik sesaat. Dia memotong percakapan kami, lalu menarik Laras kembali ke tengah rekan-rekannya.

Dia juga menolak ajakan mereka untuk ikut bersenang-senang bersama.

Aku berjalan perlahan menikmati suasana tempat itu.

Pada malam awal musim kemarau, di sela-sela rerumputan hijau, tampak kunang-kunang yang berkelap-kelip dan menari.

Dengan gembira aku menangkup seekor kunang-kunang di kedua tanganku lalu diam-diam mengamatinya dalam gelap.

Saat itu Laras berkata manja pada Ferdi dari belakangku, "Kak Ferdi, Kak Shania nangkap kunang-kunang. Gimana kalau kita lihat juga?"

Mendengar itu, dia menatapku dengan sedikit canggung.

Tiba-tiba aku merasa semua ini sangat membosankan.

Aku pun melepaskan kembali kunang-kunang itu.

"Suruh aja Ferdi yang nangkapin buat kamu, dulu dia sangat pandai nangkap kunang-kunang."

Dia mendadak terdiam.

Karena yang kubicarakan adalah masa saat kami baru berpacaran dulu.

Hilangnya ingatanku terjadi secara acak.

Malam itu, saat mabuk, dia berbisik pelan di telingaku.

Barulah samar-samar aku teringat bahwa hari itu adalah hari jadi pernikahan kami.

Setelah hari jadi itu berlalu, dia seolah takut efek obatnya tidak berhasil.

Secara sengaja maupun tidak, dia mulai mengawasiku langsung saat minum obat.

Setiap kali melihat aku menelan obat itu dengan patuh, dia akan menunjukkan ekspresi lega namun juga samar-samar kecewa.

Aku merasa lucu dalam hati.

Sebenarnya dia ingin aku lupa atau tidak?

Tetapi ingatanku memang makin memburuk.

"Ini hadiah ulang tahun dariku, kamu nggak ingat?"

"Ini film yang dulu pernah kita bahas waktu kuliah."

"Shania, aku nggak makan daun bawang, kamu lupa?"

"Shania, Kak Yudha mau traktir kita makan. Apa? Kamu nggak kenal? Dia pendamping pria di nikahan kita dulu."

Percakapan kami makin sering dipenuhi pertanyaan tentang apa yang kulupakan.

Dia mengernyit sedikit.

Tiba-tiba aku teringat saat pertama kali kami bertemu.

Waktu itu dia menunjukkan wajah tidak senang ketika melihat rekan kerja pria mengantarku pulang ke asrama.

Memang semua itu sudah terlalu lama berlalu.

Tetapi setelah kesal, dia tetap bisa tersenyum manis membalas pesan Laras.

Setiap hari dia berdalih bekerja di laboratorium, padahal sebenarnya menemani wanita itu.

Melihat unggahan sindiran Laras di media sosial, aku justru tertawa kecil.

Tenang saja, sebentar lagi kalian bisa hidup bersama seperti yang kalian inginkan.

Setiap kali Laras pergi bersama Ferdi ke tempat-tempat yang dulu pernah kami datangi, dia akan mengirim pesan untuk mengujiku.

[Kak Shania, aku sama pacarku pergi ke Pemandian Bukit Tirta. Tempatnya bagus banget, Kakak dan Kak Ferdi pernah ke sana?]

[Kak Shania, Kak Ferdi pernah ngajak Kakak ke restoran berputar itu?]

[Kak Shania, bunga flamboyan di awal musim kemarau ini indah banget. Kakak pernah lihat?]

Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan obat yang diteliti Ferdi itu.

Hilangnya ingatanku terasa sangat tidak stabil.

Sebenarnya aku masih samar-samar mengingat semua itu.

Tetapi aku selalu menjawab belum pernah.

Aku sudah muak dengan permainan kucing dan tikus ini.

Aku hanya ingin segera pergi seperti yang mereka inginkan.

Hingga pada hari ulang tahun Ferdi. Sebenarnya aku memang lupa.

Tetapi pengingat kalender di ponsel yang belum dimatikan membuatku teringat lagi.

Setiap tahun sebelumnya, aku selalu mulai mempersiapkannya beberapa bulan lebih awal.

Aku akan memberinya hadiah buatan tanganku sendiri.

在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP

最新章節

  • Hanya Sesal yang Tertinggal   Bab 10

    "Sejujurnya, aku udah nggak terlalu ingat masa lalu kita."Mendengar ucapanku, kedua matanya memerah, tetapi dia masih berusaha tersenyum."Shania, kali ini aku datang buat ngakuin sesuatu sama kamu. Aku nggak berharap kamu maafin aku, tapi menurutku kamu berhak tahu kebenarannya.""Enam bulan lalu, aku pernah kasih kamu obat yang aku bilang vitamin, kamu masih ingat?""Sebenarnya itu bukan vitamin, tapi obat yang sengaja aku kembangin untuk bikin orang kehilangan ingatan jangka pendek. Obat itu bahkan belum diumumkan ke publik oleh laboratorium."Sambil berbicara, dia menundukkan kepalanya perlahan.Suaranya mulai terdengar berat."Aku lakuin semua itu karena saat itu aku merasa udah jatuh cinta sama orang lain. Tapi kamu pernah sangat berjasa buatku, jadi aku nggak sanggup ngajuin cerai secara langsung.""Karena itu aku kepikiran cara ini. Obat itu bisa bikin ingatanmu selama tujuh tahun hilang, tepat kembali ke masa sebelum kita nikah.""Kamu percaya banget sama aku. Kamu minum obat

  • Hanya Sesal yang Tertinggal   Bab 9

    Produk ini secara khusus ditujukan bagi kelompok paruh baya hingga lanjut usia yang memiliki kondisi fisik lemah. Selain itu, ramuan tersebut juga disesuaikan dengan iklim setempat serta kebiasaan makan masyarakat sekitar.Dari situ, racikan yang kubuat terus berkembang menjadi lebih baik dan lebih matang.Setelah melalui uji klinis berskala besar di rumah sakit, aku terus melakukan penyempurnaan dan penyesuaian berulang kali.Pada akhirnya, aku berhasil mengembangkan resep obat tradisional yang paling cocok untuk kondisi tubuh lansia di daerah setempat.Khasiatnya sangat efektif bagi penderita rematik.Karena aku terus melakukan pengobatan gratis, ditambah kabar dari mulut ke mulut di antara warga,namaku mulai sedikit terkenal di daerah setempat.Bahkan ada wartawan yang datang untuk mewawancaraiku.Awalnya aku agak ragu.Tujuan awalku datang ke sini hanya ingin menjalani hidup dengan tenang.Namun, para wanita di sini semua mendorongku untuk menerima wawancara itu.Jadi akhirnya aku

  • Hanya Sesal yang Tertinggal   Bab 8

    Aku membeli nomor lokal baru.Selama beberapa hari ini, selain mengobrol dengan orang-orang di penginapan, aku juga sering keluar berjalan tanpa tujuan.Tempat ini entah kenapa mampu membuat hati menjadi tenang.Di wajah setiap orang terpancar senyum yang hangat dan menenangkan.Secara jujur, kehidupan materi mereka sebenarnya tidak bisa dibilang berlimpah.Tapi di tengah keindahan alam yang seperti lukisan ini, semua penilaian dunia perlahan memudar dan tak lagi penting.Selama bertahun-tahun ini aku memang tidak bekerja, tetapi setelah laboratorium medis Ferdi mulai menghasilkan keuntungan, dia pernah memberiku sebagian dividen.Aku menggunakan uang itu untuk berinvestasi dan memperoleh cukup banyak keuntungan.Selain itu, aku juga rutin mengirim artikel ke sebuah majalah sehingga memiliki penghasilan sendiri dari honor tulisan.Setelah mengunjungi beberapa desa, aku membuat sebuah keputusan.Aku akan melakukan pengobatan gratis.Sebenarnya dibanding Ferdi, kecintaanku pada dunia med

  • Hanya Sesal yang Tertinggal   Bab 7

    Aku hanya bisa menelusuri album foto lama dan mencarinya perlahan satu per satu.Dulu, karena dia terlalu sibuk bekerja hingga tak bisa makan teratur, aku selalu berusaha membuatkan bekal khusus untuknya dengan penuh perhatian. Semua kenangan indah itu kusimpan di ponselku.Pukul tujuh malam, aku meneleponnya.Belum lagi sempat berbicara, aku sudah mendengar suara manja Laras dari seberang sana."Kamu nggak boleh angkat telepon. Pokoknya aku belum cukup senang, sini kasih ke aku."Setelah suara berdesir samar terdengar beberapa saat, barulah Ferdi mulai berbicara, "Shania, hari ini ada urusan di laboratorium, aku nggak pulang. Ada apa?"Aku menatap meja penuh makanan kesukaannya lalu menutup telepon dengan pasrah.Aku tidak bisa bilang ini rasa kecewa, hanya ada sedikit rasa iba dan penyesalan untuknya.'Ferdi.''Ini kesempatan terakhir yang bisa aku beri padamu.' Setelah menutup telepon, aku sama sekali tidak terpengaruh dan menikmati hidangan itu dengan tenang.Sebenarnya banyak maka

  • Hanya Sesal yang Tertinggal   Bab 6

    Sampai-sampai sudah mulai memaksaku mundur dari rumah ini?Aku masih ingat tujuan Ferdi menyuruhku minum obat. Dia bersikeras aku harus menyelesaikan satu siklus penuh. Karena dia takut kalau berhenti di tengah jalan, ingatanku tidak akan hilang sepenuhnya.Dia takut suatu hari aku malah teringat kembali hal-hal yang membuat mereka tidak nyaman.Tenang saja, sebentar lagi aku akan memberi ruang untuk kalian.Aku bukan tipe orang yang bertahan tanpa tahu diri.Saat aku sedang menggerutu dalam hati, Laras tiba-tiba masuk dengan wajah sangat tidak senang.Senyuman di wajahnya tampak begitu dipaksakan."Kak Shania, di laboratorium ada hal penting yang harus segera ditangani sama Pak Ferdi. Boleh kami pinjam dia sebentar?"Ferdi yang berada di belakangnya tidak sempat menghentikannya.Wajahnya tampak sedikit tidak sabar.Melihat mereka seperti itu, tiba-tiba aku merasa semuanya hambar dan tak lagi menarik.'Ferdi.''Kamu benar-benar bodoh.''Di dunia ini, semua hubungan pasti akan melewati

  • Hanya Sesal yang Tertinggal   Bab 5

    Aku sendiri tak bisa menjelaskan makna tatapan itu.Ada penyesalan mendalam dan rasa kehilangan yang begitu kuat di dalamnya."Shania, dulu waktu aku pertama kali datang ke rumah sakit, semua orang merasa aku sulit didekati. Kamu orang pertama yang dekatin aku.""Bersama kamu, bikin aku ngerasa tenang tanpa alasan yang jelas.""Nggak terasa, kita udah bersama selama sembilan tahun."Saat mengatakan itu, suaranya pun terdengar sedikit tercekat.Tiba-tiba dia terdiam. Kemudian mendadak memalingkan wajah ke arah lain.Tanpa sadar aku mengangkat kepala dan melihat kedua matanya memerah.Aku pun ikut tertegun.Walau banyak kenanganku yang sudah kabur, tapi samar-samar aku ingat, selama bertahun-tahun ini sepertinya aku hanya pernah melihatnya menangis sekali.Itu saat ibunya meninggal dan dia tak sempat melihat untuk terakhir kalinya.Setelah menempuh perjalanan jauh untuk kembali, dia melihatku berdiri tenang di depan sisa abu yang telah dibakar.Dengan hati-hati dan lembut, aku memunguti

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status