Share

Bab 6

Author: Ziana
Sampai-sampai sudah mulai memaksaku mundur dari rumah ini?

Aku masih ingat tujuan Ferdi menyuruhku minum obat. Dia bersikeras aku harus menyelesaikan satu siklus penuh. Karena dia takut kalau berhenti di tengah jalan, ingatanku tidak akan hilang sepenuhnya.

Dia takut suatu hari aku malah teringat kembali hal-hal yang membuat mereka tidak nyaman.

Tenang saja, sebentar lagi aku akan memberi ruang untuk kalian.

Aku bukan tipe orang yang bertahan tanpa tahu diri.

Saat aku sedang menggerutu dalam hat
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Hanya Sesal yang Tertinggal   Bab 10

    "Sejujurnya, aku udah nggak terlalu ingat masa lalu kita."Mendengar ucapanku, kedua matanya memerah, tetapi dia masih berusaha tersenyum."Shania, kali ini aku datang buat ngakuin sesuatu sama kamu. Aku nggak berharap kamu maafin aku, tapi menurutku kamu berhak tahu kebenarannya.""Enam bulan lalu, aku pernah kasih kamu obat yang aku bilang vitamin, kamu masih ingat?""Sebenarnya itu bukan vitamin, tapi obat yang sengaja aku kembangin untuk bikin orang kehilangan ingatan jangka pendek. Obat itu bahkan belum diumumkan ke publik oleh laboratorium."Sambil berbicara, dia menundukkan kepalanya perlahan.Suaranya mulai terdengar berat."Aku lakuin semua itu karena saat itu aku merasa udah jatuh cinta sama orang lain. Tapi kamu pernah sangat berjasa buatku, jadi aku nggak sanggup ngajuin cerai secara langsung.""Karena itu aku kepikiran cara ini. Obat itu bisa bikin ingatanmu selama tujuh tahun hilang, tepat kembali ke masa sebelum kita nikah.""Kamu percaya banget sama aku. Kamu minum obat

  • Hanya Sesal yang Tertinggal   Bab 9

    Produk ini secara khusus ditujukan bagi kelompok paruh baya hingga lanjut usia yang memiliki kondisi fisik lemah. Selain itu, ramuan tersebut juga disesuaikan dengan iklim setempat serta kebiasaan makan masyarakat sekitar.Dari situ, racikan yang kubuat terus berkembang menjadi lebih baik dan lebih matang.Setelah melalui uji klinis berskala besar di rumah sakit, aku terus melakukan penyempurnaan dan penyesuaian berulang kali.Pada akhirnya, aku berhasil mengembangkan resep obat tradisional yang paling cocok untuk kondisi tubuh lansia di daerah setempat.Khasiatnya sangat efektif bagi penderita rematik.Karena aku terus melakukan pengobatan gratis, ditambah kabar dari mulut ke mulut di antara warga,namaku mulai sedikit terkenal di daerah setempat.Bahkan ada wartawan yang datang untuk mewawancaraiku.Awalnya aku agak ragu.Tujuan awalku datang ke sini hanya ingin menjalani hidup dengan tenang.Namun, para wanita di sini semua mendorongku untuk menerima wawancara itu.Jadi akhirnya aku

  • Hanya Sesal yang Tertinggal   Bab 8

    Aku membeli nomor lokal baru.Selama beberapa hari ini, selain mengobrol dengan orang-orang di penginapan, aku juga sering keluar berjalan tanpa tujuan.Tempat ini entah kenapa mampu membuat hati menjadi tenang.Di wajah setiap orang terpancar senyum yang hangat dan menenangkan.Secara jujur, kehidupan materi mereka sebenarnya tidak bisa dibilang berlimpah.Tapi di tengah keindahan alam yang seperti lukisan ini, semua penilaian dunia perlahan memudar dan tak lagi penting.Selama bertahun-tahun ini aku memang tidak bekerja, tetapi setelah laboratorium medis Ferdi mulai menghasilkan keuntungan, dia pernah memberiku sebagian dividen.Aku menggunakan uang itu untuk berinvestasi dan memperoleh cukup banyak keuntungan.Selain itu, aku juga rutin mengirim artikel ke sebuah majalah sehingga memiliki penghasilan sendiri dari honor tulisan.Setelah mengunjungi beberapa desa, aku membuat sebuah keputusan.Aku akan melakukan pengobatan gratis.Sebenarnya dibanding Ferdi, kecintaanku pada dunia med

  • Hanya Sesal yang Tertinggal   Bab 7

    Aku hanya bisa menelusuri album foto lama dan mencarinya perlahan satu per satu.Dulu, karena dia terlalu sibuk bekerja hingga tak bisa makan teratur, aku selalu berusaha membuatkan bekal khusus untuknya dengan penuh perhatian. Semua kenangan indah itu kusimpan di ponselku.Pukul tujuh malam, aku meneleponnya.Belum lagi sempat berbicara, aku sudah mendengar suara manja Laras dari seberang sana."Kamu nggak boleh angkat telepon. Pokoknya aku belum cukup senang, sini kasih ke aku."Setelah suara berdesir samar terdengar beberapa saat, barulah Ferdi mulai berbicara, "Shania, hari ini ada urusan di laboratorium, aku nggak pulang. Ada apa?"Aku menatap meja penuh makanan kesukaannya lalu menutup telepon dengan pasrah.Aku tidak bisa bilang ini rasa kecewa, hanya ada sedikit rasa iba dan penyesalan untuknya.'Ferdi.''Ini kesempatan terakhir yang bisa aku beri padamu.' Setelah menutup telepon, aku sama sekali tidak terpengaruh dan menikmati hidangan itu dengan tenang.Sebenarnya banyak maka

  • Hanya Sesal yang Tertinggal   Bab 6

    Sampai-sampai sudah mulai memaksaku mundur dari rumah ini?Aku masih ingat tujuan Ferdi menyuruhku minum obat. Dia bersikeras aku harus menyelesaikan satu siklus penuh. Karena dia takut kalau berhenti di tengah jalan, ingatanku tidak akan hilang sepenuhnya.Dia takut suatu hari aku malah teringat kembali hal-hal yang membuat mereka tidak nyaman.Tenang saja, sebentar lagi aku akan memberi ruang untuk kalian.Aku bukan tipe orang yang bertahan tanpa tahu diri.Saat aku sedang menggerutu dalam hati, Laras tiba-tiba masuk dengan wajah sangat tidak senang.Senyuman di wajahnya tampak begitu dipaksakan."Kak Shania, di laboratorium ada hal penting yang harus segera ditangani sama Pak Ferdi. Boleh kami pinjam dia sebentar?"Ferdi yang berada di belakangnya tidak sempat menghentikannya.Wajahnya tampak sedikit tidak sabar.Melihat mereka seperti itu, tiba-tiba aku merasa semuanya hambar dan tak lagi menarik.'Ferdi.''Kamu benar-benar bodoh.''Di dunia ini, semua hubungan pasti akan melewati

  • Hanya Sesal yang Tertinggal   Bab 5

    Aku sendiri tak bisa menjelaskan makna tatapan itu.Ada penyesalan mendalam dan rasa kehilangan yang begitu kuat di dalamnya."Shania, dulu waktu aku pertama kali datang ke rumah sakit, semua orang merasa aku sulit didekati. Kamu orang pertama yang dekatin aku.""Bersama kamu, bikin aku ngerasa tenang tanpa alasan yang jelas.""Nggak terasa, kita udah bersama selama sembilan tahun."Saat mengatakan itu, suaranya pun terdengar sedikit tercekat.Tiba-tiba dia terdiam. Kemudian mendadak memalingkan wajah ke arah lain.Tanpa sadar aku mengangkat kepala dan melihat kedua matanya memerah.Aku pun ikut tertegun.Walau banyak kenanganku yang sudah kabur, tapi samar-samar aku ingat, selama bertahun-tahun ini sepertinya aku hanya pernah melihatnya menangis sekali.Itu saat ibunya meninggal dan dia tak sempat melihat untuk terakhir kalinya.Setelah menempuh perjalanan jauh untuk kembali, dia melihatku berdiri tenang di depan sisa abu yang telah dibakar.Dengan hati-hati dan lembut, aku memunguti

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status