Mag-log inLangkah Nadira terasa berat. Pertanyaan Juan menggantung di udara seperti benang tipis yang tak terlihat, tapi cukup kuat untuk menahannya tetap di tempat. Ia membuka mulut, lalu menutupnya lagi.Di depan, pintu mobil sudah terbuka. Paula setengah badan keluar dari jendela.“Nad! Buruan, ih, jangan lama! Mau nginep di parkiran, ya?”Suara itu memecah sunyi yang tiba-tiba terasa terlalu rapat. Nadira refleks melangkah mundur setengah langkah. “Aku—”Belum selesai kalimatnya, jemarinya tertahan.Juan tidak menggenggam keras. Hanya menahan pergelangan tangannya, ringan tapi cukup untuk membuat Nadira kembali menatapnya.“Jawab dulu,” ucapnya pelan.Bukan nada memaksa. Tapi ada sesuatu di sorot matanya yang membuat Nadira sulit menghindar. Sesuatu yang jarang ia lihat selama ini, keseriusan yang tak dibalut candaan.Degup di dada Nadira berubah tak teratur.Paula kembali berseru, kali ini disertai klakson pendek dari Raka. “Nadiraaa!”Nadira menelan ludah. Pikirannya berlari ke mana-mana.
Hari-hari berikutnya berjalan lebih cepat dari yang Nadira kira. Pagi mereka dipenuhi jadwal rapat dan kunjungan klien. Siang berlalu dengan makan seadanya di sela perjalanan. Malamnya, mereka pulang dengan bahu pegal dan kepala penuh angka-angka.Tapi di antara semua itu, ada sesuatu yang tumbuh tanpa suara. Kehadiran Juan. Bukan dalam bentuk hal yang mencurigakan, bukan pula yang membuat orang lain menatap mereka dengan alis terangkat. Justru sebaliknya. Kedekatan mereka terasa begitu wajar, seperti dua orang yang memang seharusnya bertemu lagi sejak lama.Kadang Juan mengirim pesan lebih dulu. Sekedar menanyakan sudah makan dan istirahat atau belum, keseharian, maupun cerita singkat apa saja yang terjadi hari ini.Nadira selalu membalas sambil tersenyum kecil, seolah kebiasaan itu sudah jadi bagian dari rutinitas harian. Seolah ia tak lagi terkejut ketika ponselnya bergetar karena nama itu.Dan Juan tidak pernah berlebihan.Ia tidak menanyakan hal yang terlalu pribadi, tidak memaks
Lampu mobil Juan meredup ketika mereka berhenti di depan penginapan. Pintu belakang terbuka satu per satu, disusul ucapan terima kasih yang masih setengah mengantuk.“Makasih ya, Pak Juan,” ucap Bima sambil mengucek mata.“Iya, Pak Juan, makasih banget. Hati-hati di jalan,” tambah Paula, sudah berdiri di samping Raka.Juan membalas dengan anggukan ringan. “Sama-sama. Kalian istirahat yang cukup. Besok masih harus kerja, loh.”Ketiganya masuk ke dalam hampir bersamaan. Pintu penginapan tertutup, meninggalkan halaman yang lebih sunyi dari sebelumnya. Mesin mobil Juan masih menyala. Nadira tidak langsung turun.“Kenapa, Nad?” tanya Juan, meliriknya.Nadira membuka sabuk pengaman perlahan. “Kamu mampir dulu sebentar aja. Kamu kan masih nyetir jauh. Duduk di beranda, terus aku bikinin kopi.”Juan ragu sepersekian detik, lalu mengangguk. “Okey, kalau kamu nggak keberatan.”“Pastinya enggak dong. Ayok!” sahut Nadira ringan.Beranda penginapan sederhana. Kursi rotan tua, meja kecil, dan lampu
Lamunan Nadira buyar ketika tangan Paula terulur untuk menyenggol lengannya pelan.“Nad, kenapa bengong?” panggil Paula, menurunkan suara.Nadira tersentak kecil. Ponsel masih tergenggam di tangannya, layar menyala dengan nama Juan terpampang di bagian atas. Ia menarik napas singkat sebelum menoleh. “Juan ngajak makan malam nanti.”Kalimat itu meluncur begitu saja, spontan, tanpa sempat ia saring lebih dulu.Paula berhenti mengunyah. Alisnya terangkat, bukan kaget lebih mengarah ke curiga. “Berdua doang?”Nadira tak langsung menjawab. Ia menurunkan ponsel ke atas meja, jemarinya masih bertumpu di tepinya. “Iya. Aku bingung mau jawab apa.”Paula menyeka bibirnya dengan tisu, lalu bersandar. Tatapannya serius, tapi nadanya tetap lembut. “Menurutku, sebaiknya ditolak halus, Nad.”Nadira mengangguk pelan. Ia tahu itu jawaban yang paling masuk akal. “Aku juga kepikiran gitu.”“Bukan karena Juan-nya gimana. Tapi karena kamu menikah. Makan malam berdua, apalagi sama laki-laki single pasti ra
Nadira pulang ke penginapan dengan langkah yang terasa lebih pelan dari biasanya. Ada dua perasaan yang saling tarik-menarik di dadanya. Hangat karena pertemuan yang tak pernah ia sangka akan terjadi dan juga perih karena mengetahui bahwa selama ini Juan sengaja memilih menjauh darinya.Ia merebahkan diri di ranjang tanpa sempat mengganti pakaian. Tatapannya menempel di langit-langit kamar. Senang, tentu saja. Teman masa kecilnya kembali, tumbuh menjadi sosok yang tenang dan matang. Tapi di sisi lain, ada kesedihan yang tak bisa ia abaikan. Juan kecewa. Bukan padanya secara langsung, melainkan pada kenyataan bahwa ia telah menikah. Dan fakta itu membuatnya merasa bersalah, rasa yang datang terlambat dan tak tahu harus diletakkan di mana.Mungkin jika hubungannya dengan Aryan baik-baik saja, semuanya akan terasa lebih sederhana. Ia bisa tertawa lepas hari ini, lalu pulang dan bercerita. Bahkan membayangkan Juan dan Aryan duduk bersama, berbincang ringan sebagai dua pria yang sama-sama
Nadira terdiam cukup lama sebelum akhirnya mengangguk pelan. Isyarat kecil itu membuat bahu Juan mengendur tanpa ia sadari. Ia mendesah lega, lalu mencoba menarik senyum ramahnya. Senyuman yang dulu sering ia pakai, meski kini terasa tak lagi sepenuhnya pas di wajah dewasanya itu.“Syukurlah,” katanya singkat, seolah satu kata itu cukup mewakili banyak hal yang tak sempat ia ucapkan.Nadira membalas dengan senyum tipis. Kecanggungan di antara mereka belum luruh, hanya bergeser bentuk. “Kamu ... kelihatannya baik juga. Sudah lama, ya. Setelah kamu pindah waktu itu, kita benar-benar nggak pernah dengar kabar satu sama lain,” ujarnya pelan.Juan terkekeh kecil, ada kelegaan di sana. “Iya. Sudah lama sekali.” Matanya menatap Nadira dengan lebih santai kini, seolah memastikan bahwa perempuan di depannya masih orang yang sama. “Aku senang kamu masih ingat.”Ia melirik ke arah pintu, lalu kembali menatap Nadira. “Kalau kamu nggak keberatan, kita pindah ke ruanganku saja. Di sini terlalu ...







