Share

Bab 2

Author: Echo
"Sayang, kamu yakin mau datang ke pesta malam ini?" tanya Vincent sambil merapikan dasinya. "Kalau kamu kurang enak badan, aku bisa cari alasan."

"Aku baik-baik saja," jawabku sambil mengoleskan lipstik di depan cermin. "Lagian, aku ingin melihat klub barumu. Katanya ada wajah-wajah baru."

Tangan Vincent berhenti sesaat sebelum kembali ke dasinya. "Nggak ada yang istimewa. Cuma staf baru."

"Aku dengar ada gadis bernama Carmen yang cukup jadi favorit pengunjung."

"Aku nggak terlalu memperhatikan nama," katanya, lalu mencondongkan badan dan mengecup pipiku. "Ayo pergi. Jangan dibesar-besarkan."

Di dalam mobil, aku sedikit menekan lagi. "Vincent, aku kepikiran untuk membeli vila di Malaba. Katanya properti tepi laut itu investasi yang bagus."

"Malaba?" Genggamannya di setir mengencang. "Kejauhan. Rumah kita yang sekarang sudah cukup besar."

"Tapi aku lihat banyak teman kita beli properti di sana. Kamu bisa dapat tempat bagus dengan pemandangan laut sekitar 12 miliar."

Vincent hampir menginjak rem mendadak. "Dua belas miliar? Angka yang sangat spesifik ya. Kamu sudah lihat tempatnya?"

"Cuma ngarang," kataku sambil menepuk tangannya dengan senyum. "Kenapa kelihatan gugup?"

"Aku nggak gugup. Aku cuma pikir kita belum butuh rumah sebesar itu sekarang."

Sesampainya di klub malam, aku bilang ingin berkeliling. "Ini cuma klub, Bella. Nggak ada apa-apa." Vincent mencoba menghentikanku.

"Aku istri pemilik klub ini, 'kan? Memangnya aneh kalau aku melihat klubku sendiri?"

Vincent pasti takut membuat keributan, karena dia tidak membantah.

Di lorong menuju bilik-bilik privat, aku melihatnya.

Carmen. Lebih muda dan lebih cantik daripada di fotonya. Lebih berani. Dia mengenakan gaun merah ketat, perut kecilnya yang membuncit terlihat jelas. Gelang berlian itu berkilau di pergelangan tangannya.

Gelang yang diberikan Vincent padanya.

"Vincent, gelang gadis itu cantik sekali. Sepertinya familier."

"Gelang apa? Aku nggak lihat," katanya, bahkan tidak mau menoleh ke arahnya.

"Kenapa kamu nggak memperkenalkan aku? Aku ingin bertemu 'karyawan favorit' kita."

"Bella, sebaiknya kita pergi," kata Vincent sambil menarik lenganku, jelas ingin kabur.

Aku tidak berniat melepaskannya semudah itu.

Aku melepaskan lenganku dan mengulurkan tangan ke arah Carmen, senyum ramah terpasang. "Halo, aku Bella Mardana. Istri Vincent."

Vincent tak punya pilihan selain memaksakan senyum kaku. "Ini Carmen. Dia salah satu ... penari populer kami."

Aku melihat kecemburuan dan kegetiran di mata Carmen.

Namun, dia tetap tersenyum tegang. "Senang bertemu denganmu, Bu Bella."

Pandangan mataku turun ke pergelangan tangannya dan aku berkata dengan santai, "Gelangnya indah. Cocok sekali denganmu." Aku nyaris tak menyembunyikan senyumanku. Dengan gajinya, gelang itu butuh sepuluh tahun untuk dia beli.

Carmen cepat-cepat mencoba menutupi gelang itu dengan tangan satunya, matanya melirik ke arah Vincent. "Terima kasih, Bu ...."

Aktingnya perlu banyak latihan lagi.

Aku pura-pura tidak melihat tatapan yang mereka tukar, lalu menggandeng lengan Vincent dan langsung pergi.

Aku bisa merasakan tatapan Carmen yang seolah-olah membakar punggungku.

Bagus. Paniklah dan marah. Kamu hanya akan membuat lebih banyak kesalahan.

Di tengah pesta, aku pamit ke toilet.

Saat melewati lounge VIP, aku mendengar suara Carmen di telepon.

"Bayinya sehat. Dokter bilang lima bulan lagi kita bisa ketemu Papa." Dia mengusap perutnya. "Vincent baik sekali padaku. Aku cuma bilang ingin kalung dan dia bilang akan memberiku kalung Keluarga Mardana, hahaha. Begitu bayinya lahir, dia akan menceraikan wanita tua itu. Lalu aku akan jadi Nyonya Keluarga Resmana yang sebenarnya."

Aku mendorong pintu dan masuk. Begitu melihatku, wajah Carmen langsung pucat.

"Selamat atas kehamilanmu," kataku dengan senyum tipis. "Ayahnya pasti sangat senang."

"Iya ...." Suaranya bergetar.

"Beruntung sekali kamu." Aku belum siap membuka kartu sepenuhnya, sedikit sentuhan sudah cukup membuatnya panik. "Biar kuberikan satu saran, Carmen. Wanita pintar tahu mana yang bukan haknya. Kamu boleh menginginkannya sepuasmu, tapi itu nggak akan pernah menjadi milikmu."

Aku berbalik dan meninggalkannya sendirian di lounge.

Sesampainya di rumah, saat Vincent sedang mandi, aku kembali menyelinap ke ruang kerjanya.

Di dalam brankas, di balik uang tunai dan dokumen, ada sebuah kotak kecil. Di dalamnya tersimpan kalung berlian Keluarga Mardana, pusaka yang kuberikan padanya saat kami menikah.

Aku mengangkatnya ke arah cahaya bulan. Berlian-berlian itu memantulkan kilau dingin dan indah.

Vincent berencana memberikan warisan keluargaku kepada selingkuhannya. Ini bukan sekadar pengkhianatan terhadapku. Ini penghinaan terhadap seluruh Keluarga Mardana.

Aku menggenggam kalung itu, merasakan sisi-sisinya yang tajam menusuk telapak tanganku.

"Kamu sudah salah memilih, Vincent. Dan aku nggak akan memberimu kesempatan untuk menyesal."
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Harga yang Harus Dibayar Seorang Pengkhianat   Bab 8

    Pintu ruang rapat terbuka menghantam dinding dan Carmen terhuyung masuk. Wajahnya pucat pasi, matanya dipenuhi air mata dan amarah. Di tangannya, dia mencengkeram sebuah laporan medis."Bella! Dasar monster!" Dia menjerit, suaranya pecah oleh keputusasaan. "Gimana kamu bisa melakukan ini padaku?"Vincent menatapnya dengan kaget. "Carmen? Gimana kamu ....""Laporan genetik itu!" Carmen membanting kertas-kertas itu ke lantai. "Aku pergi ke rumah sakit, Vincent! Laporannya palsu! Dipalsukan! Nggak ada yang salah dengan bayi kita!"Seluruh ruangan itu langsung sunyi. Sunyi yang mematikan.Aku menoleh ke arahnya, senyum dingin perlahan merekah di wajahku. "Sepertinya akhirnya kamu menyadarinya.""Ini ulahmu!" Carmen menunjukku dengan jari gemetar. "Kamu memalsukan laporan itu! Kamu sengaja menjebak Vincent!""Benar." Aku mengaku tanpa sedikit pun rasa bersalah. "Semuanya adalah sandiwara. Sebuah ujian, untuk melihat pria seperti apa Vincent sebenarnya."Vincent menatap kami bergantian, waja

  • Harga yang Harus Dibayar Seorang Pengkhianat   Bab 7

    Ruang makan dipenuhi cahaya lilin dan aroma hidangan yang disiapkan Vincent dengan begitu hati-hati. Dia mengenakan setelan terbaiknya, senyum memohon yang menyedihkan terpampang di wajahnya. Tak akan ada yang menyangka pria ini adalah bajingan dingin yang baru kemarin menelantarkan anaknya sendiri."Bella sayang." Dia menarikkan kursi untukku, kepura-puraan ksatria yang murahan. "Kurasa kita perlu bicara."Aku duduk, mengamatinya mondar-mandir mengurusi meja. Bodoh sekali. Dia benar-benar mengira semuanya sudah terkendali, bahwa krisis ini telah berlalu."Kamu kelihatan puas sekali, Vincent," kataku sambil meneguk anggur sedikit. Suaraku datar."Tentu saja. Karena kita akhirnya bisa memulai dari awal." Dia duduk di depanku, tampak kilatan licik di matanya. "Bella, aku harus jujur. Soal Carmen, aku akui, dia sempat memengaruhiku. Tahu nggak, seorang pria kadang tergoda oleh sesuatu yang baru?""Sesuatu yang baru?" Aku mengulanginya sambil tersenyum dingin."Iya, sesuatu yang baru. Kita

  • Harga yang Harus Dibayar Seorang Pengkhianat   Bab 6

    "Tes DNA? Untuk apa?" suara Vincent bergetar."Karena kamu meragukan siapa ayah bayi itu, biar sains yang memastikannya," kataku sambil menuntun Carmen duduk di sofa. "Ini yang terbaik. Untuk semua pihak."Sambil menghapus air mata, Carmen mengangguk. "Aku setuju. Aku akan membuktikan bayi ini anak Vincent!"Vincent sempat membuka mulut untuk membantah, lalu menutupnya lagi. Menolak tes sekarang hanya akan membuatnya tampak semakin bersalah.Dokter Martin datang dengan cepat membawa peralatannya."Aku perlu sampel darah dan usapan bukal dari kalian berdua," jelasnya. "Hasilnya akan keluar besok."Sepanjang proses itu, Vincent terlihat kacau. Dia tahu bayi itu memang anaknya, yang berarti seluruh sandiwara yang dia mainkan sebentar lagi akan terbongkar."Kamu terlihat tegang, Vincent," kataku sambil menyerahkan segelas air. "Kalau bayi itu bukan anakmu, bukankah itu kabar baik?""Aku cuma nggak suka drama seperti ini," katanya dengan senyum lemah.Carmen menatapnya. Cinta di matanya mul

  • Harga yang Harus Dibayar Seorang Pengkhianat   Bab 5

    Di kamar Hotel Season.Carmen datang tepat waktu, mengenakan gaun hamil berwarna merah muda yang sama sekali tidak bisa menyembunyikan perutnya yang semakin membesar. Dia terlihat gugup, jemarinya gelisah memainkan tas desainer di pangkuannya."Silakan duduk," kataku sambil memberi isyarat ke sofa di depanku."Bu Bella, terima kasih sudah bersedia menemuiku.""Panggil saja aku Bella. Lagian, kita berbagi pria yang sama, bukan?"Semua sikap sombong yang dia tunjukkan pada temannya lenyap seketika. Wajahnya memerah. "Aku tahu ini rumit, tapi aku mencintai Vincent, dan dia mencintaiku. Bayi kami adalah hasil dari cinta itu.""Cinta?" Aku terkekeh pelan. "Carmen, kamu tahu apa yang terjadi di kasino-kasino Vincent kemarin?"Dia menggeleng."Dia kehilangan semua perlindungan dan semua pendanaannya. Bisnisnya akan segera hancur. Bahkan kemungkinan besar dia nggak akan sanggup mempertahankan vila di Malaba itu."Wajah Carmen langsung pucat. "Itu nggak mungkin. Vincent bilang bisnisnya sedang

  • Harga yang Harus Dibayar Seorang Pengkhianat   Bab 4

    "Bella, ada apa ini?"Vincent menerobos masuk lewat pintu, wajahnya penuh kepanikan. Rambutnya acak-acakan, kemejanya kusut, seperti baru saja berlari pulang tanpa berhenti."Maksud kamu?" tanyaku tenang sambil memotong tomat untuk pasta favoritnya."Kasino-kasinoku, semua perlindunganku lenyap. Keluarga Tano menarik pengamanan mereka. Keluarga Baskara menarik kembali pendanaan. Bahkan koneksi pemerintahku mendadak menghilang." Dia mencengkeram lenganku. "Ini nggak mungkin kebetulan.""Mungkin cuma penataan ulang bisnis," kataku sambil membelai pipinya. "Jangan khawatir. Orang-orang ayahku tetap akan melindungimu. Aku akan selalu ada di pihakmu."Secercah harapan muncul di mata Vincent."Benarkah? Kamu bisa bicara dengan ayahmu untukku? Aku bersumpah aku nggak pernah melakukan apa pun yang nggak menghormati keluarga.""Tentu, Sayang." Aku menahan rasa mual yang naik ke tenggorokanku dan mengecup pipinya. "Kita suami istri. Aku selalu di pihakmu."Dia memelukku erat, seperti orang tengg

  • Harga yang Harus Dibayar Seorang Pengkhianat   Bab 3

    Keesokan harinya, telepon dari Paman Dante datang tepat waktu."Carmen Ramanta. Dua puluh empat tahun, imigran asal Makasa. Pindah ke vila tepi pantai di Malaba tiga bulan lalu, harganya sekitar 12 miliar. Kemarin jam dua siang, Vincent bersamanya di Rumah Sakit Marina untuk pemeriksaan kehamilan.""Apa lagi?""Aku dapat rekaman CCTV. Vincent sendiri yang memakaikan kalung berlian itu ke lehernya. Di area parkir rumah sakit. Mereka juga berciuman selama tujuh belas menit."Aku menutup telepon dan menatap Vincent yang masih tertidur lelap. Dia terlihat begitu polos, begitu bisa dipercaya."Bella? Kamu bangun pagi sekali," katanya sambil meraihku.Aku menjauh. "Mau ke gym. Hari ini ada makan siang bisnis penting.""Sama siapa?""Teman," jawabku sambil berganti pakaian. "Nanti malam aku masakin pasta favoritmu."Vincent tersenyum. "Aku menikahi istri yang sempurna."Dua jam kemudian, aku sudah berada di area VIP Salon Lova, tempat terbaik di kota untuk mengumpulkan gosip kalangan atas."B

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status