Share

Harga yang Harus Dibayar Seorang Pengkhianat
Harga yang Harus Dibayar Seorang Pengkhianat
Author: Echo

Bab 1

Author: Echo
Aku memercayai suamiku selama tiga tahun. Sepenuhnya. Sampai malam itu, ketika dia mengigau dalam tidurnya "Anakku sayang, besok Papa akan bawa kamu dan Mama ke rumah baru."

Saat itulah aku tahu. Dia bukan sekadar selingkuh. Dia sudah menghamili wanita lain. Diam-diam, aku bersumpah. Pria tak berperasaan ini akan menanggung konsekuensi yang berat.

Jam menunjukkan pukul tiga pagi.

Vincent menggumamkan sesuatu dalam tidurnya. Aku sempat hendak memiringkan badan, tetapi kemudian aku menangkap kata-katanya itu.

Aku langsung terjaga sepenuhnya.

Rumah baru apa? Anakku sayang apa? Kami tidak punya anak. Selama tiga tahun, dia selalu bilang ingin fokus pada kariernya, terus menunda soal punya anak.

Seberkas cahaya bulan menyelinap lewat celah gorden dan jatuh di wajah Vincent. Dia tidur nyenyak, senyum puas terukir di bibirnya.

Aku meraih ponselnya dengan pelan.

Ibu jariku membuka kuncinya. Dia tidak pernah menyembunyikan apa pun dariku dan justru itu yang membuat apa yang kutemukan setelahnya terasa seperti neraka.

Aku langsung membuka riwayat transfer banknya.

Dia mengirim uang sebesar 12 miliar kepada seorang wanita yang bernama Carmen Ramanta dengan keterangan "uang muka vila".

Tanganku mulai gemetar.

Bukan cuma amarah. Ada lonjakan adrenalin, bahkan sensasi aneh. Perasaan ketika tubuh bereaksi lebih dulu daripada otak, seolah-olah tahu hidupmu akan segera berantakan.

Aku mencari nama "Carmen" di kontaknya dan membuka media sosialnya.

Unggahan pertama terlihat foto USG. Keterangannya "Malaikat kecilku, usia empat bulan".

Unggahan kedua terlihat sebuah Maserati baru, dengan gantungan kunci Hermes. "Terima kasih untuk kejutannya. Dari priaku".

Unggahan ketiga terlihat gelang Bvlgari yang melingkar di pergelangan tangannya. Harganya bisa sampai miliaran. Gelang yang sama yang Vincent bilang dia beli sebagai "hadiah untuk klien".

Ironinya begitu menyesakkan. Saat kami menikah, Vincent baru merintis karier. Aku tidak ingin melukai harga dirinya, jadi akulah yang mengusulkan pernikahan sederhana. Tanpa perhiasan mewah, tanpa apa pun.

Waktu itu, Vincent menggenggam tanganku, matanya berkaca-kaca, dan berjanji akan membalas semuanya sepuluh kali lipat begitu dia berhasil.

Sepertinya dia memang membalasnya. Hanya saja untuk wanita lain.

Aku terus menggulir.

Liburan di tepi laut, makan malam di restoran berbintang Michelin, penerbangan kelas satu dengan jet pribadi. Setiap foto mengandung kemewahan. Wanita di foto-foto itu jelas belum genap 25 tahun, dengan kulit kencang dan tubuh yang sempurna.

Unggahan terbarunya, pukul sebelas malam tadi. "Nonton film di rumah bareng pria aku. Inilah rasanya kebahagiaan".

Pukul sebelas malam tadi, Vincent bilang padaku dia terjebak di kantor karena keadaan darurat.

Aku meletakkan kembali ponselnya ke tempat semula, lalu berjalan ke ruang tamu untuk menelepon penasihat ayahku.

"Paman Dante, ini aku, Bella."

"Nona? Sudah larut."

"Aku butuh bantuan ayahku. Vincent mengkhianatiku. Dan dia mengkhianati keluarga."

Hening sejenak.

"Apa yang Nona butuhkan?"

"Aku mau laporan lengkap tentang semua urusan bisnis Vincent. Salinan setiap kontrak. Dan pemeriksaan latar belakang penuh atas Carmen Ramanta. Aku mau semuanya ada di tanganku dalam dua hari."

"Baik. Ada lagi?"

Aku melirik kembali ke arah kamar tidur, tempat Vincent masih terlelap. Suaraku terdengar begitu tenang sampai-sampai aku sendiri takut.

"Siapkan surat cerainya. Aku mau dia pergi tanpa membawa apa pun."

Setelah menutup telepon, aku kembali ke kamar dan berbaring di sampingnya. Dia berguling dan melingkarkan lengannya di pinggangku, seperti biasa.

Namun kali ini, semuanya sudah berbeda.

Aku memejamkan mata dan mulai menyusun rencana. Wanita Keluarga Mardana tidak menangis. Kami tidak histeris dan kami sama sekali bukan pemaaf.

Kami membalas. Kami membuat para pengkhianat membayar harga yang tak akan sanggup mereka tanggung.

Saat fajar menyingsing, aku melangkah ke ruang kerja dan membuka brankas yang hanya aku yang tahu kodenya. Di dalamnya tersimpan semua dokumen rahasia urusan bisnis Vincent. Sebagai istrinya, aku punya akses ke segalanya.

Aku memotret setiap lembar dokumen.

Permainan dimulai.
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Harga yang Harus Dibayar Seorang Pengkhianat   Bab 8

    Pintu ruang rapat terbuka menghantam dinding dan Carmen terhuyung masuk. Wajahnya pucat pasi, matanya dipenuhi air mata dan amarah. Di tangannya, dia mencengkeram sebuah laporan medis."Bella! Dasar monster!" Dia menjerit, suaranya pecah oleh keputusasaan. "Gimana kamu bisa melakukan ini padaku?"Vincent menatapnya dengan kaget. "Carmen? Gimana kamu ....""Laporan genetik itu!" Carmen membanting kertas-kertas itu ke lantai. "Aku pergi ke rumah sakit, Vincent! Laporannya palsu! Dipalsukan! Nggak ada yang salah dengan bayi kita!"Seluruh ruangan itu langsung sunyi. Sunyi yang mematikan.Aku menoleh ke arahnya, senyum dingin perlahan merekah di wajahku. "Sepertinya akhirnya kamu menyadarinya.""Ini ulahmu!" Carmen menunjukku dengan jari gemetar. "Kamu memalsukan laporan itu! Kamu sengaja menjebak Vincent!""Benar." Aku mengaku tanpa sedikit pun rasa bersalah. "Semuanya adalah sandiwara. Sebuah ujian, untuk melihat pria seperti apa Vincent sebenarnya."Vincent menatap kami bergantian, waja

  • Harga yang Harus Dibayar Seorang Pengkhianat   Bab 7

    Ruang makan dipenuhi cahaya lilin dan aroma hidangan yang disiapkan Vincent dengan begitu hati-hati. Dia mengenakan setelan terbaiknya, senyum memohon yang menyedihkan terpampang di wajahnya. Tak akan ada yang menyangka pria ini adalah bajingan dingin yang baru kemarin menelantarkan anaknya sendiri."Bella sayang." Dia menarikkan kursi untukku, kepura-puraan ksatria yang murahan. "Kurasa kita perlu bicara."Aku duduk, mengamatinya mondar-mandir mengurusi meja. Bodoh sekali. Dia benar-benar mengira semuanya sudah terkendali, bahwa krisis ini telah berlalu."Kamu kelihatan puas sekali, Vincent," kataku sambil meneguk anggur sedikit. Suaraku datar."Tentu saja. Karena kita akhirnya bisa memulai dari awal." Dia duduk di depanku, tampak kilatan licik di matanya. "Bella, aku harus jujur. Soal Carmen, aku akui, dia sempat memengaruhiku. Tahu nggak, seorang pria kadang tergoda oleh sesuatu yang baru?""Sesuatu yang baru?" Aku mengulanginya sambil tersenyum dingin."Iya, sesuatu yang baru. Kita

  • Harga yang Harus Dibayar Seorang Pengkhianat   Bab 6

    "Tes DNA? Untuk apa?" suara Vincent bergetar."Karena kamu meragukan siapa ayah bayi itu, biar sains yang memastikannya," kataku sambil menuntun Carmen duduk di sofa. "Ini yang terbaik. Untuk semua pihak."Sambil menghapus air mata, Carmen mengangguk. "Aku setuju. Aku akan membuktikan bayi ini anak Vincent!"Vincent sempat membuka mulut untuk membantah, lalu menutupnya lagi. Menolak tes sekarang hanya akan membuatnya tampak semakin bersalah.Dokter Martin datang dengan cepat membawa peralatannya."Aku perlu sampel darah dan usapan bukal dari kalian berdua," jelasnya. "Hasilnya akan keluar besok."Sepanjang proses itu, Vincent terlihat kacau. Dia tahu bayi itu memang anaknya, yang berarti seluruh sandiwara yang dia mainkan sebentar lagi akan terbongkar."Kamu terlihat tegang, Vincent," kataku sambil menyerahkan segelas air. "Kalau bayi itu bukan anakmu, bukankah itu kabar baik?""Aku cuma nggak suka drama seperti ini," katanya dengan senyum lemah.Carmen menatapnya. Cinta di matanya mul

  • Harga yang Harus Dibayar Seorang Pengkhianat   Bab 5

    Di kamar Hotel Season.Carmen datang tepat waktu, mengenakan gaun hamil berwarna merah muda yang sama sekali tidak bisa menyembunyikan perutnya yang semakin membesar. Dia terlihat gugup, jemarinya gelisah memainkan tas desainer di pangkuannya."Silakan duduk," kataku sambil memberi isyarat ke sofa di depanku."Bu Bella, terima kasih sudah bersedia menemuiku.""Panggil saja aku Bella. Lagian, kita berbagi pria yang sama, bukan?"Semua sikap sombong yang dia tunjukkan pada temannya lenyap seketika. Wajahnya memerah. "Aku tahu ini rumit, tapi aku mencintai Vincent, dan dia mencintaiku. Bayi kami adalah hasil dari cinta itu.""Cinta?" Aku terkekeh pelan. "Carmen, kamu tahu apa yang terjadi di kasino-kasino Vincent kemarin?"Dia menggeleng."Dia kehilangan semua perlindungan dan semua pendanaannya. Bisnisnya akan segera hancur. Bahkan kemungkinan besar dia nggak akan sanggup mempertahankan vila di Malaba itu."Wajah Carmen langsung pucat. "Itu nggak mungkin. Vincent bilang bisnisnya sedang

  • Harga yang Harus Dibayar Seorang Pengkhianat   Bab 4

    "Bella, ada apa ini?"Vincent menerobos masuk lewat pintu, wajahnya penuh kepanikan. Rambutnya acak-acakan, kemejanya kusut, seperti baru saja berlari pulang tanpa berhenti."Maksud kamu?" tanyaku tenang sambil memotong tomat untuk pasta favoritnya."Kasino-kasinoku, semua perlindunganku lenyap. Keluarga Tano menarik pengamanan mereka. Keluarga Baskara menarik kembali pendanaan. Bahkan koneksi pemerintahku mendadak menghilang." Dia mencengkeram lenganku. "Ini nggak mungkin kebetulan.""Mungkin cuma penataan ulang bisnis," kataku sambil membelai pipinya. "Jangan khawatir. Orang-orang ayahku tetap akan melindungimu. Aku akan selalu ada di pihakmu."Secercah harapan muncul di mata Vincent."Benarkah? Kamu bisa bicara dengan ayahmu untukku? Aku bersumpah aku nggak pernah melakukan apa pun yang nggak menghormati keluarga.""Tentu, Sayang." Aku menahan rasa mual yang naik ke tenggorokanku dan mengecup pipinya. "Kita suami istri. Aku selalu di pihakmu."Dia memelukku erat, seperti orang tengg

  • Harga yang Harus Dibayar Seorang Pengkhianat   Bab 3

    Keesokan harinya, telepon dari Paman Dante datang tepat waktu."Carmen Ramanta. Dua puluh empat tahun, imigran asal Makasa. Pindah ke vila tepi pantai di Malaba tiga bulan lalu, harganya sekitar 12 miliar. Kemarin jam dua siang, Vincent bersamanya di Rumah Sakit Marina untuk pemeriksaan kehamilan.""Apa lagi?""Aku dapat rekaman CCTV. Vincent sendiri yang memakaikan kalung berlian itu ke lehernya. Di area parkir rumah sakit. Mereka juga berciuman selama tujuh belas menit."Aku menutup telepon dan menatap Vincent yang masih tertidur lelap. Dia terlihat begitu polos, begitu bisa dipercaya."Bella? Kamu bangun pagi sekali," katanya sambil meraihku.Aku menjauh. "Mau ke gym. Hari ini ada makan siang bisnis penting.""Sama siapa?""Teman," jawabku sambil berganti pakaian. "Nanti malam aku masakin pasta favoritmu."Vincent tersenyum. "Aku menikahi istri yang sempurna."Dua jam kemudian, aku sudah berada di area VIP Salon Lova, tempat terbaik di kota untuk mengumpulkan gosip kalangan atas."B

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status