LOGIN
Pintu ruang rapat terbuka menghantam dinding dan Carmen terhuyung masuk. Wajahnya pucat pasi, matanya dipenuhi air mata dan amarah. Di tangannya, dia mencengkeram sebuah laporan medis."Bella! Dasar monster!" Dia menjerit, suaranya pecah oleh keputusasaan. "Gimana kamu bisa melakukan ini padaku?"Vincent menatapnya dengan kaget. "Carmen? Gimana kamu ....""Laporan genetik itu!" Carmen membanting kertas-kertas itu ke lantai. "Aku pergi ke rumah sakit, Vincent! Laporannya palsu! Dipalsukan! Nggak ada yang salah dengan bayi kita!"Seluruh ruangan itu langsung sunyi. Sunyi yang mematikan.Aku menoleh ke arahnya, senyum dingin perlahan merekah di wajahku. "Sepertinya akhirnya kamu menyadarinya.""Ini ulahmu!" Carmen menunjukku dengan jari gemetar. "Kamu memalsukan laporan itu! Kamu sengaja menjebak Vincent!""Benar." Aku mengaku tanpa sedikit pun rasa bersalah. "Semuanya adalah sandiwara. Sebuah ujian, untuk melihat pria seperti apa Vincent sebenarnya."Vincent menatap kami bergantian, waja
Ruang makan dipenuhi cahaya lilin dan aroma hidangan yang disiapkan Vincent dengan begitu hati-hati. Dia mengenakan setelan terbaiknya, senyum memohon yang menyedihkan terpampang di wajahnya. Tak akan ada yang menyangka pria ini adalah bajingan dingin yang baru kemarin menelantarkan anaknya sendiri."Bella sayang." Dia menarikkan kursi untukku, kepura-puraan ksatria yang murahan. "Kurasa kita perlu bicara."Aku duduk, mengamatinya mondar-mandir mengurusi meja. Bodoh sekali. Dia benar-benar mengira semuanya sudah terkendali, bahwa krisis ini telah berlalu."Kamu kelihatan puas sekali, Vincent," kataku sambil meneguk anggur sedikit. Suaraku datar."Tentu saja. Karena kita akhirnya bisa memulai dari awal." Dia duduk di depanku, tampak kilatan licik di matanya. "Bella, aku harus jujur. Soal Carmen, aku akui, dia sempat memengaruhiku. Tahu nggak, seorang pria kadang tergoda oleh sesuatu yang baru?""Sesuatu yang baru?" Aku mengulanginya sambil tersenyum dingin."Iya, sesuatu yang baru. Kita
"Tes DNA? Untuk apa?" suara Vincent bergetar."Karena kamu meragukan siapa ayah bayi itu, biar sains yang memastikannya," kataku sambil menuntun Carmen duduk di sofa. "Ini yang terbaik. Untuk semua pihak."Sambil menghapus air mata, Carmen mengangguk. "Aku setuju. Aku akan membuktikan bayi ini anak Vincent!"Vincent sempat membuka mulut untuk membantah, lalu menutupnya lagi. Menolak tes sekarang hanya akan membuatnya tampak semakin bersalah.Dokter Martin datang dengan cepat membawa peralatannya."Aku perlu sampel darah dan usapan bukal dari kalian berdua," jelasnya. "Hasilnya akan keluar besok."Sepanjang proses itu, Vincent terlihat kacau. Dia tahu bayi itu memang anaknya, yang berarti seluruh sandiwara yang dia mainkan sebentar lagi akan terbongkar."Kamu terlihat tegang, Vincent," kataku sambil menyerahkan segelas air. "Kalau bayi itu bukan anakmu, bukankah itu kabar baik?""Aku cuma nggak suka drama seperti ini," katanya dengan senyum lemah.Carmen menatapnya. Cinta di matanya mul
Di kamar Hotel Season.Carmen datang tepat waktu, mengenakan gaun hamil berwarna merah muda yang sama sekali tidak bisa menyembunyikan perutnya yang semakin membesar. Dia terlihat gugup, jemarinya gelisah memainkan tas desainer di pangkuannya."Silakan duduk," kataku sambil memberi isyarat ke sofa di depanku."Bu Bella, terima kasih sudah bersedia menemuiku.""Panggil saja aku Bella. Lagian, kita berbagi pria yang sama, bukan?"Semua sikap sombong yang dia tunjukkan pada temannya lenyap seketika. Wajahnya memerah. "Aku tahu ini rumit, tapi aku mencintai Vincent, dan dia mencintaiku. Bayi kami adalah hasil dari cinta itu.""Cinta?" Aku terkekeh pelan. "Carmen, kamu tahu apa yang terjadi di kasino-kasino Vincent kemarin?"Dia menggeleng."Dia kehilangan semua perlindungan dan semua pendanaannya. Bisnisnya akan segera hancur. Bahkan kemungkinan besar dia nggak akan sanggup mempertahankan vila di Malaba itu."Wajah Carmen langsung pucat. "Itu nggak mungkin. Vincent bilang bisnisnya sedang
"Bella, ada apa ini?"Vincent menerobos masuk lewat pintu, wajahnya penuh kepanikan. Rambutnya acak-acakan, kemejanya kusut, seperti baru saja berlari pulang tanpa berhenti."Maksud kamu?" tanyaku tenang sambil memotong tomat untuk pasta favoritnya."Kasino-kasinoku, semua perlindunganku lenyap. Keluarga Tano menarik pengamanan mereka. Keluarga Baskara menarik kembali pendanaan. Bahkan koneksi pemerintahku mendadak menghilang." Dia mencengkeram lenganku. "Ini nggak mungkin kebetulan.""Mungkin cuma penataan ulang bisnis," kataku sambil membelai pipinya. "Jangan khawatir. Orang-orang ayahku tetap akan melindungimu. Aku akan selalu ada di pihakmu."Secercah harapan muncul di mata Vincent."Benarkah? Kamu bisa bicara dengan ayahmu untukku? Aku bersumpah aku nggak pernah melakukan apa pun yang nggak menghormati keluarga.""Tentu, Sayang." Aku menahan rasa mual yang naik ke tenggorokanku dan mengecup pipinya. "Kita suami istri. Aku selalu di pihakmu."Dia memelukku erat, seperti orang tengg
Keesokan harinya, telepon dari Paman Dante datang tepat waktu."Carmen Ramanta. Dua puluh empat tahun, imigran asal Makasa. Pindah ke vila tepi pantai di Malaba tiga bulan lalu, harganya sekitar 12 miliar. Kemarin jam dua siang, Vincent bersamanya di Rumah Sakit Marina untuk pemeriksaan kehamilan.""Apa lagi?""Aku dapat rekaman CCTV. Vincent sendiri yang memakaikan kalung berlian itu ke lehernya. Di area parkir rumah sakit. Mereka juga berciuman selama tujuh belas menit."Aku menutup telepon dan menatap Vincent yang masih tertidur lelap. Dia terlihat begitu polos, begitu bisa dipercaya."Bella? Kamu bangun pagi sekali," katanya sambil meraihku.Aku menjauh. "Mau ke gym. Hari ini ada makan siang bisnis penting.""Sama siapa?""Teman," jawabku sambil berganti pakaian. "Nanti malam aku masakin pasta favoritmu."Vincent tersenyum. "Aku menikahi istri yang sempurna."Dua jam kemudian, aku sudah berada di area VIP Salon Lova, tempat terbaik di kota untuk mengumpulkan gosip kalangan atas."B







