Share

Bab 276

Penulis: Rina Safitri
Tubuh Wulan menegang, wajahnya seketika memucat, matanya memerah dengan luka yang nggak bisa disembunyikan.

“Kak Indra…”

Indra keluarkan sebatang rokok, menyalakannya, menghisap dalam-dalam lalu hembuskan asap. “Kasih HP-mu ke aku.”

Wulan nggak paham maksudnya, tapi tetap patuh serahkan itu.

Indra ambil HP itu. “Mulai sekarang, kamu akan tinggal di pulau ini untuk istirahat. Jika ada urusan, aku akan menghubungi Bu Aisyah.”

Bu Aisyah adalah pengasuh yang Indra sediakan khusus untuk Wulan.

Dengar itu, mata Wulan dipenuhi ketidakpercayaan. “Kak Indra, kamu ingin kurung aku di sini? Bukannya kamu bilang, setelah beberapa waktu kamu akan jemput aku pulang?”

Indra jawab dengan tenang, “Dengan keadaan emosimu sekarang, kamu nggak pantas berada di luar.”

“Aku nggak mau!” Wulan menolak keras. Ia mencengkeram lengan Indra, menangis memohon.

“Kak Indra, jangan biarkan aku tinggal di sini sendirian. Aku bisa pergi minta maaf ke Puspa, aku akan berusaha dapatkan pengampunannya. Aku tahu aku salah.
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (2)
goodnovel comment avatar
Yusdiana Amier
mending puspa bunuh diri aj
goodnovel comment avatar
Fewia Kendarsyah
tumben indra tegas sama wulan
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Hari Aku Kehilangan, Dia Merayakan   Bab 660

    Begitu Lisa belok di tikungan dan masuk ke dalam lorong, yang ia dapati cuma lorong kosong nggak ada satu orang pun, seolah apa yang ia lihat barusan cuma ilusi.Ia berhenti di tempat, alisnya berkerut.Endah yang tertinggal di belakang akhirnya susul dia, menggertakkan gigi. “Bisa nggak kamu jangan bertingkah yang aneh-aneh?”Lisa bersikeras, “Aku beneran barusan lihat Puspa.”Meski hanya sekilas dari samping, ia nggak mungkin salah. Puspa berubah jadi abu pun, ia tetap bisa kenalin Puspa.Endah mendecak, gigi belakangnya terkatup keras. “Kamu sudah minum berapa banyak alkohol? Kamu sendiri nggak sadar?”Sudah cukup Lisa sering mengamuk, sekarang malah kecanduan minum. Selama bertahun-tahun di luar negeri itu, nggak tahu ia itu ngapain saja!Lisa gigit bibirnya, apa ia benar mabuk sampai salah lihat?Endah pun tarik dia pergi. “Pulang dan minum teh hangat sana biar sadar sedikit.”Dua anak, nggak ada satupun yang bisa buat dia tenang.Puspa sama sekali nggak sadar kalau barusan ia ham

  • Hari Aku Kehilangan, Dia Merayakan   Bab 659

    Tania menatap pasangan yang tampak begitu serasi di depannya. Lihat betapa bahagianya Puspa sekarang, matanya dipenuhi kepuasan, ini benar-benar berkah yang tersembunyi di balik malapetaka.Lihat pemandangan itu, Wira nggak bisa menahan diri untuk mengeluh dalam hati, kawan baiknya itu benar-benar sudah nggak punya harapan lagi.Di meja makan, Tania perhatikan gimana Eric perlakukan Puspa dengan penuh perhatian, Tania sudah seperti calon mertua yang menilai calon menantu, semakin dilihat, semakin puas.Lumayan bagus, anak muda itu memang oke.Memang sudah seharusnya gitu, wanita sebaik Puspa pantas dapatkan yang terbaik. Sementara semua sampah serta kotoran masa lalu? Seharusnya pergi sejauh mungkin.Karena ingin bicara lebih pribadi, Tania tarik Puspa ke toilet.“Dia perlakukan kamu dengan baik?”"Dia" yang dimaksud tentu saja Eric.Puspa tersenyum samar. “Bukannya kamu sudah lihat sendiri?”Ia memang lihat itu, tapi tetap ingin dengar pengakuan Puspa langsung.Tania peluk Puspa, suar

  • Hari Aku Kehilangan, Dia Merayakan   Bab 658

    Tahun lalu Tania baru tahu kalau Puspa masih hidup. Begitu ia pastikan kabar itu benar, ia langsung peluk HP-nya sambil nangis sesenggukan.Itu adalah tangis bahagia karena temukan kembali sesuatu yang dianggap hilang. Tapi sambil nangis ia juga maki Puspa habis-habisan, masih hidup tapi empat tahun nggak kasih kabar sama sekali, buat dia sakit hati dan menderita begitu lama.Sebenarnya bukannya Puspa nggak mau hubungi. Tapi, pada saat itu, ia sendiri juga lagi ada di situasi yang sulit. Ketika hidupnya mulai stabil, muncul alasan lain yang buat dia sementara nggak bisa hubungi siapa pun. Begitulah hingga waktu berlalu begitu lama.Setelah tahu lokasi Puspa, Tania langsung ingin terbang susul dia. Sayangnya, kebetulan di saat itu juga ia justru hamil. Karena kondisi tubuh dan pekerjaannya, siklus menstruasi Tania memang nggak teratur, datang hanya beberapa kali dalam setahun. Jadi ia sama sekali nggak sadar kalau dia lagi hamil, baru sadar ketika usia kandungan sudah tiga bulan.Saat d

  • Hari Aku Kehilangan, Dia Merayakan   Bab 657

    Dengan suara “PAK!”, gelas menghantam meja. Tania menoleh dan melotot ke arah Wira di sampingnya, buat lelaki itu usap hidungnya dan tersenyum kikuk.Kenapa ia dipelototin? Dia kan nggak ngapa-ngapain, nggak bilang apa-apa. Kok jadi ikut kena sasaran? Ia merasa nggak salah, mana mungkin ia tahu Indra bakal muncul di sini malam ini.Puspa yang lihat semuanya hanya tersenyum, coba redakan suasana. “Sudahlah, kamu bukannya lagi menyusui? Jangan marah-marah terus.”Begitu Puspa bicara, Wira langsung timpali, sambil tenangkan Tania, “Iya, iya, Puspa benar. Jangan sampai orang yang nggak penting bikin kamu naik darah.”Tania angkat bahunya dan tepis tangannya seolah jijik. “Sana, urus anakmu. Jangan rusak pemandangan di sini.”Padahal tadi ia nggak mau lelaki itu ikut. Tapi Wira maksa mati-matian, dan setelah datang malah hampir buat masalah.Angkat telepon katanya. Memangnya ada berapa banyak telepon penting? Kalau mau angkat, kenapa nggak pergi jauh-jauh? Kenapa harus berdiri tepat di depa

  • Hari Aku Kehilangan, Dia Merayakan   Bab 656

    Indra belum sempat buka mulut untuk tanya kenapa Wira bohong ke dia, ketika Tania yang ada di dalam ruang VIP sadar kalau ada Indra di luar pintu. Nalurinya langsung menoleh ke orang yang duduk di depannya. Hatinya menegang, ia segera bangkit dan keluar, lalu tutup pintu di belakangnya, jadi Indra nggak bisa lihat ke dalam ruangan.“Kamu ngapain di sini?”Setiap kali Tania lihat Indra, ia langsung seperti ayam jago yang bulunya mengembang, siap meledak dan semburkan kata-kata tajam.“Baru mau makan dengan tenang, eh ketemu saja sama pembawa sial. Kamu tahu aku muak lihat kamu, bisa nggak sedikit punya kesadaran diri dan menjauh sana?”Wira tampak canggung. “Tania ....”Lebih baik kamu jangan terlalu banyak bicara.Belum sempat kata-katanya selesai, Tania langsung melotot ke Wira. “Apa? Kamu mau ikut dia sekalian?”Dengar itu, Wira buru-buru menggeleng. Ia jelas nggak mau, kalau pun mau ikut, maunya ikut Tania di ranjang saja.Detik berikutnya, pandangan Tania lewati bahu Indra dan liha

  • Hari Aku Kehilangan, Dia Merayakan   Bab 655

    Sonya hanya tersenyum tapi nggak bicara, tetapi hal-hal kecil yang harus ia lakukan, tetap ia lakukan semua.Di sampingnya, Lisa justru semakin berisik, “Kak Indra, lihat deh betapa baiknya Kak Sonya ke kamu. Bertahun-tahun sudah berlalu, tapi dia masih tetap ingat makanan favoritmu. Kalau nggak salah ingat, makanan yang itu makanan favorit Kak Sonya. Masa kamu nggak kasih dia balik?”Sambil bicara, ia tunjuk salah satu hidangan, seenaknya kasih instruksi.Indra melirik ke arah adiknya, tatapannya dingin. Ia memang nggak bicara apa pun, tapi makna di balik tatapan itu sangat jelas, diam.Sonya lihat reaksi itu, bayangan redup melintas di matanya. Namun wajahnya tetap hangat dan lembut.“Aku bisa ambil sendiri kok, nggak perlu ngerepotin kakakmu,” ujarnya halus.Lisa langsung menyela, “Kak Sonya, kamu tuh terlalu baik. Kamu harusnya perintah dia sesekali. Dulu aku lihat dia rajin banget urusin kamu. Kalau kamu nggak biarkan dia urusin kamu, dia malah ngambek. Laki-laki itu kalau dimanja

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status