Share

47. Reuni

last update publish date: 2026-05-13 17:18:41

Sora mengedarkan pandangannya ke seisi ballroom yang ramai. Malam ini, akhirnya dia memutuskan untuk datang ke acara reuni SMA yang dihadiri oleh seluruh angkatan itu.

“Semuanya berubah. Hampir nggak ada yang bisa aku kenali di sini.”

“Udah lima belas tahun, Sora. Kamu berharap mereka masih jadi bocah ingusan seperti dulu?” ucap Freya bercanda.

Sora mendengus. Sudah sepuluh menit mereka di sini tapi belum ada satu wajah pun yang Sora kenali. Selain guru-guru mereka yang sudah semakin menua yang
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (5)
goodnovel comment avatar
Rima Janur
sakittt ...
goodnovel comment avatar
Putri Marthia Sari
bisa ngerasain apa yg Sora rasain
goodnovel comment avatar
Duryati Duryati
si ivara manipulatif...
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Hari-Hari Terakhir Sebelum Bercerai   147. Kabar dari Tokyo

    Sejak hari itu Sora semakin sibuk dengan pekerjaannya, sehingga dia tidak memiliki waktu untuk memikirkan Figo dan pelukan terakhirnya sebelum pria itu pergi.Hari-harinya dipenuhi rapat, revisi konsep acara, koordinasi dengan vendor, hingga berbagai masalah kecil yang terus bermunculan menjelang acara peluncuran Riviera City.Lelah.Sangat lelah.Namun Sora merasa itu hal yang baik.Karena kelelahan membuatnya tidak memiliki kesempatan untuk memikirkan hal-hal yang menyakitkan. Termasuk Figo.Dan diam-diam Sora menyewa seorang detektif swasta untuk menyelidiki kasus kecelakaan Feby, karena sampai saat ini polisi masih belum menemukan pelaku yang menyebabkan Feby koma.Truk yang menabrak Feby ditemukan beberapa kilo meter dari lokasi kejadian. Namun yang membuatnya terasa janggal, plat nomor truk tersebut rupanya palsu. Seolah-olah seseorang memang tidak ingin identitas pemilik truk itu diketahui.Sora menghela napas panjang sambil menatap langit-langit ruangan dengan tatapan menerawa

  • Hari-Hari Terakhir Sebelum Bercerai   146. Pelukan Hangat

    Setelah menjenguk Feby di rumah sakit, Sora langsung pulang ke rumahnya sore itu karena dia merasa tubuhnya benar-benar lelah.Meski begitu dia tetap membawa pekerjaan ke rumah, karena masih ada laporan yang belum selesai dia tinjau.Menjelang acara peluncuran Riviera City, Sora dan tim Skyline semakin sibuk.Kini Sora berdiri di dalam lift, menatap pantulan dirinya sendiri di pintu dengan tatapan kosong.Tiba-tiba dia merasakan sesuatu yang hangat mengalir dari hidungnya.“Kenapa mimisan lagi?” gumam Sora sambil berdecak lidah, lalu buru-buru mengeluarkan tisu dari tasnya untuk mengelap darah segar yang keluar.Dia sedikit mendongakkan wajahnya sambil menyumpal hidungnya dengan tisu tersebut. Butuh beberapa lembar tisu sampai akhirnya darah berhenti mengalir.Ting!Pintu lift terbuka.Sora melangkah keluar dan membuang tisu terlebih dulu ke tempat sampah tak jauh dari lift.Setelah itu dia menghampiri rumahnya, memasukkan kode sandi pada smart lock pintu. Terbuka. Sora mendorong pint

  • Hari-Hari Terakhir Sebelum Bercerai   145. Tidak Punya Harapan Lagi

    “Dia kecelakaan gara-gara aku,” gumam Sora seraya menatap kosong pada sosok perempuan yang terbaring lemah di dalam ruang ICU, menatapnya melalui kaca kecil di hadapannya.Freya mengembuskan napas panjang. Sora yang selama ini dunia kenal adalah perempuan mandiri dan kuat, tetapi Freya tahu hatinya lembut dan rapuh.“Sora, jangan nyalahin diri kamu sendiri,” ucap Freya pelan. “Dia kecelakaan karena memang sudah takdirnya begitu.”Sora menggeleng. “Tapi andai saja dia nggak pergi menemuiku, dia nggak akan kecelakaan.”“Tapi dia sendiri yang meminta bertemu kamu. Kamu nggak maksa dia. Kamu nggak salah, Sora.”Sora sedikit tertunduk seraya mengepalkan kedua telapak tangan.Rasa marah, bersalah dan kecewa bergumul di dalam dada.Dia marah pada keadaan yang tidak berpihak padanya dan Feby. Dia merasa bersalah karena Feby kecelakaan saat akan menemuinya. Dan… dia kecewa karena satu-satunya orang yang bisa membuktikan dirinya tidak bersalah, kini dinyatakan koma setelah kecelakaan itu.Dokte

  • Hari-Hari Terakhir Sebelum Bercerai   144. Dia Pergi

    “Untuk apa?” tanya Figo dengan rahang yang semakin mengeras.“Aku pikir sebaiknya kamu dengar langsung dari dia.”“Sora.” Figo mengembuskan napas kasar. “Kurasa kita nggak perlu membicarakan hal itu lagi.”“Kenapa?”“Karena nggak ada yang akan berubah.”Sora seketika membeku. Perlahan dia mengepalkan jari-jari tangannya. “Jadi menurutmu aku benar-benar tersangkanya, Figo? Sampai nggak ada ruang sedikit pun untuk aku membuktikan kebenaran?” tanyanya dengan dada yang semakin sesak.Figo membuang pandangannya ke arah lain. “Sudah lima belas tahun, Sora.” Suaranya terdengar rendah kali ini. “Sudah terlambat.”“Karena kamu nggak pernah kasih aku kesempatan untuk bicara!” tegas Sora dengan suara sedikit meninggi. Menyadari beberapa pasang mata mulai melirik ke arahnya, dia buru-buru merendahkan suaranya. “Bahkan kamu sudah nggak memiliki ruang untuk percaya padaku sekali saja. Kamu lebih mempercayai mantan kekasihmu, orang yang sebenarnya sudah menghancurkan hidupmu.”Figo seketika mengalih

  • Hari-Hari Terakhir Sebelum Bercerai   143. Dia Datang

    Di meja sudut cafe itu, Sora duduk sendirian. Jari-jari tangannya saling meremas di atas pangkuan.Sore ini dia merasa begitu gugup. Bahkan rasanya dia tidak pernah segugup ini sebelumnya ketika akan bertemu seseorang.Coklat panas di atas meja sudah tinggal separuh padahal dia baru duduk sejak lima menit yang lalu.Tadi pagi Sora sudah mengirimkan alamat cafe ini pada Feby. Dan Feby berjanji akan datang pukul lima sore.Sora melirik Cartier Panthere de Cartier di pergelangan tangan kanannya. Pukul empat lewat tiga puluh enam menit. Masih tersisa cukup banyak waktu sebelum Feby datang. Jadi sepertinya Sora harus memesan minuman lagi.Saat Sora akan memanggil waiter, tiba-tiba dia melihat sosok pria bertubuh tinggi tegap yang sedang berjalan ke arahnya.Sora menahan napas. Debaran di dalam dadanya semakin tak karuan. Aura dingin pria itu terlihat begitu jelas.Dengan langkah tegap Figo menghampiri Sora seraya menatapnya.“Kamu datang lebih cepat dari yang aku duga,” komentar Sora saat

  • Hari-Hari Terakhir Sebelum Bercerai   142. Meminta Bertemu

    Jika manusia bisa kembali ke masa lalu untuk memperbaiki kesalahannya, maka Figo akan meminta untuk dikembalikan ke masa itu. Masa ketika dirinya masih SMA.Dan kesalahan yang ingin dia perbaiki adalah mempercayakan nasib keluarganya pada Sora.Dengan begitu, keluarganya tidak akan hancur dan dia tidak perlu membenci Sora.Karena setelah menghabiskan waktu bersama Sora belakangan ini, Figo merasa berat untuk membencinya kembali. Akan tetapi dia tidak bisa memungkiri bahwa kemarahan itu masih bersemayam di dalam hatinya.Figo mengusap wajahnya dengan kasar menggunakan kedua telapak tangan.Saat ini dia tengah duduk di kursi panjang di taman rumah sakit, sambil menatap orang-orang yang berlalu lalang di koridor dengan tatapan kelam.“Figo? Sedang apa kamu di sini?”Mendengar suara seseorang yang sangat dikenalinya itu, Figo langsung mendongak.Dan seperti biasa, kebetulan selalu menemukan jalannya sendiri untuk mempertemukan mereka.Figo melihat Ivara yang berdiri di sampingnya sambil

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status