Share

143. Dia Datang

Penulis: Rosa Uchiyamana
last update Tanggal publikasi: 2026-06-15 20:33:01

Di meja sudut cafe itu, Sora duduk sendirian. Jari-jari tangannya saling meremas di atas pangkuan.

Sore ini dia merasa begitu gugup. Bahkan rasanya dia tidak pernah segugup ini sebelumnya ketika akan bertemu seseorang.

Coklat panas di atas meja sudah tinggal separuh padahal dia baru duduk sejak lima menit yang lalu.

Tadi pagi Sora sudah mengirimkan alamat cafe ini pada Feby. Dan Feby berjanji akan datang pukul lima sore.

Sora melirik Cartier Panthere de Cartier di pergelangan tangan kanannya. P
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (5)
goodnovel comment avatar
Putri Marthia Sari
wah kumat ini figo
goodnovel comment avatar
Duryati Duryati
kok aku kesel ya sm si Figo... walaupun si Feby datang apa Figo akan percaya sm ucapan si Feby...
goodnovel comment avatar
~kho~
emosi melulu keqx si figo... siram aer es nih biar adem tuh kepala
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Hari-Hari Terakhir Sebelum Bercerai   272. Kewalahan

    Setelah berbulan-bulan tidak diizinkan mengemudi mobil sendiri oleh Figo, hari ini akhirnya Sora bisa merasakan kebebasan itu.Dia mengendarai mobil pemberian Figo, menghabiskan waktunya di salah satu mall terbesar di ibu kota. Duduk sendirian di cafe dengan segelas matcha latte dan pastry.Sora benar-benar menikmati kesendiriannya. Tetapi tak bisa dipungkiri, baru saja satu jam berpisah, dia sudah merindukan bayinya.Sora pun mengeluarkan ponsel lalu mengirim pesan pada Figo.Soraya Ruin: Sayang, gimana Caspian? Dia rewel nggak?Figo langsung membalasnya beberapa detik kemudian.Suamiku: Nggak, Sayang. Jangan khawatir. Aku baru saja gantiin dia popok.Soraya Ruin: Coba foto dong. Aku kangen.Suamiku: Kangen siapa?Soraya Ruin: Caspian.Suamiku: Ke aku?Soraya Ruin: Umm… sedikit.Sora terkekeh kecil melihat Figo hanya membalasnya dengan emoticon wajah dengan satu alis terangkat.Lantas pria itu mengirim foto Caspian yang sedang tertidur di atas kasur. Bayi itu sudah berganti pakaian.

  • Hari-Hari Terakhir Sebelum Bercerai   271. Perintah Untuk Sora

    Mengurus bayi ternyata tidak semudah yang Figo bayangkan. Setiap malam Caspian selalu terbangun dan merengek meminta susu. Yang membuat Sora tidak bisa tertidur dengan nyenyak.Dan Figo tidak ingin membiarkan Sora bangun sendirian tengah malam. Figo selalu ikut bangun dan menemaninya.Walaupun hal itu membuat Figo mengantuk keesokan harinya ketika dia sedang bekerja di rumah.Terkadang, ketika Sora benar-benar kelelahan dan membutuhkan tidur yang nyenyak, Figo sendiri yang akan bangun membuatkan ASI perah yang sudah tersedia di kulkas untuk Caspian.Setelah satu bulan menjalani rutinitas itu, Figo semakin menyadari bahwa tidak mudah menjadi Sora di masa lalu yang mengurus Sophie sendirian.“Sayang,” panggil Figo seraya menghampiri Sora yang tengah menjemur bayi berusia empat puluh hari itu di bawah matahari pagi yang hangat.Sora menoleh. Tersenyum. “Shopie nggak ada drama nggak mau masuk kelas, ‘kan?”Figo memang baru saja kembali ke rumah setelah mengantar Shopie ke TK, yang masih s

  • Hari-Hari Terakhir Sebelum Bercerai   270. Calon Ayah Posesif

    Shopie benar-benar bahagia. Selain dari papa mamanya, dia juga mendapat banyak hadiah dari Kakek Lingga, Kakek Hardiyata, dan Nenek Mariana.Sekarang, dia mendapatkan hadiah lagi dari Aunty Freya dan Om Elian yang datang ke rumah sakit.Shopie tidak merasa iri pada adiknya. Bahkan dia tidak paham apa itu sebenarnya iri. Dia justru senang, karena saat adik lahir Shopie merasa sangat disayangi.“Om Elian, Aunty Freya, terima kasih hadiahnya!” Shopie tersenyum lebar.Elian mengangguk, tersenyum.“Sama-sama, Cantik.” Freya mengusap pipi Shopie. “Boleh aku gendong adik kamu?”Shopie menatap adiknya di pangkuan sang ibu, lalu tatapannya beralih pada tangan Freya. Keningnya berkerut, seolah sedang mengingat sesuatu.“Jangan!”“Lho? Kenapa? Aunty sedih, nih.” Freya pura-pura cemberut.“Aunty ‘kan belum cuci tangan. Nanti kuman dari tangan Aunty menular ke Adik.”Mata Sora membulat. “Siapa yang bilang begitu, Sayang?”“Papa.” Shopie menunjuk ayahnya yang duduk di sofa.Sora lantas menatap Figo

  • Hari-Hari Terakhir Sebelum Bercerai   269. Salahmu Terlalu Cantik

    “Tidur, Figo. Jangan menciumku terus,” gumam Sora ketika Figo terus menghujani wajah dan bibirnya dengan ciuman-ciuman kecil.Sudut bibir Figo terangkat seraya menatap Sora yang tengah tertidur.“Apa aku mengganggumu?” bisiknya, seolah takut suaranya akan membangunkan bayi mereka.“Tentu saja.” Sora berdecak lidah. Lalu membenamkan wajahnya di ceruk leher Figo seolah mencari kehangatan di sana.Figo terkekeh pelan, tangannya semakin erat memeluk Sora seraya mengusap-usap punggungnya.“Baiklah. Aku nggak akan mengganggumu. Tapi ini terakhir kali.” Figo kembali mencium pipi, pucuk hidung dan bibir Sora.Sebelum akhirnya dia membiarkan Sora benar-benar terlelap dalam pelukannya.Figo seolah tak bisa menahan perasaannya yang begitu mencintai Sora. Dia bangga pada wanita itu karena telah memberikan putra dan putri yang lucu untuknya.“Aku mencintaimu,” bisik Figo mesra.Beberapa saat kemudian, setelah memastikan Sora benar-benar terlelap, Figo lantas menarik lengannya dari bawah kepala wan

  • Hari-Hari Terakhir Sebelum Bercerai   268. Mirip Dengan Ayahnya

    Figo duduk termenung sendirian di salah satu kursi di lorong rumah sakit. Wajahnya masih kusut. Rambutnya berantakan. Dan kondisi kedua tangannya begitu mengenaskan.Namun, kini dia sudah bisa menghela napas lega. Sora sudah terbebas dari rasa sakitnya. Dan anak mereka pun lahir selamat.Tetapi kepala Figo terasa kosong. Bukannya tidak bahagia. Dia justru begitu bahagia. Sangat.Hanya saja setelah menyaksikan semua proses persalinan Sora, dadanya justru semakin sesak dirundung perasaan bersalah dan penyesalan yang begitu hebat.Figo tertunduk, ibu jarinya mengusap air matanya yang jatuh tanpa sadar.“Papa!”Seruan Shopie dari kejauhan membuat Figo cepat-cepat menghapus air matanya, lalu menoleh dan tersenyum pada putri kecilnya yang tengah berlari ke arahnya.“Hai, Anak Cantik.” Figo langsung memeluk Shopie dan mendudukkannya di atas pangkuan. “Kenapa ke sini malam-malam?”“Aku nggak bisa tidur, Pa. Aku pengen lihat Adik.” Shopie sedikit cemberut.“Jadi Shopie minta Mira mengantar ke

  • Hari-Hari Terakhir Sebelum Bercerai   267. Hai, Ganteng!

    Figo benar-benar membeku. Hampir 8 jam dia menyaksikan Sora kesakitan. Dan itu membuat Figo merasa tersiksa.Dirinya hadir di sisi Sora, tanpa satu detik pun meninggalkannya. Namun Figo merasa dirinya tidak berguna, karena kehadirannya tidak mampu menghapus rasa sakit Sora.Figo berulang kali memohon dalam hati, agar Tuhan menimpakan seluruh rasa sakit itu padanya. Jangan Sora.Tetapi sekeras apapun Figo meminta, tentu saja hal itu tidak akan pernah terkabul.“Istri saya mau dibawa ke mana?” gumam Figo dengan wajah pucat ketika perawat hendak memindahkan Sora dari ruang observasi.Salah satu perawat menjawab seraya menatap Figo yang tampak kacau, “Bu Sora sudah mengalami pembukaan lengkap, Pak. Jadi kami akan memindahkan istri Bapak ke ruang bersalin karena proses persalinan akan segera dimulai.”Mendengarnya, Figo menghela napas lega. Perlahan dia melepaskan tangan Sora dari genggamannya.Syukurlah. Itu artinya penderitaan Sora sudah berakhir, bukan?“Istri saya tidak akan merasa sak

  • Hari-Hari Terakhir Sebelum Bercerai   6. Dia Datang

    “Tolong jaga baik-baik flashdisk ini buat aku,” ucap Figo, “kamu satu-satunya orang yang aku percaya. Jangan sampai datanya bocor. Karena nasib keluargaku ada di sana.”Sora tertegun seraya menatap benda kecil berwarna hitam polos di telapak tangannya itu. Lalu perlahan jari-jarinya mengepal, mengg

  • Hari-Hari Terakhir Sebelum Bercerai   5. Pusat Konflik Hidup Figo

    Figo mengempaskan dirinya di kursi dan mengembuskan napas kasar setibanya dia di ruangannya. Kemudian melonggarkan simpul dasinya yang terasa mencekik leher.Figo tak pernah menemukan ketenangan setelah bertemu dengan Sora. Wanita itu selalu punya seribu cara untuk melawannya dan membuatnya kehilang

  • Hari-Hari Terakhir Sebelum Bercerai   4. Hidupmu Bukan Urusanku

    Sora mengerutkan kening, merasa bingung kenapa Figo tiba-tiba membahas kehidupan pribadinya. Padahal pria itu paling anti terhadap segala sesuatu yang berhubungan dengan Sora.Sora lalu menatap Figo dingin. “Kalau kamu datang ke sini cuma untuk mengawasi siapa yang berdiri di dekatku,” ujarnya tena

  • Hari-Hari Terakhir Sebelum Bercerai   3. Siapa Laki-Laki Itu?

    Sora melangkah masuk ke ruangan kerjanya. Tapi tiba-tiba langkahnya terhenti saat melihat ruang kosong di depan meja.Kedatangan Figo kemarin ke ruangannya masih menyisakan sesak di dalam dada Sora.Deringan ponsel yang berbunyi nyaring mengeluarkan Sora dari keterdiamannya.Seulas senyum kecil terl

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status