Mag-log inFigo melirik arlojinya. Sudah pukul empat sore. Tetapi sampai saat ini Sora masih enggan diajak pulang ke rumah mereka.Sora yang tengah mengumpulkan bahan-bahan kue itu pun melirik Figo yang kini sedang berjalan menghampirinya.“Sayang, ayo kita pulang,” pinta Figo untuk ke sekian kalinya sejak tadi pagi.“Sebentar lagi. Tanggung, nih. Kamu nggak lihat aku lagi apa?” timpal Sora acuh tak acuh.Sebenarnya Sora sengaja membuat kue supaya punya alasan lain untuk tidak cepat-cepat pulang ke rumah mereka.Sora masih kesal pada Figo. Pria itu alih-alih membujuknya dan meminta maaf atas apa yang dia lakukan belakangan ini, dia justru malah sibuk dengan pekerjaannya dan banyak menerima panggilan telepon seharian.“Tapi kita nggak punya banyak waktu, Sayang.”“Karena kamu akan makin sibuk dengan perempuan lain?” Sora mendengus kecil.Kening Figo mengernyit dalam. “Apa maksudmu dengan perempuan lain?”“Aku yakin kamu tahu maksudku.”Figo melirik arlojinya kembali, lalu mengusap wajahnya dengan
Sora menatap layar ponselnya yang tengah menampilkan nomor Figo. Tetapi Sora mengabaikan panggilan dari Figo dan membiarkan panggilannya mati dengan sendirinya. Beberapa detik berikutnya, Figo kembali memanggil. Sora tetap mengabaikannya. “Sayang, kenapa teleponnya dibiarkan?” tanya Mariana seraya meletakkan makanan di atas meja, untuk makan malam mereka. “Lagi males bicara, Mom.” “Dari Figo?” Sora tidak menjawab. Mariana hanya tersenyum menanggapinya. Dia tidak mau ikut campur urusan rumah tangga putrinya kali ini. Sudah dua malam Sora dan Shopie menginap di rumah mereka. Hal itu tentu saja membuat Mariana yakin ada sesuatu yang terjadi antara putri dan menantunya. “Ngomong-ngomong, Figo tahu kalau kamu menginap di sini?” “Nanti aku bilang kalau dia sudah pulang,” gumam Sora, lalu menyandarkan punggung ke sofa sembari mengusap perut buncitnya. Ya, hari ini adalah malam ketiga Figo pergi ke Surabaya. Seharusnya pria itu pulang besok. Tetapi yang membuat Sora semakin sesak
“Sayang, aku pulang.”Figo masuk ke kamar dan langsung menghampiri Sora yang tengah duduk di meja rias.Sora membeku menatap pria itu melalui cermin di hadapannya. Perasaannya semakin tidak nyaman.Bagaimana jika Figo menyembunyikan sesuatu darinya?“Hai, selamat datang.” Sora tersenyum canggung lalu meraih eye cream, berusaha fokus pada aktifitasnya.“Aku merindukanmu,” bisik Figo seraya mengecup puncak kepala Sora lama, sembari menghidu aromanya dalam-dalam. “Rasanya lelahku langsung hilang setelah bertemu denganmu.”Sora seketika tertegun.Sikap pria itu masih sama. Lembut, hangat dan manis. Seharusnya Sora tidak perlu meragukannya, bukan?‘Sebenarnya sampai sekarang sikap Mas Dion masih baik, kok. Masih perhatian dan mesra juga.’Kata-kata perempuan di cafe siang tadi kembali terngiang. Sora menahan napas. Tidak mungkin Figo juga begitu, ‘kan?Manis dan mesra, tapi ternyata menyembunyikan sesuatu di belakangnya?“Kamu sudah makan?” tanya Sora basa-basi sembari melepaskan diri dari
“Suamiku selingkuh, Mbak.”Sora baru saja duduk di salah satu meja untuk menunggu matcha latte-nya selesai dibuat, saat tanpa sengaja mendengar suara perempuan tepat di meja belakangnya.“Serius?! Kok bisa?!” timpal perempuan lain dengan nada kaget. “Padahal Mas Dion ‘kan baik, Ta.”“Dia memang baik, Mbak. Tapi setelah aku hamil, Mas Dion jadi berubah.”Sora sebenarnya tidak ingin menguping. Dia berusaha fokus pada pesan-pesan yang masuk ke emailnya.Namun suara mereka terlalu jelas. Apalagi ketika ada kata ‘hamil’ yang disebut-sebut. Tanpa sadar Sora sudah penasaran dengan kelanjutan cerita itu.“Ta, masa sih Mas Dion selingkuh? Kok kayak nggak mungkin? Mas Dion bucin banget lho sama kamu.”“Itu dulu, Mbak. Waktu kami baru menikah. Dulu aku sempat berpikir aku wanita paling bahagia karena dicintai sama Mas Dion. Tapi ternyata aku salah.”Perempuan yang satunya lagi terdiam.“Sebenarnya sampai sekarang sikap Mas Dion masih baik, kok. Masih perhatian dan mesra juga. Tapi aku baru tahu
Setelah selesai menghabiskan harinya bersama Freya, Sora meminta sahabatnya itu untuk mengantarnya ke Wiranegara Group.Dia sengaja tidak memberi kabar kepada Figo bahwa dirinya akan datang.Sora ingin memberi kejutan.Tiba di Wiranegara Group saat langit mulai berubah gelap. Sora langsung mendatangi ruangan suaminya.Sora melihat Ryan baru saja keluar dari ruangan Figo. Lalu pria itu bergegas menuju pantry tanpa menyadari kehadiran Sora.Sora pun mendekati pintu. Kebetulan pintu itu tidak tertutup rapat sehingga ada sedikit celah.Sora akan mendorongnya. Namun, saat mendengar suara tawa Figo dengan seorang wanita di dalam sana, tangan Sora seketika berhenti bergerak.“Sepertinya aku datang di waktu yang gak tepat,” gumam Sora nyaris tak terdengar.Tetapi Sora penasaran, siapa yang telah membuat Figo tertawa selepas itu padahal selama ini Figo terkenal sebagai CEO yang jarang tertawa?Sora mencoba mengintip dari celah pintu. Dia melihat Figo sedang mengobrol dengan seorang wanita di s
Sora turun ke lantai satu menggunakan lift. Figo sengaja memasang lift di rumah mereka setelah kehamilan Sora semakin membesar. Pria itu melarang Sora menggunakan tangga.Keluar dari lift, Sora berhenti sejenak ketika ingat dia belum mengabari Figo. Lalu mengetik pesan untuk pria itu.Soraya Ruin: Sayang, kemarin aku sudah bilang ke kamu, hari ini aku pergi sama Freya.Seperti biasa, Figo tak pernah lama membalas pesannya. Pria itu membalasnya beberapa detik kemudian.Suamiku: Iya. Sudah berangkat?Soraya Ruin: Ini baru mau.Suamiku: Coba kirim foto kamu. Aku mau lihat baju apa yang kamu pakai.Sora tersenyum kecil membacanya. Lalu dia menghampiri cermin tinggi dan mengambil miror selfie. Mengirimkannya pada Figo.Detik berikutnya, Figo langsung menelepon.“Iya, Figo. Aku sudah kirim foto aku ke kamu,” ucap Sora sesaat setelah mengangkat panggilan tersebut, sembari berjalan menuju ruang tamu.“Ganti baju kamu.”“Hm? Kenapa harus ganti?” protes Sora tak setuju.“Sayang.” Figo terdengar
“Tolong jaga baik-baik flashdisk ini buat aku,” ucap Figo, “kamu satu-satunya orang yang aku percaya. Jangan sampai datanya bocor. Karena nasib keluargaku ada di sana.”Sora tertegun seraya menatap benda kecil berwarna hitam polos di telapak tangannya itu. Lalu perlahan jari-jarinya mengepal, mengg
Figo mengempaskan dirinya di kursi dan mengembuskan napas kasar setibanya dia di ruangannya. Kemudian melonggarkan simpul dasinya yang terasa mencekik leher.Figo tak pernah menemukan ketenangan setelah bertemu dengan Sora. Wanita itu selalu punya seribu cara untuk melawannya dan membuatnya kehilang
Sora mengerutkan kening, merasa bingung kenapa Figo tiba-tiba membahas kehidupan pribadinya. Padahal pria itu paling anti terhadap segala sesuatu yang berhubungan dengan Sora.Sora lalu menatap Figo dingin. “Kalau kamu datang ke sini cuma untuk mengawasi siapa yang berdiri di dekatku,” ujarnya tena
Sora melangkah masuk ke ruangan kerjanya. Tapi tiba-tiba langkahnya terhenti saat melihat ruang kosong di depan meja.Kedatangan Figo kemarin ke ruangannya masih menyisakan sesak di dalam dada Sora.Deringan ponsel yang berbunyi nyaring mengeluarkan Sora dari keterdiamannya.Seulas senyum kecil terl







