MasukSora terbangun dari tidurnya saat dia merasakan tepukan pelan dari tangan kecil Shopie di pipinya.Mata Sora perlahan terbuka dan mendapati Shopie yang tampak sudah rapi dan wangi.“Sayang, sudah mandi? Dimandiin siapa?” tanya Sora serak.“Dimandiin Mbak Mira, Ma. Mama, ayo bangun kita sarapan habis itu kita lihat laut!”Sora melihat ke sekeliling kamar utama yang luas. Dari celah gorden cahaya matahari menerobos masuk.“Di mana Papa?”“Papa lagi siapin sarapan untuk kita, Ma.” Tangan mungil Shopie lalu mengusap-usap perut sang ibu. “Adik, ayo bangun. Kita lagi liburan, lho! Kamu harus lihat laut di luar, bagus banget, tahu?”Sora terkekeh kecil. “Adik belum bisa lihat dunia, Sayang.”“Iya, makanya aku pengen cepet-cepet Adik lahir, Ma. Aku udah nggak sabar!”Sora mengusap pipi Shopie sejenak. “Kalau Adik udah lahir nanti, Adik pasti bahagia punya kakak baik seperti Shopie.”Shopie tertawa kecil. “Aku bakal sayang sama Adik.”“Anak pintar.” Sora terkekeh, lalu bangkit dan perlahan tur
Sora menatap Windy yang kini sudah berdiri beberapa langkah di hadapan mereka.“Hai. Akhirnya kalian datang juga,” sapa Windy sembari tersenyum kecil.Sora mengerutkan kening, menatap Windy dan Figo bergantian dengan penuh tanya. “Kalian ada urusan bisnis di sini?”“Oh. Nggak. Kita nggak ada urusan bisnis dan kita hanya bertemu sebentar di sini.” Windy menjawab masih dengan senyumannya.Sora semakin tidak mengerti. Perasaannya kian tidak nyaman.“Lalu untuk apa kita bertemu di sini?”Melihat kebingungan di wajah Sora, Windy pun menjelaskan, “Karena aku yang mengurus perjalanan kalian, Sora, aku harus memastikan semua persiapannya sudah benar-benar matang.”“Perjalanan?” Tatapan Sora beralih pada Figo. “Perjalanan apa?”Figo hanya tersenyum melihat istrinya yang semakin bingung. Alih-alih menjawab, dia justru menengadahkan telapak tangannya pada Windy.“Mana berkas-berkasnya?”“Ini. Semua persiapannya sudah selesai. Tiket, kabin, reservasi restoran sampai beberapa aktifitas selama di k
Figo melirik arlojinya. Sudah pukul empat sore. Tetapi sampai saat ini Sora masih enggan diajak pulang ke rumah mereka.Sora yang tengah mengumpulkan bahan-bahan kue itu pun melirik Figo yang kini sedang berjalan menghampirinya.“Sayang, ayo kita pulang,” pinta Figo untuk ke sekian kalinya sejak tadi pagi.“Sebentar lagi. Tanggung, nih. Kamu nggak lihat aku lagi apa?” timpal Sora acuh tak acuh.Sebenarnya Sora sengaja membuat kue supaya punya alasan lain untuk tidak cepat-cepat pulang ke rumah mereka.Sora masih kesal pada Figo. Pria itu alih-alih membujuknya dan meminta maaf atas apa yang dia lakukan belakangan ini, dia justru malah sibuk dengan pekerjaannya dan banyak menerima panggilan telepon seharian.“Tapi kita nggak punya banyak waktu, Sayang.”“Karena kamu akan makin sibuk dengan perempuan lain?” Sora mendengus kecil.Kening Figo mengernyit dalam. “Apa maksudmu dengan perempuan lain?”“Aku yakin kamu tahu maksudku.”Figo melirik arlojinya kembali, lalu mengusap wajahnya dengan
Sora menatap layar ponselnya yang tengah menampilkan nomor Figo. Tetapi Sora mengabaikan panggilan dari Figo dan membiarkan panggilannya mati dengan sendirinya. Beberapa detik berikutnya, Figo kembali memanggil. Sora tetap mengabaikannya. “Sayang, kenapa teleponnya dibiarkan?” tanya Mariana seraya meletakkan makanan di atas meja, untuk makan malam mereka. “Lagi males bicara, Mom.” “Dari Figo?” Sora tidak menjawab. Mariana hanya tersenyum menanggapinya. Dia tidak mau ikut campur urusan rumah tangga putrinya kali ini. Sudah dua malam Sora dan Shopie menginap di rumah mereka. Hal itu tentu saja membuat Mariana yakin ada sesuatu yang terjadi antara putri dan menantunya. “Ngomong-ngomong, Figo tahu kalau kamu menginap di sini?” “Nanti aku bilang kalau dia sudah pulang,” gumam Sora, lalu menyandarkan punggung ke sofa sembari mengusap perut buncitnya. Ya, hari ini adalah malam ketiga Figo pergi ke Surabaya. Seharusnya pria itu pulang besok. Tetapi yang membuat Sora semakin sesak
“Sayang, aku pulang.”Figo masuk ke kamar dan langsung menghampiri Sora yang tengah duduk di meja rias.Sora membeku menatap pria itu melalui cermin di hadapannya. Perasaannya semakin tidak nyaman.Bagaimana jika Figo menyembunyikan sesuatu darinya?“Hai, selamat datang.” Sora tersenyum canggung lalu meraih eye cream, berusaha fokus pada aktifitasnya.“Aku merindukanmu,” bisik Figo seraya mengecup puncak kepala Sora lama, sembari menghidu aromanya dalam-dalam. “Rasanya lelahku langsung hilang setelah bertemu denganmu.”Sora seketika tertegun.Sikap pria itu masih sama. Lembut, hangat dan manis. Seharusnya Sora tidak perlu meragukannya, bukan?‘Sebenarnya sampai sekarang sikap Mas Dion masih baik, kok. Masih perhatian dan mesra juga.’Kata-kata perempuan di cafe siang tadi kembali terngiang. Sora menahan napas. Tidak mungkin Figo juga begitu, ‘kan?Manis dan mesra, tapi ternyata menyembunyikan sesuatu di belakangnya?“Kamu sudah makan?” tanya Sora basa-basi sembari melepaskan diri dari
“Suamiku selingkuh, Mbak.”Sora baru saja duduk di salah satu meja untuk menunggu matcha latte-nya selesai dibuat, saat tanpa sengaja mendengar suara perempuan tepat di meja belakangnya.“Serius?! Kok bisa?!” timpal perempuan lain dengan nada kaget. “Padahal Mas Dion ‘kan baik, Ta.”“Dia memang baik, Mbak. Tapi setelah aku hamil, Mas Dion jadi berubah.”Sora sebenarnya tidak ingin menguping. Dia berusaha fokus pada pesan-pesan yang masuk ke emailnya.Namun suara mereka terlalu jelas. Apalagi ketika ada kata ‘hamil’ yang disebut-sebut. Tanpa sadar Sora sudah penasaran dengan kelanjutan cerita itu.“Ta, masa sih Mas Dion selingkuh? Kok kayak nggak mungkin? Mas Dion bucin banget lho sama kamu.”“Itu dulu, Mbak. Waktu kami baru menikah. Dulu aku sempat berpikir aku wanita paling bahagia karena dicintai sama Mas Dion. Tapi ternyata aku salah.”Perempuan yang satunya lagi terdiam.“Sebenarnya sampai sekarang sikap Mas Dion masih baik, kok. Masih perhatian dan mesra juga. Tapi aku baru tahu
“Tolong jaga baik-baik flashdisk ini buat aku,” ucap Figo, “kamu satu-satunya orang yang aku percaya. Jangan sampai datanya bocor. Karena nasib keluargaku ada di sana.”Sora tertegun seraya menatap benda kecil berwarna hitam polos di telapak tangannya itu. Lalu perlahan jari-jarinya mengepal, mengg
Figo mengempaskan dirinya di kursi dan mengembuskan napas kasar setibanya dia di ruangannya. Kemudian melonggarkan simpul dasinya yang terasa mencekik leher.Figo tak pernah menemukan ketenangan setelah bertemu dengan Sora. Wanita itu selalu punya seribu cara untuk melawannya dan membuatnya kehilang
Sora mengerutkan kening, merasa bingung kenapa Figo tiba-tiba membahas kehidupan pribadinya. Padahal pria itu paling anti terhadap segala sesuatu yang berhubungan dengan Sora.Sora lalu menatap Figo dingin. “Kalau kamu datang ke sini cuma untuk mengawasi siapa yang berdiri di dekatku,” ujarnya tena
Sora melangkah masuk ke ruangan kerjanya. Tapi tiba-tiba langkahnya terhenti saat melihat ruang kosong di depan meja.Kedatangan Figo kemarin ke ruangannya masih menyisakan sesak di dalam dada Sora.Deringan ponsel yang berbunyi nyaring mengeluarkan Sora dari keterdiamannya.Seulas senyum kecil terl







