FAZER LOGINAdrian pulang ke mansionnya. Keputusan untuk menikah lagi terasa berat.Saat mobilnya memasuki gerbang mansion, ia melihat lampu ruang kerjanya masih menyala. Adrian mengerutkan kening, ia yakin sudah memberi tahu stafnya untuk pulang lebih awal. Siapa yang masih ada di sana?Ia masuk ke dalam rumah dan berjalan menuju ruang kerja. Di balik pintu yang terbuka, ia melihat sesosok wanita sedang duduk di mejanya, menatap tumpukan dokumen dengan serius.Christy.Sekretaris pribadinya selama sepuluh tahun terakhir. Wanita itu selalu setia, selalu profesional, selalu ada ketika Adrian membutuhkannya. Christy adalah orang yang paling ia percaya setelah Lucas dan teman-teman dekatnya."Christy? Kau masih di sini?" tanya Adrian.Christy menoleh, tersenyum profesional seperti biasa. "Maaf, Pak Adrian. Aku tahu ini sudah larut, tapi ada beberapa dokumen yang butuh tanda tangan Bapak untuk besok pagi. Aku pikir lebih baik aku menunggu daripada membawa pulang."Adrian mengangguk, berjalan mendeka
Dua minggu setelah Leon dan Ana kembali dari Bali, mereka bertiga, Leon, Sebastian, dan Adrian kembali berkumpul di restoran mewah yang telah mereka janjikan. Suasana hangat menyelimuti meja bundar di sudut ruangan, dengan pemandangan kota yang gemerlap di balik jendela kaca.Leon tidak bisa berhenti tersenyum. Sepanjang malam, ia terus berbicara tentang Ana dan kehamilannya, tentang betapa bahagianya mereka, tentang masa depan yang cerah yang mereka rencanakan."Kalian tidak akan percaya, Ana hamil kembar tiga!" kata Leon.Sebastian dan Adrian terkejut. "Kembar tiga?""Iya," kata Leon, tertawa bahagia. "Kami pergi ke dokter kandungan kemarin. Ana mengandung tiga bayi. Tiga!"Adrian bersiul pelan. "Wah, Leon. Kau benar-benar tidak main-main. Sekaligus tiga?"Leon mengangguk, wajahnya berseri-seri. "Aku masih tidak percaya. Setelah semua yang kami lalui, setelah kehilangan Ethan, Tuhan memberi kami tiga sekaligus."Sebastian tersenyum, meskipun ada sedikit kekhawatiran di matanya. "A
Setelah kembali ke hotel, Leon dan Ana masih belum bisa mempercayai kabar bahagia itu. Ana berbaring di tempat tidur dengan tangan di perutnya yang masih datar, menatap langit-langit dengan senyum kecil di wajahnya. Leon duduk di sampingnya, menggenggam tangannya erat."Aku masih tidak percaya, Setelah semua yang terjadi, setelah Ethan meninggal, aku akhirnya hamil lagi."Leon mencium keningnya lembut. "Ini adalah berkah, Ana. Tuhan memberi kita kesempatan kedua."Ana menangis bahagia, memeluk Leon erat."Aku berjanji akan menjaga bayi ini dengan baik. Aku tidak akan membiarkan apa pun terjadi padanya.""Kita akan menjaganya bersama, Kita akan menjadi orang tua terbaik untuknya."Mereka berpelukan lama, menikmati kebahagiaan yang telah lama hilang dari hidup mereka. Di luar jendela, ombak laut terdengar menghantam pantai, seolah ikut merayakan kabar gembira itu.Di kamar hotel, Leon meraih ponselnya dan membuka grup chat yang berisi Sebastian, Adrian, dan dirinya sendiri. Grup itu sud
Di sebuah resor mewah di pinggir pantai Bali, Leon dan Ana sedang menikmati bulan madu kedua mereka. Setelah semua kekacauan yang terjadi, tuduhan Rena, pertengkaran mereka, dan ketegangan yang hampir menghancurkan pernikahan mereka, mereka memutuskan untuk melarikan diri dari semuanya untuk sementara waktu.Leon dan Ana duduk di tepi pantai, kaki mereka bermain-main di air laut yang hangat. Tidak ada kata-kata yang terucap, hanya ketenangan yang mereka nikmati bersama.Namun di balik ketenangan itu, Ana membawa luka yang tak pernah benar-benar sembuh."Leon."Leon menoleh, melihat ekspresi Ana tiba-tiba berubah. "Ada apa, sayang?"Ana menunduk, air mata mulai menggenang di matanya. "Aku teringat Ethan."Leon terdiam. Nama itu seperti pisau yang menikam jantungnya setiap kali disebut."Aku tahu kamu masih merindukannya. Aku juga.""Kenapa dia harus pergi?" tangis Ana, air mata mengalir di pipinya. "Dia baru berusia lima tahun. Dia masih sangat kecil. Dia seharusnya masih di sini, berm
Di sisi lain kota, di rumah mewah Adrian, suasananya sangat berbeda. Adrian berdiri di ambang pintu kamar putranya, Lucas, yang kini duduk di bangku SMP. Dia memandangi putranya yang sedang duduk di meja belajar, mengerjakan pekerjaan rumah dengan serius.Lucas adalah satu-satunya hal baik dalam hidup Adrian. Setelah dua kali pernikahan yang gagal, Adrian memutuskan untuk tidak pernah dekat dengan perempuan lagi. Dia terlalu lelah, terlalu terluka, dan terlalu takut untuk mengulangi kesalahan yang sama."Ayah," panggil Lucas, menoleh saat melihat Adrian di pintu. "Ada apa?"Adrian tersenyum, berjalan masuk ke dalam kamar, dan duduk di tepi tempat tidur Lucas. "Tidak ada. Ayah hanya ingin melihatmu."Lucas tersenyum, lalu kembali menatap bukunya. "Aku punya banyak PR. Guru matematikaku memberi tugas yang sangat sulit.""Kamu pasti bisa. Kamu anak yang pintar."Mereka terdiam sejenak, menikmati kebersamaan. Lucas adalah anak yang pendiam dan penuh pertimbangan, sangat berbeda dengan Adr
Beberapa saat kemudian, ayah Rena keluar dari ruang kerjanya. Wajahnya masih tampak lelah, tetapi ada sesuatu yang berbeda di matanya—penyesalan. Dia berjalan perlahan menuju ruang tamu tempat Rena, ibunya, dan Sebastian duduk bersama.Rena langsung tegang ketika melihat ayahnya mendekat. Tangannya secara naluriah menggenggam tangan Sebastian lebih erat."Rena," panggil ayahnya, suaranya serak. "Aku ingin bicara denganmu."Rena menatap ayahnya dengan hati-hati, tidak tahu apa yang harus diharapkan. "Apa yang ingin Ayah katakan?"Ayah Rena duduk di kursi di hadapan mereka, menunduk beberapa saat sebelum akhirnya mengangkat kepalanya. Matanya berkaca-kaca—sesuatu yang belum pernah Rena lihat sebelumnya."Aku minta maaf. Aku minta maaf untuk semua yang terjadi. Aku seharusnya tidak mengusirmu. Aku seharusnya mendengarkanmu. Aku seharusnya menjadi ayah yang lebih baik."Rena terdiam, air mata mulai mengalir di pipinya. Selama bertahun-tahun, dia hanya mendengar kata-kata kasar dan penghak
Aku terdiam.Pernikahan. Aku tidak pernah membayangkan menikah apalagi dengan pria sekaya dan semisterius Tuan Leon. Aku hanya gadis gemuk dan biasa saja yang hidupnya habis untuk membersihkan kotoran orang lain.“Kenapa aku?” tanyaku.Tuan Leon masih dalam posisi berjongkok di depanku, matanya men
Dua hari berlalu. Aku berusaha menghindari Tuan Leon dan tamu-tamunya. Aku bekerja lebih keras dari biasanya. Aku membersihkan setiap sudut mansion, mencuci pakaian Clara hingga wangi, bahkan menyapu halaman yang tidak pernah aku sentuh sebelumnya. Aku berharap dengan bekerja keras, semuanya akan
Aku menghela napas panjang, perintah Clara adalah perintah. Jika tidak datang, dia akan marah. Aku sudah hafal betapa buruknya amarah itu, benda-benda bisa terbang, kata-katanyabisa lebih tajam dari pisau, dan aku bisa diusir dari rumah besar ini.Jadi aku berjalan menyusuri koridor panjang mansion
Pov ANA.Aku duduk di bangku kayu gereja ini. Tanganku menggenggam erat ujung rok hingga kusut. Pacarku, Max berdiri dengan jas hitamnya yang rapi. Di sampingnya Sasha, sahabatku sejak pertama kali aku menginjakkan kaki di kota ini dua tahun lalu. Perut Sasha sudah membuncit di balik gaun putihnya.







