分享

Bab 5

作者: Author Marr
last update publish date: 2026-06-04 14:09:34

Dua hari berlalu.

Aku berusaha menghindari Tuan Leon dan tamu-tamunya. Aku bekerja lebih keras dari biasanya. Aku membersihkan setiap sudut mansion, mencuci pakaian Clara hingga wangi, bahkan menyapu halaman yang tidak pernah aku sentuh sebelumnya. Aku berharap dengan bekerja keras, semuanya akan kembali normal.

Tapi malam selanjutnya, teleponku berbunyi dari nomor tidak dikenal. Aku hampir tidak mengangkatnya, tapi ada firasat buruk yang membuatku menekan tombol hijau.

"Halo, apakah ini Ana Lancaster?" Suara wanita paruh baya di seberang sana.

"Iya, saya Ana. Ada apa?"

"Nama saya Julia. Saya dari rumah sakit tempat ibumu dulu berobat. Maaf mengganggu, tapi ada masalah administrasi yang belum selesai. Utang ibumu untuk perawatan tiga tahun lalu ternyata masih ada sisa, tapi karena dia sudah meninggal, beban itu beralih ke keluarga terdekat yaitu ke anaknya."

"Berapa?"

"Empat belas ribu euro, dengan bunga menjadi delapan belas ribu. Kami sudah berusaha menghubungi lewat surat ke alamat lama kamu, tapi tidak ada balasan. Jika tidak dilunasi dalam satu bulan, kami akan mengambil jalur hukum."

Delapan belas ribu euro.

Dengan gaji tiga ratus euro sebulan, aku harus bekerja 5 tahun tanpa makan dan tanpa kebutuhan apapun untuk melunasinya. Mustahil.

Aku masuk ke ruang keluarga yang luas. Tuan Leon duduk di sofa utama, secangkir kopi di tangannya. Di sofa sebelah, Tuan Adrian dan Tuan Sebastian juga ada. Mereka tersenyum saat melihatku.

"Ada yang ingin aku sampaikan," kata Tuan Leon sambil meletakkan cangkirnya. "Kontrak kerjamu akan berakhir bulan depan. Clara akan kuliah di luar negeri. Jadi kamu tidak diperlukan lagi di sini," kata Tuan Leon.

Aku terkejut mendengarnya.

"Tapi aku dengar kamu punya masalah utang," katanya.

Aku semakin terkejut saat Tuan Leon tahu hutangku.

Tuan Adrian berdiri dan berjalan mendekat. Tangannya mengusap rambutku lagi seperti belaian ke binatang peliharaan.

"Sebelum kamu, ada tiga gadis yang kerja di mansion ini. Mereka semua awalnya takut tapi sekarang mereka hidup lebih baik. Rumah, mobil, pendidikan anak-anak mereka. Semua dari keputusan satu malam."

Dia menekan bahuku membuatku tidak berani bergerak.

Aku berdiri diam di tempatku. Tangan Tuan Adrian masih menekan bahuku, tidak keras tapi cukup berat untuk membuatku tidak bisa ke mana-mana.

"Aku tidak seperti mereka," kataku.

Tuan Sebastian tertawa kecil dari balik sofa. "Setiap gadis bilang begitu, Ana. 'Aku tidak seperti yang lain.' Tapi pada akhirnya, semua manusia sama. Semua punya kebutuhan dan semua punya titik di mana mereka akan mengorbankan harga diri demi bertahan hidup."

Tuan Leon belum berbicara sejak tadi. Dia hanya duduk di sofa utama dengan kaki bersila, secangkir kopi di tangan, matanya yang hitam pekat menatapku dan diamnya lebih menakutkan dari kata-kata Tuan Adrian atau Tuan Sebastian karena aku tidak tahu apa yang ada di kepalanya.

"Kamu boleh duduk," kata Tuan Leon.

Aku duduk di kursi kecil di seberang mereka. Kursi tamu yang biasanya tidak pernah aku tempati. Kasar rasanya, meskipun bantalnya empuk. Aku merasa seperti orang asing di rumah yang sudah aku tinggali dua tahun.

"Ceritakan tentang utangmu," kata Tuan Leon.

Aku ragu tapi apa lagi yang bisa aku sembunyikan? Mereka sudah tahu. Mungkin mereka sudah tahu bahkan sebelum aku menerima telepon itu, mungkin juga mereka yang mengatur semuanya tapi aku tidak punya bukti, dan bahkan jika aku punya, tidak ada yang bisa aku lakukan.

"Ibu saya sakit tiga tahun lalu, Leukemia. Rumah sakit bilang biaya pengobatan totalnya sekitar enam puluh ribu euro. Asuransi hanya menanggung sebagian. Kami sudah berhutang ke mana-mana. Setelah ibu meninggal, aku pikir semua hutang sudah lunas karena aku menjual rumah kecil kami dan semua isinya tapi ternyata ada satu tagihan rumah sakit yang terlewat dan bunganya terus berjalan," kataku.

"Dan kontrak kerjamu bulan depan habis, setelah itu, kamu tidak punya tempat tinggal. Tidak punya pendapatan dan hutangmu tetap ada. Pengadilan akan menyita apa pun yang kamu miliki dan kamu tidak punya apa-apa. Yang terjadi selanjutnya? Kamu bisa masuk penjara karena gagal membayar hutang," kata Tuan Leon.

Aku menahan air mata dengan sekuat tenaga.

Tuan Adrian berjalan ke meja kecil di sudut ruangan. Dia mengambil sesuatu dari laci-sebuah amplop cokelat tebal lalu dia berjalan kembali ke arahku dan meletakkannya di pangkuanku.

"Apa ini?" tanyaku.

"Buka saja."

Tanganku gemetar saat membuka amplop itu. Di dalamnya ada setumpuk uang-uang kertas euro dengan nominal besar. Aku tidak menghitungnya tapi dari tebalnya, jumlahnya mungkin mencapai lima atau enam ribu.

"Ini sebagian, kalau kamu setuju, sisa utangmu akan kami lunasi langsung ke rumah sakit," kata Tuan Adrian.

Aku menatap uang itu. Uang sebanyak itu bahkan belum pernah aku pegang seumur hidupku. Aku bisa membayangkan betapa beratnya tumpukan itu jika aku harus bekerja bertahun-tahun untuk mengumpulkannya.

"Aku harus melakukan apa?" tanyaku karena sudah tidak ada pilihan lain.

Tuan Sebastian berjalan mendekat dan sekarang mereka bertiga berdiri di sekitarku.

"Kamu sudah dewasa, Nona Lancaster. Kamu tahu apa yang kami minta," kata Tuan Sebastian sambil menyentuh daguku, mengangkat wajahku agar menatapnya. "Kamu hanya perlu melayani kami."

Aku berpaling dari tatapannya. Mataku tertuju pada Tuan Leon yang masih duduk tenang di sofa, seolah dia hanya penonton dalam pertunjukan ini.

"Kalau aku menolak?" bisikku.

Tuan Leon akhirnya bergerak. Dia meletakkan cangkir kopinya, berdiri, lalu berjalan mendekat. Aroma parfumnya yang mahal menyengat hidungku. Dia berhenti tepat di depanku, hanya beberapa sentimeter dari wajahku.

"Kalau kamu menolak, amplop ini akan kami ambil kembali, kontrak kerjamu tetap berakhir bulan depan. Kamu akan keluar dari mansion ini tanpa tabungan, tanpa tempat tinggal, dengan hutang delapan belas ribu euro di pundakmu. Pengadilan akan memanggilmu. Kamu bisa masuk penjara dan di penjara, Ana..." Tuan Leon mencondongkan tubuh lebih dekat. Bibirnya hampir menyentuh telingaku. "Di sana tidak ada orang baik. Percayalah."

Aku takut.

"Tapi jika kamu menerima, kamu tidak hanya bebas hutang. Kamu juga akan tetap tinggal di sini. Kamu akan mendapat uang saku setiap bulan-lebih dari tiga ratus euro bahkan jauh lebih banyak. Kamu akan makan makanan yang sama seperti kami. Kamu akan tidur di kamar yang lebih baik dan mewah," kata Tuan Leon.

Dia mundur selangkah, menatap mataku. "Ini bukan tawaran yang merugikanmu. Ini jalan keluar dan satu-satunya jalan keluar."

Aku menutup mata. Air mata akhirnya jatuh, mengalir ke pipiku. Aku tidak menyekanya. Biar saja karena tidak ada gunanya menyembunyikan kelemahanku lagi karena mereka sudah melihat semuanya.

"Baiklah, aku akan menerima tawaran ini," kataku.

Tuan Leon tersenyum. "Keputusan yang bijak."

Tuan Adrian menepuk pundakku. "Kamu tidak akan menyesal, sayang."

"Ada satu syarat tambahan," kata Tuan Leon.

"Apa?" tanyaku.

Dia mendekat dan berbisik, "Clara tidak boleh tahu."

Aku mengangguk.

Tuan Leon menatapku lama. "Mulai sekarang, kamu tidur di kamarku."

"Selamat datang di hidup barumu, Nona Lancaster," ucap Tuan Sebastian.

Beberapa saat kemudian, suasana di ruang keluarga berubah setelah Adrian dan Sebastian akhirnya pulang.

Aku masih duduk kaku di kursi kecil itu, menggenggam erat amplop cokelat di pangkuanku. Tuan Leon berdiri di dekat jendela dengan satu tangan di saku lalu dia bicara.

"Adrian dan Sebastian sudah menginginkanmu sejak lama."

Jemarikku mencengkeram amplop itu semakin erat.

Aku perlahan menatapnya. "Apa?"

Tuan Leon berbalik ke arahku. Mata hitamnya terlihat tenang, tapi ada sesuatu yang dingin tersembunyi di baliknya.

"Mereka memperhatikanmu jauh sebelum hari di kolam itu. Cara kamu berjalan diam-diam di mansion ini. Cara kamu selalu menundukkan kepala setiap kali mereka datang. Pria seperti mereka menyukai gadis yang terlihat rapuh."

Merinding menjalar di tulang punggungku.

"Tapi kamu pelayan di mansion ini dan aku tidak suka berbagi milikku dengan sembarangan."

Tuan Leon berjalan mendekat sampai berdiri tepat di depanku lalu dia sedikit berjongkok agar wajahnya sejajar denganku.

"Jadi aku akan memberimu tawaran yang berbeda."

Aku menelan ludah gugup. "Tawaran seperti apa?"

"Kau harus menikah denganku."

Aku menatapnya dengan syok.

"Itu hanya di atas kertas," katanya tenang. "Pernikahan rahasia, Adrian dan Sebastian tidak boleh tahu. Ayahku memberi syarat aku harus menikah lagi supaya dia mau memberikan seluruh aset keluarga besarnya kepadaku. Jadi aku memilihmu sebagai istriku dan kita melakukan open marriage."

"Tapi bagaimana dengan Tuan Sebastian dan Tuan Adrian?" tanyaku.

Ibu jari Tuan Leon mengusap pipiku perlahan.

"Kamu tetap boleh menghabiskan waktu dengan mereka jika kamu mau. Kamu boleh melayani mereka, menerima hadiah mereka, bahkan bersama mereka tapi kau tetap istri rahasiaku secara hukum negara," kata Tuan Leon.

在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP

最新章節

  • Hasrat Basah : Gadis Gendut Dimiliki 3 Daddy   Bab 41

    Malam hari. Aku baru saja selesai mandi dan berganti pakaian. Luka jahitanku sudah mulai sembuh, tapi masih terasa perih kalau aku bergerak terlalu cepat. Aku sedang duduk di ruang keluarga, membaca novel lama yang sudah aku baca berkali-kali, ketika dua mobil masuk ke gerbang mansion. Adrian dan Sebastian. Mereka datang bersama, seperti biasa. Adrian dengan kemeja putih lengan panjang yang digulung sampai siku, celana kain hitam, rambutnya yang sedikit panjang tertata rapi ke belakang. Sebastian di sampingnya dengan kaus polo berwarna biru tua yang membentuk di dadanya yang bidang, celana jins gelap, dan jaket kulit hitam yang dia lepas begitu masuk ke dalam rumah. "Selamat malam, Sayang!" sapa Adrian sambil melambai ke arahku. Sebastian hanya tersenyum. Leon sudah berdiri di dekat meja billiard di sudut ruangan. Dia sedang mengatur bola-bola dengan satu tangan. "Kalian terlambat," kata Leon dingin. "Macet," jawab Sebastian santai. Aku kembali ke novelku, mencoba fokus pada

  • Hasrat Basah : Gadis Gendut Dimiliki 3 Daddy   Bab 40

    Mobil melaju meninggalkan mansion menuju rumah ayah Leon. Aku duduk diam di kursi penumpang, sesekali menyeka pipiku yang basah. Leon menyetir dengan satu tangan, tangan satunya memegang ponsel yang sesekali bergetar. Tiba-tiba, ponsel Leon berdering. Dia mengangkatnya tanpa berkata apa-apa, mendengarkan sebentar, lalu menghela napas panjang, sangat panjang, seperti dia baru saja mendengar berita yang tidak menyenangkan. “Baik,” katanya singkat. “Lain kali.” Telepon ditutup. Mobil berbelok di tikungan berikutnya bukan ke arah rumah ayahnya, tapi kembali ke arah pusat kota. “Ayahku ada tamu penting,” kata Leon tanpa menatapku. “Acara hari ini dibatalkan.” Mobil berhenti di depan sebuah kafe kecil di pinggir jalan. Bukan kafe mewah seperti yang biasa Leon kunjungi. Kafe sederhana dengan kursi-kursi kayu di teras dan payung besar berwarna merah putih. Tempat seperti ini dulu sering aku kunjungi saat masih berpacaran dengan Max sebelum semuanya hancur. “Turun,” kata Leon. Aku mena

  • Hasrat Basah : Gadis Gendut Dimiliki 3 Daddy   Bab 39

    Sebastian tersenyum begitu matanya tertuju padaku. Senyum itu langsung mengubah seluruh wajahnya yang garang menjadi sesuatu yang hangat. Matanya yang hazel gelap menyipit ramah. Kerutan di dahinya yang membuatnya terlihat selalu marah itu menghilang. “Selamat pagi, Ana. Kamu sudah siap? Aku datang untuk mengajakmu olahraga.” Aku benar-benar lupa. “Sebastian, maaf. Hari ini aku tidak bisa.” Senyum Sebastian sedikit pudar. “Kenapa? Ada apa?” “Aku harus pergi dengan Leon ke rumah ayahnya. Ada urusan keluarga.” Sebastian menatapku sebentar, lalu menghela napas. Dia mengangkat bahu, bahu lebarnya yang kekar itu naik turun dengan elegan. “Tidak apa-apa. Masih ada hari besok. Kita tidak perlu terburu-buru.” “Kamu tidak marah?” tanyaku. “Marah? Kenapa aku harus marah? Kamu punya kehidupan sendiri, aku tidak bisa memaksamu untuk selalu ada di sisiku.” Aku lega mendengarnya. Sebastian berbeda dari Leon. Dia tidak pernah marah kalau aku membatalkan janji. Dia tidak pernah mengeluarkan

  • Hasrat Basah : Gadis Gendut Dimiliki 3 Daddy   Bab 38

    Leon meminta maaf untuk kedua kalinya. Aku masih berdiri membelakanginya, punggungku tegang, tanganku terkepal erat di sisi tubuh. Air mata masih mengalir di pipiku, aku tidak menyekanya. Biar dia lihat apa yang sudah dia lakukan. Tapi kemudian dia tertawa seperti dia baru saja mengatakan sesuatu yang lucu. "Astaga," katanya dari belakangku, suaranya penuh sindiran. "Aku minta maaf, dan kau bahkan tidak bisa menatapku? Apa aku harus berlutut dulu?" Aku berbalik. Leon berdiri dengan tangan di saku celana, satu alis terangkat, sudut bibirnya menyunggingkan senyum miring yang membuatku ingin menamparnya. Dia tidak terlihat menyesal dan justru terlihat terhibur. "Aku minta maaf," ulangnya, tapi kali dengan nada mengejek. "Itu yang kau harapkan, kan? Aku merendahkan diri di depanmu. Aku mengaku salah. Aku bilang 'maaf, Ana, aku keterlaluan. Aku tidak seharusnya meninggalkanmu di pinggir jalan'." Dia menirukan suara cengeng yang jelas-jelas bukan suaranya. Matanya berkilat, buk

  • Hasrat Basah : Gadis Gendut Dimiliki 3 Daddy   Bab 37

    Ponselku berdering di atas meja samping sofa. Layar menampilkan nama Leon. Aku meraihnya dengan tangan gemetar, menekan tombol hijau."Halo?""Di mana kau?" Suara Leon di seberang sana dingin, tanpa basa-basi.Aku menoleh ke arah Adrian yang sedang duduk di kursi dekat jendela. Dia menatapku dengan mata bertanya."Aku bersama Adrian," jawabku."Pulang sekarang.""Malam sudah larut, besok pagi aku pulang.""Pulang sekarang. Aku tidak suka mengulang perintah.""Kau yang menurunkanku di pinggir jalan. Kau yang meninggalkanku. Sekarang kau suruh aku pulang?""Aku bilang pulang, Ana. Jangan buat aku marah.""Tapi aku bersama Adrian...""Aku tidak peduli kau bersama siapa. Aku suamimu dan kau harus pulang ke rumah, bukan ke rumah orang lain."Aku terdiam. Leon memang suamiku di atas kertas. Tapi apakah dia pernah bersikap seperti suami? Apakah dia pernah memperlakukanku seperti istri?"Aku tidak mau pulang malam ini. Aku mau istirahat di sini.""Aku tidak memberi kau pilihan, Ana."Telepon

  • Hasrat Basah : Gadis Gendut Dimiliki 3 Daddy   Bab 36

    Aku masih menyesap susu hangat ketika Adrian mengecup keningku tapi kemudian dia turun ke bibirku.Awalnya hanya tempelan. Bibirnya yang hangat menekan bibirku yang masih sedikit dingin karena angin malam tadi.Aku membiarkannya.Adrian menarik sedikit, menatap mataku sebentar. Matanya yang cokelat tua itu gelap, bukan gelap karena marah, tapi gelap karena hasrat. Aku belum pernah melihat ekspresi seperti ini di wajahnya yang biasanya ceria."Aku kangen menciummu, Sayang," bisiknya. Suaranya serak, berbeda dari biasanya.Lalu dia menciumku lagi dan kali ini berbeda.Bibirnya tidak lagi hanya menempel. Dia bergerak perlahan, penuh perhitungan, seperti dia sedang memainkan alat musik yang paling disukainya. Bibir bawahku dia hisap lembut, membuatku menarik napas tajam lalu dia melepaskannya, menggantinya dengan bibir atasku, mengulumnya seperti sedang menikmati permen yang paling lezat."Adrian..." namaku keluar setengah bisikan di sela-sela ciumannya.Dia tidak menjawab. Lidahnya kelua

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status