登入Aku menghentikan langkah.
Tubuhku kaku seperti patung. Kata-kata Tuan Leon menusuk dari belakang, tajam dan dingin, seperti ujung pisau yang ditempelkan di leher. "Siapa yang mengajarimu bersikap tidak sopan seperti itu?" Aku tidak berani menoleh. Mataku terasa panas. Air mata menggenang di pelupuk, tapi aku menahannya dengan sekuat tenaga. Tidak boleh menangis di depan mereka dan tidak boleh terlihat lemah. Jika aku menangis, mereka akan melihat itu sebagai celah untuk masuk lebih dalam. "Aku... aku tidak bermaksud tidak sopan, Tuan. Aku hanya ingin kembali bekerja seperti yang Tuan Leon perintahkan setiap hari, bekerja tanpa keluhan dan tanpa banyak bicara." Aku berbalik perlahan. Wajahku kulihat ke tanah tidak berani menatap mata Tuan Leon. Aku bisa melihat ujung sepatunya yang mahal-kulit hitam mengilap, tanpa satu titik debu pun. Sepatu itu mungkin harganya setara dengan gajiku setengah tahun dan mungkin lebih "Maaf, aku mohon maaf," kataku. Tuan Leon tidak menjawab. Keheningannya lebih menakutkan daripada bentakan. Tapi tiba-tiba, langkah kaki mendekat, bukan dari depan, tapi dari samping. Aroma kayu mahoni dan kulit menyapa hidungku, Tuan Adrian. "Leon, jangan terlalu galak! Lihat, gadis ini sampai gemetar karenamu," katanya. Sebelum aku sempat mundur, tangan Tuan Adrian sudah menyentuh punggungku. Telapak tangannya besar dan hangat, bergerak naik turun di antara tulang belikatku. Gerakan yang seharusnya menenangkan, tapi justru membuat seluruh bulu kudukku berdiri. "Jangan membentak gadis manis seperti ini," tambah Tuan Sebastian dari sisi lain. Sekarang aku dikelilingi lagi. Sama seperti tadi. Tuan Adrian di kanan, Tuan Sebastian di kiri. "Dia sudah berusaha sopan. Lihat, dia bahkan minta maaf." Tuan Sebastian mengulurkan tangan dan menyentuh daguku. Dua jarinya yang dingin mengangkat wajahku perlahan, memaksaku untuk menatapnya. Matanya yang cokelat terang itu menatapku dengan ekspresi yang sulit aku baca-ada rasa ingin tahu di sana. "Cantik, kalau rambut keriting ini dirawat sedikit, dan giginya diberi kawat, dia bisa jadi sangat cantik," katanya. Aku ingin menepis tangannya. Aku ingin berteriak jangan sentuh aku tapi mulutku terkunci. Lidahku seperti diikat oleh sesuatu yang tidak terlihat. Yang bisa aku lakukan hanyalah menatap Tuan Sebastian dengan mata yang perlahan-lahan mulai berkaca-kaca. Aku merindukan suara Clara saat ini. Aneh, biasanya aku takut pada Clara tapi sekarang, di antara tiga pria ini, Clara adalah satu-satunya penyelamat yang bisa aku bayangkan. Jika Clara datang dan memarahiku, setidaknya aku bisa lari ke dapur atau ke kamar mandi. Tapi Clara tidak datang. Ke mana dia pergi setelah meninggalkanku sendirian di kolam renang? Mungkin dia lupa atau mungkin dia sudah merencanakan semua ini sejak awal-memanggilku ke kolam, memaksaku memakai bikini, lalu pergi meninggalkanku dengan ayahnya dan dua temannya. Tapi tidak, aku tidak boleh berpikir seperti itu. Clara mungkin menyebalkan, tapi dia tidak sejahat itu. Bukan? Atau mungkin aku hanya terlalu naif. Tiba-tiba, ponsel Tuan Adrian bergetar. Dia menghela napas, melepaskan tangannya dari punggungku, lalu mengeluarkan ponsel dari saku jasnya. "Ya?" Satu menit kemudian, Tuan Sebastian juga menerima panggilan dan kemudian Tuan Leon. Mereka berbicara dengan suara rendah, kata-kata singkat tentang angka-angka, tentang kontrak, tentang pertemuan yang tidak bisa ditunda. Aku tidak mengerti banyak dari percakapan mereka. Tuan Adrian menutup teleponnya lebih dulu. Dia menghela napas panjang, lalu menatapku sekali lagi. "Ada urusan mendadak, Ana. Aku harus pergi." Aku tidak menjawab dan hanya mengangguk kecil dan kemudian yang terjadi begitu cepat. Tangan Tuan Adrian naik ke atas kepalaku. Jari-jarinya yang panjang menyisir rambut keritingku yang kusut-bukan dengan lembut, tapi seperti seseorang yang membelai kucing peliharaannya. Sekali, dua kali lalu dia menarik tangannya. "Aku harap kita bertemu lagi lain kali," katanya sambil tersenyum. Tuan Sebastian melakukan hal yang sama. Tangannya mengusap kepalaku setelah dia selesai berbicara di telepon. "Jaga dirimu dan pikirkan tawaran kami." Lalu dia berjalan ke arah mobilnya bersama Tuan Adrian. Dua mobil mewah itu melaju perlahan meninggakan halaman belakang mansion dan sekarang, hanya aku dan Tuan Leon. Aku berdiri di sana, diam, tidak berani bergerak. Handukku masih melilit di bahu, tapi rasanya semakin tipis, semakin tidak mampu melindungiku dari apapun. Di depanku, Tuan Leon masih berdiri di dekat meja billiard. Stik billiard sudah dia letakkan kembali. Tangannya kini terlipat di dada. Matanya yang menatapku tanpa berkedip. Wajahnya basah karena air kolam tadi. Rambutnya yang biasanya disisir rapi sekarang berantakan menutupi dahinya. Tapi itu tidak membuatnya terlihat kurang tampan. Bahkan, dengan kemeja basah yang menempel di dadanya, dia terlihat menggoda. "Tuan Leon, aku..." "Apa?" tanyanya dingin. "Aku sebaiknya mencari Clara," kataku. Aku melangkah mundur selangkah rapi Tuan Leon tidak bergerak. Dia hanya berdiri di sana, menatapku, seperti kucing yang tahu bahwa tikusnya tidak akan bisa lari terlalu jauh. "Clara sedang sibuk, dia tidak akan datang," katanya. Pernyataan itu terasa seperti pintu yang tertutup di depan wajahku. Aku menelan ludah. "Kalau begitu aku akan kembali bekerja," kataku. "Tawaran kami masih berlaku, Ana." Tuan Leon berjalan mendekat. Langkahnya lambat, satu per satu, sepatu kulitnya yang mahal itu berbunyi pelan di lantai marmer. Aku terus mundur sampai punggungku menabrak dinding. Dia berhenti tepat di depanku. Jarak kami hanya satu lengan. Aku bisa mencium aroma tubuhnya-campuran parfum mahal dan keringat dingin dan sesuatu yang maskulin yang membuat kepalaku terasa pusing. "Tiga ratus euro sebulan, jumlah yang tidak layak untuk gadis secantik kamu," katanya. Aku tidak tahu harus menjawab apa. "Adrian dan Sebastian tidak main-main, jika kamu mau, mereka bisa memberimu lebih. Jauh lebih banyak daripada yang aku bayarkan." Dia mengangkat tanganku dan membuka telapak tanganku perlahan. Jari-jarinya yang panjang dan hangat menyentuh kulitku yang masih dingin. Aku tidak berani menarik tangan. "Tapi jika kamu lebih nyaman denganku, itu juga bisa," katanya. Jantungku berdetak begitu keras hingga aku yakin dia bisa mendengarnya. "Pikirkan, Ana. Kamu tidak perlu menjawab sekarang tapi ingat, tawaran seperti ini tidak datang dua kali. 3 pria dan 3 bayaran sekaligus," katanya.POV Ana.Aku menatap Leon yang duduk di sampingku di ruang tunggu penjara yang dingin. Tangannya menggenggam tanganku erat, dan aku bisa merasakan getaran halus dari tubuhnya. Leon berusaha terlihat kuat, tapi aku tahu betapa hancurnya dia di dalam. Clara telah menolak menemuinya, dan itu adalah luka yang tidak bisa sembuh dengan mudah."Apa kamu yakin surat itu cukup?" tanyaku lembut, mengusap punggung tangannya."Aku tidak tahu. Aku hanya bisa berharap. Aku sudah mengatakan semua yang ada di hatiku. Sekarang terserah padanya."Aku menggenggam tangannya lebih erat. "Clara mungkin keras kepala, tapi dia bukan orang jahat. Dia hanya tersesat."Leon tidak menjawab. Dia hanya menatap lurus ke depan, ke arah pintu besi yang memisahkannya dari putrinya.Kami menunggu. Aku bisa merasakan bayi-bayi bergerak di dalam perutku, seolah mereka juga merasakan ketegangan yang menyelimuti kami. Aku dengan lembut mengusap perutku, berbisik pada mereka bahwa semuanya akan baik-baik saja.Lalu, pintu b
Di mansion Leon dan Ana, suasana terasa hangat dan penuh cinta. Ana, yang kini sedang hamil besar dengan perut bundar mengandung tiga bayi, sedang berdiri di dapur bersama Leon. Mereka memasak bersama, sebuah aktivitas sederhana yang selalu mereka nikmati.Leon sedang memotong sayuran dengan hati-hati, sesekali melirik Ana yang sedang mengaduk sup di atas kompor. Matanya tidak pernah lepas dari istrinya, melihat betapa cantiknya Ana bahkan dalam keadaan hamil besar."Kamu terus menatapku," kata Ana."Karena kamu sangat cantik," jawab Leon, mendekati Ana dari belakang dan memeluknya. Lengannya melingkari perut Ana yang membesar, merasakan gerakan-gerakan kecil dari dalam.Ana tertawa, merasakan kehangatan pelukan Leon. "Kamu akan membuatku lupa memasak kalau terus begini.""Biarkan saja," kata Leon, mencium leher Ana dengan lembut. "Aku lebih suka memelukmu."Ana berbalik dalam pelukan Leon, menatap mata suaminya yang penuh cinta. "Aku ingin bertanya sesuatu.""Apa saja, sayang."Ana m
Keesokan harinya, kabar kelahiran bayi Rena dan keberhasilan operasinya menyebar dengan cepat. Keluarga Rena, yang telah berdamai dengannya beberapa bulan sebelumnya, segera datang menjenguk. Ayah dan ibunya datang bersama dua kakak perempuannya, membawa rangkaian bunga dan hadiah kecil untuk bayinya.Rena terbaring di tempat tidur dengan senyum bahagia ketika melihat keluarganya masuk. Meskipun tubuhnya masih lemah dan pengobatan kankernya perlu segera dimulai, dia merasa bersyukur masih diberi kesempatan untuk melihat orang-orang yang dicintainya."Ibu, Ayah. Kalian datang."Ibunya segera memeluk Rena dengan hati-hati, menangis haru. "Tentu saja kami datang. Kau baru saja melahirkan. Kami tidak boleh melewatkan momen ini."Ayah Rena juga mendekat, melihat cucunya. "Dia cantik. Dia mirip sekali denganmu."Rena tersenyum, air mata kebahagiaan mengalir di pipinya. "Terima kasih, Ayah."Kakak-kakak Rena juga mendekat, membawa hadiah untuk bayinya. Meskipun dulu mereka sering mengejek Re
Tiga jam kemudian.Sebastian masih duduk di lorong rumah sakit dengan tubuh kaku, matanya tidak pernah lepas dari pintu ruang operasi. Leon dan Adrian duduk di sampingnya, sesekali menepuk bahunya untuk memberikan dukungan. Ana dan Christy juga sudah datang, meskipun mereka harus duduk di kursi lain karena kehamilan mereka."Kamu perlu makan sesuatu. Kamu tidak bisa terus begini.""Aku tidak lapar," jawab Sebastian datar. Matanya tetap terpaku pada pintu ruang operasi."Kamu tidak membantu Rena dengan membuat dirimu sakit. Dia membutuhkanmu dalam keadaan sehat," kata Adrian.Sebastian menghela napas, mengambil roti itu dan menggigitnya tanpa benar-benar merasakan rasanya. Pikirannya terus melayang ke Rena—wanita yang dia abaikan, wanita yang dia sakiti, wanita yang sekarang berjuang untuk hidupnya."Aku seharusnya mengatakannya lebih cepat. Aku seharusnya mengatakan bahwa aku mencintainya. Bahwa aku tidak ingin menceraikannya. Bahwa aku ingin menghabiskan sisa hidupku bersamanya," kat
Beberapa bulan setelah pernikahan Adrian dan Christy, kondisi Rena mulai memburuk. Kehamilannya, yang kini memasuki bulan ketujuh, terasa semakin berat, dan kankernya mulai menunjukkan tanda-tanda perkembangan yang mengkhawatirkan. Dokter memutuskan bahwa Rena perlu dirawat di rumah sakit untuk pemantauan intensif."Aku tidak mau dirawat di sini," kata Rena, terbaring di tempat tidur rumah sakit dengan wajah pucat. "Aku ingin pulang. Aku ingin tidur di tempat tidurku sendiri."Sebastian duduk di sampingnya, dengan lembut menggenggam tangannya. "Ini demi keselamatanmu dan bayimu. Kata dokter, kamu perlu pemantauan ketat.""Aku takut tidak akan pernah pulang. Aku takut tidak akan pernah melihat bayiku tumbuh besar.""Kamu akan pulang, Rena. Kamu akan melihat bayi kita tumbuh besar. Aku berjanji."Rena menatap Sebastian, mencari kebohongan di matanya. Tapi yang dia lihat adalah ketulusan. "Kamu benar-benar peduli padaku, ya?"Sebastian terdiam beberapa saat. Lalu dia menjawab, suaranya l
Malam pernikahan Adrian dan Christy berlangsung meriah. Tawa dan kebahagiaan memenuhi setiap sudut villa. Leon dan Ana tak henti-hentinya bercanda, sementara Adrian dan Christy tampak begitu berseri-seri. Namun, di sudut ruangan, Sebastian duduk diam dengan segelas anggur di tangannya. Pandangannya menerawang jauh, sesekali melirik Rena yang sedang berbicara dengan Ana.Rena tampak berbeda malam itu. Meskipun perutnya mulai membesar dan tubuhnya masih berisi, ada cahaya di matanya yang belum pernah Sebastian lihat sebelumnya. Wanita itu tersenyum, tertawa, dan terlihat benar-benar bahagia untuk pertama kalinya.Dan Sebastian tahu, sebentar lagi dia akan menghancurkan kebahagiaan itu."Kau terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu yang berat," suara Adrian tiba-tiba muncul di sampingnya.Sebastian menoleh, melihat sahabatnya berdiri di sana dengan segelas sampanye. "Selamat, Adrian. Aku senang kau akhirnya menemukan kebahagiaan."Adrian tersenyum, duduk di kursi di samping Sebastian.
Aku terdiam.Pernikahan. Aku tidak pernah membayangkan menikah apalagi dengan pria sekaya dan semisterius Tuan Leon. Aku hanya gadis gemuk dan biasa saja yang hidupnya habis untuk membersihkan kotoran orang lain.“Kenapa aku?” tanyaku.Tuan Leon masih dalam posisi berjongkok di depanku, matanya men
Dua hari berlalu. Aku berusaha menghindari Tuan Leon dan tamu-tamunya. Aku bekerja lebih keras dari biasanya. Aku membersihkan setiap sudut mansion, mencuci pakaian Clara hingga wangi, bahkan menyapu halaman yang tidak pernah aku sentuh sebelumnya. Aku berharap dengan bekerja keras, semuanya akan
Barang miliknya.Aku bukan barang dan aku bukan milik siapapun.Tuan Leon melepaskan tangannya dari perutku perlahan, kemudian dia berjalan kembali ke meja billiard, mengambil stik yang tadi diletakkannya, dan melanjutkan permainan seolah tidak ada yang terjadi.Seolah dia tidak baru saja menyelama
Pov ANA.Aku duduk di bangku kayu gereja ini. Tanganku menggenggam erat ujung rok hingga kusut. Pacarku, Max berdiri dengan jas hitamnya yang rapi. Di sampingnya Sasha, sahabatku sejak pertama kali aku menginjakkan kaki di kota ini dua tahun lalu. Perut Sasha sudah membuncit di balik gaun putihnya.







