登入"Rama, jawab aku," desak Manisha, suaranya kini nyaris berbisik. Dipenuhi ketakutan yang tidak lagi bisa ia sembunyikan. "Kamu punya perempuan lain, ya?"Rama spontan menatap Manisha setelah menunduk cukup lama. Dadanya naik turun menahan sesuatu yang sudah terlalu lama ia pendam sendirian. Kedua tangannya dicengkram kuat seperti mencoba menahan diri. Sepasang matanya yang biasa begitu tegas kini basah. Bergetar menahan sesuatu yang jauh lebih rapuh dari amarah."Bukan perempuan lain, Sha," ucap Rama akhirnya Suaranya pecah di tengah kalimat. "Ini Sinta."Ruangan seketika hening. Sunyi yang begitu tebal hingga Manisha bisa mendengar detak jantungnya sendiri berpacu keras di telinga. Bahkan bisa mendengar detik jam dinding yang biasanya tidak pernah ia sadari. Kata itu, nama itu, menghantam lebih keras dari apa pun yang pernah ia bayangkan selama berbulan-bulan penuh ketakutan dan kecurigaan."Sinta?" bisik Manisha bergetar hebat. Air mata sudah menggenang tanpa sempat ia tahan. Mengal
Dua minggu setelah vonis Wirawan dijatuhkan, hidup Rama dan Manisha perlahan mulai kembali ke ritme yang lebih tenang. Namun ketenangan itu tidak berlangsung lama, karena Manisha mulai menyadari sesuatu yang berbeda dari kebiasaan suaminya belakangan ini.Rama semakin sering pulang larut, bukan lagi karena rapat dengan tim legal soal kasus Wirawan yang sudah selesai. Melainkan dengan alasan yang semakin samar setiap kali Manisha bertanya."Rama, kamu dari mana lagi malam-malam begini?" tanya Manisha ketika Rama pulang jam sepuluh malam. Jasnya lusuh dan wajahnya lelah."Ada urusan pekerjaan, Sha. Proyek baru yang sedang aku kerjakan.""Proyek apa? Bukannya kasus Wirawan sudah selesai dan proyek Hartono juga sudah ditangani?""Proyek lain, Sha. Nanti aku ceritain kalau udah pasti."Jawaban seperti itu terus berulang selama beberapa hari, membuat Manisha semakin gelisah tanpa bisa menjelaskan alasannya dengan pasti. Ia mencoba menepis kecurigaan itu, mengingatkan dirinya sendiri bahwa R
Kabar dari Leila soal Sinta yang masih hidup membuat malam itu terasa panjang bagi Manisha. Namun keesokan paginya, hidup harus tetap berjalan dan hari itu adalah hari peradilan resmi Pak Wirawan yang selama ini menjadi dalang di balik dua kebakaran yang mengancam nyawa mereka.Rama mendapat telepon dari kepolisian pagi-pagi sekali, memintanya datang ke kantor polisi untuk memberikan keterangan tambahan sekaligus menyaksikan proses penangkapan yang sudah direncanakan sejak semalam."Sha, aku harus ke kantor polisi sekarang," ucap Rama sudah mengenakan jasnya dengan tergesa."Aku ikut, Rama.""Sha, ini bisa jadi situasi yang tidak nyaman. Wirawan orangnya licik, dia bisa saja cari cara buat memperkeruh suasana.""Aku tidak peduli, Rama. Aku ingin lihat sendiri orang yang sudah membuat hidup kita berantakan selama ini."Rama akhirnya mengalah, membawa Manisha bersamanya dengan ditemani dua pengawal tambahan untuk berjaga-jaga. Sesampainya di kantor polisi, mereka disambut oleh penyidik
Beberapa hari setelah kebakaran di kantor, tim penyelidik gabungan dari kepolisian dan detektif pribadi yang disewa Rama akhirnya menemukan titik terang. Rama dan Manisha memenuhi panggilan penyidik untuk mengetahui perkembangan informasi. "Pak Rama, kami sudah bandingkan pola kebakaran di kantor dengan kebakaran rumah Bapak beberapa waktu lalu," ucap penyidik itu sambil membuka map berisi laporan. "Modusnya mirip, sama-sama menggunakan celah kecil yang sengaja diciptakan untuk terlihat seperti kecelakaan." "Jadi ini orang yang sama, Pak?" tanya Rama. "Kami yakin begitu. Tim kami sudah berhasil melacak salah satu tersangka lewat rekaman CCTV di sekitar kantor Bapak." Penyidik itu menunjukkan foto seorang pria paruh baya. Wajahnya asing bagi Manisha, tetapi begitu Rama melihatnya, dia sudah tahu siapa sosok yang tengah memancing segala teror di hidupnya. "Ini Pak Wirawan," desis Rama, suaranya penuh kemarahan yang tertahan. "Pesaing bisnis saya dari perusahaan properti sebelah
Manisha tidak lagi merasa aman sepenuhnya, bahkan di dalam rumahnya sendiri. Ada sesuatu yang berbeda dari udara di sekitarnya. Sebuah kehadiran yang tidak terlihat tetapi terasa begitu nyata, seolah seseorang selalu mengamati dari sudut yang tidak bisa ia jangkau.Siang itu, ketika Rama sudah berangkat kerja lebih pagi dari biasanya, Manisha duduk sendirian di ruang tengah, tangannya dingin meski cuaca cukup panas. Firasat buruk terus menghantuinya sejak bangun tidur. Kegelisahan yang tidak bisa dijelaskan dengan logika apa pun."Aku mau ke kantor Rama," ucap Manisha akhirnya, tidak tahan lagi hanya duduk diam menunggu sesuatu yang tidak ia pahami sendiri. Dia pun bergegas pergi.Seorang pengawal mencegat Manisha di pintu utama. "Mohon maaf, Bu Manisha. Jika ingin pergi, Anda harus ditemani oleh kami.""Aku ingin pergi ke kantor suamiku. Aku ingin dekat dan berada di sampingnya hari ini."Manisha berangkat ditemani salah satu pengawal, tangannya sesekali mengusap lengannya sendiri, m
Hujan turun dengan deras sejak sore, membungkus rumah mewah itu dalam kabut abu-abu yang lembab. Suara rintiknya yang menghantam kaca jendela terdengar seperti ribuan jari kecil yang mencoba mengetuk masuk. Di dalam rumah, keheningan terasa lebih berat daripada biasanya, seolah udara telah berubah menjadi cairan kental yang sulit untuk dihirup.Rama sedang berada di ruang kerjanya, tenggelam dalam panggilan telepon dengan pengacara dan detektif. Manisha, yang merasa bosan sekaligus tertekan di dalam kamar, memutuskan untuk turun ke lantai bawah. Ia hanya ingin mengambil segelas air, namun langkah kakinya justru membawanya berhenti di depan pintu ruang kerja Rama yang sedikit terbuka.Manisha tidak berniat menguping, tetapi ia bisa mendengar nada suara Rama yang rendah dan penuh tekanan."Aku tidak peduli berapa biayanya, Broto! Aku ingin tahu di mana perempuan itu berada sekarang. Aku tidak bisa tidur hanya dengan mengetahui dia berkeliaran di sekitar rumahku!"Manisha menghela napas







