Beranda / Romansa / Hasrat Cinta Tuan William / 6. Aku Sungguh Membencimu

Share

6. Aku Sungguh Membencimu

Penulis: Dien Madaharsa
last update Terakhir Diperbarui: 2025-10-16 17:55:47

Tidak terasa, lima hari sudah terlewati semenjak Lira mendapat PR khusus untuk memperbaiki postur dan cara berjalannya di runway. 

Setiap harinya, jadwal Lira sangat padat. Pagi pukul lima dia sudah terbangun karena Ringga menggebrak-gebrak pintu kamarnya dengan heboh demi mengajaknya olahraga di gym atau berenang di kolam mansion. Katanya olahraga ini wajib dilakukan agar Lira belajar tertib waktu sekaligus menaikkan massa ototnya. 

“Walaupun kau kurus seperti papan, kau harus tetap olahraga. Berenang dan angkat beban cocok untuk membentuk lekuk tubuhmu!”

‘Nyenyenyenye, mulutnya mengoceh saja seperti monyet!’ Lira membatin kesal. 

Belakangan dia sudah belajar untuk tidak sedikit-sedikit protes terang-terangan karena Ringga sekarang punya cara licik untuk membuat Lira kapok; yaitu memberinya hukuman angkat beban berlebih di gymnasium. Kalau tidak mau berakhir ngos-ngosan dan nyaris pingsan, Lira harus menuruti semua perintah Ringga. 

Pagi pukul delapan, setelah sarapan penuh protein, Lira akan mulai belajar di runway sampai sore hari. Pada sesi ini, William biasanya pergi keluar untuk melakukan suatu urusan, sementara Lira terjebak di studio bersama Ringga. 

“Perhatikan jalanmu, Lira! Seorang model tidak berjalan mengangkang seperti ini!” Ringga menepuk paha Lira agak keras, membuat gadis itu mengaduh kesakitan. “Satu tungkaimu harus berada di depan tungkai lainnya. Ikuti aku!” 

“Hei, pandanganmu jangan turun! Memangnya kau ini mencari koin jatuh di jalan?”

“Tanganmu, astaga! Jangan diayun-ayunkan seperti robot! Biarkan dia jatuh dengan natural di sisi tubuhmu!”

“Dadamu harus sedikit terbuka! Jangan malu-malu seperti itu, memangnya sebesar apa payudaramu, hah? Kau membusung saja sudah pasti tidak kelihatan!”

Sialaaaannnn! Lira sudah kehilangan kesabaran, tetapi makian itu masih ditahan-tahan karena dia tidak mau merasakan neraka yang lebih parah lagi. 

Pada malam harinya, saat tubuhnya sudah lelah, William yang baru pulang dari tempat antah berantah langsung menagih laporan tentang apa saja yang Lira pelajari siang tadi. Rasanya, seluruh otak Lira diperas dan tidak dibiarkan istirahat. Padahal mulanya dia bertekad menyusun strategi kabur, tetapi sekarang … rencana itu terlupakan begitu saja. 

Lira tidak kuat bila harus hidup seperti ini, apalagi dipaksa melakukan sesuatu yang tidak dia suka! 

Keesokan harinya bahkan lebih parah. William tiba-tiba berkata bahwa hari ini dia akan melihat hasil latihan Lira. Kabar buruknya, sekarang perasaan William tampak tidak baik. Sejak turun dari tangga untuk sarapan, pria itu terlihat uring-uringan, persis seperti bos keji yang hendak mencari mangsa baru untuk ditindas. 

Lira tidak berani untuk protes apa-apa. Malah sebenarnya dia merasa gelisah, sebab sejak beberapa hari lalu, latihannya dengan Ringga tidak berjalan mulus. 

“Memang belum satu minggu, tapi aku ingin tahu sudah sebesar apa perubahan bocah ini di tanganmu,” William berkata pada Ringga saat mereka bertiga sudah ada di studio. 

Ringga terlihat panik, tetapi berusaha tenang. Dia menatap Lira sejenak dan segera menyuruh gadis itu berjalan di panggung seperti biasa. 

Dan, seperti yang sudah diduga, penampilan Lira tidak cukup membuat William puas. Masih ada terlalu banyak hal yang harus diperbaiki, terutama dari ekspresi dan postur yang masih terlihat kaku. William bahkan menyebut penampilan Lira tidak ada bedanya dengan saat pertama kali dia berjalan di runway. 

Namun, bukannya menyemprot Lira seperti biasa, kali ini William melimpahkan semua kesalahan kepada Ringga. 

“Tujuh hari,” desis William, “Aku memberimu tujuh hari untuk melatih anak kecil itu, tapi di hari kelima, dia masih juga belum menunjukkan peningkatan sedikit pun. Apa kau ini bodoh?” 

“Ma-maaf, Tuan.” Ringga menunduk. Suara bergetar panik. “Ma-masih ada dua hari lagi, bukan? Saya janji akan membuat Lira lebih baik lagi!”

“Cukup,” cetus William. “Aku sudah terlalu banyak memberimu kesempatan, dan kau tetap saja menyia-nyiakannya, dasar bajingan tidak tahu diri. Kalau bukan karena aku yang menyelamatkanmu sepuluh tahun lalu, kau dan keluargamu itu masih jadi gelandangan yang mengorek makanan di tempat sampah.”

Ringga membungkuk begitu rendah sambil memohon. Apa yang dibicarakan William memang benar, dan kini dia merasa sangat malu dan tidak berguna. 

“Tuan, maafkan saya. Saya janji akan bekerja lebih keras lagi.”

“Pergi dari sini, dan jangan pernah menunjukkan mukamu di hadapanku.”

“Ti-tidak! Tuan, saya mohon, jangan pecat saya! Saya punya keluarga yang harus diberi makan dan adik yang harus disekolahkan!”

Namun William tidak membalas apa pun. Dia menegakkan punggung, lalu berputar membelakangi asistennya. Langkahnya yang mantap bergerak mendekati pintu keluar studio.

Entah bagaimana, Lira tidak tega melihat situasi tersebut. Menurutnya, Ringga tidak harus dipermalukan sampai separah ini. Walaupun dia guru yang menyebalkan, setidaknya dia berusaha sebaik mungkin untuk mengajarnya. Lira-lah yang memang kurang becus dalam menerima latihan. 

“Berhenti,” Tiba-tiba Lira berceletuk. Dia tidak tahu mengapa dirinya begitu berani menyelak di tengah situasi berapi-api begini. “Saya rasa Anda sudah keterlaluan.”

William, yang sejak pagi tadi suasana hatinya sudah buruk, kini menunjukkan ekspresi lebih ganas lagi. Dia berputar lagi kepada Lira, lalu mendekat sampai jaraknya dengan gadis itu hanya terpaut tiga puluh senti saja. 

“Kau berani menegurku?” William menyeringai tipis. “Memang siapa kau?”

Lira tengadah pada William, memberanikan diri menatap mata kelabunya yang menjeritkan ancaman. 

“Saya menegur karena merasa Anda sudah keterlaluan. Bukannya kita semua tahu intinya? Saya harus belajar lebih keras lagi supaya bisa memenuhi level kemampuan yang Anda inginkan, begitu kan? Tapi sedari tadi Anda hanya menindas asisten Anda dengan kata-kata kejam seperti itu. Bukankah ini sudah membuang banyak waktu yang harusnya saya pakai untuk belajar?”

“Kau….” William menyipitkan mata pada Lira. “Lancang sekali.”

Jantung Lira berdegup kencang. Menatap William sedekat ini, rasanya seperti berhadapan dengan badai yang siap berguncang. Harusnya dia membungkuk minta maaf dan langsung undur diri, tetapi gengsinya terlalu tinggi bila menyerah secepat ini. Dia tetap mendongak tertantang pada William, bahkan tergoda untuk melakukan lebih. 

“Bukankah anjing liar memang sepatutnya seperti ini? Lancang, kasar, dan berani memberontak pada tuannya.” Suara Lira pecah dan gemetar di akhir, tetapi dia berusaha bersikap tenang. 

“Kau sudah menganggap dirimu anjing liar, kalau begitu?” William mendengkus, tampak geli sekaligus jengkel. 

Lira menelan ludah gugup, menahan amarah. 

“Anjing liar tidak terlalu buruk. Mau tahu apa lagi yang bisa dilakukan anjing liar selain membantah perintah tuannya? Dia bisa berbalik menyerang dan menghabisi tuannya sampai hancur.”

Mendadak saja, kata-kata Lira membuat William terlempar ke masa lalu. 

Tangan pria itu terkepal erat di sisi tubuh, sementara sulur-sulur kelam menyergapnya bagai petir; Kemarahan. Jeritan dan erangan. Lolongan tangis. Cipratan darah. Kematian. 

Pria itu memejamkan mata dan langsung melengos dari Lira, secara kasar membentak gadis itu agar menyingkir;

“Pergi kalian berdua! CEPAT!”

Ringga terkesiap dan segera kabur dari tempat itu, sementara Lira justru menyadari ada sesuatu yang aneh terjadi pada pria ini. 

“Anda kenapa?” 

Punggung William gemetar seperti menahan emosi. Begitu tangan Lira menyentuh bahu William, pria itu menepisnya kelewat kasar. 

Lira tersentak, namun tidak sampai sana, William tanpa aba-aba langsung berputar untuk menampar pipinya; 

“KUBILANG PERGI DARI SINI!” 

Tamparan itu begitu keras hingga Lira tersungkur ke lantai. 

Dengan wajah terguncang, gadis itu mendongak pada William, yang kini menunjukkan ekspresi syok seolah-olah tidak menyangka dengan apa yang dilakukannya barusan. 

Namun, semua sudah terlambat. Lira berdiri bangkit, bersamaan dengan desis gemetar yang lolos dari bibirnya; 

“Aku sungguh membencimu!”

Dengan air mata menggenang di pelupuk, gadis itu berlari keluar dari studio.

Sementara William … hanya bisa mengepalkan tangan dan memaki, “Sial ….”[]

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Hasrat Cinta Tuan William   99. Memancing Darren Datang

    Pencarian pun dimulai, namun hasilnya nihil.Tuan Archen mengerahkan seluruh jejaring lamanya—orang-orang yang dulu bekerja di bawah Darren, mitra bisnis bayangan, hingga relasi yang tak tercatat secara resmi. Nama Darren seolah menguap dari dunia. Tak ada alamat, tak ada jejak transaksi, bahkan orang-orang yang pernah dekat dengannya mendadak bungkam, seakan ada ketakutan kolektif yang menutup mulut mereka.Di sisi lain, William menelusuri Kemal dengan cara yang lebih sunyi.Lira menjadi penghubungnya. Ia mengingat kembali wajah-wajah lama, orang-orang yang dulu mengenal ayahnya—kenalan samar, nama yang jarang disebut, percakapan setengah bisik di masa lalu. Namun semua upaya itu berujung sama: jalan buntu. Kemal seperti sengaja menghapus dirinya sendiri dari peta.Hari demi hari berlalu, dan kegagalan itu mulai menggerogoti William.Siang itu, William duduk sendirian di ruang kerjanya. Tirai ditutup setengah, cahaya jatuh pucat di atas meja. Ia memijat pelipisnya dengan dua jari, ra

  • Hasrat Cinta Tuan William   98. Rencana Akhir

    Lira terbangun perlahan, disambut cahaya pagi yang pucat menyusup dari balik tirai. Beberapa detik pertama ia hanya diam, membiarkan kesadarannya merangkai ulang potongan ingatan semalam.Lalu ia menyadari sesuatu.Di bawah selimut, tubuhnya telanjang. Kulitnya bersentuhan langsung dengan seprai yang masih hangat—dan dengan tubuh lain di sampingnya.William.Pria itu masih terlelap, napasnya teratur, wajahnya damai dengan cara yang jarang Lira lihat belakangan ini. Rambut hitamnya sedikit berantakan, alisnya rileks, seolah dunia belum menagih apa pun darinya pagi ini.Dada Lira mengencang.Potongan ingatan semalam menyeruak: dirinya yang gemetar, suara sendiri yang putus-putus saat berkata ingin menyerah, wajah William yang tidak marah—hanya lelah dan penuh kesabaran. Lalu tangan yang menuntunnya ke ranjang, suara rendah yang menenangkan, kehangatan yang membuatnya berhenti berpikir.Lira menelan ludah.Ia menatap William lama sekali. Terlalu lama.Ada sesuatu di wajah tidur itu yang

  • Hasrat Cinta Tuan William   97. Segalanya Hancur Perlahan

    Malam itu, rumah terasa terlalu sunyi untuk ukuran sebuah rumah yang baru saja menjadi saksi pernikahan. Setelah kotak hitam berisi bangkai burung gagak itu ditemukan, Lira seperti kehilangan sebagian keberaniannya. Setiap kali ada paket datang, setiap kali pita terlihat, dadanya langsung mengencang. Ia tidak mau menyentuh apa pun. Tidak mau membuka apa pun. Hadiah-hadiah yang sebelumnya tampak berkilau kini baginya hanyalah potensi ancaman.Ia duduk di tepi ranjang kamar mereka—kamar yang kini resmi menjadi milik berdua—dengan lampu temaram dan selimut yang ditarik sampai dada. Ketika pintu terbuka dan William masuk, Lira bahkan tidak menoleh. Namun langkah kaki itu terlalu dikenalnya.William menutup pintu perlahan. Jasnya sudah dilepas, kemejanya hanya tersisa satu kancing yang terpasang. Wajahnya tegang, garis di antara alisnya semakin dalam.“Annalise sudah menceritakan semuanya,” kata William pelan.Kalimat itu menjadi pemicu. Lira langsung bangkit dan berlari ke arah William, m

  • Hasrat Cinta Tuan William   96. Kotak Hitam Misterius

    Gedung tempat pernikahan itu berdiri seperti sebuah istana modern—menjulang, berlapis marmer pucat yang memantulkan cahaya sore. Langit-langitnya tinggi dengan kubah kaca raksasa, dari mana cahaya matahari jatuh lembut, menimpa altar yang dihiasi rangkaian bunga putih dan hijau pucat. Lilin-lilin kristal berjajar di sepanjang lorong, memantulkan kilau emas dari ornamen-ornamen halus yang menegaskan kemegahan tanpa kesan berlebihan. Setiap detail tampak terukur, seolah ruangan itu bernapas mengikuti irama janji yang akan diucapkan.Lira melangkah masuk dengan gaun putih elegan—potongannya bersih, jatuh mengikuti tubuhnya tanpa berteriak. Tidak ada renda berlebihan; hanya kemurnian garis dan kilau kain yang halus. Rambutnya disanggul rendah, beberapa helai dibiarkan membingkai wajahnya. Di hadapan altar, William menunggu dengan jas hitam yang terpotong rapi. Rambutnya dipangkas lebih pendek dari biasanya, keningnya tampak jelas, wajahnya tegas namun tenang—sebuah ketenangan yang hanya d

  • Hasrat Cinta Tuan William   95. Aku Ingin Menikah Padamu Saat Ini Juga

    Selewat beberapa waktu, kejayaan Lira terasa menanjak dengan kecepatan yang bahkan membuat dirinya sendiri terperangah. Tawaran demi tawaran berdatangan tanpa henti—iklan produk kecantikan, pemotretan editorial, hingga undangan tampil di beberapa acara televisi. Namanya mulai dikenal bukan sekadar sebagai “model Averi”, melainkan sebagai Lira Suhita: wajah baru yang sedang bersinar.Ada kebahagiaan yang jujur setiap kali ia pulang membawa kontrak baru, setiap kali namanya disebut dengan nada kagum. Namun kebahagiaan itu terasa lengkap karena satu hal: William selalu ada di dekatnya. Ia hadir sebagai penonton pertama setiap pemotretan, sebagai pendengar setia cerita-cerita kecil Lira, dan sebagai tempat Lira pulang ketika lelahnya dunia mulai terasa berat. Dalam diamnya, William menjaga jarak dari sorotan, seolah kejayaan Lira adalah panggung yang memang seharusnya hanya milik gadis itu.Siang itu, mereka berbelanja di sebuah supermarket besar. Tanpa pengawal, tanpa asisten, hanya mere

  • Hasrat Cinta Tuan William   94. Bayangan Darren yang Tak Lenyap

    Hampir sebulan telah berlalu sejak malam di pantai itu—malam ketika William menyatakan perasaannya kepada Lira dan menyematkan cincin di jarinya. Waktu tidak berjalan biasa sejak saat itu; ia seakan melunak, mengalir lebih hangat, dan memberi ruang bagi keduanya untuk tumbuh dalam kedekatan yang semakin nyata.Mereka terlihat semakin mesra, dan hal itu nyaris tak bisa disembunyikan. Di pagi hari, William kerap muncul di ambang pintu kamar Lira hanya untuk memastikan gadis itu sudah sarapan. Ia akan membenarkan kerah pakaian Lira dengan jari-jarinya sendiri, atau menyelipkan rambut yang jatuh ke belakang telinga Lira dengan gestur yang terlalu intim untuk ukuran rumah besar yang dipenuhi pelayan. Di ruang makan, William sering duduk terlalu dekat, lutut mereka bersentuhan, tangannya bertengger santai di sandaran kursi Lira—seolah tempat itu memang miliknya.Para pelayan menjadi saksi yang kikuk. Ada yang pura-pura sibuk membersihkan meja yang sudah bersih, ada yang memilih menunduk dan

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status