LOGINSetelah kenyang dengan makanannya, William mengajak Lira ke studio runway yang kemarin sempat dimasukinya. Pagi ini, bukan mereka berdua saja penghuninya. Di sudut ruangan dekat panggung, ada seseorang yang sedang sibuk mengukur kain yang melekat di badan manekin.
Orang itu buru-buru berhenti bekerja dan menundukkan kepala pada William begitu mereka datang.
“Selamat pagi, Tuan. Tampan sekali Anda pagi ini!” ujarnya sambil nyengir semangat.
Lira mengerutkan kening melihat senyum di wajah pemuda flamboyan satu ini. Umurnya sangat muda, mungkin tidak begitu jauh dari Lira. Dibalut jas mewah dengan corak floral yang mencolok, suaranya riang dan sikapnya sangat percaya diri. Nyaris teatrikal. Dia melakukan banyak gerakan tidak penting saat berbicara, seperti menggerak-gerakkan tangan dengan berlebihan. Saat membuka mulut, lidahnya yang ditindik kelihatan.
Belakangan baru ketahuan bahwa nama orang itu adalah Ringga.
“Oh, siapa anak ini?”
Ringga berpaling pada Lira. Alih-alih terkejut, ekspresi Ringga sama saja seperti para pelayan di rumah utama ketika pertama kali menatap Lira; raut bertanya-tanya, risih, seakan bingung antara ingin prihatin atau menertawakan.
“Dia anak yang waktu itu kubicarakan,” kata William pendek, kemudian melangkah ke sisi lain ruangan, mengambil sesuatu dari dalam kabinet yang penuh dengan gulungan kain, kertas-kertas sketsa berserakan, juga peralatan jahit.
Ringga mendelik terkejut, tetapi tidak berkata apa-apa. Sebelum Lira menanyakan apa maksud tatapan itu, William menyalurkan gaun yang kemarin kepadanya.
“Pakai ini. Sudah kusesuaikan agar pas di tubuhmu,” katanya.
Lira pergi ke balik tirai panggung untuk mengenakan gaun tersebut, yang kini—sesuai kata William—melekat sempurna di tubuhnya seakan sedari awal memang diciptakan untuknya. Padahal kemarin bagian dada dan pinggulnya terasa longgar, tapi entah bagaimana, hanya dalam satu malam, William sudah menyulapnya menjadi sedemikian presisi. Bila ada satu hal yang bisa Lira puji dengan tulus dari William, maka itu adalah kemampuannya.
Saat Lira melangkah keluar dengan gaun itu, William menatap Lira tanpa memberikan komentar apa-apa. Sementara Ringga, hanya manggut-manggut sambil menggosok dagu. Tidak ketahuan apakah mereka berdua puas atau tidak.
“Cobalah berjalan mengitari panggung ini,” William memerintah lagi, kemudian Lira melakukannya meski hatinya menjerit jengkel.
Langkah Lira terasa canggung dan kaku. Tidak sekali dua kali dia hampir tersandung gaunnya sendiri. Ketidaknyamanannya terpancar dari gerakan tangannya yang mengayun terlalu lebar dan ekspresi wajahnya yang tegang. William menyuruhnya berhenti dan langsung mengkritik Lira habis-habisan.
Gadis itu menahan diri untuk tidak mengutuk. Sebagai gantinya, kedua tangannya mengepal erat di sisi tubuhnya. Lira kira penderitaannya akan usai sebentar lagi, tetapi ternyata setelah kritik dari William, si asisten bernama Ringga itu malah ikut-ikut ambil bagian.
“Oh, astaga! Sekadar jalan saja kau berantakan. Bahkan robot pun punya langkah yang lebih bagus darimu!” Tidak sampai sana, Ringga menghampiri Lira seraya menatapnya sengit dari atas sampai bawah. “Benar-benar kampungan. Aku heran kenapa dari sekian banyak gadis muda di luar sana, Tuan William malah memungut anak yang seperti anjing liar ini.”
Tidak tahan lagi, Lira akhirnya membalas hinaan itu, “Lebih baik menjadi anjing liar yang berkeliaran bebas dibanding jadi anjing rumahan yang cuma bisa menjilat di hadapan tuannya.” Lalu Lira menekankan kalimat akhir, “Dasar kau banci.”
Ringga menatap Lira seakan tidak habis pikir. “A-apa kau bilang?”
“Satu lagi, ternyata selain jadi banci penjilat, kau juga tuli.”
Amarah Ringga naik sampai ubun-ubun. Ditelan kalap, pemuda itu langsung mengayunkan tamparan pada Lira. Gadis itu memejamkan mata, tidak sempat mengelak. Dia pikir dia akan merasakan sengatan perih di pipinya, tetapi setelah ditunggu beberapa lama, rasa sakit itu tidak muncul.
Lira membuka mata dan mendapati William menahan pukulan Ringga.
“Beraninya kau mau memukul anak ini,” kata William. Rautnya menggelap beberapa tingkat, seakan sudah siap menerkam. “Selain jadi anjing penjilat yang tuli, kau mau menambah gelar sebagai perundung menyebalkan, ya?”
Ringga melongo ketakutan mendengar hal itu. Begitu William melepas tangannya, Ringga langsung membungkuk sambil gemetaran.
“Ma-maaf, Tuan! Saya tidak bermaksud kasar! Tadi saya hampir khilaf saja!”
Lira hanya bisa menatap pemandangan itu dengan berlapis perasaan campur aduk. Puas karena menurutnya Ringga berhak mendapatkan hukuman itu, dan senang karena William setuju dengan pendapatnya mengenai anjing penjilat. Meskipun itu tidak mengurangi kebencian Lira pada William, setidaknya untuk momen singkat tadi dia merasa seperti dipedulikan.
“Kau, anak kecil,” William tiba-tiba berceletuk. “PR-mu masih banyak. Bila dalam satu minggu kedepan kau tidak menunjukkan perubahan berarti dalam langkah dan sikapmu di panggung, aku juga akan memberimu hukuman yang pantas.”
Lira megap-megap tak tahu harus bicara apa. Mengapa dia juga terseret?
“Dan kau, Ringga.” William menuding Ringga dengan telunjuknya. “Kuberi kau tanggung jawab untuk melatihnya sampai dia layak berjalan di runway. Kalau sampai menyeleweng dari tugas ini, akan kupastikan kau menyesal sudah menghabiskan 10 tahun hidupmu menjadi bawahanku.”
Rasanya Ringga seperti terkena serangan jantung. Dia menatap Lira dengan raut pucat, perlahan-lahan menunjukkan rasa bencinya berkali lipat dari sebelumnya. Lira yang menangkap ekspresi itu tidak mengatakan apa-apa selain balas menatapnya dengan dingin.
Mulai detik ini, Lira tahu dia memiliki musuh baru untuk ditaklukkan.[]
Pencarian pun dimulai, namun hasilnya nihil.Tuan Archen mengerahkan seluruh jejaring lamanya—orang-orang yang dulu bekerja di bawah Darren, mitra bisnis bayangan, hingga relasi yang tak tercatat secara resmi. Nama Darren seolah menguap dari dunia. Tak ada alamat, tak ada jejak transaksi, bahkan orang-orang yang pernah dekat dengannya mendadak bungkam, seakan ada ketakutan kolektif yang menutup mulut mereka.Di sisi lain, William menelusuri Kemal dengan cara yang lebih sunyi.Lira menjadi penghubungnya. Ia mengingat kembali wajah-wajah lama, orang-orang yang dulu mengenal ayahnya—kenalan samar, nama yang jarang disebut, percakapan setengah bisik di masa lalu. Namun semua upaya itu berujung sama: jalan buntu. Kemal seperti sengaja menghapus dirinya sendiri dari peta.Hari demi hari berlalu, dan kegagalan itu mulai menggerogoti William.Siang itu, William duduk sendirian di ruang kerjanya. Tirai ditutup setengah, cahaya jatuh pucat di atas meja. Ia memijat pelipisnya dengan dua jari, ra
Lira terbangun perlahan, disambut cahaya pagi yang pucat menyusup dari balik tirai. Beberapa detik pertama ia hanya diam, membiarkan kesadarannya merangkai ulang potongan ingatan semalam.Lalu ia menyadari sesuatu.Di bawah selimut, tubuhnya telanjang. Kulitnya bersentuhan langsung dengan seprai yang masih hangat—dan dengan tubuh lain di sampingnya.William.Pria itu masih terlelap, napasnya teratur, wajahnya damai dengan cara yang jarang Lira lihat belakangan ini. Rambut hitamnya sedikit berantakan, alisnya rileks, seolah dunia belum menagih apa pun darinya pagi ini.Dada Lira mengencang.Potongan ingatan semalam menyeruak: dirinya yang gemetar, suara sendiri yang putus-putus saat berkata ingin menyerah, wajah William yang tidak marah—hanya lelah dan penuh kesabaran. Lalu tangan yang menuntunnya ke ranjang, suara rendah yang menenangkan, kehangatan yang membuatnya berhenti berpikir.Lira menelan ludah.Ia menatap William lama sekali. Terlalu lama.Ada sesuatu di wajah tidur itu yang
Malam itu, rumah terasa terlalu sunyi untuk ukuran sebuah rumah yang baru saja menjadi saksi pernikahan. Setelah kotak hitam berisi bangkai burung gagak itu ditemukan, Lira seperti kehilangan sebagian keberaniannya. Setiap kali ada paket datang, setiap kali pita terlihat, dadanya langsung mengencang. Ia tidak mau menyentuh apa pun. Tidak mau membuka apa pun. Hadiah-hadiah yang sebelumnya tampak berkilau kini baginya hanyalah potensi ancaman.Ia duduk di tepi ranjang kamar mereka—kamar yang kini resmi menjadi milik berdua—dengan lampu temaram dan selimut yang ditarik sampai dada. Ketika pintu terbuka dan William masuk, Lira bahkan tidak menoleh. Namun langkah kaki itu terlalu dikenalnya.William menutup pintu perlahan. Jasnya sudah dilepas, kemejanya hanya tersisa satu kancing yang terpasang. Wajahnya tegang, garis di antara alisnya semakin dalam.“Annalise sudah menceritakan semuanya,” kata William pelan.Kalimat itu menjadi pemicu. Lira langsung bangkit dan berlari ke arah William, m
Gedung tempat pernikahan itu berdiri seperti sebuah istana modern—menjulang, berlapis marmer pucat yang memantulkan cahaya sore. Langit-langitnya tinggi dengan kubah kaca raksasa, dari mana cahaya matahari jatuh lembut, menimpa altar yang dihiasi rangkaian bunga putih dan hijau pucat. Lilin-lilin kristal berjajar di sepanjang lorong, memantulkan kilau emas dari ornamen-ornamen halus yang menegaskan kemegahan tanpa kesan berlebihan. Setiap detail tampak terukur, seolah ruangan itu bernapas mengikuti irama janji yang akan diucapkan.Lira melangkah masuk dengan gaun putih elegan—potongannya bersih, jatuh mengikuti tubuhnya tanpa berteriak. Tidak ada renda berlebihan; hanya kemurnian garis dan kilau kain yang halus. Rambutnya disanggul rendah, beberapa helai dibiarkan membingkai wajahnya. Di hadapan altar, William menunggu dengan jas hitam yang terpotong rapi. Rambutnya dipangkas lebih pendek dari biasanya, keningnya tampak jelas, wajahnya tegas namun tenang—sebuah ketenangan yang hanya d
Selewat beberapa waktu, kejayaan Lira terasa menanjak dengan kecepatan yang bahkan membuat dirinya sendiri terperangah. Tawaran demi tawaran berdatangan tanpa henti—iklan produk kecantikan, pemotretan editorial, hingga undangan tampil di beberapa acara televisi. Namanya mulai dikenal bukan sekadar sebagai “model Averi”, melainkan sebagai Lira Suhita: wajah baru yang sedang bersinar.Ada kebahagiaan yang jujur setiap kali ia pulang membawa kontrak baru, setiap kali namanya disebut dengan nada kagum. Namun kebahagiaan itu terasa lengkap karena satu hal: William selalu ada di dekatnya. Ia hadir sebagai penonton pertama setiap pemotretan, sebagai pendengar setia cerita-cerita kecil Lira, dan sebagai tempat Lira pulang ketika lelahnya dunia mulai terasa berat. Dalam diamnya, William menjaga jarak dari sorotan, seolah kejayaan Lira adalah panggung yang memang seharusnya hanya milik gadis itu.Siang itu, mereka berbelanja di sebuah supermarket besar. Tanpa pengawal, tanpa asisten, hanya mere
Hampir sebulan telah berlalu sejak malam di pantai itu—malam ketika William menyatakan perasaannya kepada Lira dan menyematkan cincin di jarinya. Waktu tidak berjalan biasa sejak saat itu; ia seakan melunak, mengalir lebih hangat, dan memberi ruang bagi keduanya untuk tumbuh dalam kedekatan yang semakin nyata.Mereka terlihat semakin mesra, dan hal itu nyaris tak bisa disembunyikan. Di pagi hari, William kerap muncul di ambang pintu kamar Lira hanya untuk memastikan gadis itu sudah sarapan. Ia akan membenarkan kerah pakaian Lira dengan jari-jarinya sendiri, atau menyelipkan rambut yang jatuh ke belakang telinga Lira dengan gestur yang terlalu intim untuk ukuran rumah besar yang dipenuhi pelayan. Di ruang makan, William sering duduk terlalu dekat, lutut mereka bersentuhan, tangannya bertengger santai di sandaran kursi Lira—seolah tempat itu memang miliknya.Para pelayan menjadi saksi yang kikuk. Ada yang pura-pura sibuk membersihkan meja yang sudah bersih, ada yang memilih menunduk dan







