Beranda / Romansa / Hasrat Cinta Tuan William / 7. Menjadi Jalang Penggoda

Share

7. Menjadi Jalang Penggoda

Penulis: Dien Madaharsa
last update Terakhir Diperbarui: 2025-10-16 17:57:32

Lira mematut wajah lesunya di kaca kamar mandi sambil membuang napas berat. Disentuhnya luka goresan di pipi kirinya yang diakibatkan dari tamparan William beberapa menit lalu, selagi bertanya-tanya apa yang telah merasuki pria itu. Sikapnya berbeda. Bila di hari biasa dia selalu kasar dan bermulut tajam, tadi pagi dia malah seperti hilang akal.

Apakah jangan-jangan pria satu ini memang psikopat? 

Ah, sudahlah. Apa pun yang terjadi pada William, itu bukan urusan Lira. 

Diilhami keyakinan itu, Lira memutuskan untuk kembali tegar menghadapi nasib. Dia memutar keran untuk mencuci tangan, kemudian keluar dari kamar mandi studio. Langkahnya mendadak terhenti karena Ringga berdiri memblokir jalannya. 

“Hei,” kata Ringga, terdengar lebih lembut, tidak seperti biasanya. “Coba sini lihat wajahmu.”

Ringga mencondong sebentar pada Lira untuk memeriksa luka gores di pipinya. 

“Selain badan, wajah juga merupakan aset utama bagi seorang model. Kau tidak boleh terluka, bahkan goresan sekecil ini saja dilarang.” 

“Aku tidak berniat melukai diriku sendiri. Kau kan tahu siapa yang melakukannya.”

Ringga menjauhkan sentuhannya di wajah Lira. Ekspresinya mengatakan bahwa dia sudah tahu dan bisa menebak asal-usul semua kekacauan ini. Lira pikir, kali ini Ringga akan kembali memarahinya karena telah bersikap lancang di hadapan William. Akan tetapi, pemuda satu itu malah membuang napas dan mengendurkan bahunya. 

“Kita obati dulu luka di pipimu. Ayo ikut.”

Aneh. Lira mulanya menganggap Ringga sebagai musuh ketiga dalam hidupnya setelah ayahnya sendiri dan juga William. Namun ternyata dugaan itu pupus tatkala Ringga mengajak Lira duduk di tepi air mancur taman, menyuruhnya diam sebentar sementara Ringga membubuhi luka Lira dengan salep. 

“Untung aku bawa salep ini setiap hari. Ini ampuh untuk menyembuhkan dan memulihkan luka di kulit,” kata Ringga. 

“Kau bawa itu untuk jaga-jaga kalau suatu saat Tuan William memukul wajahmu, ya?”

Ringga tertawa. “Tidak juga. Ini memang kebiasaanku sejak dulu.” 

Lira tersenyum tipis. Ringga kemudian berceletuk lagi, “Omong-omong, terima kasih.” 

“Untuk?” 

“Karena sudah membelaku di hadapan Tuan William.” Kali ini ketulusan Ringga terpancar jelas di wajahnya yang biasanya cemberut. Lira yang menyadari hal itu ikut nyengir, tidak menyangka bahwa Ringga bisa juga mengucapkan terima kasih kepadanya. 

“Aku tidak membelamu. Aku hanya sebal saja dengan sikapnya yang seenaknya itu,” ujar Lira. 

“Tapi kau sungguh berani, tahu tidak? Selama ini belum ada orang yang nekat menyembur Tuan William seperti itu. Kau satu-satunya!”

Lira tertawa. “Masa sih? Dia pasti pernah dibentak orang tua sendiri. Tidak mungkin dia bersikap kasar kalau sendirinya tidak pernah dikasari.”

“Oh, ya? Kau bicara seolah-olah kau sendiri punya pengalaman sama!”

Lira tidak menjawab, tetapi dalam hatinya, dia mengiyakan komentar Ringga. 

“Omong-omong,” kata Ringga, “lain kali jangan terlalu mencari gara-gara di hadapan Tuan William. Kalau suatu ketika dia kelepasan lagi, bukan mustahil kau dapat luka yang lebih parah.”

Lira mengembuskan napas. “Melihat sifat iblisnya, kurasa aku punya julukan yang tepat untuknya.” 

Ringga menaikkan alis penasaran. “Apa?” 

Kemudian Lira mencondong di telinga Ringga dan membisikkan pikirannya, “Anjing gila.”

Ringga tergelak sampai melempar kepalanya ke belakang. Lira juga tertawa tak kalah heboh. Mendadak saja, mereka berdua melupakan hubungan permusuhan yang sebelum ini bergelora. 

“Astaga, harus kuakui, julukan itu cocok juga. Kau anjing liar, dan dia anjing gila.” 

“Yang benar saja? Aku tidak suka dipanggil anjing liar, tahu!”

Ringga tertawa selagi memutar tutup salep di tangganya. Baru saja dia ingin melemparkan candaan lain kepada Lira, tiba-tiba dia mematung, lalu dengan cepat berdiri.

“Tu-tuan William!” 

Panggilan itu membuat Lira ikut membeku, lalu dengan cepat menoleh. Dia terkejut saat mendapati ekspresi William sangat gelap dan … seakan begitu marah.

Gawat … apa jangan-jangan pria itu mendengar perbincangannya tadi bersama Ringga?

Tapi kemudian, ekspresi Lira berubah kecut. Jelas-jelas dia yang terkena tamparan, kenapa dia harus takut kepada William? Pria itu memang anjing gila, ‘kan!?

Di saat ini, Ringga menyadari sikap Lira yang terkesan menantang. Dengan frustrasi, Ringga mengulurkan tangannya ke puncak kepala Lira lalu memaksa gadis itu agar ikut menunduk. 

“Ma-maaf, Tuan! Kami tidak bermaksud―”

“Apa yang sedang kalian lakukan di sini?”

“Eh?” 

Ringga mendongak lagi, menyelidiki raut wajah William yang sekarang berubah datar. Rupanya, tuan besar satu ini tidak mendengar obrolan barusan.

“Ka-kami hanya mengobrol saja, Tuan.”

“Pergi.”

“Hah? Bagaimana Tuan?” Jantung Ringga berdegup. Apa dia dipecat?

Kemudian William menghardik tanpa ampun, “Kalau kau masih mau menikmati bekerja sebagai asisten, turuti perintahku sekarang juga; pergi dari rumah ini. Sekarang!”

“B-BAIK, TUAN!” Kalang-kabut, Ringga menyingkir dari air mancur taman. Saking paniknya dia tidak sempat mengucapkan pamit kepada Lira di sampingnya. 

Setelah kepergian Ringga, kini tinggal Lira dan William saja. 

Kebenciannya terhadap sang tuan besar masih membengkak, sehingga gadis itu tidak repot-repot menyembunyikan raut penyesalan dan pemujaan seperti yang dilakukan Ringga tadi. Sebagai gantinya, Lira memberikan tampang provokatif seakan hendak mengajak perang.

“Kemari kau,” perintah William.

Harusnya Lira mengabaikan perintahnya. Harusnya begitu. Tapi―sialan, kenapa kakinya malah maju dengan sendirinya? 

Lira bertanya dengan nada lirih. “Ada apa?”

“Kau tidak berhak melakukan itu di hadapanku.”

Kening Lira mengernyit. “Apa maksud Tuan?”

Nyaris seketika, William mencengkeram lengan kanannya dengan erat sampai-sampai Lira menjerit kesakitan. 

“Le-lepaskan!”

“Aku mengharapkan kau merenungi perbuatanmu karena kesalahan di studio tadi, tapi apa yang kau lakukan? Bermain mata dan cekikikan girang dengan asisten tidak tahu diri itu? Sudah berani menjadi jalang penggoda, rupanya?”

“Apa? Saya tidak bermaksud seperti itu―aakhh! Lepaskan dulu, Tuan! Sakit!”

“Kau harus mengerti posisimu. Apakah kau lupa siapa tuan di rumah ini?”

Mengabaikan seruan kesakitan Lira, William menyeret gadis itu ke sebuah rumah kaca yang terletak tidak jauh dari air mancur taman. Lira berusaha melepaskan cengkeramannya, tetapi tenaga William terlampau kuat. Gadis itu memekik saat William membanting tubuhnya ke dinding kaca. 

“Makhluk kecil kurang ajar,” William menahan kedua pundak Lira di dinding. Suaranya sedingin lautan yang membeku. “Apa kau tidak ingat apa yang sering kukatakan kepadamu berulang-ulang?” 

Jantung Lira berdegup karena rasa takut yang meradang. Dia menatap William dan berbicara lirih, “Tuan, ini salah paham … saya tidak bermaksud seperti itu!”

Kemudian William mencengkeram leher Lira, setengah mencekiknya. Gadis itu tersentak, berusaha memberontak, tetapi William malah semakin menahan lehernya. 

“Jangan tampakkan senyummu itu kepada orang selain aku.”

Lira merengek sambil menggeleng. 

“Sakit, Tuan … tolong lepas ….”

“Kau milikku, sekali lagi kukatakan padamu,” kata William, menekan telinga Lira dengan bibirnya. “Sekarang akan kuberitahu apa artinya menjadi milikku.”

Kemudian Lira merasakan jarak di antara mereka terpangkas sepenuhnya. Aroma parfum William dan hangat napasnya berbaur dalam mulut Lira yang dipaksa membuka.[]

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Hasrat Cinta Tuan William   99. Memancing Darren Datang

    Pencarian pun dimulai, namun hasilnya nihil.Tuan Archen mengerahkan seluruh jejaring lamanya—orang-orang yang dulu bekerja di bawah Darren, mitra bisnis bayangan, hingga relasi yang tak tercatat secara resmi. Nama Darren seolah menguap dari dunia. Tak ada alamat, tak ada jejak transaksi, bahkan orang-orang yang pernah dekat dengannya mendadak bungkam, seakan ada ketakutan kolektif yang menutup mulut mereka.Di sisi lain, William menelusuri Kemal dengan cara yang lebih sunyi.Lira menjadi penghubungnya. Ia mengingat kembali wajah-wajah lama, orang-orang yang dulu mengenal ayahnya—kenalan samar, nama yang jarang disebut, percakapan setengah bisik di masa lalu. Namun semua upaya itu berujung sama: jalan buntu. Kemal seperti sengaja menghapus dirinya sendiri dari peta.Hari demi hari berlalu, dan kegagalan itu mulai menggerogoti William.Siang itu, William duduk sendirian di ruang kerjanya. Tirai ditutup setengah, cahaya jatuh pucat di atas meja. Ia memijat pelipisnya dengan dua jari, ra

  • Hasrat Cinta Tuan William   98. Rencana Akhir

    Lira terbangun perlahan, disambut cahaya pagi yang pucat menyusup dari balik tirai. Beberapa detik pertama ia hanya diam, membiarkan kesadarannya merangkai ulang potongan ingatan semalam.Lalu ia menyadari sesuatu.Di bawah selimut, tubuhnya telanjang. Kulitnya bersentuhan langsung dengan seprai yang masih hangat—dan dengan tubuh lain di sampingnya.William.Pria itu masih terlelap, napasnya teratur, wajahnya damai dengan cara yang jarang Lira lihat belakangan ini. Rambut hitamnya sedikit berantakan, alisnya rileks, seolah dunia belum menagih apa pun darinya pagi ini.Dada Lira mengencang.Potongan ingatan semalam menyeruak: dirinya yang gemetar, suara sendiri yang putus-putus saat berkata ingin menyerah, wajah William yang tidak marah—hanya lelah dan penuh kesabaran. Lalu tangan yang menuntunnya ke ranjang, suara rendah yang menenangkan, kehangatan yang membuatnya berhenti berpikir.Lira menelan ludah.Ia menatap William lama sekali. Terlalu lama.Ada sesuatu di wajah tidur itu yang

  • Hasrat Cinta Tuan William   97. Segalanya Hancur Perlahan

    Malam itu, rumah terasa terlalu sunyi untuk ukuran sebuah rumah yang baru saja menjadi saksi pernikahan. Setelah kotak hitam berisi bangkai burung gagak itu ditemukan, Lira seperti kehilangan sebagian keberaniannya. Setiap kali ada paket datang, setiap kali pita terlihat, dadanya langsung mengencang. Ia tidak mau menyentuh apa pun. Tidak mau membuka apa pun. Hadiah-hadiah yang sebelumnya tampak berkilau kini baginya hanyalah potensi ancaman.Ia duduk di tepi ranjang kamar mereka—kamar yang kini resmi menjadi milik berdua—dengan lampu temaram dan selimut yang ditarik sampai dada. Ketika pintu terbuka dan William masuk, Lira bahkan tidak menoleh. Namun langkah kaki itu terlalu dikenalnya.William menutup pintu perlahan. Jasnya sudah dilepas, kemejanya hanya tersisa satu kancing yang terpasang. Wajahnya tegang, garis di antara alisnya semakin dalam.“Annalise sudah menceritakan semuanya,” kata William pelan.Kalimat itu menjadi pemicu. Lira langsung bangkit dan berlari ke arah William, m

  • Hasrat Cinta Tuan William   96. Kotak Hitam Misterius

    Gedung tempat pernikahan itu berdiri seperti sebuah istana modern—menjulang, berlapis marmer pucat yang memantulkan cahaya sore. Langit-langitnya tinggi dengan kubah kaca raksasa, dari mana cahaya matahari jatuh lembut, menimpa altar yang dihiasi rangkaian bunga putih dan hijau pucat. Lilin-lilin kristal berjajar di sepanjang lorong, memantulkan kilau emas dari ornamen-ornamen halus yang menegaskan kemegahan tanpa kesan berlebihan. Setiap detail tampak terukur, seolah ruangan itu bernapas mengikuti irama janji yang akan diucapkan.Lira melangkah masuk dengan gaun putih elegan—potongannya bersih, jatuh mengikuti tubuhnya tanpa berteriak. Tidak ada renda berlebihan; hanya kemurnian garis dan kilau kain yang halus. Rambutnya disanggul rendah, beberapa helai dibiarkan membingkai wajahnya. Di hadapan altar, William menunggu dengan jas hitam yang terpotong rapi. Rambutnya dipangkas lebih pendek dari biasanya, keningnya tampak jelas, wajahnya tegas namun tenang—sebuah ketenangan yang hanya d

  • Hasrat Cinta Tuan William   95. Aku Ingin Menikah Padamu Saat Ini Juga

    Selewat beberapa waktu, kejayaan Lira terasa menanjak dengan kecepatan yang bahkan membuat dirinya sendiri terperangah. Tawaran demi tawaran berdatangan tanpa henti—iklan produk kecantikan, pemotretan editorial, hingga undangan tampil di beberapa acara televisi. Namanya mulai dikenal bukan sekadar sebagai “model Averi”, melainkan sebagai Lira Suhita: wajah baru yang sedang bersinar.Ada kebahagiaan yang jujur setiap kali ia pulang membawa kontrak baru, setiap kali namanya disebut dengan nada kagum. Namun kebahagiaan itu terasa lengkap karena satu hal: William selalu ada di dekatnya. Ia hadir sebagai penonton pertama setiap pemotretan, sebagai pendengar setia cerita-cerita kecil Lira, dan sebagai tempat Lira pulang ketika lelahnya dunia mulai terasa berat. Dalam diamnya, William menjaga jarak dari sorotan, seolah kejayaan Lira adalah panggung yang memang seharusnya hanya milik gadis itu.Siang itu, mereka berbelanja di sebuah supermarket besar. Tanpa pengawal, tanpa asisten, hanya mere

  • Hasrat Cinta Tuan William   94. Bayangan Darren yang Tak Lenyap

    Hampir sebulan telah berlalu sejak malam di pantai itu—malam ketika William menyatakan perasaannya kepada Lira dan menyematkan cincin di jarinya. Waktu tidak berjalan biasa sejak saat itu; ia seakan melunak, mengalir lebih hangat, dan memberi ruang bagi keduanya untuk tumbuh dalam kedekatan yang semakin nyata.Mereka terlihat semakin mesra, dan hal itu nyaris tak bisa disembunyikan. Di pagi hari, William kerap muncul di ambang pintu kamar Lira hanya untuk memastikan gadis itu sudah sarapan. Ia akan membenarkan kerah pakaian Lira dengan jari-jarinya sendiri, atau menyelipkan rambut yang jatuh ke belakang telinga Lira dengan gestur yang terlalu intim untuk ukuran rumah besar yang dipenuhi pelayan. Di ruang makan, William sering duduk terlalu dekat, lutut mereka bersentuhan, tangannya bertengger santai di sandaran kursi Lira—seolah tempat itu memang miliknya.Para pelayan menjadi saksi yang kikuk. Ada yang pura-pura sibuk membersihkan meja yang sudah bersih, ada yang memilih menunduk dan

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status