Beranda / Romansa / Hasrat Kakak Tiri / 48. Rahasia Ibunya Shana

Share

48. Rahasia Ibunya Shana

last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-09 10:04:10

Sore itu turun perlahan di balkon rumah besar yang berdiri tenang di balik pagar tinggi. Rumah itu bukan rumah yang berisik. Tidak ada tawa berlebih, tidak ada percakapan panjang tanpa tujuan. Segalanya tertata, terlalu tertata seperti kehidupan yang sejak lama diputuskan untuk tidak memberi ruang pada kejutan.

Ibu Shana duduk sendiri di kursi kayu panjang, menghadap halaman belakang yang luas. Rumputnya dipotong rapi, pot-pot bunga berjajar simetris, dan pohon kamboja di sudut halaman berdiri seperti saksi bisu yang terlalu sering melihat rahasia manusia.

Di pangkuannya, secangkir teh melati mengepul tipis. Ia tidak benar-benar berniat meminumnya. Tangannya hanya ingin sesuatu untuk digenggam, agar pikirannya tidak melayang terlalu jauh.

Angin sore menyentuh kulit lengannya. Tidak dingin, tapi cukup untuk mengingatkannya bahwa tubuhnya tidak lagi bekerja seperti dulu.

Ia menghela napas perlahan.

Menopause.

Kata itu tidak pernah keluar dari mulutnya. Bahkan dalam pikirannya pun jarang
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Hasrat Kakak Tiri   49. Ada Apa dengan Ibunya Shana

    Baik. Kita lanjut tanpa ringkasan, tanpa kesimpulan, tanpa menggurui. Mengalir, gelap, dan menggantung.Foto itu jatuh di atas meja dengan suara yang nyaris tak terdengar. Kertasnya sudah menguning, sudutnya melengkung seperti pernah terlalu lama disimpan di saku mantel. Wajah perempuan di dalamnya buram oleh waktu, tapi tidak oleh ingatan.Ibu Shana tahu wajah itu.Bukan karena ia sering melihatnya belakangan ini—melainkan karena ia telah berusaha keras melupakannya selama bertahun-tahun.Dadanya mengencang. Tenggorokannya seperti mengeras, seolah tubuhnya bereaksi lebih cepat daripada pikirannya. Ia tidak menarik napas dalam-dalam. Ia tidak bersuara. Ia hanya mematung, menatap foto itu seperti seseorang yang tiba-tiba berhadapan dengan cermin lama yang retaknya ia kenali satu per satu.Perempuan dalam foto itu tersenyum lemah. Rambutnya disisir rapi, matanya cekung namun masih lembut. Senyum orang yang tahu hidupnya tidak panjang, tapi belum siap menyerah.Mendiang istri pertama sua

  • Hasrat Kakak Tiri   48. Rahasia Ibunya Shana

    Sore itu turun perlahan di balkon rumah besar yang berdiri tenang di balik pagar tinggi. Rumah itu bukan rumah yang berisik. Tidak ada tawa berlebih, tidak ada percakapan panjang tanpa tujuan. Segalanya tertata, terlalu tertata seperti kehidupan yang sejak lama diputuskan untuk tidak memberi ruang pada kejutan.Ibu Shana duduk sendiri di kursi kayu panjang, menghadap halaman belakang yang luas. Rumputnya dipotong rapi, pot-pot bunga berjajar simetris, dan pohon kamboja di sudut halaman berdiri seperti saksi bisu yang terlalu sering melihat rahasia manusia.Di pangkuannya, secangkir teh melati mengepul tipis. Ia tidak benar-benar berniat meminumnya. Tangannya hanya ingin sesuatu untuk digenggam, agar pikirannya tidak melayang terlalu jauh.Angin sore menyentuh kulit lengannya. Tidak dingin, tapi cukup untuk mengingatkannya bahwa tubuhnya tidak lagi bekerja seperti dulu.Ia menghela napas perlahan.Menopause.Kata itu tidak pernah keluar dari mulutnya. Bahkan dalam pikirannya pun jarang

  • Hasrat Kakak Tiri   47. Bertubi Tubi

    Telepon itu terasa lebih berat daripada seharusnya.Shana duduk di tepi ranjang, punggungnya bersandar ke dinding, jari-jarinya mencengkeram ponsel seperti sedang memegang sesuatu yang rapuh. Kipas angin di sudut kamar berputar malas. Cahaya siang menembus tirai tipis, jatuh tepat di lantai—terang, jujur, dan sama sekali tidak peduli pada kekacauan di kepala Shana.“Cerita tentang siapa?” ulang Shana, suaranya tenang, terlalu tenang.Di seberang sana, Rika menghela napas. Bukan napas gugup. Lebih seperti seseorang yang sudah lama memutuskan, dan akhirnya menekan tombol kirim.“Arion.”Nama itu menggantung di udara beberapa detik, seperti debu yang enggan jatuh.Shana tidak langsung menjawab. Ia berdiri, berjalan ke jendela, menyingkap tirai sedikit. Siang di luar terlihat normal—orang lewat, motor melintas, dunia tidak berhenti hanya karena satu nama disebutkan.“Aku dengar,” kata Shana akhirnya, “tapi aku nggak janji mau percaya.”“Itu adil,” jawab Rika cepat. “Aku juga nggak minta k

  • Hasrat Kakak Tiri   Di Kamar ahotel

    Arka menarik tirai jendela perlahan. Kain berat itu bergeser, menutup pemandangan gedung-gedung pencakar langit yang berkelap-kelip seperti sirkuit elektronik yang tak pernah tidur. Kota di luar menghilang, menyisakan pantulan samar lampu kamar di kaca—seperti dunia yang sengaja dipadamkan setengah hati. Di pantulan itu, ia melihat bayangannya sendiri: seorang pria yang selama ini membangun benteng begitu tinggi hingga ia sendiri lupa cara untuk keluar.Luna berdiri beberapa langkah di belakangnya. Ia tidak menyentuh. Tidak mendesak. Ia hanya hadir sebagai jangkar di tengah badai diam yang berkecamuk di kepala Arka. Kehadirannya tidak terasa seperti tuntutan, melainkan seperti sebuah undangan yang terbuka.“Kita bisa berhenti,” kata Luna pelan. Suaranya tidak mengandung keraguan, juga bukan sebuah tawaran terakhir yang penuh ancaman. Itu terdengar lebih seperti pengingat bahwa pintu di belakang mereka masih ada, tidak terkunci, dan Arka memegang kuncinya.Arka tidak langsung berbalik.

  • Hasrat Kakak Tiri   45. Arka dan Luna

    Lampu neon berkedip seperti denyut nadi yang kelelahan—dan Arka duduk tepat di tengahnya, tersenyum pada dunia yang tidak pernah ia anggap suci.“Minum?”Perempuan di sebelahnya mengangkat gelas, bibirnya mengilap oleh lampu biru-ungu pub. Namanya Luna—atau setidaknya itu nama yang ia pilih malam ini. Rambutnya jatuh malas di bahu, gaunnya terlalu tipis untuk cuaca, terlalu pas untuk niat.“Minum,” jawab Arka, menyentuhkan gelas tanpa melihat. Matanya tertuju ke layar ponsel di atas meja—mati. Tidak ada notifikasi. Belum.Musik berdentum. Bass menghajar dada. Di sini, semua suara terasa aman karena tak ada yang sungguh-sungguh mendengar.“Lo kelihatan nggak fokus,” kata Luna sambil mencondongkan tubuh. “Ada yang kepikiran?”Arka tertawa pendek. “Kebiasaan.”“Kebiasaan cowok-cowok kayak lo?” Luna menaikkan alis. “Datang ke pub, bawa masalah, pulang ninggalin jejak?”Arka akhirnya menoleh. Senyumnya tipis. “Gue nggak ninggalin jejak.”“Semua orang ninggalin,” Luna meneguk minumnya. “Cum

  • Hasrat Kakak Tiri   44. Serpihan Kebenaran

    Tidak ada yang lebih melelahkan daripada pura-pura tidak menunggu, ketika jantungmu sudah tahu siapa yang berdiri di balik pintu.Tok. Tok. Tok.Shana menatap gagang pintu kamarnya seolah benda logam itu bisa membakar kulitnya. Suara ketukan itu tidak keras, bahkan cenderung ragu—dan justru keraguan itu yang terasa menyakitkan. Arion yang biasanya penuh kendali kini terdengar goyah.“Shana?” Suara Arion sedikit pecah, ada sisa serak yang ia coba sembunyikan. “Boleh aku masuk? Aku nggak bisa membiarkan ini menggantung sampai pagi.”Shana berdiri, jemarinya meremas pinggiran sweternya yang mulai longgar. Ia tidak takut pada kemarahan Arion. Ia takut pada kejujuran yang mungkin akan menghancurkan citra "kakak" yang selama ini ia peluk erat sebagai pelindung.“Masuk, Kak,” jawabnya, berusaha menjaga suaranya tetap stabil meskipun dadanya berdenyut.Pintu terbuka pelan. Arion tidak langsung masuk sepenuhnya. Ia berdiri di ambang pintu, bahunya merosot—tampak lebih tua dan lebih lelah dari

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status