เข้าสู่ระบบSenyum Tante Mira masih mengembang.“Ada banyak cara,” gumamnya. “Asal tahu harus mulai dari mana.”Ia memasukkan ponsel ke dalam tas dan bangkit dari kursi.Dalam perjalanan menuju pintu keluar, Tante Mira tidak lagi memikirkan bagaimana Roy memandangnya atau bagaimana Rina akan bereaksi jika mengetahui pertemuan ini.Yang ada di pikirannya hanya satu: hadiah besar yang menunggunya jika pernikahan itu terlaksana.Apa pun caranya.Di dalam mobil yang terparkir tidak jauh dari restoran, pria berkemeja gelap itu mengeluarkan ponselnya.Ia memilih sebuah nomor yang tersimpan tanpa nama.Panggilan tersambung.“Bagaimana?” tanya suara laki-laki dari seberang.“Bu Mira bersedia melanjutkan usahanya.”“Apakah dia memahami apa yang harus dilakukan?”“Sudah saya jelaskan. Dia tahu pernikahan Arion dan Alena harus terlaksana.”“Bagus.”Pria itu melirik ke arah restoran melalui kaca depan.“Namun, keluarga Roy tidak semudah yang kita perkirakan. Roy tidak ingin memaksakan pernikahan, sementara A
Tante Mira melirik jam tangannya untuk ketiga kalinya.Restoran itu tidak terlalu ramai. Musik instrumental mengalun pelan, sesekali bercampur dengan suara percakapan dari meja-meja di sekitarnya. Di hadapannya, secangkir teh yang dipesan hampir dua puluh menit lalu mulai kehilangan uapnya.Ia tidak datang untuk menikmati makanan atau mencari suasana tenang.Ada seseorang yang harus ditemuinya.Ponselnya bergetar.Sebuah pesan singkat masuk.Saya sudah sampai. Meja paling belakang.Tante Mira segera merapikan tasnya, kemudian bangkit dan berjalan menuju bagian restoran yang lebih sepi.Seorang pria berpakaian kemeja gelap duduk membelakanginya. Usianya mungkin sekitar empat puluh tahun. Di atas meja, hanya ada segelas air mineral dan sebuah ponsel.Pria itu menoleh ketika Tante Mira mendekat.“Silakan duduk, Bu.”Tante Mira menarik kursi di hadapannya.“Maaf, saya terlambat sedikit.”“Tidak masalah.”Pria itu tersenyum tipis, tetapi tatapannya tidak menunjukkan keramahan yang sama.“B
Malam itu, Arion baru saja menuntaskan rentetan tugas kuliahnya.Ponsel di atas meja mendadak bergetar pelan.Nama Arka tertera di layar.Arion melirik jam dinding sesaat, lalu mengangkat panggilan itu.“Tumben banget menelepon malam-malam. Ada masalah apa?”“Memangnya aku harus punya masalah dulu baru boleh meneleponmu, hah?”“Biasanya sih begitu.”Arka terkekeh renyah dari seberang sana.“Wah, persahabatan kita ternyata menyedihkan sekali ya.”“Kalau cuma mau mengeluh nggak jelas, aku tutup teleponnya.”“Eh, jangan! Aku serius.”Nada suara Arka mendadak berubah.Tidak sepenuhnya berat, tapi cukup kontras untuk membuat Arion mengalihkan atensinya sepenuhnya dari layar laptop.“Ada apa?” tanya Arion serius.Arka tidak langsung menjawab.Di tempatnya, ia duduk bersandar pada sofa, mendekatkan ponsel erat ke telinga.Sejak berpisah dari kafe bersama Alena sore tadi, ribuan pikiran terus berputar liar di kepalanya.Ia sudah blak-blakan membuka isi hatinya pada perempuan itu.Namun, ia be
Shana menatap layar ponselnya lekat-lekat.Pesan terakhir dari nomor asing itu masih terpampang jelas di sana.Jangan beri tahu Arion dulu. Masalah ini tidak ada hubungannya dengan dia.“Memangnya kamu siapa, main melarang-larang begitu?” gumamnya kesal.Ia sempat berniat membalas dengan rentetan pertanyaan tajam.Namun, urung ia lakukan.Orang itu bahkan tidak menjawab pesannya yang sebelumnya. Mengirim chat lagi hanya buang-buang waktu dan tenaga.Shana akhirnya beralih membuka kembali foto sang ayah.Roy tampak berdiri di dekat mobil, tertangkap kamera dari kejauhan.Tidak ada yang aneh dari potret itu.Kecuali satu fakta: seseorang telah mengambil gambarnya tanpa izin dan sepengetahuan Roy.Shana memperbesar gambar tersebut. Berharap ia bisa menemukan secuil petunjuk tentang di mana foto itu diambil.Sayang sekali, resolusinya tidak cukup tajam untuk membantunya.Ia kembali mencoba menghubungi ayahnya.Tidak diangkat.Shana mengembuskan napas berat, lalu membiarkan tubuhnya ambruk
Shana mengetik balasan. Jarinya berhenti di atas papan ketik.Ada terlalu banyak tanya. Sampai ia sendiri bingung harus mulai dari mana.Ia menatap layar ponsel. Mulutnya sedikit terbuka.“Uangku...?”Malam yang sepi mendadak riuh oleh tanda tanya.Ia kembali membaca pesan dari ayahnya.Oh ya, Na. Uang yang Ayah kirim tadi itu baru sebagian kecil dari uangmu.Sebagian kecil?Shana menghitung jumlah yang baru masuk. Lalu membayangkan angka itu dikali sekian kali.Keningnya berkerut.“Ya ampun. Jangan-jangan aku salah baca.”Ia buka aplikasi perbankan. Mengecek saldo. Menutupnya. Membukanya lagi.Angkanya sama persis.Shana mengusap wajah.“Ini sebenarnya apa, sih?”Ia mengetik pesan.Shana: Yah, maksudnya uang Shana? Sejak kapan Shana punya uang sebanyak ini?Pesan terkirim.Belum semenit, Roy membalas.Roy: Memangnya selama ini kamu pikir Ayah bekerja hanya untuk makan sendiri?Shana mengerucutkan bibir.Shana: Bukan begitu. Tapi Ayah tidak pernah bilang punya uang khusus buat Shana.
Shana mengusap layar, memeriksa siapa nama pengirimnya.Begitu melihat nama yang tertera, kedua alisnya langsung terangkat.Roy.Ayahnya sendiri.“Lho, Ayah transfer uang?”Shana memeriksa nominalnya sekali lagi. Angka yang tertera membuatnya mengerutkan kening. Jumlah itu terlalu besar untuk sekadar uang jajan atau kiriman biasa.Tanpa berpikir panjang, ia langsung menekan nama Roy di daftar kontak.Panggilan tersambung setelah beberapa dering.“Halo, Yah?”“Kenapa, Na?”Shana masih menatap layar ponselnya, seolah berharap nominal transfer tadi berubah dengan sendirinya.“Ayah baru saja transfer uang ke rekening Shana?”“Iya.”“Sebanyak ini?”Roy tertawa kecil di seberang sana.“Memangnya kenapa? Kurang?”“Bukan kurang!” Shana spontan meninggikan suara. “Justru kebanyakan! Ayah tiba-tiba mengirim uang sebanyak ini untuk apa?”“Memangnya seorang ayah harus punya alasan khusus kalau ingin mengirim uang kepada anaknya?”Shana terdiam sesaat.“Ya, tidak juga. Tapi biasanya Ayah bilang du







