MasukTentu, ini adalah pembaruan narasi yang lebih humanis—memperdalam emosi dan sensasi fisik Roy—namun tetap mempertahankan gaya penulisanmu yang mengalir per baris dan penuh penekanan.Bab SelanjutnyaPOV: RoyRoy berdiri kaku di tengah dek kapal tongkang itu.Angin laut berembus tanpa ampun, membawa aroma garam yang tajam, menusuk paru-parunya hingga terasa perih.Tangannya mengepal kuat.Bukan sekadar amarah yang membakar di sana.Tapi ada rasa sesak karena ia sadar—setiap detik yang terbuang di sini, jaraknya dengan satu-satunya alasan ia bernapas semakin membentang jauh.Laras.Dan bayi kecil yang bahkan belum sempat ia beri nama dengan suaranya sendiri.“Gue kasih waktu buat lo mikir,” ujar pria di depannya, nadanya begitu santai.Sebuah ketenangan yang terasa mual di tengah situasi antara hidup dan mati.Roy tidak menyahut.Tatapannya lurus ke depan, namun jiwanya sudah terbang jauh melintasi samudera.Kembali ke rumah kecil itu.Ke lampu teras yang pernah ia lihat padam dari keja
Sisil menarik napas panjang dan pelan.Membiarkan keheningan menggantung sejenak.Seolah sedang menimbang berat kata-kata yang akan meluncur.Matanya bergerak tenang, berpindah dari Arion ke Shana,Sorot matanya seperti mencari sesuatu di wajah mereka.Gerakannya tidak terburu-buru, Meski ada ketegasan yang tak tergoyahkan di sana.“Kalian sadar nggak sih…” ucapnya akhirnya, suaranya lebih rendah dari biasanya.“Semakin kalian cari tahu, semakin kalian masuk lebih dalam.”Tidak ada yang langsung menyela.Sisil melanjutkan.“Dan ini bukan cuma soal masa lalu seseorang.”IIa menatap lurus ke depan, terpaku pada binar cahaya yang memancar dari lobby apartemen.Terangnya lampu di sana seolah menelanjangi keraguannya, “IMenurutku sih, ini soal sesuatu yang sengaja disembunyikan.”Shana mengerutkan dahi.“Kamu tahu sesuatu?” tanyanya tajam.Sisil tersenyum tipis.Senyum yang tidak sepenuhnya bisa dibaca.“Aku tahu cukup untuk bilang… ini nggak sesederhana yang kalian kira.”Arion bersandar
Arion mengernyit pelan, mencoba menyusun potongan informasi yang terdengar terlalu kebetulan untuk diabaikan.“Jenis apa mobilnya ?” tanyanya tanpa menoleh. Masih terkesan dingin.Arka terlihat berpikir sebentar, seperti mengingat ulang kejadian yang masih segar di kepalanya.“Hitam. SUV. Nggak terlalu baru, tapi juga nggak tua,” jawabnya.Arion tidak langsung merespons.Tangannya masih bertumpu di setir.Namun pikirannya sudah berjalan ke arah lain.Shana membuka mata perlahan dari kursi belakang.“Kenapa?” tanyanya pelan.Arion menggeleng tipis.“Cuma… cocokologi.”Sisil mendengus.“Itu biasanya awal dari masalah baru, kan?”Petugas menyelesaikan pengisian bensin.Arion mengangguk kecil, lalu merogoh dompetnya.Di samping, Arka masih berdiri.Kali ini tidak sepenuhnya menghindar.Seolah merasa situasinya sudah cukup aman untuk berdiri tanpa harus pura-pura sibuk.“Om-nya agak aneh sih, menurutku” lanjut Arka tiba-tiba, nada suaranya lebih rendah.Arion melirik.“Aneh gimana?”Arka m
Jalanan malam masih terasa begitu padat saat mobil meluncur membelah kota.Deretan ruko di sisi jalan nampak sangat hidup dengan cahaya lampu neon.Pengunjung berlalu-lalang di trotoar menciptakan suasana yang riuh rendah.Lampu jalanan memantul di kaca depan mobil seperti garis cahaya yang berlarian.Sisil terus bicara tanpa henti tentang banyak hal kecil yang tidak penting.Celotehannya mengisi ruang kabin yang sebenarnya terasa cukup hampa malam ini.Shana lebih banyak memilih untuk diam membisu di kursi penumpang belakang.Namun keheningan Shana kali ini terasa sangat berbeda dari biasanya.Ada aura berat yang terpancar dari ekspresi wajahnya yang nampak kosong.Ia terlihat seperti seseorang yang sedang sibuk memilah benang kusut di kepalanya.Pandangan Arion jatuh pada jarum bensin di dashboard yang hampir menyentuh batas.Tanpa membuang waktu ia segera menyalakan lampu sein ke arah kiri.“Kita mampir sebentar. Isi bensin,” ucap Arion tenang.Sisil menoleh dengan senyum tipis yan
Ruang tamu rumah itu masih menyimpan sisa ketegangan yang belum benar-benar turun.Lampu utama menyala terang, tak mampu mengubah suasana yang masih terasa redup.Bukan karena kurang cahaya.Hanya saja terlalu banyak hal yang belum selesai dibicarakan.Ayah Arion duduk di kursi tunggal dekat meja kecil.Sikapnya tetap tenang seperti biasa, meski wajahnya tampak lebih lelah dari sebelumnya.Di sampingnya, Sisil duduk menyilangkan kaki sambil memainkan ujung tas kecilnya.Ia terlihat santai.Tapi matanya terus bergerak, membaca suasana seperti orang yang tahu kapan harus bercanda dan kapan harus diam.Laras duduk tegak di sofa panjang.Tangannya bertumpu di pangkuan.Ekspresinya datar.Namun Shana tahu ibunya sedang menahan banyak hal di balik wajah setenang itu.Arion berdiri dekat rak buku.Tidak duduk.Hanya diam.Ia hanya berada di sana, seperti seseorang yang sedang mencari posisi paling aman di ruangan yang terasa salah baginya.Shana sendiri memilih duduk di ujung sofa, sedikit
“Roy!”Suara Rina menyambar tajam di tengah kesunyian kabin.Suara itu tidak berteriak, namun sanggup merobek selaput lamunan yang membungkus kepala Roy.Roy tersentak, jemarinya refleks mencengkeram lingkar setir dengan lebih erat.Pupil matanya yang tadi mengecil kini kembali melebar, mencoba menangkap cahaya.Dunia yang tadinya tampak seperti lukisan cat air yang luntur perlahan kembali memiliki garis tegas.Aspal hitam di bawah sorot lampu depan tampak berkilat terkena sisa hujan.Garis putih pembatas jalan terlihat seperti jahitan yang tak terputus.Lampu merah di persimpangan jauh sana tampak seperti mata iblis yang mengawasi.Sebuah motor melesat di sisi kanan, meninggalkan deru knalpot yang memekakkan telinga.Realita baru saja menyeretnya pulang dari lorong gelap yang ada di dalam kepalanya.Roy menarik napas panjang, mencoba mengisi paru-parunya yang terasa mengecil.Ia baru sadar bahwa dadanya terasa sesak seolah dihimpit beban berton-ton sejak tadi.“Astaga…” gumamnya liri







