Home / Romansa / Hasrat Kakak Tiri / 91. Perkenalan

Share

91. Perkenalan

last update publish date: 2026-04-15 05:21:54

Di depannya berdiri seorang pria muda dengan napas yang masih memburu.

Usianya tampak sebaya dengan Arion, penuh energi yang meluap.

Wajahnya tegang, rahangnya mengeras, dan matanya menatap tajam siap melontarkan protes lebih jauh.

Namun, gelombang konfrontasi itu mendadak patah di tengah jalan.

Dari balik bahu Roy, di dalam keremangan kabin, Alena sedikit mencondongkan tubuhnya ke depan.

Ia tidak mengucap sepatah kata pun.

Ia hanya memastikan wajahnya tertangkap sempurna oleh bias pucat lampu
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Hasrat Kakak Tiri   95. Ada Apa

    Jalanan malam masih terasa begitu padat saat mobil meluncur membelah kota.Deretan ruko di sisi jalan nampak sangat hidup dengan cahaya lampu neon.Pengunjung berlalu-lalang di trotoar menciptakan suasana yang riuh rendah.Lampu jalanan memantul di kaca depan mobil seperti garis cahaya yang berlarian.Sisil terus bicara tanpa henti tentang banyak hal kecil yang tidak penting.Celotehannya mengisi ruang kabin yang sebenarnya terasa cukup hampa malam ini.Shana lebih banyak memilih untuk diam membisu di kursi penumpang belakang.Namun keheningan Shana kali ini terasa sangat berbeda dari biasanya.Ada aura berat yang terpancar dari ekspresi wajahnya yang nampak kosong.Ia terlihat seperti seseorang yang sedang sibuk memilah benang kusut di kepalanya.Pandangan Arion jatuh pada jarum bensin di dashboard yang hampir menyentuh batas.Tanpa membuang waktu ia segera menyalakan lampu sein ke arah kiri.“Kita mampir sebentar. Isi bensin,” ucap Arion tenang.Sisil menoleh dengan senyum tipis yan

  • Hasrat Kakak Tiri   94. Meski Belum Selesai

    Ruang tamu rumah itu masih menyimpan sisa ketegangan yang belum benar-benar turun.Lampu utama menyala terang, tak mampu mengubah suasana yang masih terasa redup.Bukan karena kurang cahaya.Hanya saja terlalu banyak hal yang belum selesai dibicarakan.Ayah Arion duduk di kursi tunggal dekat meja kecil.Sikapnya tetap tenang seperti biasa, meski wajahnya tampak lebih lelah dari sebelumnya.Di sampingnya, Sisil duduk menyilangkan kaki sambil memainkan ujung tas kecilnya.Ia terlihat santai.Tapi matanya terus bergerak, membaca suasana seperti orang yang tahu kapan harus bercanda dan kapan harus diam.Laras duduk tegak di sofa panjang.Tangannya bertumpu di pangkuan.Ekspresinya datar.Namun Shana tahu ibunya sedang menahan banyak hal di balik wajah setenang itu.Arion berdiri dekat rak buku.Tidak duduk.Hanya diam.Ia hanya berada di sana, seperti seseorang yang sedang mencari posisi paling aman di ruangan yang terasa salah baginya.Shana sendiri memilih duduk di ujung sofa, sedikit

  • Hasrat Kakak Tiri   93. Hampir Saja

    “Roy!”Suara Rina menyambar tajam di tengah kesunyian kabin.Suara itu tidak berteriak, namun sanggup merobek selaput lamunan yang membungkus kepala Roy.Roy tersentak, jemarinya refleks mencengkeram lingkar setir dengan lebih erat.Pupil matanya yang tadi mengecil kini kembali melebar, mencoba menangkap cahaya.Dunia yang tadinya tampak seperti lukisan cat air yang luntur perlahan kembali memiliki garis tegas.Aspal hitam di bawah sorot lampu depan tampak berkilat terkena sisa hujan.Garis putih pembatas jalan terlihat seperti jahitan yang tak terputus.Lampu merah di persimpangan jauh sana tampak seperti mata iblis yang mengawasi.Sebuah motor melesat di sisi kanan, meninggalkan deru knalpot yang memekakkan telinga.Realita baru saja menyeretnya pulang dari lorong gelap yang ada di dalam kepalanya.Roy menarik napas panjang, mencoba mengisi paru-parunya yang terasa mengecil.Ia baru sadar bahwa dadanya terasa sesak seolah dihimpit beban berton-ton sejak tadi.“Astaga…” gumamnya liri

  • Hasrat Kakak Tiri   92. Keputusan

    “Kau pikir, dengan bersembunyi di sini, kau akan aman, hah!?”Suara itu keras.Berat.—Dada Roy terasa sesak.Sepatu boot itu menekan tepat di atas tulang rusuknya, membuat napasnya tercekat.Tanah gambut yang basah menempel di punggungnya.Ia tidak melawan.Tidak lagi.—Hujan rintik turun tipis di antara pepohonan sawit yang menjulang tinggi.Daun-daun bergesekan pelan.Suara alam yang biasanya terasa biasa…malam itu terdengar seperti saksi bisu sesuatu yang sudah lama ia takuti.—Roy membuka mata perlahan.Pandangan pertama yang ia lihat adalah langit abu-abu yang nyaris gelap.Lalu bayangan wajah-wajah di atasnya.Empat orang.Tidak asing.Dan itu yang membuat semuanya terasa lebih buruk.—Orang-orang itu…yang selama ini ia kira hanya pekerja baru di perkebunan.Yang sesekali menyapa.Yang bahkan pernah tertawa kecil bersamanya saat istirahat siang.—Ternyata bukan siapa-siapa.—Mereka adalah orang-orang yang memang dikirim untuk menemukannya.—“Lama juga ya, nyarinya,” ka

  • Hasrat Kakak Tiri   91. Perkenalan

    Di depannya berdiri seorang pria muda dengan napas yang masih memburu.Usianya tampak sebaya dengan Arion, penuh energi yang meluap.Wajahnya tegang, rahangnya mengeras, dan matanya menatap tajam siap melontarkan protes lebih jauh.Namun, gelombang konfrontasi itu mendadak patah di tengah jalan.Dari balik bahu Roy, di dalam keremangan kabin, Alena sedikit mencondongkan tubuhnya ke depan.Ia tidak mengucap sepatah kata pun.Ia hanya memastikan wajahnya tertangkap sempurna oleh bias pucat lampu jalanan.Sebuah senyum tipis—sangat sopan namun memiliki daya pikat yang dalam—terulas di bibirnya.Seketika, kemarahan pria itu seperti tersedot keluar dan menguap ke udara malam.“Eh…” Pria itu berdeham, mendadak kehilangan kata-kata yang sudah di ujung lidah.Sorot matanya yang semula beringas kini melunak, bahkan berubah menjadi sedikit bingung.“Maaf, Om,” ucapnya pelan.Roy mengernyitkan dahi.Perubahan sikap yang drastis ini terasa janggal, hampir terlihat konyol jika situasinya tidak sed

  • Hasrat Kakak Tiri   90. Roy

    Lampu merah berganti hijau.Mobil mulai merayap pelan di bawah pendar lampu jalan yang pucat.Roy menekan pedal gas, namun hatinya tertinggal jauh di belakang.Ia tidak benar-benar ingin sampai ke mana pun malam ini.Tangannya masih menggenggam kemudi dengan sisa tenaga yang dipaksakan.Cengkeramannya terlalu kuat untuk ukuran seseorang yang hanya sedang menyetir biasa.Buku-buku jarinya memutih, menahan beban yang tak kasatmata.Di sampingnya, Rina hanya diam menatap kosong ke luar jendela.Di kursi belakang, Alena juga tidak bersuara, tenggelam dalam dunianya sendiri.Tidak ada yang berani bertanya tentang apa yang sedang berkecamuk.Tidak ada yang berusaha memaksakan sebuah percakapan basa-basi yang hambar.Malam itu seolah sengaja memberikan ruang sunyi yang sangat lapang.Ruang untuk Roy tenggelam sepenuhnya di dalam kepalanya sendiri.Dan ia memang sedang tenggelam dalam arus ingatan yang keruh.Semakin dalam ia masuk ke masa lalu, semakin ia kehilangan arah.Ia terasa semakin j

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status